Ini adalah kisah fiktif! antara seorang gadis biasa dengan seorang cowok misterius. yang takkan pernah terjadi di dunia nyata. berawal dari pertemuan mereka yang aneh. tak terduga. membuat gadis itu menjadi berbeda dan menyadari keberadaan dirinya sendiri dan orang-orang yang ia kenal di sekolah itu.
part 1. si Cowok aneh dan teman-temannya
suasana hening di kelas. saat pelajaran tengah berlangsung.
drap-drap ( terdengar suara langkah kaki gontai masuk ke kelas-kemudian membuka pintu )
beberapa anak menoleh, melihat dia, tapi tak begitu lama, langsung berpaling lagi ke buku bacaan mereka. tak begitu tertarik, begitu pun dia, yang sekarang melangkah ke arah barisan bangku paling belakang dengan santainya. dia duduk tanpa suara, lalu mengikuti yang lainnya membuka buku-tapi tak di baca.
sesaat kemudian, seorang guru datang . beliau wali muridnya. bertubuh gemuk dengan kepala botak . dia tak sendiri, melainkan bersama seseorang. mengikutinya gugup dengan wajah tertunduk salah tingkah. gadis itu tak berani menatap kedepan.
dia mungil, putih dan berwajah lucu. rambutnya panjang sepinggang, hitam dan mempunyai poni yang rata menutupi dahinya.
cowok itu ( yang tadi baru masuk ke kelas ) mendengak memperhatikan si cewek. tak berpikir sesuatu. dia kemudian melirik kanan-kiri meja temannya yang nampak sama tengah memperhatikan sosok gadis di depan kelas.
" heh bagaimana? ," tanya yang di sebelah kanannya. si cowok cuma anggkat bahu. masih diam.
" menurutku bukan dia ," ujar cewek di sebelah kirinya. dia bernama Reena. agar bisa membedakannya dengan gadis di depan, dia merupakan teman si cowok.
" kenapa kau berpikir begitu ," bisiknya.
" entahlah...aku tidak merasakan energynya ," jawab Reena datar. si cowok menganggung pelan, kemudian berpaling ke sebelah kanannya. ekspresi Joe senang sekali. matanya tak lepas memperhatikan gadis itu.
" Reena salah! aku yakin dia orangnya. ," kata Joe membisikinya dari sudut bibir. " kau lebih percaya aku kan! ,"
" ohh-aku tak tahu juga...tapi kurasa dia ini tipe yang berbeda. baiklah, usahakan kau mengajaknya berkenalan. buat dia berteman dengan kita ," Reena langsung mencoleknya. membuat si cowok kesakitan.
" apa? ,"
" seharusnya aku yang kau suruh! aku kan cewek! kalau Joe yang mendekatinya, aku yakin dia gak bakalan mau temenan sama kita, kau lihat sendirikan Joe itu sikapnya kayak gimana ," cetus Reena mendesis. Joe langsung menoleh tersinggung. melirik Reena menantang. Reeena balas melototinya.
" sudah hentikan! ," kata si cowok yang di tengah. mereka berdua langsung buang muka.
pak guru memperkenalkan gadis itu. dan gadis itu pun memperkenalkan dirinya sendiri dengan canggung.
" Arina namanya ," gumam Joe senang. matanya berkelit-kelit dengan senyum menyeringai.
" hentikan Joe. jangan menyeringai begitu ,"
" aku tersenyum bukan menyeringai ," balasnya jengkel.
" wajahmu seperti mengancamnya, mencurigakan! ," tutur Reena asal.
sementara mereka berbisik-bisik. si Arina sudah berjalan menuju bangku kosong yang tak jauh dari mereka bertiga.
dia memandang cowok itu. lama, dan akhirnya melirik Reena dan Joe yang nampak suram dan mencurigakan. Arina lekas duduk. cepat-cepat langsung membuka buku, mengalihkan perhatiannya.
dia masih gugup dengan tatapan anak-anak.
" ssst-ssst, Julius! ," panggil Reena.
" apa? ,"
" kau saja yang menyapanya! ,"
Julius ( si cowok ) menggeleng lugu. " tidak ah ,"
" ah payah! kau kan dekat sekali dengannya ," desisnya lagi.
" kau yang mau tadi, kan ," jawab Julius tak mau kalah, bedanya dia membalas tanpa ekspresi.
" masa bodo! ," celetuk Reena sambil berpaling. dia tak mau melakukannya padahal dia sendiriyang mengajukan diri.
Julius merasa gengsi. tak mungkin dia menyapanya duluan. lagi pula Arina tidak menoleh kesini! Joe memandangi Arina terus, sampai membuatnya sediki bergerak tak nyaman.
" baiklah, aku yang akan menyapanya ," gumam Joe antusias ke pada Julius. Julius cuma mengehela nafas singkat.
saat jam istirahat...
Arina langsung dapat teman. Yena dan Franka mengajaknya ngobrol di luar kelas. mereka nampak akrab sekali. Joe dan Julius saling pandang. tak tahu harus berbuat apa...sementara Arina dan yang llain sudah melangkah pergi menjauh.
" payah! ," kata Julius mencemooh.
" kau pikir itu mudah! ," cetus Joe setengah berteriak. " oh lupakan, aku bisa mengajaknya bicara nanti kan. jangan buru-buru Julius! ,"
mereka mengikutinya dengan langkah pelan. seperti sedang menguntit. Julius bisa bersikap biasa-biasa saja, tapi Joe malah menarik perhatian dengan mengendap-endap di pot bunga dan semak-semak.
" hentikan bodoh ," desis Julius sambil menendang pinggang Joe pelan.
" diam, kalau kau berisik, kita akan ketahuan ,"
" kau yang membuat kita ketahuan! orang-orang memperhatikanmu tau ," geram Julius gemas.
Aria menoleh kearah mereka. tatapannya tak bisa di jelaskan. yang pasti, Julius dan Joe tak mungkin langsung menghampirinya dan mengajaknya berkenalan.
" ahh, sulit sekali ," keluh Joe ketika mereka sampai di kelas selanjutnya.
" lain kali bersikap normal sajalah ," tukas Julius. " lakukan dengan cara laki-laki ,"
" memangnya kau bisa? ," tanya Joe menantang.
" lihat dan perhatikan! ," tak beberapa lama, Arina dan temannya muncul di kelas. Julius dengan cepat berbalik, melangkah mendekatinya tanpa ekspresi. dia dan Arina berpapasan, mereka tak saling menyapa sampai Julius dengan sengaja menyenggol pundaknya.
" duuh! ," seru Arina kesakitan. sapu tangannya terjatuh. dan tepat sekali di depan kaki Julius.
" maaf! apa kau tak apa-apa? ," tanya Julius ramah, penuh karisma.
Arina bengong terpesona. wajah Julius yang suram dan kelam berubah drastis menjadi wajah sumringah di penuhi senyuman-senyuman manis. dia begitu terllihat ramah, jauh sekali dengan sifat aslinya : dingin dan datar. Franka dan Yena saling pandang, kemudian memandang Julius dengan penuh keheranan sekaligus kagum.
" aaku tidak apa-apa ," kata Arina salah tingkah. dia terus saja mengusap pundaknya dan tak berani menatap mata Julius langsung.
Julius meraih sapu tangan Arina yang terjatuh, lantas memberikanya pada Arina.
" ini milikmu ,"
" I-iya , makasih ," ujarnya malu-malu. Julius hanya mengangguk pelan sebagai tanggapan, kemudian dia pergi keluar kelas, masih dengan senyum ramah di wajahnya.
anak-anak yang mengamati tadi sama terpesonanya dengan Arina. mereka terkejut sekali melihat Julius yang jarang bicara itu tersenyum dan bertingkah seperti tadi terhadap mereka.
Joe yang ikut memperhatikan, mengikuti Julius ke luar kelas. " heh, aktingmu berhasil membuat semua anak cewek di kelas kita kegirangan. seharusnya kau jadi aktor ," komentar Joe. " asli, beda banget sama dirimu yang sebenarnya ,"
" sudahlah...kau tahu aku tidak bersungguh-sungguh, kan. yang terpenting, aku sudah membuat peluang agar Arina mau bicara sama kita . tinggal tunggu waktu yang tepat untuk merekrutnya ,"
" begitu. sebelumnya aku ingin tanya, kenapa kau merasa yakin kalau cewek itu orangnya? ," tanya Joe penasaran. " Reena saja ragu, padahal dia yang ahli dalam hal ini ,"
Julius nampak mempertimbangkan sambil melipat kedua tangannya di dada. " entahlah...,"
" kau harus pastikan, lagi pula kenapa kau berpikir untuk menambah orang baru? kuras tim kita juga sudah cukup! ,"
" belum, bertiga saja belum cukup! aku malah berpikir ingin mengumpulkan orang sebanyak-banyaknya! ," kata Julius mantap.
" tapi kenapa? tujuan kita hanya itu',"
" lebih dari itu Joe...aku merasa nanti akan ada masalah besar yang menimpa kita, menimpa orang-orang speerti kita! ," cetus Julius , nadanya tinggi dan tegas. Joe nampak menciut, jadi dia hanya mengangguk sambil berlalu. " baiklah...aku percaya padamu ,"
sehabis pulang sekolah.
Arina nampak sendirian menuju rumahnya. diantara kerumunan anak-anak yang berhamburan hendak pulang. Joe , Julius dan Reena sudah menunggunya didepan gang. dari informasi yang mereka dapat, di gang itulah Arina lewat.
ketika Arina sudah mendekati gang, Joe dan Reena yang tepat berdiri di kanan kiri Julius langsung menghilang secara dramatis dengan bunyi suara letupan asap. seketika itu juga, Julius langsung berdiri tegak, menyambar tangan Arina yang melintas di depannya.
Arina terpekik kaget, karena Julius menyeretnya ke ujung gang- menyudutkannya di tembok.
" Julius, kau Julius yang tadi, kan? mau apa kau? ," tanya Arina panik.
Julius memasang senyumnya yang tadi, namun lebih lebar dari sebelumnya. " tenang saja, aku hanya ingin bicara sedikit ,"
" apa? ,"
" kau percaya padaku, kan?," tanyanya,
Arina mengangguk ragu.
" aku ingin kau bergabung dengan kami ," tukas Julius tiba-tiba, membuat Arina nampak sedikit terkejut.
" bergabung? denganmu? untuk apa? ,"
" untuk menjadi bagian dari organisasi kami....organisasi hitam pembela kebenaran. the Rough ,"
" haaa? the Rough apa? organisasi hitam? apa kau bercanda? ," tanya Arina banyak-banyak.
" well. aku tidak tahu harus dari mana menjelaskannya padamu, tapi...organisasi ini hanya untuk orang-orang yang punya kemampuan,"
" ke-kemampuan. seperti apa? ," tanya Arina lagi heran sekaligus takut. " sudahlah, aku baru saja disini, jadi jangan buat aku takut . aku tidak mengerti maksudmu, lagian aku tidak tertarik! ," katanya, kemudian berusaha pergi, namun Julius menahannya. " eh, tahan dulu. biar aku jelaskan sampai tuntas ,"
" aku tidak mau dengar lagi--,"
tiba-tiba saja, di dalam keremangan di belakang pundak Julius, wajah Reena dan Joe muncul. Membuat Arine terbelalak kaget.
" haaa, kalian??? dari mana kalian muncul?? ,"
Reena melangkah melewati Julius dan berhadapan langsung dengan Arina. matanya menyipit tanjam seolah menusuk wajahnya. " kau Arina? yang sering Julius ceritakan. katanya kau sama seperti kita, begitu? jadi apa kemampuanmu? ,"
Arina menggeleng tidak mengerti dengan wajah pucat pasi ketakutan. dia pikir dia sedang di bully.
" jangan begitu, Ree. kau membuatnya ketakutan ," tegur Joe, membuat Reena langsung menoleh kearahnya. Joe langsung angkat tangan sambil mengerling. " biarkan bos kita yang menjelaskan ,"
Julius mendecak, sambil memasang aksen wibawanya. dia menatap Arina yang mematung di tempat.
" begini, kami itu--emm akan lebih baik ku tunjukan saja padamu langsung. coba lihat wajah Reena! ,"
" kenapa harus aku? ," sentak Reena tak terima. " kenapa tak kau saja? ,"
" oke ," gumam Julius mengalah. " lihat, aku masih disini--," Arina menawasi Julius yang menunjuk dirinya sendiri, kemudian, Julius seperti melakukan gerakan kecil seperti ingin menjentikan jarinya, lalu...
slebb..
Julius menghilang dengan meninggalkan kepulan asap kecil seperti asap rokok.
Arina melotot dan menganga tidak percaya.
" ke-ke kemana dia? dia , kemana?...barusan saja dia di depanku? ," gagapnya heran sekaligus kagum. dia memicingkan mata kesegala arah, mencari Julius, lalu memandang Joe dan Reena.
" ini pasti tipuan !! ," seru Arina " ba-bagaimana bisa dia menghilang? ,"
" dia sedang di suatu tempat sekarang, ini namanya teleportasi, dan itu salah satu kemampuan Julius,"
slebb..
tiba-tiba, Julius kembali muncul, tepat di belakang Arina.
" jadi kau tahu, kami punya kemampuan yang tidak bisa di lakukan oleh manusia biasa. dan kau...aku belum tahu apa kemampuanmu, tetapi aku yakin kekuatanmu itu sangat berguna untuk kami. dengar, Arina , ada banyak sekali orang-orang sepertiku, seperti kami dan kau. dan sekarang kami sedang menjalankan misi. apa kau mau bergabung bersama kami? ,"
" tidak! ," jawab Arina langsung. " tidak mungkin! mana ada hal seperti itu di dunia ini? apa kalian gila? itu pasti hanya tipuan mata. apa sih maksud kalian itu? dasar Aneh-- biarkan aku pergi ," kata Arina, bergegas pergi , menyeruak melewati Julius dan yang lainnya. Joe hendak mengejarnya tapi Julius malah menahannya.
" biarkan, biarkan dia pergi. biar dia yang sadar sendiri, dan datang pada kita ,".
Minggu, 07 September 2014
Rough secret
Diposting oleh Unknown di 00.41 0 komentar
Sabtu, 23 Agustus 2014
Cerpen remaja romantis
Pesan Sedih
Untukku
Aku terdiam dan terpana waktu kulihat seorang cowok berdiri
didekatku. Tubuhnya tinggi, dan kulitnya putih, memakai kaca mata kotak. Dia,
sangatlah tampan.
Aku tertarik, karena seperti dialah sosok cowok
idamanku, tapi aku tidak tahu siapa dia. Karena ini pertama kalinya aku melihat
cowok itu disini, disekolahku.
" Ryuji! ," panggil seseorang didepan aku.
Dan, cowok itu pun menyahut kepada orang yang memanggil tadi. Dia lantas pergi
menghampirnya.
"Ooh Ryuji namanya ," pikirku terkesima.
Kulihat sosoknya dari belakang yang tinggi. Berjalan dengan gagahnya, sampai
dimenghilang dari pandangan.
" Sir, aku baru saja bertemu dengan cowok
idamanku tadi, " seruku langsung memberi tahu Siri yang tengah
mencoret-coret halaman belakang bukunya. Dia menengadah menatapku. " oh
ya? Dimana? ,"
" dikantin tadi ," jawabku ceria.
Siri terkekeh seraya menutup bukunya " Disini?
siapa? kok baru ketemu?," tanyanya lagi.
" sepertinya dia anak baru ," kataku "
soalnya aku baru lihat cowok kaya dia ,"
"Hemm bisa jadi. Tampan gak?,"
" tentu.,"
"Makanya aku langsung suka ," ujarku
gembira.
" ooh yah---selalu cowok tampan yang kau suka.
Kenapa selalu melihat luarnya saja, sih?" keluh Siri heran.
" karena cinta sejati berawal dari pandangan
wajah. ," sahutku sambil nyengir lebar. Siri hanya mendengus dan mencibir , sudah menduga kalau aku akan jawab begitu.
Siri selalu menasihatiku kalau dalam memilih pasangan
janganlah hanya melihat tampangnya saja, tapi isi hatinya juga. Apakah dia
tulus atau tidak. Percuma kan kalau punya pacar ganteng tapi sering nyakitin
hati?. kupikir perkataan Siri memang ada benarnya, tapi bagaimana kita akan
tahan jika punya pacar yang jelek. Aku tidak mau seperti itu! Lagipula tidak
semua orang tampan itu brengsek kan?!
Aku selalu mendengus kalau Siri sudah mulai
menasehatiku tentang pacar sementara dia sendiri belum pernah sekalipun
pacaran. Sotoy sekali dia, kadang-kadang aku suka jengkel kalau sifat
nenek-neneknya keluar.
Sepulang sekolah, aku dan Siri bertemu si cowok
ganteng itu didepan sekolah, Dia sedang berdiri di trotoar sambil nunggu angkot.
Aku berbisik ke Siri bahwa cowok itulah yang aku
maksud. Dan Siri setuju kalau cowok itu memang ganteng. Tapi tetap saja Siri
bersikap dingin saat melihat setiap cowok yang aku sukai. Aku berinisiatif
ingin mengajaknya kenalan, tapi saat ku ajak Siri dia langsung menggeleng
keras.
“ gak ah. Malu, kita kan cewek, Rea ,”
tukasnya , masih dengan kepala menggeleng. “ masa kita nyamperin cowok duluan
,”
“ aahh biarin saja. Jaman sekarang
wanitalah yang memulai duluan ,” kataku sembari mengapit tangan Siri,
menggeretnya mendekati cowok itu. Siri berusah memberontak, dia hampir saja
mencubit lenganku, tapi dengan sigap aku lekas mengelak, dan dia pun akhirnya
menyerah.
Si cowok tadi menoleh kearah kami
berdua, tanpa ekpresi.
“ Hai! ,” sapaku lantang. Siri yang
disebelahku sedikit terkesiap karena suaraku yang begitu keras, dia pun
samar-samar ikut berda-dah kepadanya. Ryuji tersenyum tipis, tangannya melambai
sesaat.
“ hai juga ,” katanya malu-malu. “ nama
kamu siapa? Nama aku Rea, dan ini temanku Siri. Kamu anak baru yah, soalnya
muka kamu terlihat asing sih dan--,” Siri langsung menyenggol rusukku, untuk
menghentikan ocehanku yang tiada henti, dan aku pun langsung melototitnya
dengan tatapan: apa sih? Ngeganggu aja!
“ namaku Ryuuji ,” jawab Ryuuji singkat,
dan sebenarnya aku sudah tahu itu. “ iya aku baru saja pindah kesini, “
sambungnya.
“ waah, begitu ya. kalau gitu salam
kenal Ryuuji, aku harap kita bisa lebih akrab, iya kan , Siri? ,” ujarku sekaligus
menyindir Siri yang sedari tadi hanya diam saja. Siri langsung mengangguk
cepat-cepat mengiyakan sementara wajahnya mulai memerah.
Skip time. Beberapa bulan kemudian...
Aku dan Ryuuji jadi semakin dekat.
Sedangkan Siri masih tetap bersikap dingin padanya, meskipun kami bertiga
sering ngumpul bareng. Ryuuji sangat baik, dan dia juga perhatian padaku dan
Siri. Dia juga sudah sering mengajakku nonton, jalan bareng dan curhat.
Membuatku semakin ingin memilikinya segera. Entahlah, akhir-akhir ini aku jadi
sering mikirin Ryuuji. Mikirin apakah dia juga punya perasaan yang sama padaku?
Rasa gelisahku pun membuat aku ingin
menumpahkannya pada seseorang. Bukan pada Ryuuji, tapi pada Siri kali ini.
“ tumben kau main kerumahku. Sudah lama
sekali , kan ,” kata Siri ketika aku datang kerumahnya di Minggu sore. Aku yang
sudah dekat dengan Siri sejak SMP memang sudah sering main kerumahnya, tapi
sejak SMA dan kenal Ryuuji, aku jadi jarang kemari lagi. “ mau minum apa? Ada
es jeruk tuh ,” Siri menawari sambil menuju kulkas di dapur. “ boleh. Tapi
jangan manis-manis ya ,” pintaku, seperti sedang memesan minuman sama penjual
es jeruk. Siri langsung manyun , dan aku terkikik di balik majalah yang sedang
ku baca. “ iya nona ,” balasnya jengkel, tapi tetap menyuguhkan minumannya .
Kemudian Siri datang lalu menaruh nampannya di atas meja , seraya ikut duduk
disebelahku. “ ada apa? ,” tanya Siri.
“ Sir, kayanya aku naksir deh sama
Ryuuji ,” terangku blak-blakan, sembari meletakan kembali majalahnya.
“ oh ya? ,” Siri menanggapinya dingin,
membuatku tampak kecewa dengan responnya. “ kok cuma ‘oh ya?’ ,” tanyaku tak
puas.
“ terus mau kaya gimana? Apa aku harus
bilang Wow sambil guling-guling dipasir? ,” Siri bergurau tanpa memandangku.
“ yah seenggaknya kamu kaget atau apalah
,” balasku menggerutu.
“ ngapain kaget. Aku kan sudah tau sejak
awal kalau kamu suka sama Ryuuji. Kamu sendiri yang bilang kalau Ryuuji itu
cowok idaman kamu, ingat? ,” Siri mengingatkan. Dengan terpaksa aku mengiyakan,
sambil terus bergumam mencemooh padanya. “ apakah itu respon seorang sahabat
ketika temannya sedang butuh bantuan? ,” desisku keras, sengaja agar Siri mendengarnya.
Siri hanya menggeleng pelan, lantas berpaling padaku. “ iya deh. Ada apa Rea
ku? ,” tanyanya lunak.
“ aku harus gimana, Sir? Selama ini
Ryuuji terus baik sama aku. Dan aku takut kalau aku cuma ke ge-eran. Sementara
Ryuuji sendiri masih keliatan biasa-biasa saja. Aku penasaran banget tentang
perasaan dia ke aku tuh kaya gimana? ,” aku mengeluh sambil menyeruput habis es
jeruk dengan wajah cemberut. Membuat Siri sedikit tertawa kecil melihatku.
“ hemm, kamu sendiri pernah bilang kalau
jaman sekarang, wanitalah yang memulai duluan ,” kata Siri , suaranya berubah
serius. “ maksudnya? ,” tanyaku, tak mengerti. Sesaat Siri menghela nafas lantas
menatapku dengan tatapan yang dalam. “ Rea, kalau kamu suka dia, kamu katakan
saja langsung. Dan tanyakan pada Ryuuji
, apakah dia suka juga sama kamu? ,”
Aku terperangah sebentar. Tak bisa
membayangkan kalau aku yang mengatakannya duluan, sungguh memalukan. “ masa aku
duluan sih? ,” seruku.
“ terus siapa lagi? Kan kamu yang suka.
Lagi pula gak ada salahnya kan mengungkapkannya duluan ,” tutur Siri. “ emm...tapi--,”
“ ayolah, kamu bakalan terus penasaran
dan galau kayak gini kalau belum mencobanya. Jangan takut di tolak, toh itu
sudah jadi resikonya. Lagian kalau kamu di tolak, gak bakal ngerubah apapun ,”
kata Siri lagi sambil tertawa.
Aku pun cuma termangu. Sambil
membenamkan wajah di bantal sofa, memikirkan cara untuk mengungkapkannya pada
Ryuuji. “ aku malu , Sir ,” bisikku, dan wajahku memerah padam.
“ oh masih punya rasa malu ya? ,”
celetuk Siri, kemudian tertawa terbahak-bahak. Aku langsung melemparnya dengan
bantal yang sedari tadi ku pegang., tapi meleset, dan tawanya semakin menggema .
Rasanya saat seperti ini pernah kami rasakan sebelumnya. Saat kami SMP dulu.
Keesokan harinya. Saat pelajaran
Olahraga.
Aku sudah memutuskan ingin menembaknya.
Saat permainan basket untuk anak perempuan selesai, ku ajak Siri untuk
menemaniku, tapi dia menolak dan berkata mau ke UKS karena mendadak kondisinya
sedang tidak baik. Jadi, dengan sangat terpaksa, dia menyuruhku untuk pergi
sendiri.
Aku pun menuju bangku di sisi lapangan.
Disanalah Ryuuji sedang duduk, berpeluh habis main futsal. Dia terseyum lebar
padaku ketika aku datang menghamipirnya. Ryuuji bergeser lantas menepuk bangku
disebelahnya menyuruhku duduk.
“ hei ,” sapanya. Aku membalasnya dengan
senyum juga lantas menyodorkannya sekaleng minuman. “ waah tahu saja kalau aku
sedang butuh yang segar-segar ,” ucapnya senang , sembari membuka pengait pada
kaleng itu lantas meneguknya penuh dahaga. “ terimakasih ,”
“ sama-sama. Emm Ruuji, ada yang ingin
ku sampai kan...,” ujarku gugup.
“ oh ya? apa itu ?,” tanyanya.
“ errh itu...itu...Ryuuji...aku--menyukaimu
,” kataku lambat-lambat. Ryuuji nampak terperangah, mulutnya sedikit terbuka.
Sesaat kemudian dia malah tersenyum lebar. “ aku juga suka sama kamu kok ,”
jawabnya sambil tertawa kecil. “ a-aku serius, Ryu! ,” seruku tegas. “ lebih
dari pada sekedar perasaan teman. A....aku...aku menyukaimu sejak awal kita
bertemu—apa kau juga merasakan hal yang sama? ,” tanyaku lagi sambil tertunduk
malu. Sesaat hening. Ryuuji tak bersuara apa-pun, sementara dengan perasaan
yang amat tegang, aku memejamkan mata di hadapannya, menunggu jawaban Ryuuji.
Terdengar Ryuuji merdeham, dan
menggumamkan sesuatu. Jantungku berdegup tak karuan dan begitu menyesakkan
dada, sehingga tanpa tunggu lebih lama lagi aku segera bangkit dan pergi dari
situ dengan wajah merah padam. Aku tak sanggup mendengar kata, tidak!
“ Rea , tunggu! ,” panggil Ryuuji,
membuat langkahku terhenti saat itu juga. Aku tak berani menoleh. Kemudian
terdengar langkah kakinya mendekat, lalu berhenti, tepat di belakangku. Aku
semakin gemetaran dan mendakak lemas di bagian lutut. Kalau saja ada Siri, aku
mungkin sudah pegangan dengannya.
“ Bukankah aku sudah mengatakannya juga?
kenapa kau malah pergi? ,” ujar Ryuuji. “ a-apa?,” Desisku gelagapan. “ aku
juga bilang, kan kalau aku juga suka padamu. Dan ku pikir setelah bicara
seperti itu kita bisa berpacaran ,” bisiknya pelan, membuat bulu kudukku
merinding. “ a—apa kau serius? ,” tanyaku takut-takut. Dan sepertinya Ryuuji
mengangguk, tapi aku tidak tahu soalnya, aku memunggunginya terus. Lalu Ryuuji
memegang pundakku, membalikannya hingga wajah kami berhadapan. Dengan tatapan
yang dalam, dia mengatakannya sekali lagi “ aku juga menyukaimu, Rea. Mau kah
kau menjadi pacarku? ,”
Aku terperangah tak percaya. Seperti
sedang bermimpi. Mulutku sampai menganga saking
terkejutnya. Ryuuji masih menatapku,
seolah menunggu. “ jadi? ,”
Aku pun mengagguk pelan. Mengiyakan.
Namun, tiba-tiba saja teman-teman sekelasku bermunculan dilapangan. Mereka
bertepuk tangan seraya menyorakiku dengan nada menggoda. Kemudian menyelamati
hubungan kami. Di sela-sela hiruk-pikuk itu, di balik pundak Ryuuji, kulihat
sosok Siri tengah berlari terpogoh-pogoh di lorong. Wajahnya merah seperti
habis menangis, dan mulutnya terus ditutupi. Ada apa ya dengannya? Aku
penasaran, namun segera lupa oleh kebahagiaan yang begitu besar hari ini.
Ketika pulang sekolah, aku baru bertemu
Siri. Dia sedang berjalan gontai di trotoar , hendak pulang. “ Siri! ,” panggil
ku setengah berteriak. Dia pun berhenti, tapi tak menengok. Aku berlari
menghamburnya , merangkulnya dari belakang. “ yo! Kau tahu, kami resmi jadian
,” ujarku memberi tahu. “ oh yeah? Bagus kalau begitu ,” sahutnya singkat,
tanpa memandangku. Ku tengok wajahnya, dan dia langsung menunduk. “ kau kenapa?
Kok menangis? ,” tanyaku cemas. Siri kemudian memandangku, dengan matanya yang
sedikit memerah. “ oh-siapa yang menangis? Tadi mataku kelilipan ,” katanya
tanpa ekspresi. Aku mengernyit, dan tak lantas mempercayainya. Ekspresnyinya
jelas di buat-buat. Tapi aku tidak mau bertanya lebih banyak lagi, karena hari
ini aku begitu gembira. “ oke-oke. Kalau begitu kita ke mini market di depan
yuk! Aku mau mentelaktirmu makan es krim.,” ajakku.
“ maaf aku tidak bisa Rea. Kepalaku
masih sakit. Aku mau istirahat di rumah. Dan oh ya, selamat atas hubungan
kalian. Sampai jumpa ,” ucapnya cepat, kemudian pergi. Aku yang bingung hanya
bisa diam di tempat sambil memandangnya dari kejauhan, berharap kalau Siri
tidak apa-apa dan segera baikkan. “ seharusnya ini jadi hari yang istimewa. ,”
gumamku kecewa. Aku pun pulang dengan perasaan yang hampa.
Hubunganku dengan Ryuuji berjalan dengan
mulus. Kami berdua merasa kompak dan sangat cocok. Tapi, di tengah kebahagiaan
kami, muncul masalah pada Siri. Entah kenapa akhir-akhir ini dia sering melamun
dan terlihat galau, dia juga sering menyendiri di perpusatakan. Kalau ku
perhatikan, wajahnya murung sekali, seperti sedang banyak pikiran.
Akhirnya pada saat jam istirahat, saat
Ryuuji mengajakku ke kantin, aku menolaknya dan pergi sendirian ke perpustakaan
di lantai dua. Disanalah ku temui Siri sedang menyendiri di meja baca. Dia
menoleh sebentar sambil menyunggingkan senyuman tipis dengan wajah muramnya. Kemudian
aku duduk menghadapnya. “ sedang apa kau? ,”
“ baca buku ,” jawab Siri sekenanya. Aku
manggut-manggut saja. Hening. “ ku perhatikan sikapmu aneh belakangan ini ,”
aku mengomentari, dan membuat wajah Siri langsung mendongak. “ aneh kenapa? ,”
tanyanya balik.
“ yah, kau jadi lebih suka sendirian dan
terlihat murung. Hey—beri tahu aku, ada apa? Siapa tahu aku bisa membantu ,”
Siri terkekeh, senyumnya jadi berupa
seringaian. “ aku baik-baik saja. Oke? ,”
“ jangan bohong. Aku tahu kau sedang
kena masalah. Aku sudah kenal kau sejak lama ,” kataku tegas. “ ceritalah
padaku, maka aku akan marasa lebih berguna untukmu ,” akhirnya dengan helaan
nafas panjang Siri mulai bercerita. Tentang perasaannya. “ Rea, apakah aku
salah menyukai orang yang sudah berpacaran? ,” katanya begitu sedih. Aku
sedikit terkejut mendengarnya, namun segera tenang kembali. “ tentu saja tidak
Sir. Kau berhak menyukai siapapun, meski itu sudah jadi milik orang lain ,”
kataku pelan. Siri nampak menghela nafasnya lagi, kali ini lebih berat. “ aku
sangat bodoh. Seharusnya aku tahu kalau dia sudah punya pacar sekarang ,”
ucapnya,getir. “ bahkan aku berpikir untuk mengungkapkannya duluan seperti mu
,”
“ memangnya siapa dia? ,” tanyaku
penasaran. Siri berpaling, lalu menatap nanar rak-rak buku di belakangku. “ dia
orang yang spesial. Cinta pertamaku. Mungkin. Dan andai saja aku lebih dulu
memilikinya. Andai aku berani...,” aku semakin ikut bersedih, karena aku merasa
kesedihan Siri adalah kesedihanku juga. Aku tak tahu harus berbuat apa, selain
menghiburnya dengan kata-kata. “ Sudahlah Sir, jangan terlalu di
pikirkan...memang pahit sih, tapi cobalah untuk melupakan orang itu. Mungkin
butuh waktu yang lama untuk melupakannya, tapi aku yakin sedikit-demi sedikit
kau pasti bisa. Oh ya ngomong-ngomong siapa sih dia? ,” tanyaku masih penasaran
dengan sosok cowok yang disukai Siri. Tapi sampai percakapan kami usai Siri
masih enggan mengatakan siapa orang itu , bahkan ciri-cirinya pun tidak. Maka,
sebagai teman, aku harus mengerti dirinya yang masih sakit hati itu dengan
tidak menyinggung-nyinggung masalahnya lagi. Sampai di hari Anniversary kami
tiba.
Sudah tiga bulan kami berpacaran. Dan
kami sepakat akan merayakan hari jadi kami setiap tiga bulan sekali. Sama
seperti pasangan lainnya, aku pun memutuskan untuk tukar kado di hari itu. Aku
penasaran apa sih yang bakal Ryuuji berikan? Aku jadi deg-degan sendiri sambil
terus mencoret hari demi hari menuju tanggal 14 di kalender. Aku tersenyum
sendiri sampai membuat Ibuku menggeleng-geleng heran. Ternyata dia mengamatiku
dari tadi, membuatku jadi malu sendiri.
Tepat saat itu, Siri menelponku, dan dia
memintaku untuk datang ke rumahnya. Aku langsung buat alasan, karena disaat
berbarengan Ryuuji memintaku untuk datang kerumahnya juga. aku pun tak mungkin
mengecewaknya. “ maaf aku harus ke rumah sakit , Sir. Pamanku sedang sakit.
Maaf ya. memangnya ada apa kau menyuruhku datang? ,”
“ tidak apa-apa. Kalau begitu sampai
jumpa! ,” jawabnya cepat, dan langsung menutup telpon. aku mengernyit bingung
lalu segera bersiap-siap pergi ke rumah Ryuuji.
Keesokannya Siri datang kerumahku,
dengan membawa sepiring kue ulang tahun. Membuatku merasa tidak enak dan malu. Aku
baru ingat kemarin adalah hari ulang tahunnya. Dan sekarang Siri sendiri yang
mengantarkan kuenya itu untukku. “ kemarin karena kau tak datang, aku
menyisakannya untukmu. Nih! ,” aku menerimanya dengan perasaan yang amat
bersalah, tapi dia masih tetap tersenyum padaku. “ Maaf Siri. aku belum
menyiapkan kado dan tak datang ke rumahmu ,”
“ Tak apa. Lagi pula kemarin teman-teman
dan saudaraku pada datang, jadi aku tak begitu sedih. Kau tak datang karena
sedang menjenguk pamanmu kan?,” serunya ceria, membuatku semakin tidak enak.
Oh—aku benar-benar teman yang jahat, sampai-sampai lupa pada ulang tahun
temanku sendiri. “ Ryuuji juga sudah menyelamatiku kemarin dan dia juga
memberiku kado ,” kata Siri , membuatku langsung menoleh cepat memandangnya. “
Ryuuji memberimu kado? Memangnya dia tahu ulang tahunmu? ,” tanyaku penasaran.
“ ya bahkan sehari sebelumnya. Sampaikan terima kasihku padanya nanti ya,
karena aku tidak masuk besok. ,” kemudian Siri meminta diri pamit lalu pergi.
Aku pun hanya mengangguk sambil terbengong-bengong. “ kenapa Ryuuji tidak
memberi tahuku??? ,”
Setelah kejadian yang membuatku sangat
tidak enak kepada Siri, hal lain lagi membuatku sedikit penasaran dengannya
datang. Yaitu, kenapa belakangan ini Siri terlihat gembira sekali? Berbeda 180
derajat dari hari-hari sebelumnya. Hal itu membuatku ingin sekali bertanya,
tapi dia langsung menggeleng dan bilang : “ aku biasa saja ,”. Setelah beberapa
lama kuperhatikan, barulah aku sadar, kalau sekarang Siri sedang kasmaran. Tapi
sama siapa ya?
“ kulihat kau gembira sekali akhir-akhir
ini ,” tegurku saat kami menuju gerbang sekolah bersama. Disana Ryuuji sudah
menunggu. Siri langsung menoleh dan rahangnya langsung merapat, membentuk
sebuah garis. “ aku? Biasa saja ,” katanya, dengan jawaban yang sama. “ kau
tidak seceria ini beberapa hari yang lalu. Eh, apakah cintamu sudah terbalas?
,” tanyaku asal, membuat ekspresi ceria Siri memudar. “ sudahlah jangan bahas
itu. aku sudah hampir bisa merelakannya tahu, dan jangan buat aku menginginkannya
lagi ,” tuturnya pelan. Aku mengangguk seraya minta maaf. “ lalu apa yang
membuatmu senang? ,” tanyaku lagi.
“ aku senang karena..,” belum sempat dia
meneruskan perkataannya, tiba-tiba saja Ryuuji memanggilku, membuatku berpaling
dan lantas menghampirinya. “ bentar ya ,”
Kemudian kami sedikit bercakap-cakap,
lalu aku melambai kepada Siri karena akan segera pulang. Dia melambai padaku
dengan senyum hambarnya, seraya berpaling, dan lenyap dari lorong kelas.
Mungkin dia mau ke toilet dulu sebelum pulang, pikirku santai. Tanpa menyadari
kesedihan menyelimutinya lagi.
Hari Jumat, tanggal 13.
Hari anniv ku sudah dekat. Yah sekitar
beberapa jam lagi deh. Aku tidak sabar menunggunya, dan bertanya-tanya apa yang
akan Ryuuji berikan kepadaku? Sementara aku memandang kado kecil yang sudah aku
siapkan, dengan penuh harap. Ryuuji pasti akan senang menerima ini sebagai
hadiah anniv kami, pikirku. Aku terus berhayal-hayal sembari mengsms-nya.
Lama...dia tak membalas. Akhirnya sambil
menunggu sms balasannya, aku bersiap-siap berangkat kesekolah.
Sesampainya, aku melihat Ryuuji sedang
berjalan di halaman sekolah. Dia baru datang juga rupanya.
Aku bermaksud memanggilnya, namun
kudengar namanya dipanggil duluan oleh seseorang. Aku pun langsung berhenti,
melihat seorang gadis mungil, berambut ikal, berponi rata, tengah berlari kecil
menghampiri Ryuuji. Gadis itu adalah Siri, yang aneh sekali terlihat begitu
riang gembira. Kuperhatikan mereka : bercakap-cakap sambil tertawa, bercanda,
lalu tak lama Siri pun pergi. Sedang membicarakan apa mereka? sepertinya seru
sekali. Sesaat setelah Siri pergi, aku baru menghampiri Ryuuji, dan ekspresinya
memandangku seperti orang kaget. “ ooh-kau, Rea. Mengagetkan ku saja. ,”
katanya sembari mengelus-elus dada. “ pagi sayang ,” aku hanya manggut-manggut
saja sambil terseyum kaku. Lantas menggapit tangannya. “ Tadi Siri bicara apa
padamu? ,” aku bertanya. “ Gak penting, cuma sekedar nanya apa buku Pr nya ada
sama aku apa enggak? ,” jawab Rruuji. “ kok dia gak tanya aku juga? aku sama
dia kan sekelas? ,” ujarku heran, membuat Ryuuji nampak berpikir-pikir.
Gelagatnya mencurigakan. “ entahlah ,” gumamnya. “ oh ya kalau gitu, aku anter
kamu ke kelas yah—sekarang pejaran apa? ,” katanya gelagapan , dengan upaya
membuatku lupa soal tadi. “ gak usah, aku bisa sendiri. Eh iya, nanti malam
kita keluar yuk! Aku mau cari baju, temenin aku ! ,” pintaku manja, dan
sepertinya sudah lupa dengan kecurigaanku tadi.
Ryuuji nampak salah tingkah, dia terus
menggaruk-garuk kepalanya yang sepertinya tidak gatal. “ ehm, Rea....sorry,
kayaknya aku gak bisa nanti malam ,” katanya lambat-lambat. “ besok aja gimana?
,” usulnya kemudian. Aku langsung membelot sambil berkacak pinggang. “ kenapa
gak bisa? Emangnya kamu mau kemana? Kenapa harus besok? Memangnya kamu gak inget
besok hari apa ,” tanyaku bertubi-tubi. Ryuuji tersentak sedikit, dengan sabar
dia menjelaskannya, meskipun tetap saja membuatku kecewa.
Huh! Ryuuji bilang mau mengerjakan tugas
kelompok sama temannya nanti malam, dan juga bilang kalau itu tidak bisa ditunda.
Aku berusaha untuk mengerti, tapi tetap saja aku sebal setengah mati. Bahkan
temanku sendiri, Siri, tidak bisa menghiburku. Dia juga menghilang entah kemana.
Aah kenapa disaat seperti ini tidak ada yang menghiburku? Mereka semua pergi dengan
urusannya masing-masing. Sementara aku hanya sendiri mendekam dirumah. Sungguh
menyebalkan!
Untuk menghilangkan bosan, aku nekat
pergi ke mall sendirian. Biarlah aku menghilang sejenak untuk melepaskan rasa
jenuh. Maka, kesinilah aku pergi. Ke sebuah Mall tak jauh dari rumah. Aku menulusuri
toko-toko pakaiannya. Mencari dress yang bagus untuk ku pakai di hari anniv ku
nanti. Tapi anehnya, dari sekian banyak toko yang kusambangi, tak ada satu pun
yang cocok denganku. Aku pun mulai letih berjalan dan kakiku terasa pegal
sekali. Aku pun beristirahat sejenak, duduk di bangku kayu melengkung.
Bersandar dengan kedua lengan sambil merilexkan badan. Memang, kalau belanja
sedirian kurang mengasyikan, apa lagi tidak ada orang yang bisa di tanyai
pendapatnya. Hal seperti ini biasanya Siri yang paling jago. Dia pandai sekali
mencocokan baju sesuai dengan seleraku. Tapi, sekarang dia sedang pergi, dan
aku pun tidak tahu kemana. Beberapa menit kemudian, saat aku sedang memperhatikan
pengunjung yang hilir mudik di depanku, tiba-tiba saja mataku menagkap sosok
tubuh seseorang yang sangat familiar sekali. Dia sedang melihat-lihat baju di
toko yang tak jauh dari tempat ku berada. Dia bersama seseorang. Yang membuatku
sanggup untuk memekik kencang. “ R—Ryu!!! Siri!? ,” aku langsung terperanjat
dari duduk, lantas berjinjit untuk melihatnya lebih jelas dari atas
kepala-kepala pengunjung yang lain. Jantungku mencelos, dan mendadak berdetak
kencang. Seketika itu juga perasaanku mulai tak enak. Penasaran bercampur
berang, aku mulai menghampiri kedua orang itu, menyelinap diantara orang-orang
yang berjalan dan berhenti di toko-toko. Aku berusaha mempercepat langkah, tapi
orang-orang ini menghabatku. Kedua orang itu terlihat sedang bercanda sambil
mengambil sehelai baju dari kejauhan. Mereka tertawa lepas. Dan semakin ku
mendekat, semakin jelaslah bahawa mereka berdua adalah Ryuuji dan Siri.
Mereka berdua langsung menoleh dan
berhenti tertawa, seraya ada ketegangan menyelimuti ekpresi mereka. Aku
terengah penuh kemarahan. Berdiri di depan mereka dengan tangan terkepal. Siap
untuk tempur.
“ kalian! ,” seruku tajam. “ sedang apa
kalian disini? Ryu! Bukankah kau bilang mau mengerjakan tugas kelompok, hah? ,”
Mereka berdua saling pandang, kemudian
balik menatapku dengan tegang. “ K-kami...Rea, aku bisa jelaskan ,” cicit Ryu
tergagap. “ aku dan dia—kami hanya...,”
“ hanya apa??? ,” sentakku marah. “
kalian berdua pembohong! ,”
“ Tu—tunggu, Rea. Dengarkan dulu
penjelasan kami ,” kata Siri panik bercampur takut.
“ DIAM
KAU!! ,” teriakku kalap, membuat semua pengunjung menoleh dan
memperhatikan kami. Siri nampak terkejut sekali, dan dia nyaris menangis. “
kau—kalian! Aku kecewa sekali pada kalian. Tega-teganya membohongiku dan
mengkhianatiku ,” gerammu kesal. Aku tidak peduli lagi dengan tatapan aneh
orang-orang di sekelilingku yang sekarang tengah berbisik-bisik mengomentari.
Sementara Siri dan Ryuuji nampak syok. “ Rea, tenang. Ini semua tidak seperti
yang kau pikirkan! ,” ujar Ryuuji pelan. Terdengar suaranya begitu tertekan dan
panik. Tangannya bergerak hendak menyentuh pundakku, namun aku langsung
menepisnya dengan ekpresi jijik bercampur muak. “ CUKUP!!! ,” raungku emosi. “
cukup...aku gak mau dengar apa-apa lagi. Kalian...kalian mengkhianatiku. Dan..
,” kini aku menatap Siri dengan penuh kebencian. “ sudah kuduga memang selama
ini kau menyukai Ryu juga kan. Huh! Suka yah sama orang yang sudah punya pacar,
hmm...? dan sekarang kau mencoba merebutnya dariku, begitu? Katakan Siri,
KATAKAN! ,” emosiku sudah memuncak, rasanya aku ingin meledak! Entah bagaimana
lagi aku harus melontarkan kemarahanku yang menyakitkan ini. “ aku benci
kalian! Aku benci...dan kau Siri, mulai detik ini....kita putus sebagai
sahabat!! ,” kecamku padanya. Air mataku pun menetes, berleleran di pipi.
Sementara itu Ryuuji nampak ingin menyentuhku lagi, namun aku langsung mundur
menjauhinya sambil menyeka air mata yang membasahi wajah. “ cukup Ryu...kau
sudah membuatku kecewa. Aku sangat mencintaimu, tapi kenapa kau sungguh tega?!
,” isakku, merana. Aku pun berbalik, dan menyeruak pergi diantara kerumunan
orang yang menonton. Aku tak sanggup lagi berdiri disana. Aku tak kuat melihat
kedua orang yang aku sayangi tega menyakitiku. Dan tak kuasa lagi aku menahan
tangis pedih ini.
Aku ambruk di tepi tempat tidur ketika
sampai. Dan masih menagis tersedu-sedu. Aku tidak tahu lagi harus berbuat apa,
rasa kekecewaanku membuatku tak berdaya. Aku ingin sekali berteriak,
melontarkan semua emosi yang masih terpendam.
Hatiku benar-benar hancur. Sakit
rasanya....dan tak henti-hentinya pikiranku membayangankan tentang kebersamaan
mereka. Dan di benakku terus terngiang-ngiang ucapan Siri tentang perasaannya.
Apakah mereka sudah melakukannya sejak
lama dibelakangku? Apakah mereka telah berpacaran selama ini? Dan
bermacam-macam lagi pertanyaan yang muncul di kepalaku, sampai-sampai membuatku
pusing dan stres.
“ Rea...Rea, kamu sudah pulang? ,” suara
Ibu membangunkanku dari tidur. Aku mengerjap-ngerjap, dan tersadar. “ iya Buu
,” sahutku dengan suara yang diusahakan se-biasa mungkin. “ makanlah, Ibu sudah
siapkan makan malam nih ,” katanya lagi. Aku menguap seraya memaksakan diri
untuk duduk, tapi kepalaku terasa beraat sekali, sehingga aku tekulai kembali
ke kasur. “ iya Bu nanti! ,” dan kemudian hening. Ku rasa Ibu sudah pergi dari
situ. Aku memandang langit-langit kamar yang kerkerat. Pikiranku kosong,
tatapanku menerawang jauh. Dan terpejam kembali ketika kejadian itu tiba-tiba
saja muncul di benakku lagi.
Sungguh hari yang buruk untukmu, Rea!
Aku masuk keesokan harinya ke sekolah.
Berharap tidak ada hal buruk yang menimpaku lagi. Aku masuk saat pelajaran
sudah mulai lima menit yang lalu, dan mendapati Siri sedang duduk di bangkunya
seperti biasa, disebelahnya bangkuku yang kosong. Aku tak lantas duduk disana
seperti biasa, tersenyum menyapanya dan bersikap seolah tak terjadi apa-apa
diantara kami. Aku memilih duduk dengan Lukman di barisan depan. Sebisa mungkin
aku tak bicara apa lagi kontak mata dengan Siri, rasa benciku masih terukir
jelas sampai keubun-ubun. Membuatku ingin muntah kalau mengingatnya lagi.
Sementara antara aku dan Ryuuji...ku
anggap kami break!
Sedari malam dia terus menghubungiku
terus, baik lewat sms maupun telepon.Tapi tak satupun ku respon. Aku sudah
kelewat kecewa padanya, dan tidak mungkin memaafkannya begitu saja, meskipun
aku teramat sangat mencintainya dan tak ingin melepaskannya seperti apapun
kemarahanku.
Tapi tetap saja aku masih kesal.
“ Rea tunggu! ,” panggil Siri. membuatku
muak setengah mati mendengarnya. Aku jalan saja terus. Tapi dia menahanku. “
apa?! ,” sentakku galak. “ maafin aku! ,” katanya. “ enteng banget kamu bilang
maaf! Emang kamu pikir apa yang kamu lakukan? ,” tukasku berang. “ pergi dan
jangan ganggu aku! Aku gak sudi punya temen kayak kamu ,” semburku, lalu pergi
sambil sengaja menabrak pundaknya kasar. “ aku mau ngejelasin semuanya Rea!!
Rea!! Dengerin aku dulu...please, Re ,” aku terus berjalan, mengabaikan Siri
yang terus berteriak memanggilku. Tak peduli sekarang dia merintih dan
menangis. Penderitaanku lebih dalam dari pada
itu. aku pun tak perpaling lagi, saat itu juga persahabatan kami
berakhir untuk selama-lamanya.
Berakhrinya persahabatanku, tak berakhir
pula hubunganku dengan Ryu. Aku masih mengharapkannya, namun masih terlalu
angkuh untuk memaafkannya sekarang. Ryu masih suka menelponku, tapi lagi-lagi
aku tak menanggapinya. Dan, pada suatu hari barulah aku bicara dengannya, di
sebuah kafe sehabis pulang sekolah. Dia langsung membahas kejadian itu,
membuatku muak sekali. Dan yang yang lebih menjengkelkannya lagi, dia menyebut
nama Siri di hadapanku.
“ dia tidak masuk lagi ke sekolah
akhir-akhri ini. kau tahu? ,” tanyanya memancingku. “ heh mana ku tahu? Peduli
amat ,” sahutku angkuh. “ Rea, sudahku bilang. Saat itu kami berdua janjian
untuk membelikanmu hadiah untuk anniv. Aku yanng memintanya, jadi dia tidak
salah sama sekali. Dia tak punya perasaan padaku. Tak pernah, bahkan itu
sekali-kalinya kami bicara bersama! Ayolah ku mohon maafkan aku dan Siri! maaf
atas kebohongan kami ,” katanya memohon. Aku berpikir sejenak, mempertimbangkan
kata-kata Ryu. Yah mungkin benar memang niat mereka untuk membeli hadiah
untukku. Oke aku bisa maafkan, tapi untuk Siri yang menyukai Ryu dan menusukku
dari belakang, sungguh tak bisa ku maafkan lagi, apa lagi dia terlihat
memanfaatkan semuanya. “ aku memaafkanmu, tapi dengan Siri aku tidak bisa ,”
kataku tegas. “ hubungan persahabatan jauh lebih rumit dari yang kau
bayangakan. Sekali berkhianat maka akan jadi musuh, Ryu! ,”
“ aduh Rea. Apa kau masih berpikir dia
menyukaiku? Hah yang benar saja, dia itu dingin padaku! Dan tak pernah
sedikitpun Siri menggodaku atau melakukan hal yang tidak-tidak, percayalah! ,”
jelas Ryuuji serbasalah. “ aku pernah mendengarnya menyukai seseorang, dan dia
sudah punya pacar! Apakah itu tidak berarti apapun? Maksud dia adalah kau! Kau
orang yang disukainya selama ini!! ,” balasku ngotot, sambil menunjuknya dengan
amat gemas. Ryu menggeleng terperangah, menatapku kecewa sekali. Dia bangkit
dari duduk nya, lalu berkata “
sebenarnya ini sudah lama sekali, tapi Siri pernah mengancamku, suatu hari. Dia
bilang ‘ jangan sakiti Rea, cintai dia, lindungi dia, karena kalau sesuatu
terjadi padanya aku tak akan segan-segan memberimu pelajaran’ begitu katanya.
Dan saat itu aku sadar , kalau dia sangat menyayangimu Rea. Dia peduli padamu!
Seharusnya kau sadari itu ,” kemudian Ryuuji pergi menaiki motornya. Pulang.
Aku merenungi perkataan Ryu barusan. Benarkah Siri pernah berkata seperti itu?
Siri memperingatkan Ryu agar selalu mencintainya? Lalu...bagaimana dengan
pengakuan Siri tentang perasaannya itu?
Aku langsung tersentak seolah baru
sadar. Aku langsung beranjak dari sana dan bergegas pergi. Menemui Siri.
Betapa terkejutnya aku ketika mendengar
kabar dari Ibunya Siri, yang mengatakan bahwa Siri sedang ada di rumah sakit.
Dia mengalami kecelakaan lalulintas yang parah sehingga membuatnya koma
beberapa hari. Aku langsung pergi kerumah sakit yang dimaksud, mencari-cari
kamar Siri di rawat dengan paniknya. Lalu menyeruak masuk ketika sudah sampai.
Disana...disana lah tubuh Siri yang lemah terbaring, penuh luka dan di pakaikan
alat bantu pernafasan. Sungguh kasihan aku melihatnya. Sampai tak sadar aku
terisak saat menghamburnya dengan pelukan penuh sesal. Aku bersimpuh disisinya
seolah menumpahkan berjuta maaf ku yang tak ku sampaikan saat dia sadar. Aku
menyesal sekali. Dan ingin rasanya aku menggantikan luka yang ia derita. Ayah
dan Adiknya mencoba menenangkanku, memberiku air dan menyuruhku untuk duduk.
Aku mulai tenang sedikit, meskipun perasaanku masih amat pilu. Ku hibungi
Ryuuji dan kukabarkan tentang keadaan Siri yang sekarat. Dia kaget dan bilang
akan segera kemari.
Beberapa saat, aku sudah bisa
mengendalikan diriku. Aku mendekatkan bangkuku ke tempat tidur agar bisa lebih
jelas melihat Siri. Siri begitu menderita, banyak luka di bagian tubuhnya, dan
mungkin dihatinya juga. Aku masih diliputi perasaan bersalah. Menyesal karena
aku sendiri tidak tahu temanku sedang kesulitan. Aku datang saat dia sedang
terpuruk. Dan sadar aku tidak ada disampingnya ketika dia membutuhkanku. Aku
egois! Yah, sangat egois! Disaat aku lupa ulang tahunnya, dia malah memberiku
kado di hari annivku. Di saat dia ingin curhat, aku malah pergi dengan Ryuuji
tanpa memperdulikannya. Ooh, aku benci diriku sendiri! Apa gunanya aku? Aku
sahabatnya, dan kenapa malah menyakitinya seperti ini? Aku larut dalam
kesedihan. Sampai suara langkah kaki terdengar mendekatiku.
Ternya Ibunya Siri. Beliau berdiri
disebelahku seraya menatap anaknya di depan. Pandangannya kosong dan wajahnya
murung. “ tante....aku turut menyesal ,” ujarku simpatik. “ seharusnya saya
selalu ada untuk dia ,” lanjutku penuh sesal. “ maaf...” kemudian tante
membelai rambutku sayang, beberapa saat , sampai dia membungkuk padaku. “ Rea
ada yang ingin tante serahkan padamu,” katanya. “ apa itu ,tante?,” tanyaku
ingin tahu. Tante Indri mengeluarkan sepucuk surat dari kantong bajunya lalu
menyodorkannya padaku. “ surat dari Siri ,” ucapnya. Kemudian tak beberapa lama
dia pergi keluar. Meninggalkanku. Siri masih koma, dan monitor disampingnya
berdetak stabil. Aku memandang surat itu dengan penuh tanya. Perasaanku sedikit
tidak enak karena entah kenapa sepertinya surat ini surat terakhir bagi Siri.
tapi aku langsung menepisnya sejauh mungkin. Kemudian mulai membaca:
Dear Reaku
sayang.
Aku menulis ini
ketika kita sedang bertengkar. Sebelumnya kita belum pernah bertengkar seperti
ini. Dan aneh sekali kita bertengkar cuma gara-gara cowok.aku sedih sekali
waktu kau bilang membenciku dan memutuskan persaudaraan kita. tapi, tak apa,
aku mengerti perasaanmu...
Aku sedang jatuh
cinta disaat kau juga jatuh cinta sama Ryuuji. Sungguh kebetulan yang aneh, tapi
aku senang, karena kupikir jika kau berhasil maka aku juga akan berhasil.
Tapi nasib
berkata lain. Tommy ternyata sudah punya pacar, dan dia sendiri yang
mengenalkannya padaku. Sungguh pahit! Aku ingin memberi tahumu, tapi aku urung
melakukannya karena kau sedang bahagia sekali waktu itu. aku tidak mau kau
terbebani oleh masalahku.
Kau tahu Rea?
Aku sangat memujimu. Kau adalah Inspirasiku, panutanku dan sudah ku anggap
sebagai saudara. Tentu aku menyayangimu. Dan maaf kalau aku sudah bawel tentang
masalah percintaanmu. Aku hanya takut kau akan patah hati Rea!kemudian menangis
dan bersedih....aku tak bisa melihat itu semua. dan sampai akhirnya aku
mempercayakan seseorang padamu. Yaitu Ryuuji. Dia berhasil meyakinkanku akan
selalu menjaga dan mencintaimu setulus hati. aku yakin dialah yang akan
membuatmu bahagia, Rea. Maka dari itu, jangan bersedih, tetaplah tegar dan jaga
dirimu baik-baik.
Semoga kau dan
Ryuuji tetap saling mencintai.
Aku merestui
kalian berdua. Dan ku harap kalian bahagia kelak.
Sampai jumpa
Rea. Sahabat terbaikku.
Aku terisak setelah selesai membacanya.
Tetesan air mataku membasahi kertas itu. Aku sungguh tak bisa menahannya lagi.
Ditahan pun malah menyiksa dada. Aku meraung menangis, sambil memegang tangan
Siri erat. Aku tak ingin kehilangannya...
tiba-tiba...
hatiku mencelos, dan perasaanku kacau.
Sebisa mungkin aku memeriksanya lagi. mencari-cari denyut nadi dipergelangan
tangan Siri yang sedang kupegangi. Tapi tidak ada! Aku tidak bisa merasakan
nadinya. Aku panik setengah mati, ditambah bunyi monitor yang terus berbunyi
cepat, dan grafiknya sudah mulai lurus...” suster, dokter toloooong!!!!
Tante...tante!!! ,” teriakku sambil memencet-mencet tombol darurat di sebelah
tempat tidur. Aku panik dan tak tahu harus bagaimana. Sampai tante Indri ,
dokter dan beberapa suster datang kemari dengan berbagai peralatan. Aku yang
panik langsung memeluk Tante Indri yang nampaknya sama syoknya. Tubuhnya
bergetar, terasa jelas di dadaku. Dan dia menangis. Meraung-raung merana,
sementara gantian aku yang menenangkannya. Di detik-detik akhir ketika mereka
menangani Siri, bunyi beeep panjang membuat kami semua terkejut terperangah.
Wajah dokter berubah putus asa, sementara Tante Indri sudah pingsan dipundakku.
Disaat bersamaan, Ryuji datang menyeruak, dan wajahnya yang terengah langsung
pucat ditempat ketika melihat Siri yang sudah tak bernyawa lagi tergeletak di tempat
tidurnya.
Hari itu jadi hari yang sangat kelam dan
kelabu. Aku dan Ryu berdiri disebuah pemakaman.
Aku ingat pesannya. Dia bilang aku harus
tetap tegar dan bahagia, serta menjaga diriku sebaik mungkin. Aku tahu ini
masih sangat berat bagiku maupun Ryu. Tapi kami harus merelakannya pergi. Siri
pasti akan bahagia disana, karena aku yakin Tuhan pasti menjaganya untuk kami.
Ku taburkan bunga terakhirku di wajahmu.
Jasadmu yang indah dan harum. Kau bersandar bagaikan bidadari yang indah, dan
hatimu seputih embun pagi yang dingin. Tak tertandingi kasih sayangmu padaku.
Karena kau tulus mencintai dan menyayangi. Aku akan selalu mengenangmu....jauh
dilubuk hatiku, bersanding dengan nama Ryuuji disana...
We love you Siri, and i’m so sorry...
Diposting oleh Unknown di 21.42 0 komentar
Selasa, 19 Agustus 2014
Gee. G’
“ ini...mengerikan!
,” pikir seorang cowok yang sedang mengamati sebuah foto yang ia temukan
terselip dibuku tahunan sekolahnya dua tahun yang lalu, ketika dia sedang bersih-bersih
di kamarnya. Cowok itu bernama Ge Dee, seorang mahasiswa semester 3 yang nampak
biasa-biasa saja, namun menyimpan misteri di masa lalunya. Dia mengernyit
menatap foto itu. Foto dirinya sewaktu SMA dulu bersama teman cowoknya, di
potret dilorong sekolah. Tampak mereka bedua berangkulan layaknya dua sahabat
karib. Terlihat normal. Tapi, andai saja kalian tahu apa yang sebenarnya
terjadi waktu itu. Sewaktu foto itu diambil. Bagaimana kisah Ge Dee yang paling
memalukan itu terjadi.
Cowo itu
bergidik ngeri lantas menaruh fotonya dilaci. Seolah kenangan dari Foto itu
membuatnya jijik hingga tak berani memandanginya lama-lama. Dia pun terhenyak duduk dikursi, sambil
bersandar merilexkan tubuhnya. Dia mendesah lelah, sembari memijat-mijat
pelipisnya yang terasa sakit, lalu....kenangan itu pun seolah terputar lagi
seperti sebuah kaset.
Kejadian itu...
Tepat saat
mereka naik ke kelas 3.
Menyukai lawan
jenis itu wajar. Apa lagi sama teman sekelas. Sering banget kan kalian dengar!
Kalau anak sekarang sih bilangnya cinta monyet. Tapi kurasa monyetku ini susah
sekali kutaklukan. Nama monyetnya Aria. Dia teman sekelasku ketika aku kelas tiga.
Aria anak yang
supel dan juga baik, serta ramah pada siapapun. Itulah yang membuatnya disukai
banyak orang, terutama dikalangan laki-laki. Bisa disebut dia itu primadona di
sekolah ini, karena hampir setengah dari murid laki-lakinya pasti suka sama
Aria. Termasuk aku.
Tapi aku tidak
seberuntung Tony, Herman atau Raphael yang terkenal populer juga disekolah
sebagai pangeran disni, yang dengan mudah mengajak Aria untuk makan dikantin
bareng atau sekedar ngobrol. Anak sederhana sepertiku hanya bisa mengaguminya
dari jauh saja. Jangankan ngajak makan bareng, untuk menyapanya saja mulutku sulit
sekali. Rasanya aku tidak pantas untuk menyapa Aria.
Pernah waktu itu
aku keceplosan memanggilnya, saat sedang di perpus. Alih-alih ngajak ngobrol ,
reaksiku yang grogi itu malah membuat Aria jadi ilfeel.
“ hai Aria!!! ,”
sapaku setengah terpekik. Aria yang sedang memilah-milah buku terlihat terkejut
karena buku yang dipegangnya mendadak jatuh. “ oo—hai...emm Gee ,” ( Gee nama
panggilanku dikelas. Karena anak-anak malas memanggilku dengan nama lengkap,
makanya mereka hanya pakai nama depan saja. ) balas Aria masih kelihatan kaget.
Semua pengunjung diperpustakaan mengawasiku tajam, apa lagi si pengawas perpus.
Dia masih mengintaiku sampai aku menghilang dari rak buku ke meja baca.
Kulihat Aria
masih mematung disana, melihat-lihat buku sambil sesekali melirik kearahku.
Lirikannya seperti waspada. Aku memberanikan diri untuk mengajaknya ngobrol
nanti. Ketika Aria menuju meja baca , agak jauh dari tempatku, aku berinisiatif
untuk pindah ke mejanya.
Aria tertegun
lalu mendongak , memandangku sesaat lalu tersenyum samar-samar. Kupikir dia
terpaksa. Tapi, aku berusaha
mengabaikannya.
“ hh—hai Aria, sedang baca apa? ,” tanyaku
basa-basi.
Aria mendongak
lagi dari bukunya. “ lagi baca buku ,”
Aku
manggut-manggut paham. Yah ga usah dibilang juga udah jelaskan, dia lagi baca
buku!. Aku juga tahu! . “ buku apa? ,” tanyaku lagi.
“ buku tentang sastra.
,” jawab Aria polos sembari menunjukan cover depan bukunya padaku.
“ emm, suka baca
yang berat-berat ya? aku ga tau kalau kamu juga suka baca diperpus, aku pikir
cewek kayak kamu suka nongkrong, kalau aku sih lebih suka baca tentang sejarah,
dan...,” aku berhenti bicara ketika tahu kalau aku cuma dikacangin sama Aria.
Sepertinya dia sama sekali ga mendengarkan aku ngomong .
Aku cuma bisa
diam, sambil garuk-garuk kepala—bingung mau ngobrolin apa. Toh apapun yang aku
omongin ga akan ada yang nyambung buatnya. Lantas aku cuma duduk bengong disitu
sambil mandangin rambut Aria yang hitam
legam nan indah nutupin wajahnya yang imut sedang membaca. Cukup lama, sampai
tiba-tiba Aria menegakan wajahanya lurus kearahku dengan tatapan bingung.
“ kamu ga
apa-apa Gee? ,” tanya Aria. Aku terkesiap kaget, karena Aria menyadarkanku dari
lamunan. Aku hanya mengangguk gelagapan. Lalu kembali salah tingkah.
“ eengg...kamu,
udah selesai baca? ,” tanyaku lambat-lambat.
“ udah . lho!
Kamu nungguin aku baca? Ngapain?? ,”
“ ah? Eng-enggak
kok. Aku...,” Aria ngeliatin aku lama banget, dengan tatapan menyelidik. Bikin
aku makin salting.
“ eh, aku mau
masuk ke kelas dulu ya...kayanya bukuku ga diberesin tadi ,” kataku bohong,
berupaya menghindar dari tatapan introgasi Aria yang semakin menyipit.
“ oke, aku juga
mau kesana. Bareng aja kalau begitu ,”
Singkat cerita,
sejak saat itu, ketika kami menuju kelas bareng, entah kenapa kami berdua jadi
dekat. Aria jadi sering menyapaku, dan kami sering bertemu diperpus. Pokonya,
sikap Aria itu bikin aku jadi Ge-er banget. Aku jadi berani untuk menyapanya
duluan, ngajak ngbrol dan akhirnya....aku jadi berani mau nyatain perasaan aku
sama Aria.
Niatku sudah
bulat. Dan aku berencana akan menembak Aria besok saat istirahat.
Sebelumnya ,aku
mau merundingkan dulu rencanaku ini sama
Febri, teman sebangkuku. dia jago dalam hal seperti ini, jadi kupikir sangatlah
bijak datang kepadanya. Tapi...
“ apa??? Lu mau
nembak Aria? ,” pekiknya kaget, membuatku juga ikutan kaget saat menceritakan
niat ku itu dikelas.
“ duuh biasa aja dong, kaget nih gue ,”
“ yah iyalah. Lu
udah gila ya mau nembak dia? ...ga masuk akal ,” cetusnya berapi-api. “ kenapa
ga masukk akal? ,” tanyaku heran.
“ jelas! Aria
itu cewek populer, dan ga sembarangan cowok yang bisa nembak dia. Inget kan
gimana Boby yang segitu kaya dan kecenya ditolak mentah-mentah sama Aria
didepan banyak orang? ,” kata Febri mengingatkan kejadian di bulan lalu. Gee
membayangkannya dengan tatapan geli. Dia ingat betul betapa memalukannya
ekspresi Boby saat itu.
“ yeah—lucu juga
sih waktu itu ,” gumam Gee menerawang. “ kayanya tuh anak kapok deh, buktinya
sekarang dia jarang keliatan dan kalo ketemu sama Aria dia langsung ngumpet ,”
“ Nah! ,” seru
Febri. “ sekarang lu ngertikan? ,”
Gee cuma
mengernyit bingung sementara Febri menatapnya
dengan penuh harap.
“ oke ,” jawab
Gee akhirnya.
“ oke buat
ngelupain niat lo itu? ,” tebak Febri kelihatan lega.
“ enggak. Gue jawab ‘oke’ buat tetep ngelanjutin niat
gue. Dan gua pastiin ga akan sememalukan Boby kaya dulu ,” katanya mantap.
Febri cuma bisa
menepuk dahinya putus asa sembari membayangkan kegagalan temannya itu besok.
Diam-diam dia berharap Gee bakal berhasil, meskipun prensentase keberhasilannya
cuma 1%. Yeah, satu persennya itu kalau didunia ini udah ga ada cowok lagi, dan
akhirnya Aria ga punya pilihan lain, selain nerima Gee. Tiba-tiba saja Febri
jadi geli sendiri saat membayangkannya.
Saat jam
istirahat.
Entah kenapa
perasaan Gee jadi bedebar-debar. Rasanya perutnya mendadak mulas dan sakit.
Dalam hati dia terus menguatkan tekadnya agar tetap maju. Tapi, melihat
persiapan yang sudah ia lakukan—yaitu hanya modal nekat, membuatnya jadi takut
sendiri. Takut ditolak.
Bel istirahat
terus berbunyi, dan semakin lama semakin nyaring. Seolah itu juga jadi bel bagi
Gee untuk segera melaksanakan keinginannya , yaitu menyatakan perasaannya pada
Aria. Yeah, sudah dua minggu respon Aria padanya menandakan kalau dia nyaman
sama Gee, dia juga sudah sering smsan dan telponan. Meskipun begitu bukan
jaminan kalau Aria akan menerimanya langsung.
“ coba dulu,
baru lihat hasilnya. oke ,” Gee menyemangati dirinya sendiri sambil berjalan di
lorong kelas menuju kantin. Gee tahu kalau Aria pasti ada disana, makanya,
setelah pelajaran usai dia buru-buru keluar kekamar mandi untuk menyiapkan
semuanya—bercermin sebentar-merapihkan pakaiannya, dan memastikan kalau
nafasnya tidak bau kali ini.
Dan...sampailah
dia , dikantin.
Dikantin ternyata ramainya bukan main. Bahkan
tidak ada ruang sedikit pun untuk bernafas, apa lagi nyatain perasaan sama
orang. Kacau. Rencananya mendadak berubah. Dia ga mungkin kan bisik-bisik sama
Aria tentang perasaannya. Yang ada...
“ APA? KAMU
NGOMONG APA? ,”
“ AKU SUKA SAMA
KAMU ARIA!!! ,” mungkin saking bisingnya, Gee harus teriak-teriak seperti itu.
Dan sukur-syukur
kalau di terima. Kalau ditolak...
“ HAH? KAMU SUKA
SAMA AKU? SINTING KAMU YA ???!!! ,”
Jleb.
Ga usah
dibayangin lagi, Gee bakal jadi bahan tertawaan semua orang. Dan ga kebayang deh
malunya kaya apa.
Setelah menghayal begitu, Gee buru-buru
menyingkir dari kantin dan bergegas menuju taman sekolah. Mengsms Aria agar ke
taman. Dia juga menambahkan kalau ada hal yang mendesak yang perlu Gee beritahu
padanya.
Maka, tak lama
Aria pun datang ke taman. Dan resenya, dia juga bawa teman.
Gee langsung
bangkit dan menghampirinya. Dia berbisik ke Aria agar temannya tidak usah ikut.
Aria pun setuju, dan menyuruh temannya untuk menjauh dari taman. Meskipun
begitu ekspresi Aria kelihatan bingung dan dahinya tak henti berkerut-kerut.
“ ada apa Gee?
,” tanya Aria ketika mereka duduk di bangku taman. Jauh dari tempat teman Aria
berada.
Gee masih
terbelenggu. Mendadak pikirannya kosong. Dia kelihatan mematung memandangi
Aria.
“ Gee?! ,” tegur
Aria heran.
“....gue, eh—aku
,” gumamnya salah tingkah. “ aku...aku--,”
“ aku apa?! ,”
potong Aria mulai tak sabar, sambil kakinya menghentak ketanah dengan cepat.
“ ehh...gini lho...aku
tuh suka sama kamu ,” katanya pelan nyaris tak terdengar.
“ apa? Kamu
bilang apa? Aku ga denger.,” tanya Aria,sambil menunduk mencari wajah Gee.
Hening.
Gee tak
menjawab. Sampai akhirnya Aria menyerah dan hendak pergi.
“ okelah kalau
kamu ga jadi ngomong. Aku pergi dulu ya ,”
Ketika Aria
berdiri , barulah keberanian Gee muncul. Dan tiba-tiba...
“ AKU SUKA SAMA
KAMU ARIA!!,” teriak Gee akhrinya. “Aku...suka sama kamu, kamu mau kan jadi
pacar aku? ,”
Hening.
Kali ini Aria
yang terdiam. Dia mematung sambil berdiri membelakangi Gee. Gee penasaran
sekaligus takut, ingin tahu reaksi Aria seperti apa. Apakah senang dan lalu
mengangguk menerimanya atau???
Gee perlahan
berdiri. Tepat dibelakang Aria. Tangannya sudah terangkat ingin menyentuh
pundaknya, tapi berhenti dan malah mengambang diudara . tiba-tiba saja tubuh
Aria bergetar kuat . dan terdengarlah suara cekikikan.
“
huahahaha....apa Gee? Lu suka sama gue? Lu pasti becanda , kan? ,” ujarnya
sambil tertawa. Tawanya geli sekali. Wajah Gee langsung memerah, semerah
kepiting rebus.” Ngaco! Hahaha belajar dari mana sih lu ngebanyol kaya gini ,”
Dan, saat itu juga
Gee sadar kalau Aria telah menolaknya. Menolak dengan cara yang amat
menyakitkan. Yaitu dengan tertawa menghina, menganggap itu lucu dan akhirnya
meninggalkan Gee sendirian di taman.
Tanpa mengatakan apa-apa lagi-Aria cuma cekikikan, sambil pergi dengan
teman-temannya . Setidaknya kata ‘maaf’ membuat Gee lebih baik dan merasa di
hargai. Tapi, cewe tengik itu malah mengabaikannya begitu saja.
Hancur....hancur
sekali hatinya. Sakit....sakit sampai keulu hati. Rasanya hidup sudah tidak ada
gunanya lagi. Gee pun terhuyung lemas menuju kelasnya kembali.
“ kenapa lu? ,”
tegur seseorang. Gee menoleh pelan tak bersemangat kearah suara itu, lalu
mendapati Raphael yang bersimbah
keringat sudah ada disampingnya.
“ oh—elu! Ga
apa-apa ,” kata Gee parau. Raphael mengernyit tidak percaya, sementara dia
melihat wajah Gee begitu amat kusut dan mengenaskan. Seperti sudah tidak ada
nyawanya lagi . Raphael memungut bola basket didekat kaki Gee, lalu berpaling
kearahnya. “ tapi muka lu kacau banget ,”
“ yeah muka gue
emang begini ,” tutur Gee singkat dan tak perduli.
“ kalau gitu
kita main basket aja Yuk! Biar muka lu ga kusut lagi! ,” seru Raphael semangat
seraya mendorong Gee dengan bola basketnya.
“ ahh engga ah.
Lagi ga ada tenaga ,” kata Gee,berlaganya so lemas. Mirip tengkorak jalan.
“ udah ayo, kita
lagi kurang pemain nih! ,” desaknya tak sabar sambil menyeret tangan Gee menuju
lapangan .
Dilapangan ternyata
sedang banyak cewek-cewek lagi pada nonton anak basket main. Dan anehnya,
ketika Raphael dan Gee masuk kelapangan, semua anak-anak cewek itu langsung bersorak
heboh kegirangan, bak fans fanatik korea. Gee mngernyit heran, dan menarik
tangannya dari cengkraman Raphael.
“ apa-apaan nih?
Kok rame banget ,” tanyanya.
“ biasalah,
kalau anak basket lagi main, anak ceweknya pada heboh gitu. Apa lagi ada gue ,”
jelas Raphael bangga. Gee langsung mencibir
di belakang Raphael lalu akhrinya ikutan bermain. Dia pun sejenak
melupakan kesedihanya tadi dan terhenyak dalam permainan basket
yang begitu menyenangkan.
Selesai bermain,
Gee dan Raphael duduk-duduk di tengah lapangan sambil beristirahat. Lalu
Raphael mulai membuka percakapan. Basi-basi ngomongin bola, lalu akhirnya
nyambung-nyambung ke topik permasalah Gee yang baru saja di tolak. Gee
menceritakan semuanya, tentang bagaimana cara Aria menolaknya dengin begitu
keji.
“ heh, dia
begitu lagi ,” komentar Raphael . “itu sih lebih sadis dari pada langsung
nolak. Dia benar-benar gadis yang kejam ,” tambahnya.
Gee langsung mengangguk
setuju.
“ makanya, gue ga suka cewe--,”
“ hah? Ga suka
cewe? ,” potong Gee kaget. “ ehh , enak aja. Belum juga kelar gue ngomong!
Maksudnya, gua ga suka cewek yang prefectionis kaya gituu...,” lanjutnya
menjelaskan. Gee hanya manggut-manggut tanpa komentar. Sesaat dia sedikit
senang karena ada juga cowok yang tidak menyukai Aria. Raphael benar-benar cowok
yang beda.
“ udahlah ga
usah dipikirin. Masih banyak cewek yang lebih baik dari dia ,” ujar Raphael sambil menepuk pundak Gee. Gee menoleh kearah
Raphael, bermaksud menepis tangannya dari pundak ,tapi, disaat bersamaan
Raphael yang sedang memandangnya juga sambil tersenyum memberi semangat, malah
membuat Gee berhenti bergerak. Dan mematung seketika.
Pandangan mereka
pun beradu. Raphael yang kebingungan melihat tatapan Gee yang begitu dalam dan
terbengong-bengong, akhrinya menegurnya . “ oi—oi Gee,lu kenapa? ,”
Gee masih saja
mandangin Raphael. Lama banget. “ woi! Gee muka lu merah, tuh. Lu sakit? ,” tegurnya
lagi. Gee terkesiap dan tersadar. Alangkah memalukannya dia dihadapan Raphael.
Cowok cool dan ganteng itu. dan...eh?
kenapa dia jadi berpikir begitu? Astaga. Buru-buru Gee menggelengkan kepalanya,
dan menepis jauh-jauh perasaan anehnya itu. Tiba-tiba saja dia merasa kalau
poninya tersibak.
“ jidat lu panas
Gee. Kayaknya lu sakit beneran ,” kata Raphael ,sembari menempelkan telapak
tangannya di dahi Gee. Lagi-lagi pandangan mereka bertemu , dan kali ini wajah
Raphael begitu dekat dengannya. “ waah muka lu tambah merah ,”
“ GYAAAAA ,”
teriak Gee kaget sembari mundur menjauhi Raphael. Raphael melongo heran. “ lho
kenapa? ,”
“ eehh---lu
ngapain? ,” tanya Gee panik. “ ga ngapa-ngapain kok. Meriksa lu doang! ,” jawab
Raphael masih bingung. Gee sadar kalau
sikapnya mulai aneh, dan kalau pun dia berlama-lama disini malah akan menarik
perhatian teman-teman Raphael yang lain. Lalu Gee langsung bangkit , dan
berlari dari lapangan yang sudah sepi. “ kenapa dia?? ,” pikir Raphael.
Saat Gee sampai
dirumah, setelah pulang sekolah, dia langsung ambruk ditempat tidurnya.
Wajahnya masih merah sampai sekarang, dan itu bukan karena kesal habis ditolak,
tapi gara-gara bertatapan sama cowok ganteng. Gee langsung berjengit geli,
membayangkan bahwa dia tadi berpikir kalau Raphael benar-benar ganteng dan
keren meskipun sedang berkeringat, dan itu membuatnya....terpesona. “ Wakkk! Apa aku sudah gila?? ,” teriak Gee
dalam hati sambil mengejang-ngejang
diatas tempat tidur menahan rasa malunya. “ kenapa reaksi gue malah begitu? Gue
kan cowok? Ngapain juga deg degan ,”
Gee mulai resah, dan serba salah. Mau tidur ga
bisa, bangun pun cuma bengong, dan kalau udah bengong, yang dipikirkannya hanya
wajah Raphael , Raphael dan Raphael. Tak henti-hentinya dia memikirkan cowok
itu, membayangkan mata kecoklatannya yang begitu indah. Jantungnya pun masih deg-degan, dan mendadak
seperti oranag linglung. Gejala ini pernah ia rasakan sebelumnya,sama seperti
saat pertama kali melihat Aria, tapi kali ini rasanya lebih dahsyat. Mungkinkah
...
“ ga mungkin ,”
desis Gee meyakinkan dirinya sendiri kalau pikirannya itu salah. Bisa jadi ini cuma
gejala sakit biasa. Pikirnya . tapi...” matanya indah juga. Hupp,” buru-buru
dia menekap mulutnya. “ biacara apa aku ini??? apa barusan aku memikirkannya
lagi? Ya ampun, aku benar-benar sudah gila. Yeah aku gila....ga mungkin ini
perasaan suka. ,” tapi mau dia menyangkalnya sekuat apa-pun, tetap saja
bayangan Raphael yang begitu ramah padanya terus terbayang-bayang, seolah
seperti menerornya. Sampai beberapa kali Gee tersentak dari tidurnya dengan
wajah penuh keringat. Seperti habis mimpi buruk ,dikejar-kejar hantu yang
berwujud cowok ganteng, dan anehnya didalam mimpinya itu Gee malah dengan
senang hati di tangkap dan dipeluk oleh hantu itu. benar-benar mengerikan.
“ ini ga bisa
dibiarkan...ga..enggak. ini ga bener, Raphael itu cowok dan gue itu cowok. Gua
ga mungkin suka sama dia. Gua bukan gay, gua bukan penyuka sesama, ya , mungkin
gua Cuma depresi gara-gara ditolak Aria dan gue mulai gila ,” kata Gee
ketakutan sendiri. Dia pun bangkit dari tempat tidur menuju kamar lalu berendam
didalam air dingin.
Gee datang
kesekolah dengan tampang yang lebih kusut dari biasanya , ditambah rambutnya
yang acak-acakan itu, semakin membuat Gee terlihat menyedihkan. Febri yang
sudah di bangkunya, terlihat begitu simpatik dan penasaran dengan apa yang
sudah terjadi. Sampai Gee duduk , dia baru bertanya.
“ yo , ada apa?
,” Gee tidak menjawab dan malah menelungkup dimeja. Suara nafasnya terdengar
berat sekali. “ jadi...ditolak ya? ,” terka Febri.
“ lebih parah ,”
sahut Gee pelan. “ lalu? ,”
Gee menegakkan
tubuhnya susah payah-menatap Febri dengan tatapan memohon. “ sepertinya kemarin
sangat seru. Andai aja gua ada disitu ,” kata Febri sambil ketawa.
“ jangan ketawa
,” sunggut Gee muram. “ gue begini bukan gara-gara Aria ,”
“ terus? ,”
Gee diam saja,
sambil membayangkan beragam reaksi Febri jika tahu kalau dia suka sama Raphael.
“ ga. Ga apa-apa. ,”
“ kok gitu? ,”
tanya Febri kecewa. “ terus gara-gara apa lu jadi murung kaya gini? .”
“ gara-gara
nyokap gue ga ngasih duit jajan sama gue ,” kata Gee asal. Febri langsung
mencibir, dia tahu kalau Gee lagi bohong. Tapi,
Febri ga langsung menggubrisnya karena melihat Gee yang begitu sangat
tidak mood hari ini. jadi, dia memutuskan untuk tidak menyinggung-nyinggung
tentang masalahnya lagi sampai Gee sendiri yang cerita.
Sampai beberapa
hari, Gee belum juga menceritakan apapun sama Febri, dan sikapnya juga jadi
berubah. Gee sekarang menjadi penyendiri
dan terlihat murung, dia juga jadi nyuekin Aria, meski Aria sendiri yang
menyapanya. Mungkin sudah sakit hati. Tapi, keanehan lain mulai terlihat pada
Gee , saat dia bertemu Raphael diberbagai kesempatan.
Gee jadi sering
panik sendiri kalau berpapasan sama Raphael, salting dan suka salah ngomong.
Ditambah sikap Raphael yang suka perhatian , baik dan ramah sama Gee, membuat
Gee makin ga sanggup buat menyangkal tentang perasaannya itu. Sebenarnya dia
menikmati momennya saat bersama Raphael, tapi dalam hati dia terus berteriak,
kalau semua itu salah! Dia ga boleh suka sama Raphael. Dia normal. Tapi itu
hanya bersuar didalam hati, sisanya dia senang bisa dekat-dekat dengan Raphael
, apa lagi saat dia bisa bergabung dalam club basket.
“ oke gue akui,
gua suka sama cowok itu ,” kata Gee didepan cermin. Dia memandang
bayangannya sendiri, dan mengoreksi
setiap sudut wajahnya. Ga jelek-jelek amat. Ganteng malah. Gee terkekeh sendiri
sambil menyisir rambutnya, tapi disisir sesering apapun rambutnya akan tetap
berantakan. Dia memandang cermin sekali
lagi, memastikan kalau penampilannya sudah oke. Lalu pergi keluar.
Hari ini Raphael
dan yang lain mengajak Gee nobar disebuah kafe untuk menyaksikan pertandingan
La liga. Kesempatan ini tak mungkin Gee lewatkan. Dengan senang hati dia
menerima tawarannya itu, apa lagi Raphael sendiri yang mengajaknya. Gee girang
sekali, bahkan dia sampai melompat-lompat dikamar. Penampilan Gee sangat macho
saat itu, mungkin kalau dari sudut pandang cewek, Gee bisa dibilang cowok kece
dan keren, tapi itu sudah tidak penting lagi. Dia sudah tidak tertarik. Yang
sekarang membuatnya tertarik adalah...” Raphael! ”. Gee memanggil cowok itu,
dan yang dipanggilnya langsung menoleh sambil melambai diantara kerumunan orang
dikafe.
Disana Raphael
dan teman-temannya sudah menunggu. Mereka sudah ada disana 20 menit yang lalu
untuk membooking tempat. Raphael dengan coolnya memakai jumper coklat dam
celana jeans yang sobek dibagian lutut, kepalanya memakai kupluk warna hitam.
Cuma Raphael yang Gee perhatikan, sampai mereka masuk kedalam kafe. Beberapa
menit kemudian pertandingan mulai, dan dalam beberapa detik saja, semua
pengunjung hanyut dalam ketegangan pertandingan yang sedari tadi imbang 0-0.
Mereka bersorak, berderu, dan sesekali kecewa ketika masing-masing pemain
jagoan mereka nyaris mencetak gol. Gee yang saat itu matanya terpaku pada layar
besar, hanya bisa memukul-mukul kesal kemeja, sementara jagoannya terus
diserang. Dan saat jagoan Raphael menggiring bola, meliuk-liuk melewati
beberapa pemain lawan, lalu tanpa tunggu lagi, melesat kedaerah kotak penalti,
pemain nomor 7 itu pun mencetak gol hebat kegawang lawan, diikuti sorakan heboh
penonton yang melepas luapan emosi kebahagian mereka saat tim jagoan mereka
menang, Raphael yang kegirangan tanpa sadar memeluk Gee yang sedang kecewa.
Dengan wajah terkejut Gee cuma diam membatu membiarkan Raphael memeluknya erat
dalam euforia yang menggebu-gebu, tapi tak lama Raphael melepas pelukannya itu
dan ganti memeluk temannya yang lain sambil berjingkrak senang.
Gee masih
terpaku, matanya bergerak cepat kesegala arah, dan dia merasa kalau jantungnya
berdegub kencang menyakitkan. Mulutnya kering kerontangan, matanya tak
berkedip, dan nafasnya tertahan beberapa saat. Dia seperti sedang kerasukan ,
Cuma diam termangu diantara orang-orang yang ramai bergembira. Lalu tanpa sadar Gee berkata: “ Raphael, gua
suka sama lo ,” dan begitu pertandingan berlanjut, semua penonton kembali
tenang dalam ketegangan.
“ ahhh kasian
deh lu kalah. Inget ya taruhannya, yang kalah harus nelaktir makan yang menang
,” tutur Raphael sambil nyengir sama Gee dan temannya yang mendukung Barcelona.
Hati Gee
mencelos, sekaligus lega. Barusan dia baru saja menyatakan perasaannya pada
Raphael. dan untung saja dia tidak dengar. Huuuuhf....Gee membuang nafasnya
berat. kali ini selamat, ga kebayang tadi kalau dia nekat nyatain perasaannya
ke Raphael. mungkin dia bakal langsung bunuh diri.
“ eh, tadi
kayanya lu bilang sesuatu. Apaan? ,” tanya Raphael tiba-tiba. Gee menoleh
cepat, dan langsung melongo kaya orang bego. “ ahh---.”
“ GOOOOL! ,”
teriak salah satu penonton, diikuti yang laiinya. Semua melonjak dari kursi
penonton termasuk Raphael saat Real
Madrid mencetak gol lagi berkat sontekan cantik Cristiano Ronaldo. Dan
lagi-lagi Gee terselamatkan oleh gol itu. Biar deh, kalah-kalah sekalian dari
pada Raphael curiga.
Sampai
pertandingan selesai , Gee diam membisu. Sementara Raphael lupa sama
pertanyaannya tadi dan malah sibuk berdiskusi ngomongin bola sama
teman-temannya.
Gee manatap
langit malam yang gelap tanpa bintang. Awan-awan hitam memenuhi langit yang
seharusnya cerah dimalam minggu. Sama seperti hati Gee yang kelabu. Yang sedang
sendu karena keserbasalahannya yang menyelimutinya. Antara logika dan perasaan.
Rasional dan irasional. Ga tau lagi apa...pokoknya malam itu Gee lagi galau
total. Mereka berlima berjalan menuju parkiran, karena tadi nebeng sama Rico,
Gee jadi nungguin dia dulu menelpon. Sementara ketiga temannya yang lain sudah
duduk siap-siap dimotor. “ sory Gee, cewek gue minta jemput. Lu bareng yang
lain deh ,” katanya membuat Gee kecewa. “ ah serius lo...bareng siapa? Ga ada yang searah sama gue ,” cetus Gee . Rico
Cuma angkat bahu sambil sekali lagi minta maaf. Lalu dengan berat hati Rico
pergi duluan, dengan jok kosong dibelakangnya yang diganti sama satu helm.
“ udah , bareng
gua aja.,” ajak Raphael sambil menyodorkan satu helm cadangannya. Gee
terkesima, namun langsung buru-buru berpaling sambil menyambar helm itu tanpa
memandang Raphael-duduk dibelakang dan pakai helm full face. Raphael menyalakan
mesin motornya, lalu mereka pun meluncur dari parkiran ke rumah Gee.
Disepanjang perjalanan mereka saling diam. Gee diam karena grogi dan
menyembunyikan wajahnya dari balik helm, sementara Raphael diam karena perutnya
yang tiba-tiba mules. Mungkin salah makan tadi. Yaah pokoknya kesalah pahaman
ini membuat keduanya makin akrab untuk beberapa minggu. Sampai salah satunya
membuat bencana besar. Dan membuat hubungan mereka sebagai teman merenggang.
Dua minggu
kemudian. Setelah UN, mereka mengadakan acara pentas seni di sekolah untuk
merayakannya. Dan Gee menyibukkan dirinya sendirr dengan menjadi panitia acara.
Tapi sesibuk apapun, dia tetap masih dibayangi oleh perasaan menakutkannya,
yaitu jatuh cinta sama Raphael. hal mengerikan itu masih terpeta dibenaknya
sampai sekarang, dan masih membebani pikiran dan perasaannya. Sampai, ketika
menjelang acara pentas seni dimulai.
Di kelas...
“ apa lagi
sekarang? Otak lu udah rusak ya! ,” cecar Febri waktu Gee keceplosan mengatakan
mau mengungkapkan perasaannya itu pada Raphael—Febri langsung berjengit ngeri.
“ mungkin gue emang gila. Tapi gua ga kuat lagi , Feb ,” balas Gee putus asa. “
Gua harus ngomingin ini biar hati gua tenang. ,” tambahnya.
“ tapi--,”
Tiba-tiba
terdengar suara langkah kaki memasuki kelas. Febri dan Gee langsung menoleh
cepat kearah pintu yang terbuka dengan tatapan ngeri. Dan muncullah...
“ hemm...gua
kaget waktu denger itu, tapi akhirnya gua ngerti perasaan lu, Gee ,” kata Aria
tiba-tiba, membuat Gee mau pun Febri terpekik kaget. “ Aria??? ,”
“ tenang. Gua ga
akan bilang-bilang kok. Rahasia lu aman sama gue ,” katanya santai. “ well,
tapi...dalam masalah ini, gue rasa lu emang harus ngungkapinnya langsung, dari
pada terus dipendam-pendam. Yang ada malah nyiksa diri lu sendiri. Ya, kan? Dan
gue yakin kalau Raphael denger ini, meski dia kaget setengah mati, dia pasti
bakal ngerti. ,” ujar Aria yakin. “ katakan saja, dan lu nggak akan menyesel di
kemudian hari. Resiko sebesar apa-pun, lu harus terima, ini demi kebaikan lu
sendiri ,” mendengar itu, Gee sedikit mempertimbangkannya. Ucapan Aria memang
benar, selama ini Gee selalu menyembunyikan terus, dan menanggung semua siksaan
yang tak berkesudahan itu. Mungkin ini waktu yang sangat tepat. “ lagian
sebentar lagi kita lulus, dan kalau lu malu setelah mengungkapinya, lu bisa
langsung menghilang aja , kan? ,” tambah Aria, seolah membaca pikirannya.
“ Enggak! Enggak
bisa, Gee ga boleh ngelakuin itu! ,” sergah Febri tak setuju. “ lu ga malu apa?
,” semburnya cemas pada Gee. Gee tertunduk , dan saat itu juga emosinya meluap.
“ dimana dia? ,”
tanyanya tiba-tiba. Febri mendelik curiga. “ mau ngapain lu? ,”
“ dimana dia
sekarang?! ,” tanya Gee lagi pada Aria, seakan mengabaikan Febri. “ dia di
ruang Radio ,” jawab Aria . “ dia sendirian kok disana. Lagi ngecek komputer ,”
Dan tanpa
menunggu reaksi Febri yang ingin mencegahnya pergi, Gee langsung bergegas
keluar kelas menuju ruang radio. Disana, dia langsung menemui Raphael yang
tengah sibuk mengutak-atik komputer.
Raphael
menyadari kadatangannya, dan langsung menoleh sebentar sambil menyunggingkan
senyuman. “ oi—Gee. Ada apa? ,” sapa Raphael ramah. Gee terdiam sesaat didepan
pintu, lalu segera mengingat maksud kedatangannya kemari. “ gua mau ngomong,
Hel. ,” bisik Gee buru-buru.
“ ngomong aja ,”
sahut Raphael santai , matanya masih terpaku pada layar komputer.
“ ini penting ,”
Gee menambahkan. Mendengar kata ‘penting’, akhirnya Raphael berpaling dari
komputer lalu berbalik menatap Gee yang sedang tertunduk dihadapannya. “
iyaa—apa? ,”
“
gue...sebelumnya gua minta maaf. Dan tolong jangan dipotong dulu sebelum gue
selesai bicara ,” Gee memberi tahunya. Raphael nampak bingung namun tetap
mengangguk setuju. “ oke ,”
Gee menghela
nafas panjang, yang terasa menyesakkan didadanya. Lalu menguatkan dirinya
sendiri dengan mengangguk mantap, dan mulai bicara....
Dia mengakui
perasaanya pada Raphael. Semuanya. Dari awal, sampai akhir. Tak ada yang
terlewat sedikit pun. Raphael pun mendengarkannya tanpa mencela, meskipun
ekspresinya sudah sangat abstrak dan tidak bisa dijelaskan lagi dengan
kata-kata. Mungkin seperti ekspresi jijik dan mau muntah, yah—seperti itulah
barangkali.
Raphael keliatan
syock dan ngeri, mirip reaksi Febri waktu pertama kali mendengarnya, tapi,
sebagai seorang cowok populer, dia pun tak langsung menghujat Gee karena sudah
mengatakan hal yang begitu mengejutkan. Dia, dengan bijak, menjelaskan semua
kesalah pahamannya itu pada Gee, dan menganggapnya sebagai pengakuan kasih
sayang seorang sahabat kepada sahabatnya.
Gee pun mengerti dan sadar kalau tidak mungkin mereka bersama-sebagai
pasangan homo-seperti yang ia bayangkan, tapi dengan begitu Gee sudah merasa lebih
baik , dan bebannya pun terangkat sepenuhnya. Dan mereka pun tetap berteman.
Kembali ke
kelas...
Febri terkejut
mendengar suara speaker berbunyi dikelas yang berasal dari radio. Begitu juga
dengan semua murid yang sedang berada dikelas, kantin, maupun lapangan sekolah.
“ Ah—kena deh ,”
seru Aria senang. Febri langsung berpaling ke Aria, dan mendapati cewek itu
sedang tertawa licik. “ benar-benar seru! Ga sabar pengen ngeliat ekspresi
anak-anak yang tahu kalau Gee itu Homo!!! ,”
“ ARIA???? LU
SENGAJA? ,” sentak Febri marah. “ KELEWATAN LO!!! ,” Tanpa dosa, Aria malah tertawa-tawa
senang sambil kabur dari kelas. Dan ketika Febri hendak mengejarnya, ternyata
seluruh siswa sudah ramai berbondong-bondong keluar kelas memenuhi balkon. Dari
lantai satu, dua , tiga, mereka semua terlihat terkejut dengan yang mereka
dengar dari radio, dan tidak sedikit yang tertawa dan mencemoohnya. “ hah? Gee
kok suka sama Raphael? hahah ga sangka dia Homo!! ,” kata salah satu dari
anak-anak yang berkerumun kepada temannya, mereka berdua langsung cekikikan. “
ngapain dia ngumumin di radio? Ga tau malu ,” timpal Glend , tertawa ngakak. “
Gee? Siapa sih dia? Kok bangga banget kalau dia Homo? ,” dan masih banyak lagi
komentar anak-anak tentanng peristiwa itu. Mereka pun tak segan-segan
mendatangi ruang radio dan menghujat langsung Gee dengan berbagai ledekan yang
pedas dan olok-olok berlebihan yang membuat Gee nyaris ingin bunuh diri saat
itu juga--dengan kagetnya melihat anak-anak berkerumun memenuhi area lorong
sekolah.
“ sial!!! Ini.
cewek brengsek itu.... ,” rutuk Febri murka. Tak terima temannya dipermalukan.
Tapi, apa yang bisa ia perbuat lagi? Toh semuanya sudah terjadi, dan wajah Gee
takkan bisa di selamatkan dari rasa malu yang teramat sangat.
Mulai detik itu,
Gee sudah di cap sebagai homo oleh semua teman-temannya, terkecuali Febri. Tak ada
julukan lain yang lebih menyakitkan dari pada julukan itu. Bahkan nama Gee
bukan lagi Ge Dee, tapi Gee G, yang disingkat : Gee-Gay atau Gee-Homo.
Benar-benar kejam.
Gee tak pernah
terlihat lagi semenjak kejadian itu. Dia juga tidak hadir di acara perpisahan
dan penerimaan ijazah. Dia menghilang entah kemana, tanpa kabar. Anak-anak yang
masih mengejek Gee bilang kalau Gee mati bunuh diri gara-gara ga kuat nanggung
malu.
Raphael yang
juga menghilang beberapa hari, muncul kembali disaat acara perpisahan. Dia
sudah pulih dari syock nya yang juga dianggap homo, tapi ga separah seperti
yang dialami Gee, karena pada saat itu Gee lah yang mengakui perasaanya duluan,
dan orang-orang juga dengar kalau Raphael mencoba menjelaskan keadaan yang
sebenarnya. Raphael dan Febri yang khawatir akan keselamatan Gee, mencari-cari
kabar tentangnya. Tapi sampai detik ini mereka tidak tahu Gee pergi kemana.
Temannya itu pergi tanpa pamit.
Gee yang
sekarang, tersentak dari lamunannya yang mengerikan itu, menggeleng-geleng
beberapa kali untuk menjernihkan pikirannya kembali. Kemudian, matanya
mengerjap-ngerjap, sambil mengamati kesekelilinya kamarnya . Lalu Gee bangun
dari duduknya, lantas segera menyelesaikan membersihkan kamarnya, kemudian
tertegun kembali di sisi jendela. Dia melamun lagi.
Dulu dia cowok
normal. Sampai sekarang pun, dia yakin kalau dia normal , tapi kenapa ya dia
sempat suka sama Raphael? padahal, kalau dia emang penyuka sesama jenis,
seharusnya dia sudah suka sama Raphael sejak dulu! Tapi Gee tak berusaha menyangkalnya
lagi, sampai detik ini perasaannya masih sama. Tak berubah. Yang berbeda
hanyalah, sekarang Gee berusaha menyembuhkan hatinya dengan kehadiran seorang
wanita. Dia adalah Dhea.
Gadis yang ia
temuinya di kampus. Dhea sudah sudah tahu seluk-beluk dan masa lalu Gee,
termasuk masa lalunya yang memalukan itu. Tapi, Dhea tak keberatan. Dia bisa
menerima Gee apa adanya, dan menganggap itu semua sebagai masa lalu.
Dia dan Dhea
sudah berpacaran selama setahun. Semakin lama Gee semakin menyayangi gadis itu.
bukan hanya cantik, tapi dia juga sangat pengertian dan baik. Terlebih lagi,
dia tidak pernah menyinggung-nyinggung masa lalu Gee atau membicarakan hal yang
membuatnya tidak nyaman. Semuanya berjalan lancar, sampai, pada suatu hari ,
dia dipertemukan lagi dengan cinta pertamanya.
Dia bertemu Raphael lagi saat sedang kencan
dengan Dhea di sebuah restoran. Saat itu juga, Gee melihat Raphael sedang
bersama seorang wanita. Siapakah dia?
Gee ingin
langsung pergi dari restauran itu dan mencari tempat lain. Tapi urung ketika
Raphael dengan lantang memanggilnya.
“ Gee!!!! ,”
Gee Cuma bisa
terperangah dengan wajah tegang tersembunyi dibalik daftar menu. Dhea hanya
kebingungan melihat tingkahnya. Detik berikutnya suara langkah Raphael
terdengar mendekat kearah meja mereka, diikuti suara sepatu hak tinggi seorang
wanita.
Lalu apakah yang
akan Gee lakukan?
Diposting oleh Unknown di 09.09 0 komentar
Langganan:
Postingan (Atom)