BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS »

Sabtu, 23 Agustus 2014

Cerpen remaja romantis




Pesan Sedih Untukku
Aku terdiam dan terpana waktu kulihat seorang cowok berdiri didekatku. Tubuhnya tinggi, dan kulitnya putih, memakai kaca mata kotak. Dia, sangatlah tampan.
Aku tertarik, karena seperti dialah sosok cowok idamanku, tapi aku tidak tahu siapa dia. Karena ini pertama kalinya aku melihat cowok itu disini, disekolahku.
" Ryuji! ," panggil seseorang didepan aku. Dan, cowok itu pun menyahut kepada orang yang memanggil tadi. Dia lantas pergi menghampirnya.
"Ooh Ryuji namanya ," pikirku terkesima. Kulihat sosoknya dari belakang yang tinggi. Berjalan dengan gagahnya, sampai dimenghilang dari pandangan.
" Sir, aku baru saja bertemu dengan cowok idamanku tadi, " seruku langsung memberi tahu Siri yang tengah mencoret-coret halaman belakang bukunya. Dia menengadah menatapku. " oh ya? Dimana? ,"
" dikantin tadi ," jawabku ceria.
Siri terkekeh seraya menutup bukunya " Disini? siapa? kok baru ketemu?," tanyanya lagi.
" sepertinya dia anak baru ," kataku " soalnya aku baru lihat cowok kaya dia ,"
"Hemm bisa jadi. Tampan gak?,"
" tentu.,"
"Makanya aku langsung suka ," ujarku gembira.
" ooh yah---selalu cowok tampan yang kau suka. Kenapa selalu melihat luarnya saja, sih?" keluh Siri heran.
" karena cinta sejati berawal dari pandangan wajah. ," sahutku sambil nyengir lebar. Siri hanya mendengus  dan mencibir , sudah menduga kalau aku akan jawab begitu.

Siri selalu menasihatiku kalau dalam memilih pasangan janganlah hanya melihat tampangnya saja, tapi isi hatinya juga. Apakah dia tulus atau tidak. Percuma kan kalau punya pacar ganteng tapi sering nyakitin hati?. kupikir perkataan Siri memang ada benarnya, tapi bagaimana kita akan tahan jika punya pacar yang jelek. Aku tidak mau seperti itu! Lagipula tidak semua orang tampan itu brengsek kan?!
Aku selalu mendengus kalau Siri sudah mulai menasehatiku tentang pacar sementara dia sendiri belum pernah sekalipun pacaran. Sotoy sekali dia, kadang-kadang aku suka jengkel kalau sifat nenek-neneknya keluar.

Sepulang sekolah, aku dan Siri bertemu si cowok ganteng itu didepan sekolah, Dia sedang berdiri di trotoar sambil nunggu angkot.
Aku berbisik ke Siri bahwa cowok itulah yang aku maksud. Dan Siri setuju kalau cowok itu memang ganteng. Tapi tetap saja Siri bersikap dingin saat melihat setiap cowok yang aku sukai. Aku berinisiatif ingin mengajaknya kenalan, tapi saat ku ajak Siri dia langsung menggeleng keras.
“ gak ah. Malu, kita kan cewek, Rea ,” tukasnya , masih dengan kepala menggeleng. “ masa kita nyamperin cowok duluan ,”
“ aahh biarin saja. Jaman sekarang wanitalah yang memulai duluan ,” kataku sembari mengapit tangan Siri, menggeretnya mendekati cowok itu. Siri berusah memberontak, dia hampir saja mencubit lenganku, tapi dengan sigap aku lekas mengelak, dan dia pun akhirnya menyerah.
Si cowok tadi menoleh kearah kami berdua, tanpa ekpresi.
“ Hai! ,” sapaku lantang. Siri yang disebelahku sedikit terkesiap karena suaraku yang begitu keras, dia pun samar-samar ikut berda-dah kepadanya. Ryuji tersenyum tipis, tangannya melambai sesaat.
“ hai juga ,” katanya malu-malu. “ nama kamu siapa? Nama aku Rea, dan ini temanku Siri. Kamu anak baru yah, soalnya muka kamu terlihat asing sih dan--,” Siri langsung menyenggol rusukku, untuk menghentikan ocehanku yang tiada henti, dan aku pun langsung melototitnya dengan tatapan: apa sih? Ngeganggu aja!
“ namaku Ryuuji ,” jawab Ryuuji singkat, dan sebenarnya aku sudah tahu itu. “ iya aku baru saja pindah kesini, “ sambungnya.
“ waah, begitu ya. kalau gitu salam kenal Ryuuji, aku harap kita bisa lebih akrab, iya kan , Siri? ,” ujarku sekaligus menyindir Siri yang sedari tadi hanya diam saja. Siri langsung mengangguk cepat-cepat mengiyakan sementara wajahnya mulai memerah.

Skip time. Beberapa bulan kemudian...
Aku dan Ryuuji jadi semakin dekat. Sedangkan Siri masih tetap bersikap dingin padanya, meskipun kami bertiga sering ngumpul bareng. Ryuuji sangat baik, dan dia juga perhatian padaku dan Siri. Dia juga sudah sering mengajakku nonton, jalan bareng dan curhat. Membuatku semakin ingin memilikinya segera. Entahlah, akhir-akhir ini aku jadi sering mikirin Ryuuji. Mikirin apakah dia juga punya perasaan yang sama padaku?
Rasa gelisahku pun membuat aku ingin menumpahkannya pada seseorang. Bukan pada Ryuuji, tapi pada Siri kali ini.
“ tumben kau main kerumahku. Sudah lama sekali , kan ,” kata Siri ketika aku datang kerumahnya di Minggu sore. Aku yang sudah dekat dengan Siri sejak SMP memang sudah sering main kerumahnya, tapi sejak SMA dan kenal Ryuuji, aku jadi jarang kemari lagi. “ mau minum apa? Ada es jeruk tuh ,” Siri menawari sambil menuju kulkas di dapur. “ boleh. Tapi jangan manis-manis ya ,” pintaku, seperti sedang memesan minuman sama penjual es jeruk. Siri langsung manyun , dan aku terkikik di balik majalah yang sedang ku baca. “ iya nona ,” balasnya jengkel, tapi tetap menyuguhkan minumannya . Kemudian Siri datang lalu menaruh nampannya di atas meja , seraya ikut duduk disebelahku. “ ada apa? ,” tanya Siri.
“ Sir, kayanya aku naksir deh sama Ryuuji ,” terangku blak-blakan, sembari meletakan kembali majalahnya. 
“ oh ya? ,” Siri menanggapinya dingin, membuatku tampak kecewa dengan responnya. “ kok cuma ‘oh ya?’ ,” tanyaku tak puas.
“ terus mau kaya gimana? Apa aku harus bilang Wow sambil guling-guling dipasir? ,” Siri bergurau tanpa memandangku.
“ yah seenggaknya kamu kaget atau apalah ,” balasku menggerutu.
“ ngapain kaget. Aku kan sudah tau sejak awal kalau kamu suka sama Ryuuji. Kamu sendiri yang bilang kalau Ryuuji itu cowok idaman kamu, ingat? ,” Siri mengingatkan. Dengan terpaksa aku mengiyakan, sambil terus bergumam mencemooh padanya. “ apakah itu respon seorang sahabat ketika temannya sedang butuh bantuan? ,” desisku keras, sengaja agar Siri mendengarnya. Siri hanya menggeleng pelan, lantas berpaling padaku. “ iya deh. Ada apa Rea ku? ,” tanyanya lunak.
“ aku harus gimana, Sir? Selama ini Ryuuji terus baik sama aku. Dan aku takut kalau aku cuma ke ge-eran. Sementara Ryuuji sendiri masih keliatan biasa-biasa saja. Aku penasaran banget tentang perasaan dia ke aku tuh kaya gimana? ,” aku mengeluh sambil menyeruput habis es jeruk dengan wajah cemberut. Membuat Siri sedikit tertawa kecil melihatku.
“ hemm, kamu sendiri pernah bilang kalau jaman sekarang, wanitalah yang memulai duluan ,” kata Siri , suaranya berubah serius. “ maksudnya? ,” tanyaku, tak mengerti. Sesaat Siri menghela nafas lantas menatapku dengan tatapan yang dalam. “ Rea, kalau kamu suka dia, kamu katakan saja langsung. Dan tanyakan pada  Ryuuji , apakah dia suka juga sama kamu? ,”
Aku terperangah sebentar. Tak bisa membayangkan kalau aku yang mengatakannya duluan, sungguh memalukan. “ masa aku duluan sih? ,” seruku.
“ terus siapa lagi? Kan kamu yang suka. Lagi pula gak ada salahnya kan mengungkapkannya duluan ,” tutur Siri.  “ emm...tapi--,”
“ ayolah, kamu bakalan terus penasaran dan galau kayak gini kalau belum mencobanya. Jangan takut di tolak, toh itu sudah jadi resikonya. Lagian kalau kamu di tolak, gak bakal ngerubah apapun ,” kata Siri lagi sambil tertawa.
Aku pun cuma termangu. Sambil membenamkan wajah di bantal sofa, memikirkan cara untuk mengungkapkannya pada Ryuuji. “ aku malu , Sir ,” bisikku, dan wajahku memerah padam.
“ oh masih punya rasa malu ya? ,” celetuk Siri, kemudian tertawa terbahak-bahak. Aku langsung melemparnya dengan bantal yang sedari tadi ku pegang., tapi meleset, dan tawanya semakin menggema . Rasanya saat seperti ini pernah kami rasakan sebelumnya. Saat kami SMP dulu.

Keesokan harinya. Saat pelajaran Olahraga.
Aku sudah memutuskan ingin menembaknya. Saat permainan basket untuk anak perempuan selesai, ku ajak Siri untuk menemaniku, tapi dia menolak dan berkata mau ke UKS karena mendadak kondisinya sedang tidak baik. Jadi, dengan sangat terpaksa, dia menyuruhku untuk pergi sendiri.
Aku pun menuju bangku di sisi lapangan. Disanalah Ryuuji sedang duduk, berpeluh habis main futsal. Dia terseyum lebar padaku ketika aku datang menghamipirnya. Ryuuji bergeser lantas menepuk bangku disebelahnya menyuruhku duduk.
“ hei ,” sapanya. Aku membalasnya dengan senyum juga lantas menyodorkannya sekaleng minuman. “ waah tahu saja kalau aku sedang butuh yang segar-segar ,” ucapnya senang , sembari membuka pengait pada kaleng itu lantas meneguknya penuh dahaga. “ terimakasih ,”
“ sama-sama. Emm Ruuji, ada yang ingin ku sampai kan...,” ujarku gugup.
“ oh ya? apa itu ?,” tanyanya.
“ errh itu...itu...Ryuuji...aku--menyukaimu ,” kataku lambat-lambat. Ryuuji nampak terperangah, mulutnya sedikit terbuka. Sesaat kemudian dia malah tersenyum lebar. “ aku juga suka sama kamu kok ,” jawabnya sambil tertawa kecil. “ a-aku serius, Ryu! ,” seruku tegas. “ lebih dari pada sekedar perasaan teman. A....aku...aku menyukaimu sejak awal kita bertemu—apa kau juga merasakan hal yang sama? ,” tanyaku lagi sambil tertunduk malu. Sesaat hening. Ryuuji tak bersuara apa-pun, sementara dengan perasaan yang amat tegang, aku memejamkan mata di hadapannya, menunggu jawaban Ryuuji.
Terdengar Ryuuji merdeham, dan menggumamkan sesuatu. Jantungku berdegup tak karuan dan begitu menyesakkan dada, sehingga tanpa tunggu lebih lama lagi aku segera bangkit dan pergi dari situ dengan wajah merah padam. Aku tak sanggup mendengar kata, tidak!
“ Rea , tunggu! ,” panggil Ryuuji, membuat langkahku terhenti saat itu juga. Aku tak berani menoleh. Kemudian terdengar langkah kakinya mendekat, lalu berhenti, tepat di belakangku. Aku semakin gemetaran dan mendakak lemas di bagian lutut. Kalau saja ada Siri, aku mungkin sudah pegangan dengannya.
“ Bukankah aku sudah mengatakannya juga? kenapa kau malah pergi? ,” ujar Ryuuji. “ a-apa?,” Desisku gelagapan. “ aku juga bilang, kan kalau aku juga suka padamu. Dan ku pikir setelah bicara seperti itu kita bisa berpacaran ,” bisiknya pelan, membuat bulu kudukku merinding. “ a—apa kau serius? ,” tanyaku takut-takut. Dan sepertinya Ryuuji mengangguk, tapi aku tidak tahu soalnya, aku memunggunginya terus. Lalu Ryuuji memegang pundakku, membalikannya hingga wajah kami berhadapan. Dengan tatapan yang dalam, dia mengatakannya sekali lagi “ aku juga menyukaimu, Rea. Mau kah kau menjadi pacarku? ,”
Aku terperangah tak percaya. Seperti sedang bermimpi. Mulutku sampai menganga saking
terkejutnya. Ryuuji masih menatapku, seolah menunggu. “ jadi? ,”
Aku pun mengagguk pelan. Mengiyakan. Namun, tiba-tiba saja teman-teman sekelasku bermunculan dilapangan. Mereka bertepuk tangan seraya menyorakiku dengan nada menggoda. Kemudian menyelamati hubungan kami. Di sela-sela hiruk-pikuk itu, di balik pundak Ryuuji, kulihat sosok Siri tengah berlari terpogoh-pogoh di lorong. Wajahnya merah seperti habis menangis, dan mulutnya terus ditutupi. Ada apa ya dengannya? Aku penasaran, namun segera lupa oleh kebahagiaan yang begitu besar hari ini.
Ketika pulang sekolah, aku baru bertemu Siri. Dia sedang berjalan gontai di trotoar , hendak pulang. “ Siri! ,” panggil ku setengah berteriak. Dia pun berhenti, tapi tak menengok. Aku berlari menghamburnya , merangkulnya dari belakang. “ yo! Kau tahu, kami resmi jadian ,” ujarku memberi tahu. “ oh yeah? Bagus kalau begitu ,” sahutnya singkat, tanpa memandangku. Ku tengok wajahnya, dan dia langsung menunduk. “ kau kenapa? Kok menangis? ,” tanyaku cemas. Siri kemudian memandangku, dengan matanya yang sedikit memerah. “ oh-siapa yang menangis? Tadi mataku kelilipan ,” katanya tanpa ekspresi. Aku mengernyit, dan tak lantas mempercayainya. Ekspresnyinya jelas di buat-buat. Tapi aku tidak mau bertanya lebih banyak lagi, karena hari ini aku begitu gembira. “ oke-oke. Kalau begitu kita ke mini market di depan yuk! Aku mau mentelaktirmu makan es krim.,” ajakku.
“ maaf aku tidak bisa Rea. Kepalaku masih sakit. Aku mau istirahat di rumah. Dan oh ya, selamat atas hubungan kalian. Sampai jumpa ,” ucapnya cepat, kemudian pergi. Aku yang bingung hanya bisa diam di tempat sambil memandangnya dari kejauhan, berharap kalau Siri tidak apa-apa dan segera baikkan. “ seharusnya ini jadi hari yang istimewa. ,” gumamku kecewa. Aku pun pulang dengan perasaan yang hampa.
Hubunganku dengan Ryuuji berjalan dengan mulus. Kami berdua merasa kompak dan sangat cocok. Tapi, di tengah kebahagiaan kami, muncul masalah pada Siri. Entah kenapa akhir-akhir ini dia sering melamun dan terlihat galau, dia juga sering menyendiri di perpusatakan. Kalau ku perhatikan, wajahnya murung sekali, seperti sedang banyak pikiran.
Akhirnya pada saat jam istirahat, saat Ryuuji mengajakku ke kantin, aku menolaknya dan pergi sendirian ke perpustakaan di lantai dua. Disanalah ku temui Siri sedang menyendiri di meja baca. Dia menoleh sebentar sambil menyunggingkan senyuman tipis dengan wajah muramnya. Kemudian aku duduk menghadapnya. “ sedang apa kau? ,”
“ baca buku ,” jawab Siri sekenanya. Aku manggut-manggut saja. Hening. “ ku perhatikan sikapmu aneh belakangan ini ,” aku mengomentari, dan membuat wajah Siri langsung mendongak. “ aneh kenapa? ,” tanyanya balik.
“ yah, kau jadi lebih suka sendirian dan terlihat murung. Hey—beri tahu aku, ada apa? Siapa tahu aku bisa membantu ,”
Siri terkekeh, senyumnya jadi berupa seringaian. “ aku baik-baik saja. Oke? ,”
“ jangan bohong. Aku tahu kau sedang kena masalah. Aku sudah kenal kau sejak lama ,” kataku tegas. “ ceritalah padaku, maka aku akan marasa lebih berguna untukmu ,” akhirnya dengan helaan nafas panjang Siri mulai bercerita. Tentang perasaannya. “ Rea, apakah aku salah menyukai orang yang sudah berpacaran? ,” katanya begitu sedih. Aku sedikit terkejut mendengarnya, namun segera tenang kembali. “ tentu saja tidak Sir. Kau berhak menyukai siapapun, meski itu sudah jadi milik orang lain ,” kataku pelan. Siri nampak menghela nafasnya lagi, kali ini lebih berat. “ aku sangat bodoh. Seharusnya aku tahu kalau dia sudah punya pacar sekarang ,” ucapnya,getir. “ bahkan aku berpikir untuk mengungkapkannya duluan seperti mu ,”
“ memangnya siapa dia? ,” tanyaku penasaran. Siri berpaling, lalu menatap nanar rak-rak buku di belakangku. “ dia orang yang spesial. Cinta pertamaku. Mungkin. Dan andai saja aku lebih dulu memilikinya. Andai aku berani...,” aku semakin ikut bersedih, karena aku merasa kesedihan Siri adalah kesedihanku juga. Aku tak tahu harus berbuat apa, selain menghiburnya dengan kata-kata. “ Sudahlah Sir, jangan terlalu di pikirkan...memang pahit sih, tapi cobalah untuk melupakan orang itu. Mungkin butuh waktu yang lama untuk melupakannya, tapi aku yakin sedikit-demi sedikit kau pasti bisa. Oh ya ngomong-ngomong siapa sih dia? ,” tanyaku masih penasaran dengan sosok cowok yang disukai Siri. Tapi sampai percakapan kami usai Siri masih enggan mengatakan siapa orang itu , bahkan ciri-cirinya pun tidak. Maka, sebagai teman, aku harus mengerti dirinya yang masih sakit hati itu dengan tidak menyinggung-nyinggung masalahnya lagi. Sampai di hari Anniversary kami tiba.
Sudah tiga bulan kami berpacaran. Dan kami sepakat akan merayakan hari jadi kami setiap tiga bulan sekali. Sama seperti pasangan lainnya, aku pun memutuskan untuk tukar kado di hari itu. Aku penasaran apa sih yang bakal Ryuuji berikan? Aku jadi deg-degan sendiri sambil terus mencoret hari demi hari menuju tanggal 14 di kalender. Aku tersenyum sendiri sampai membuat Ibuku menggeleng-geleng heran. Ternyata dia mengamatiku dari tadi, membuatku jadi malu sendiri.
Tepat saat itu, Siri menelponku, dan dia memintaku untuk datang ke rumahnya. Aku langsung buat alasan, karena disaat berbarengan Ryuuji memintaku untuk datang kerumahnya juga. aku pun tak mungkin mengecewaknya. “ maaf aku harus ke rumah sakit , Sir. Pamanku sedang sakit. Maaf ya. memangnya ada apa kau menyuruhku datang? ,”
“ tidak apa-apa. Kalau begitu sampai jumpa! ,” jawabnya cepat, dan langsung menutup telpon. aku mengernyit bingung lalu segera bersiap-siap pergi ke rumah Ryuuji.

Keesokannya Siri datang kerumahku, dengan membawa sepiring kue ulang tahun. Membuatku merasa tidak enak dan malu. Aku baru ingat kemarin adalah hari ulang tahunnya. Dan sekarang Siri sendiri yang mengantarkan kuenya itu untukku. “ kemarin karena kau tak datang, aku menyisakannya untukmu. Nih! ,” aku menerimanya dengan perasaan yang amat bersalah, tapi dia masih tetap tersenyum padaku. “ Maaf Siri. aku belum menyiapkan kado dan tak datang ke rumahmu ,”
“ Tak apa. Lagi pula kemarin teman-teman dan saudaraku pada datang, jadi aku tak begitu sedih. Kau tak datang karena sedang menjenguk pamanmu kan?,” serunya ceria, membuatku semakin tidak enak. Oh—aku benar-benar teman yang jahat, sampai-sampai lupa pada ulang tahun temanku sendiri. “ Ryuuji juga sudah menyelamatiku kemarin dan dia juga memberiku kado ,” kata Siri , membuatku langsung menoleh cepat memandangnya. “ Ryuuji memberimu kado? Memangnya dia tahu ulang tahunmu? ,” tanyaku penasaran. “ ya bahkan sehari sebelumnya. Sampaikan terima kasihku padanya nanti ya, karena aku tidak masuk besok. ,” kemudian Siri meminta diri pamit lalu pergi. Aku pun hanya mengangguk sambil terbengong-bengong. “ kenapa Ryuuji tidak memberi tahuku??? ,”

Setelah kejadian yang membuatku sangat tidak enak kepada Siri, hal lain lagi membuatku sedikit penasaran dengannya datang. Yaitu, kenapa belakangan ini Siri terlihat gembira sekali? Berbeda 180 derajat dari hari-hari sebelumnya. Hal itu membuatku ingin sekali bertanya, tapi dia langsung menggeleng dan bilang : “ aku biasa saja ,”. Setelah beberapa lama kuperhatikan, barulah aku sadar, kalau sekarang Siri sedang kasmaran. Tapi sama siapa ya?
“ kulihat kau gembira sekali akhir-akhir ini ,” tegurku saat kami menuju gerbang sekolah bersama. Disana Ryuuji sudah menunggu. Siri langsung menoleh dan rahangnya langsung merapat, membentuk sebuah garis. “ aku? Biasa saja ,” katanya, dengan jawaban yang sama. “ kau tidak seceria ini beberapa hari yang lalu. Eh, apakah cintamu sudah terbalas? ,” tanyaku asal, membuat ekspresi ceria Siri memudar. “ sudahlah jangan bahas itu. aku sudah hampir bisa merelakannya tahu, dan jangan buat aku menginginkannya lagi ,” tuturnya pelan. Aku mengangguk seraya minta maaf. “ lalu apa yang membuatmu senang? ,” tanyaku lagi.
“ aku senang karena..,” belum sempat dia meneruskan perkataannya, tiba-tiba saja Ryuuji memanggilku, membuatku berpaling dan lantas menghampirinya. “ bentar ya ,”
Kemudian kami sedikit bercakap-cakap, lalu aku melambai kepada Siri karena akan segera pulang. Dia melambai padaku dengan senyum hambarnya, seraya berpaling, dan lenyap dari lorong kelas. Mungkin dia mau ke toilet dulu sebelum pulang, pikirku santai. Tanpa menyadari kesedihan menyelimutinya lagi.

Hari Jumat, tanggal 13.
Hari anniv ku sudah dekat. Yah sekitar beberapa jam lagi deh. Aku tidak sabar menunggunya, dan bertanya-tanya apa yang akan Ryuuji berikan kepadaku? Sementara aku memandang kado kecil yang sudah aku siapkan, dengan penuh harap. Ryuuji pasti akan senang menerima ini sebagai hadiah anniv kami, pikirku. Aku terus berhayal-hayal sembari mengsms-nya.
Lama...dia tak membalas. Akhirnya sambil menunggu sms balasannya, aku bersiap-siap berangkat kesekolah.
Sesampainya, aku melihat Ryuuji sedang berjalan di halaman sekolah. Dia baru datang juga rupanya.
Aku bermaksud memanggilnya, namun kudengar namanya dipanggil duluan oleh seseorang. Aku pun langsung berhenti, melihat seorang gadis mungil, berambut ikal, berponi rata, tengah berlari kecil menghampiri Ryuuji. Gadis itu adalah Siri, yang aneh sekali terlihat begitu riang gembira. Kuperhatikan mereka : bercakap-cakap sambil tertawa, bercanda, lalu tak lama Siri pun pergi. Sedang membicarakan apa mereka? sepertinya seru sekali. Sesaat setelah Siri pergi, aku baru menghampiri Ryuuji, dan ekspresinya memandangku seperti orang kaget. “ ooh-kau, Rea. Mengagetkan ku saja. ,” katanya sembari mengelus-elus dada. “ pagi sayang ,” aku hanya manggut-manggut saja sambil terseyum kaku. Lantas menggapit tangannya. “ Tadi Siri bicara apa padamu? ,” aku bertanya. “ Gak penting, cuma sekedar nanya apa buku Pr nya ada sama aku apa enggak? ,” jawab Rruuji. “ kok dia gak tanya aku juga? aku sama dia kan sekelas? ,” ujarku heran, membuat Ryuuji nampak berpikir-pikir. Gelagatnya mencurigakan. “ entahlah ,” gumamnya. “ oh ya kalau gitu, aku anter kamu ke kelas yah—sekarang pejaran apa? ,” katanya gelagapan , dengan upaya membuatku lupa soal tadi. “ gak usah, aku bisa sendiri. Eh iya, nanti malam kita keluar yuk! Aku mau cari baju, temenin aku ! ,” pintaku manja, dan sepertinya sudah lupa dengan kecurigaanku tadi.
Ryuuji nampak salah tingkah, dia terus menggaruk-garuk kepalanya yang sepertinya tidak gatal. “ ehm, Rea....sorry, kayaknya aku gak bisa nanti malam ,” katanya lambat-lambat. “ besok aja gimana? ,” usulnya kemudian. Aku langsung membelot sambil berkacak pinggang. “ kenapa gak bisa? Emangnya kamu mau kemana? Kenapa harus besok? Memangnya kamu gak inget besok hari apa ,” tanyaku bertubi-tubi. Ryuuji tersentak sedikit, dengan sabar dia menjelaskannya, meskipun tetap saja membuatku kecewa.
Huh! Ryuuji bilang mau mengerjakan tugas kelompok sama temannya nanti malam, dan juga bilang kalau itu tidak bisa ditunda. Aku berusaha untuk mengerti, tapi tetap saja aku sebal setengah mati. Bahkan temanku sendiri, Siri, tidak bisa menghiburku. Dia juga menghilang entah kemana. Aah kenapa disaat seperti ini tidak ada yang menghiburku? Mereka semua pergi dengan urusannya masing-masing. Sementara aku hanya sendiri mendekam dirumah. Sungguh menyebalkan!
Untuk menghilangkan bosan, aku nekat pergi ke mall sendirian. Biarlah aku menghilang sejenak untuk melepaskan rasa jenuh. Maka, kesinilah aku pergi. Ke sebuah Mall tak jauh dari rumah. Aku menulusuri toko-toko pakaiannya. Mencari dress yang bagus untuk ku pakai di hari anniv ku nanti. Tapi anehnya, dari sekian banyak toko yang kusambangi, tak ada satu pun yang cocok denganku. Aku pun mulai letih berjalan dan kakiku terasa pegal sekali. Aku pun beristirahat sejenak, duduk di bangku kayu melengkung. Bersandar dengan kedua lengan sambil merilexkan badan. Memang, kalau belanja sedirian kurang mengasyikan, apa lagi tidak ada orang yang bisa di tanyai pendapatnya. Hal seperti ini biasanya Siri yang paling jago. Dia pandai sekali mencocokan baju sesuai dengan seleraku. Tapi, sekarang dia sedang pergi, dan aku pun tidak tahu kemana. Beberapa menit kemudian, saat aku sedang memperhatikan pengunjung yang hilir mudik di depanku, tiba-tiba saja mataku menagkap sosok tubuh seseorang yang sangat familiar sekali. Dia sedang melihat-lihat baju di toko yang tak jauh dari tempat ku berada. Dia bersama seseorang. Yang membuatku sanggup untuk memekik kencang. “ R—Ryu!!! Siri!? ,” aku langsung terperanjat dari duduk, lantas berjinjit untuk melihatnya lebih jelas dari atas kepala-kepala pengunjung yang lain. Jantungku mencelos, dan mendadak berdetak kencang. Seketika itu juga perasaanku mulai tak enak. Penasaran bercampur berang, aku mulai menghampiri kedua orang itu, menyelinap diantara orang-orang yang berjalan dan berhenti di toko-toko. Aku berusaha mempercepat langkah, tapi orang-orang ini menghabatku. Kedua orang itu terlihat sedang bercanda sambil mengambil sehelai baju dari kejauhan. Mereka tertawa lepas. Dan semakin ku mendekat, semakin jelaslah bahawa mereka berdua adalah Ryuuji dan Siri.
Mereka berdua langsung menoleh dan berhenti tertawa, seraya ada ketegangan menyelimuti ekpresi mereka. Aku terengah penuh kemarahan. Berdiri di depan mereka dengan tangan terkepal. Siap untuk tempur.
“ kalian! ,” seruku tajam. “ sedang apa kalian disini? Ryu! Bukankah kau bilang mau mengerjakan tugas kelompok, hah? ,”
Mereka berdua saling pandang, kemudian balik menatapku dengan tegang. “ K-kami...Rea, aku bisa jelaskan ,” cicit Ryu tergagap. “ aku dan dia—kami hanya...,”
“ hanya apa??? ,” sentakku marah. “ kalian berdua pembohong! ,”
“ Tu—tunggu, Rea. Dengarkan dulu penjelasan kami ,” kata Siri panik bercampur takut.
“ DIAM  KAU!! ,” teriakku kalap, membuat semua pengunjung menoleh dan memperhatikan kami. Siri nampak terkejut sekali, dan dia nyaris menangis. “ kau—kalian! Aku kecewa sekali pada kalian. Tega-teganya membohongiku dan mengkhianatiku ,” gerammu kesal. Aku tidak peduli lagi dengan tatapan aneh orang-orang di sekelilingku yang sekarang tengah berbisik-bisik mengomentari. Sementara Siri dan Ryuuji nampak syok. “ Rea, tenang. Ini semua tidak seperti yang kau pikirkan! ,” ujar Ryuuji pelan. Terdengar suaranya begitu tertekan dan panik. Tangannya bergerak hendak menyentuh pundakku, namun aku langsung menepisnya dengan ekpresi jijik bercampur muak. “ CUKUP!!! ,” raungku emosi. “ cukup...aku gak mau dengar apa-apa lagi. Kalian...kalian mengkhianatiku. Dan.. ,” kini aku menatap Siri dengan penuh kebencian. “ sudah kuduga memang selama ini kau menyukai Ryu juga kan. Huh! Suka yah sama orang yang sudah punya pacar, hmm...? dan sekarang kau mencoba merebutnya dariku, begitu? Katakan Siri, KATAKAN! ,” emosiku sudah memuncak, rasanya aku ingin meledak! Entah bagaimana lagi aku harus melontarkan kemarahanku yang menyakitkan ini. “ aku benci kalian! Aku benci...dan kau Siri, mulai detik ini....kita putus sebagai sahabat!! ,” kecamku padanya. Air mataku pun menetes, berleleran di pipi. Sementara itu Ryuuji nampak ingin menyentuhku lagi, namun aku langsung mundur menjauhinya sambil menyeka air mata yang membasahi wajah. “ cukup Ryu...kau sudah membuatku kecewa. Aku sangat mencintaimu, tapi kenapa kau sungguh tega?! ,” isakku, merana. Aku pun berbalik, dan menyeruak pergi diantara kerumunan orang yang menonton. Aku tak sanggup lagi berdiri disana. Aku tak kuat melihat kedua orang yang aku sayangi tega menyakitiku. Dan tak kuasa lagi aku menahan tangis pedih ini.
Aku ambruk di tepi tempat tidur ketika sampai. Dan masih menagis tersedu-sedu. Aku tidak tahu lagi harus berbuat apa, rasa kekecewaanku membuatku tak berdaya. Aku ingin sekali berteriak, melontarkan semua emosi yang masih terpendam.
Hatiku benar-benar hancur. Sakit rasanya....dan tak henti-hentinya pikiranku membayangankan tentang kebersamaan mereka. Dan di benakku terus terngiang-ngiang ucapan Siri tentang perasaannya.
Apakah mereka sudah melakukannya sejak lama dibelakangku? Apakah mereka telah berpacaran selama ini? Dan bermacam-macam lagi pertanyaan yang muncul di kepalaku, sampai-sampai membuatku pusing dan stres.
“ Rea...Rea, kamu sudah pulang? ,” suara Ibu membangunkanku dari tidur. Aku mengerjap-ngerjap, dan tersadar. “ iya Buu ,” sahutku dengan suara yang diusahakan se-biasa mungkin. “ makanlah, Ibu sudah siapkan makan malam nih ,” katanya lagi. Aku menguap seraya memaksakan diri untuk duduk, tapi kepalaku terasa beraat sekali, sehingga aku tekulai kembali ke kasur. “ iya Bu nanti! ,” dan kemudian hening. Ku rasa Ibu sudah pergi dari situ. Aku memandang langit-langit kamar yang kerkerat. Pikiranku kosong, tatapanku menerawang jauh. Dan terpejam kembali ketika kejadian itu tiba-tiba saja muncul di benakku lagi.
Sungguh hari yang buruk untukmu, Rea!

Aku masuk keesokan harinya ke sekolah. Berharap tidak ada hal buruk yang menimpaku lagi. Aku masuk saat pelajaran sudah mulai lima menit yang lalu, dan mendapati Siri sedang duduk di bangkunya seperti biasa, disebelahnya bangkuku yang kosong. Aku tak lantas duduk disana seperti biasa, tersenyum menyapanya dan bersikap seolah tak terjadi apa-apa diantara kami. Aku memilih duduk dengan Lukman di barisan depan. Sebisa mungkin aku tak bicara apa lagi kontak mata dengan Siri, rasa benciku masih terukir jelas sampai keubun-ubun. Membuatku ingin muntah kalau mengingatnya lagi.
Sementara antara aku dan Ryuuji...ku anggap kami break!
Sedari malam dia terus menghubungiku terus, baik lewat sms maupun telepon.Tapi tak satupun ku respon. Aku sudah kelewat kecewa padanya, dan tidak mungkin memaafkannya begitu saja, meskipun aku teramat sangat mencintainya dan tak ingin melepaskannya seperti apapun kemarahanku.
Tapi tetap saja aku masih kesal.
“ Rea tunggu! ,” panggil Siri. membuatku muak setengah mati mendengarnya. Aku jalan saja terus. Tapi dia menahanku. “ apa?! ,” sentakku galak. “ maafin aku! ,” katanya. “ enteng banget kamu bilang maaf! Emang kamu pikir apa yang kamu lakukan? ,” tukasku berang. “ pergi dan jangan ganggu aku! Aku gak sudi punya temen kayak kamu ,” semburku, lalu pergi sambil sengaja menabrak pundaknya kasar. “ aku mau ngejelasin semuanya Rea!! Rea!! Dengerin aku dulu...please, Re ,” aku terus berjalan, mengabaikan Siri yang terus berteriak memanggilku. Tak peduli sekarang dia merintih dan menangis. Penderitaanku lebih dalam dari pada  itu. aku pun tak perpaling lagi, saat itu juga persahabatan kami berakhir untuk selama-lamanya.

Berakhrinya persahabatanku, tak berakhir pula hubunganku dengan Ryu. Aku masih mengharapkannya, namun masih terlalu angkuh untuk memaafkannya sekarang. Ryu masih suka menelponku, tapi lagi-lagi aku tak menanggapinya. Dan, pada suatu hari barulah aku bicara dengannya, di sebuah kafe sehabis pulang sekolah. Dia langsung membahas kejadian itu, membuatku muak sekali. Dan yang yang lebih menjengkelkannya lagi, dia menyebut nama Siri di hadapanku.
“ dia tidak masuk lagi ke sekolah akhir-akhri ini. kau tahu? ,” tanyanya memancingku. “ heh mana ku tahu? Peduli amat ,” sahutku angkuh. “ Rea, sudahku bilang. Saat itu kami berdua janjian untuk membelikanmu hadiah untuk anniv. Aku yanng memintanya, jadi dia tidak salah sama sekali. Dia tak punya perasaan padaku. Tak pernah, bahkan itu sekali-kalinya kami bicara bersama! Ayolah ku mohon maafkan aku dan Siri! maaf atas kebohongan kami ,” katanya memohon. Aku berpikir sejenak, mempertimbangkan kata-kata Ryu. Yah mungkin benar memang niat mereka untuk membeli hadiah untukku. Oke aku bisa maafkan, tapi untuk Siri yang menyukai Ryu dan menusukku dari belakang, sungguh tak bisa ku maafkan lagi, apa lagi dia terlihat memanfaatkan semuanya. “ aku memaafkanmu, tapi dengan Siri aku tidak bisa ,” kataku tegas. “ hubungan persahabatan jauh lebih rumit dari yang kau bayangakan. Sekali berkhianat maka akan jadi musuh, Ryu! ,”
“ aduh Rea. Apa kau masih berpikir dia menyukaiku? Hah yang benar saja, dia itu dingin padaku! Dan tak pernah sedikitpun Siri menggodaku atau melakukan hal yang tidak-tidak, percayalah! ,” jelas Ryuuji serbasalah. “ aku pernah mendengarnya menyukai seseorang, dan dia sudah punya pacar! Apakah itu tidak berarti apapun? Maksud dia adalah kau! Kau orang yang disukainya selama ini!! ,” balasku ngotot, sambil menunjuknya dengan amat gemas. Ryu menggeleng terperangah, menatapku kecewa sekali. Dia bangkit dari duduk nya, lalu berkata  “ sebenarnya ini sudah lama sekali, tapi Siri pernah mengancamku, suatu hari. Dia bilang ‘ jangan sakiti Rea, cintai dia, lindungi dia, karena kalau sesuatu terjadi padanya aku tak akan segan-segan memberimu pelajaran’ begitu katanya. Dan saat itu aku sadar , kalau dia sangat menyayangimu Rea. Dia peduli padamu! Seharusnya kau sadari itu ,” kemudian Ryuuji pergi menaiki motornya. Pulang. Aku merenungi perkataan Ryu barusan. Benarkah Siri pernah berkata seperti itu? Siri memperingatkan Ryu agar selalu mencintainya? Lalu...bagaimana dengan pengakuan Siri tentang perasaannya itu?
Aku langsung tersentak seolah baru sadar. Aku langsung beranjak dari sana dan bergegas pergi. Menemui Siri.
Betapa terkejutnya aku ketika mendengar kabar dari Ibunya Siri, yang mengatakan bahwa Siri sedang ada di rumah sakit. Dia mengalami kecelakaan lalulintas yang parah sehingga membuatnya koma beberapa hari. Aku langsung pergi kerumah sakit yang dimaksud, mencari-cari kamar Siri di rawat dengan paniknya. Lalu menyeruak masuk ketika sudah sampai. Disana...disana lah tubuh Siri yang lemah terbaring, penuh luka dan di pakaikan alat bantu pernafasan. Sungguh kasihan aku melihatnya. Sampai tak sadar aku terisak saat menghamburnya dengan pelukan penuh sesal. Aku bersimpuh disisinya seolah menumpahkan berjuta maaf ku yang tak ku sampaikan saat dia sadar. Aku menyesal sekali. Dan ingin rasanya aku menggantikan luka yang ia derita. Ayah dan Adiknya mencoba menenangkanku, memberiku air dan menyuruhku untuk duduk. Aku mulai tenang sedikit, meskipun perasaanku masih amat pilu. Ku hibungi Ryuuji dan kukabarkan tentang keadaan Siri yang sekarat. Dia kaget dan bilang akan segera kemari.
Beberapa saat, aku sudah bisa mengendalikan diriku. Aku mendekatkan bangkuku ke tempat tidur agar bisa lebih jelas melihat Siri. Siri begitu menderita, banyak luka di bagian tubuhnya, dan mungkin dihatinya juga. Aku masih diliputi perasaan bersalah. Menyesal karena aku sendiri tidak tahu temanku sedang kesulitan. Aku datang saat dia sedang terpuruk. Dan sadar aku tidak ada disampingnya ketika dia membutuhkanku. Aku egois! Yah, sangat egois! Disaat aku lupa ulang tahunnya, dia malah memberiku kado di hari annivku. Di saat dia ingin curhat, aku malah pergi dengan Ryuuji tanpa memperdulikannya. Ooh, aku benci diriku sendiri! Apa gunanya aku? Aku sahabatnya, dan kenapa malah menyakitinya seperti ini? Aku larut dalam kesedihan. Sampai suara langkah kaki terdengar mendekatiku.
Ternya Ibunya Siri. Beliau berdiri disebelahku seraya menatap anaknya di depan. Pandangannya kosong dan wajahnya murung. “ tante....aku turut menyesal ,” ujarku simpatik. “ seharusnya saya selalu ada untuk dia ,” lanjutku penuh sesal. “ maaf...” kemudian tante membelai rambutku sayang, beberapa saat , sampai dia membungkuk padaku. “ Rea ada yang ingin tante serahkan padamu,” katanya. “ apa itu ,tante?,” tanyaku ingin tahu. Tante Indri mengeluarkan sepucuk surat dari kantong bajunya lalu menyodorkannya padaku. “ surat dari Siri ,” ucapnya. Kemudian tak beberapa lama dia pergi keluar. Meninggalkanku. Siri masih koma, dan monitor disampingnya berdetak stabil. Aku memandang surat itu dengan penuh tanya. Perasaanku sedikit tidak enak karena entah kenapa sepertinya surat ini surat terakhir bagi Siri. tapi aku langsung menepisnya sejauh mungkin. Kemudian mulai membaca:
Dear Reaku sayang.
Aku menulis ini ketika kita sedang bertengkar. Sebelumnya kita belum pernah bertengkar seperti ini. Dan aneh sekali kita bertengkar cuma gara-gara cowok.aku sedih sekali waktu kau bilang membenciku dan memutuskan persaudaraan kita. tapi, tak apa, aku mengerti perasaanmu...
Aku sedang jatuh cinta disaat kau juga jatuh cinta sama Ryuuji. Sungguh kebetulan yang aneh, tapi aku senang, karena kupikir jika kau berhasil maka aku juga akan berhasil.
Tapi nasib berkata lain. Tommy ternyata sudah punya pacar, dan dia sendiri yang mengenalkannya padaku. Sungguh pahit! Aku ingin memberi tahumu, tapi aku urung melakukannya karena kau sedang bahagia sekali waktu itu. aku tidak mau kau terbebani oleh masalahku.
Kau tahu Rea? Aku sangat memujimu. Kau adalah Inspirasiku, panutanku dan sudah ku anggap sebagai saudara. Tentu aku menyayangimu. Dan maaf kalau aku sudah bawel tentang masalah percintaanmu. Aku hanya takut kau akan patah hati Rea!kemudian menangis dan bersedih....aku tak bisa melihat itu semua. dan sampai akhirnya aku mempercayakan seseorang padamu. Yaitu Ryuuji. Dia berhasil meyakinkanku akan selalu menjaga dan mencintaimu setulus hati. aku yakin dialah yang akan membuatmu bahagia, Rea. Maka dari itu, jangan bersedih, tetaplah tegar dan jaga dirimu baik-baik.
Semoga kau dan Ryuuji tetap saling mencintai.
Aku merestui kalian berdua. Dan ku harap kalian bahagia kelak.
Sampai jumpa Rea. Sahabat terbaikku.
Aku terisak setelah selesai membacanya. Tetesan air mataku membasahi kertas itu. Aku sungguh tak bisa menahannya lagi. Ditahan pun malah menyiksa dada. Aku meraung menangis, sambil memegang tangan Siri erat. Aku tak ingin kehilangannya...
tiba-tiba...
hatiku mencelos, dan perasaanku kacau. Sebisa mungkin aku memeriksanya lagi. mencari-cari denyut nadi dipergelangan tangan Siri yang sedang kupegangi. Tapi tidak ada! Aku tidak bisa merasakan nadinya. Aku panik setengah mati, ditambah bunyi monitor yang terus berbunyi cepat, dan grafiknya sudah mulai lurus...” suster, dokter toloooong!!!! Tante...tante!!! ,” teriakku sambil memencet-mencet tombol darurat di sebelah tempat tidur. Aku panik dan tak tahu harus bagaimana. Sampai tante Indri , dokter dan beberapa suster datang kemari dengan berbagai peralatan. Aku yang panik langsung memeluk Tante Indri yang nampaknya sama syoknya. Tubuhnya bergetar, terasa jelas di dadaku. Dan dia menangis. Meraung-raung merana, sementara gantian aku yang menenangkannya. Di detik-detik akhir ketika mereka menangani Siri, bunyi beeep panjang membuat kami semua terkejut terperangah. Wajah dokter berubah putus asa, sementara Tante Indri sudah pingsan dipundakku. Disaat bersamaan, Ryuji datang menyeruak, dan wajahnya yang terengah langsung pucat ditempat ketika melihat Siri yang sudah tak bernyawa lagi tergeletak di tempat tidurnya.

Hari itu jadi hari yang sangat kelam dan kelabu. Aku dan Ryu berdiri disebuah pemakaman.
Aku ingat pesannya. Dia bilang aku harus tetap tegar dan bahagia, serta menjaga diriku sebaik mungkin. Aku tahu ini masih sangat berat bagiku maupun Ryu. Tapi kami harus merelakannya pergi. Siri pasti akan bahagia disana, karena aku yakin Tuhan pasti menjaganya untuk kami.
Ku taburkan bunga terakhirku di wajahmu. Jasadmu yang indah dan harum. Kau bersandar bagaikan bidadari yang indah, dan hatimu seputih embun pagi yang dingin. Tak tertandingi kasih sayangmu padaku. Karena kau tulus mencintai dan menyayangi. Aku akan selalu mengenangmu....jauh dilubuk hatiku, bersanding dengan nama Ryuuji disana...
We love you Siri, and i’m so sorry...




Selasa, 19 Agustus 2014

Gee. G’



“ ini...mengerikan! ,” pikir seorang cowok yang sedang mengamati sebuah foto yang ia temukan terselip dibuku tahunan sekolahnya dua tahun yang lalu, ketika dia sedang bersih-bersih di kamarnya. Cowok itu bernama Ge Dee, seorang mahasiswa semester 3 yang nampak biasa-biasa saja, namun menyimpan misteri di masa lalunya. Dia mengernyit menatap foto itu. Foto dirinya sewaktu SMA dulu bersama teman cowoknya, di potret dilorong sekolah. Tampak mereka bedua berangkulan layaknya dua sahabat karib. Terlihat normal. Tapi, andai saja kalian tahu apa yang sebenarnya terjadi waktu itu. Sewaktu foto itu diambil. Bagaimana kisah Ge Dee yang paling memalukan itu terjadi.
Cowo itu bergidik ngeri lantas menaruh fotonya dilaci. Seolah kenangan dari Foto itu membuatnya jijik hingga tak berani memandanginya lama-lama.  Dia pun terhenyak duduk dikursi, sambil bersandar merilexkan tubuhnya. Dia mendesah lelah, sembari memijat-mijat pelipisnya yang terasa sakit, lalu....kenangan itu pun seolah terputar lagi seperti sebuah kaset.
Kejadian itu...
Tepat saat mereka naik ke kelas 3.
Menyukai lawan jenis itu wajar. Apa lagi sama teman sekelas. Sering banget kan kalian dengar! Kalau anak sekarang sih bilangnya cinta monyet. Tapi kurasa monyetku ini susah sekali kutaklukan. Nama monyetnya Aria. Dia teman sekelasku ketika aku kelas tiga.
Aria anak yang supel dan juga baik, serta ramah pada siapapun. Itulah yang membuatnya disukai banyak orang, terutama dikalangan laki-laki. Bisa disebut dia itu primadona di sekolah ini, karena hampir setengah dari murid laki-lakinya pasti suka sama Aria. Termasuk aku.
Tapi aku tidak seberuntung Tony, Herman atau Raphael yang terkenal populer juga disekolah sebagai pangeran disni, yang dengan mudah mengajak Aria untuk makan dikantin bareng atau sekedar ngobrol. Anak sederhana sepertiku hanya bisa mengaguminya dari jauh saja. Jangankan ngajak makan bareng, untuk menyapanya saja mulutku sulit sekali. Rasanya aku tidak pantas untuk menyapa Aria.
Pernah waktu itu aku keceplosan memanggilnya, saat sedang di perpus. Alih-alih ngajak ngobrol , reaksiku yang grogi itu malah membuat Aria jadi ilfeel.
“ hai Aria!!! ,” sapaku setengah terpekik. Aria yang sedang memilah-milah buku terlihat terkejut karena buku yang dipegangnya mendadak jatuh. “ oo—hai...emm Gee ,” ( Gee nama panggilanku dikelas. Karena anak-anak malas memanggilku dengan nama lengkap, makanya mereka hanya pakai nama depan saja. ) balas Aria masih kelihatan kaget. Semua pengunjung diperpustakaan mengawasiku tajam, apa lagi si pengawas perpus. Dia masih mengintaiku sampai aku menghilang dari rak buku ke meja baca.
Kulihat Aria masih mematung disana, melihat-lihat buku sambil sesekali melirik kearahku. Lirikannya seperti waspada. Aku memberanikan diri untuk mengajaknya ngobrol nanti. Ketika Aria menuju meja baca , agak jauh dari tempatku, aku berinisiatif untuk pindah ke mejanya.
Aria tertegun lalu mendongak , memandangku sesaat lalu tersenyum samar-samar. Kupikir dia terpaksa.   Tapi, aku berusaha mengabaikannya.
  hh—hai Aria, sedang baca apa? ,” tanyaku basa-basi.
Aria mendongak lagi dari bukunya. “ lagi baca buku ,”
Aku manggut-manggut paham. Yah ga usah dibilang juga udah jelaskan, dia lagi baca buku!. Aku juga tahu! . “ buku apa? ,” tanyaku lagi.
“ buku tentang sastra. ,” jawab Aria polos sembari menunjukan cover depan bukunya padaku.
“ emm, suka baca yang berat-berat ya? aku ga tau kalau kamu juga suka baca diperpus, aku pikir cewek kayak kamu suka nongkrong, kalau aku sih lebih suka baca tentang sejarah, dan...,” aku berhenti bicara ketika tahu kalau aku cuma dikacangin sama Aria. Sepertinya dia sama sekali ga mendengarkan aku ngomong .
Aku cuma bisa diam, sambil garuk-garuk kepala—bingung mau ngobrolin apa. Toh apapun yang aku omongin ga akan ada yang nyambung buatnya. Lantas aku cuma duduk bengong disitu sambil  mandangin rambut Aria yang hitam legam nan indah nutupin wajahnya yang imut sedang membaca. Cukup lama, sampai tiba-tiba Aria menegakan wajahanya lurus kearahku dengan tatapan bingung.
“ kamu ga apa-apa Gee? ,” tanya Aria. Aku terkesiap kaget, karena Aria menyadarkanku dari lamunan. Aku hanya mengangguk gelagapan. Lalu kembali salah tingkah.
“ eengg...kamu, udah selesai baca? ,” tanyaku lambat-lambat.
“ udah . lho! Kamu nungguin aku baca? Ngapain?? ,”
“ ah? Eng-enggak kok. Aku...,” Aria ngeliatin aku lama banget, dengan tatapan menyelidik. Bikin aku makin salting.
“ eh, aku mau masuk ke kelas dulu ya...kayanya bukuku ga diberesin tadi ,” kataku bohong, berupaya menghindar dari tatapan introgasi Aria yang semakin menyipit.
“ oke, aku juga mau kesana. Bareng aja kalau begitu ,”
Singkat cerita, sejak saat itu, ketika kami menuju kelas bareng, entah kenapa kami berdua jadi dekat. Aria jadi sering menyapaku, dan kami sering bertemu diperpus. Pokonya, sikap Aria itu bikin aku jadi Ge-er banget. Aku jadi berani untuk menyapanya duluan, ngajak ngbrol dan akhirnya....aku jadi berani mau nyatain perasaan aku sama Aria.

Niatku sudah bulat. Dan aku berencana akan menembak Aria besok saat istirahat.
Sebelumnya ,aku mau  merundingkan dulu rencanaku ini sama Febri, teman sebangkuku. dia jago dalam hal seperti ini, jadi kupikir sangatlah bijak datang kepadanya. Tapi...
“ apa??? Lu mau nembak Aria? ,” pekiknya kaget, membuatku juga ikutan kaget saat menceritakan niat ku itu dikelas.
duuh biasa aja dong, kaget nih gue ,”
“ yah iyalah. Lu udah gila ya mau nembak dia? ...ga masuk akal ,” cetusnya berapi-api. “ kenapa ga masukk akal? ,” tanyaku heran.
“ jelas! Aria itu cewek populer, dan ga sembarangan cowok yang bisa nembak dia. Inget kan gimana Boby yang segitu kaya dan kecenya ditolak mentah-mentah sama Aria didepan banyak orang? ,” kata Febri mengingatkan kejadian di bulan lalu. Gee membayangkannya dengan tatapan geli. Dia ingat betul betapa memalukannya ekspresi Boby saat itu.
“ yeah—lucu juga sih waktu itu ,” gumam Gee menerawang. “ kayanya tuh anak kapok deh, buktinya sekarang dia jarang keliatan dan kalo ketemu sama Aria dia langsung ngumpet ,”
“ Nah! ,” seru Febri. “ sekarang lu ngertikan? ,”
Gee cuma mengernyit  bingung sementara Febri menatapnya dengan penuh harap.
“ oke ,” jawab Gee akhirnya.
“ oke buat ngelupain niat lo itu? ,” tebak Febri kelihatan lega.
“ enggak.  Gue jawab ‘oke’ buat tetep ngelanjutin niat gue. Dan gua pastiin ga akan sememalukan Boby kaya dulu ,” katanya mantap.
Febri cuma bisa menepuk dahinya putus asa sembari membayangkan kegagalan temannya itu besok. Diam-diam dia berharap Gee bakal berhasil, meskipun prensentase keberhasilannya cuma 1%. Yeah, satu persennya itu kalau didunia ini udah ga ada cowok lagi, dan akhirnya Aria ga punya pilihan lain, selain nerima Gee. Tiba-tiba saja Febri jadi geli sendiri saat membayangkannya.

Saat jam istirahat.
Entah kenapa perasaan Gee jadi bedebar-debar. Rasanya perutnya mendadak mulas dan sakit. Dalam hati dia terus menguatkan tekadnya agar tetap maju. Tapi, melihat persiapan yang sudah ia lakukan—yaitu hanya modal nekat, membuatnya jadi takut sendiri. Takut ditolak.
Bel istirahat terus berbunyi, dan semakin lama semakin nyaring. Seolah itu juga jadi bel bagi Gee untuk segera melaksanakan keinginannya , yaitu menyatakan perasaannya pada Aria. Yeah, sudah dua minggu respon Aria padanya menandakan kalau dia nyaman sama Gee, dia juga sudah sering smsan dan telponan. Meskipun begitu bukan jaminan kalau Aria akan menerimanya langsung.
“ coba dulu, baru lihat hasilnya. oke ,” Gee menyemangati dirinya sendiri sambil berjalan di lorong kelas menuju kantin. Gee tahu kalau Aria pasti ada disana, makanya, setelah pelajaran usai dia buru-buru keluar kekamar mandi untuk menyiapkan semuanya—bercermin sebentar-merapihkan pakaiannya, dan memastikan kalau nafasnya tidak bau kali ini.
Dan...sampailah dia , dikantin.
 Dikantin ternyata ramainya bukan main. Bahkan tidak ada ruang sedikit pun untuk bernafas, apa lagi nyatain perasaan sama orang. Kacau. Rencananya mendadak berubah. Dia ga mungkin kan bisik-bisik sama Aria tentang perasaannya. Yang ada...
“ APA? KAMU NGOMONG APA? ,”
“ AKU SUKA SAMA KAMU ARIA!!! ,” mungkin saking bisingnya, Gee harus teriak-teriak seperti itu.
Dan sukur-syukur kalau di terima. Kalau ditolak...
“ HAH? KAMU SUKA SAMA AKU? SINTING KAMU YA ???!!! ,”
Jleb.
Ga usah dibayangin lagi, Gee bakal jadi bahan tertawaan semua orang. Dan ga kebayang deh malunya kaya apa.
 Setelah menghayal begitu, Gee buru-buru menyingkir dari kantin dan bergegas menuju taman sekolah. Mengsms Aria agar ke taman. Dia juga menambahkan kalau ada hal yang mendesak yang perlu Gee beritahu padanya.
Maka, tak lama Aria pun datang ke taman. Dan resenya, dia juga bawa teman.
Gee langsung bangkit dan menghampirinya. Dia berbisik ke Aria agar temannya tidak usah ikut. Aria pun setuju, dan menyuruh temannya untuk menjauh dari taman. Meskipun begitu ekspresi Aria kelihatan bingung dan dahinya tak henti berkerut-kerut.
“ ada apa Gee? ,” tanya Aria ketika mereka duduk di bangku taman. Jauh dari tempat teman Aria berada.
Gee masih terbelenggu. Mendadak pikirannya kosong. Dia kelihatan mematung memandangi Aria.
“ Gee?! ,” tegur Aria heran.
“....gue, eh—aku ,” gumamnya salah tingkah. “ aku...aku--,”
“ aku apa?! ,” potong Aria mulai tak sabar, sambil kakinya menghentak ketanah dengan cepat.
“ ehh...gini lho...aku tuh suka sama kamu ,” katanya pelan nyaris tak terdengar.
“ apa? Kamu bilang apa? Aku ga denger.,” tanya Aria,sambil  menunduk mencari wajah Gee.
Hening.
Gee tak menjawab. Sampai akhirnya Aria menyerah dan hendak pergi.
“ okelah kalau kamu ga jadi ngomong. Aku pergi dulu ya ,”
Ketika Aria berdiri , barulah keberanian Gee muncul. Dan tiba-tiba...
“ AKU SUKA SAMA KAMU ARIA!!,” teriak Gee akhrinya. “Aku...suka sama kamu, kamu mau kan jadi pacar aku? ,”
Hening.
Kali ini Aria yang terdiam. Dia mematung sambil berdiri membelakangi Gee. Gee penasaran sekaligus takut, ingin tahu reaksi Aria seperti apa. Apakah senang dan lalu mengangguk menerimanya atau???
Gee perlahan berdiri. Tepat dibelakang Aria. Tangannya sudah terangkat ingin menyentuh pundaknya, tapi berhenti dan malah mengambang diudara . tiba-tiba saja tubuh Aria bergetar kuat . dan terdengarlah suara cekikikan.
“ huahahaha....apa Gee? Lu suka sama gue? Lu pasti becanda , kan? ,” ujarnya sambil tertawa. Tawanya geli sekali. Wajah Gee langsung memerah, semerah kepiting rebus.” Ngaco! Hahaha belajar dari mana sih lu ngebanyol kaya gini ,”
Dan, saat itu juga Gee sadar kalau Aria telah menolaknya. Menolak dengan cara yang amat menyakitkan. Yaitu dengan tertawa menghina, menganggap itu lucu dan akhirnya meninggalkan Gee sendirian di taman.  Tanpa mengatakan apa-apa lagi-Aria cuma cekikikan, sambil pergi dengan teman-temannya . Setidaknya kata ‘maaf’ membuat Gee lebih baik dan merasa di hargai. Tapi, cewe tengik itu malah mengabaikannya begitu saja.
Hancur....hancur sekali hatinya. Sakit....sakit sampai keulu hati. Rasanya hidup sudah tidak ada gunanya lagi. Gee pun terhuyung lemas menuju kelasnya kembali.

“ kenapa lu? ,” tegur seseorang. Gee menoleh pelan tak bersemangat kearah suara itu, lalu mendapati  Raphael yang bersimbah keringat sudah ada disampingnya.
“ oh—elu! Ga apa-apa ,” kata Gee parau. Raphael mengernyit tidak percaya, sementara dia melihat wajah Gee begitu amat kusut dan mengenaskan. Seperti sudah tidak ada nyawanya lagi . Raphael memungut bola basket didekat kaki Gee, lalu berpaling kearahnya. “ tapi muka lu kacau banget ,”
“ yeah muka gue emang begini ,” tutur Gee singkat dan tak perduli.
“ kalau gitu kita main basket aja Yuk! Biar muka lu ga kusut lagi! ,” seru Raphael semangat seraya mendorong Gee dengan bola basketnya.
“ ahh engga ah. Lagi ga ada tenaga ,” kata Gee,berlaganya so lemas. Mirip tengkorak jalan.
“ udah ayo, kita lagi kurang pemain nih! ,” desaknya tak sabar sambil menyeret tangan Gee menuju lapangan .
Dilapangan ternyata sedang banyak cewek-cewek lagi pada nonton anak basket main. Dan anehnya, ketika Raphael dan Gee masuk kelapangan, semua anak-anak cewek itu langsung bersorak heboh kegirangan, bak fans fanatik korea. Gee mngernyit heran, dan menarik tangannya dari cengkraman Raphael.
“ apa-apaan nih? Kok rame banget ,” tanyanya.
“ biasalah, kalau anak basket lagi main, anak ceweknya pada heboh gitu. Apa lagi ada gue ,” jelas Raphael bangga. Gee langsung mencibir  di belakang Raphael lalu akhrinya ikutan bermain. Dia pun sejenak melupakan  kesedihanya  tadi dan terhenyak dalam permainan basket yang begitu menyenangkan.
Selesai bermain, Gee dan Raphael duduk-duduk di tengah lapangan sambil beristirahat. Lalu Raphael mulai membuka percakapan. Basi-basi ngomongin bola, lalu akhirnya nyambung-nyambung ke topik permasalah Gee yang baru saja di tolak. Gee menceritakan semuanya, tentang bagaimana cara Aria menolaknya dengin begitu keji.
“ heh, dia begitu lagi ,” komentar Raphael . “itu sih lebih sadis dari pada langsung nolak. Dia benar-benar gadis yang kejam ,” tambahnya.
Gee langsung mengangguk setuju.
  makanya, gue ga suka cewe--,”
“ hah? Ga suka cewe? ,” potong Gee kaget. “ ehh , enak aja. Belum juga kelar gue ngomong! Maksudnya, gua ga suka cewek yang prefectionis kaya gituu...,” lanjutnya menjelaskan. Gee hanya manggut-manggut tanpa komentar. Sesaat dia sedikit senang karena ada juga cowok yang tidak menyukai Aria. Raphael benar-benar cowok yang beda.
“ udahlah ga usah dipikirin. Masih banyak cewek yang lebih baik dari dia ,” ujar Raphael sambil menepuk pundak Gee. Gee menoleh kearah Raphael, bermaksud menepis tangannya dari pundak ,tapi, disaat bersamaan Raphael yang sedang memandangnya juga sambil tersenyum memberi semangat, malah membuat Gee berhenti bergerak. Dan mematung seketika.
Pandangan mereka pun beradu. Raphael yang kebingungan melihat tatapan Gee yang begitu dalam dan terbengong-bengong, akhrinya menegurnya . “ oi—oi Gee,lu kenapa? ,”
Gee masih saja mandangin Raphael. Lama banget. “ woi! Gee muka lu merah, tuh. Lu sakit? ,” tegurnya lagi. Gee terkesiap dan tersadar. Alangkah memalukannya dia dihadapan Raphael. Cowok cool  dan ganteng itu. dan...eh? kenapa dia jadi berpikir begitu? Astaga. Buru-buru Gee menggelengkan kepalanya, dan menepis jauh-jauh perasaan anehnya itu. Tiba-tiba saja dia merasa kalau poninya tersibak.
“ jidat lu panas Gee. Kayaknya lu sakit beneran ,” kata Raphael ,sembari menempelkan telapak tangannya di dahi Gee. Lagi-lagi pandangan mereka bertemu , dan kali ini wajah Raphael begitu dekat dengannya. “ waah muka lu tambah merah ,”
“ GYAAAAA ,” teriak Gee kaget sembari mundur menjauhi Raphael. Raphael melongo heran. “ lho kenapa? ,”
“ eehh---lu ngapain? ,” tanya Gee panik. “ ga ngapa-ngapain kok. Meriksa lu doang! ,” jawab Raphael  masih bingung. Gee sadar kalau sikapnya mulai aneh, dan kalau pun dia berlama-lama disini malah akan menarik perhatian teman-teman Raphael yang lain. Lalu Gee langsung bangkit , dan berlari dari lapangan yang sudah sepi. “ kenapa dia?? ,” pikir Raphael.
Saat Gee sampai dirumah, setelah pulang sekolah, dia langsung ambruk ditempat tidurnya. Wajahnya masih merah sampai sekarang, dan itu bukan karena kesal habis ditolak, tapi gara-gara bertatapan sama cowok ganteng. Gee langsung berjengit geli, membayangkan bahwa dia tadi berpikir kalau Raphael benar-benar ganteng dan keren meskipun sedang berkeringat, dan itu membuatnya....terpesona.  “ Wakkk! Apa aku sudah gila?? ,” teriak Gee dalam hati sambil  mengejang-ngejang diatas tempat tidur menahan rasa malunya. “ kenapa reaksi gue malah begitu? Gue kan cowok? Ngapain juga deg degan ,”
 Gee mulai resah, dan serba salah. Mau tidur ga bisa, bangun pun cuma bengong, dan kalau udah bengong, yang dipikirkannya hanya wajah Raphael , Raphael dan Raphael. Tak henti-hentinya dia memikirkan cowok itu, membayangkan mata kecoklatannya yang begitu indah.  Jantungnya pun masih deg-degan, dan mendadak seperti oranag linglung. Gejala ini pernah ia rasakan sebelumnya,sama seperti saat pertama kali melihat Aria, tapi kali ini rasanya lebih dahsyat. Mungkinkah ...
“ ga mungkin ,” desis Gee meyakinkan dirinya sendiri kalau pikirannya itu salah. Bisa jadi ini cuma gejala sakit biasa. Pikirnya . tapi...” matanya indah juga. Hupp,” buru-buru dia menekap mulutnya. “ biacara apa aku ini??? apa barusan aku memikirkannya lagi? Ya ampun, aku benar-benar sudah gila. Yeah aku gila....ga mungkin ini perasaan suka. ,” tapi mau dia menyangkalnya sekuat apa-pun, tetap saja bayangan Raphael yang begitu ramah padanya terus terbayang-bayang, seolah seperti menerornya. Sampai beberapa kali Gee tersentak dari tidurnya dengan wajah penuh keringat. Seperti habis mimpi buruk ,dikejar-kejar hantu yang berwujud cowok ganteng, dan anehnya didalam mimpinya itu Gee malah dengan senang hati di tangkap dan dipeluk oleh hantu itu. benar-benar mengerikan.
“ ini ga bisa dibiarkan...ga..enggak. ini ga bener, Raphael itu cowok dan gue itu cowok. Gua ga mungkin suka sama dia. Gua bukan gay, gua bukan penyuka sesama, ya , mungkin gua Cuma depresi gara-gara ditolak Aria dan gue mulai gila ,” kata Gee ketakutan sendiri. Dia pun bangkit dari tempat tidur menuju kamar lalu berendam didalam air dingin.
Gee datang kesekolah dengan tampang yang lebih kusut dari biasanya , ditambah rambutnya yang acak-acakan itu, semakin membuat Gee terlihat menyedihkan. Febri yang sudah di bangkunya, terlihat begitu simpatik dan penasaran dengan apa yang sudah terjadi. Sampai Gee duduk , dia baru bertanya.
“ yo , ada apa? ,” Gee tidak menjawab dan malah menelungkup dimeja. Suara nafasnya terdengar berat sekali. “ jadi...ditolak ya? ,” terka Febri.
“ lebih parah ,” sahut Gee pelan. “ lalu? ,”
Gee menegakkan tubuhnya susah payah-menatap Febri dengan tatapan memohon. “ sepertinya kemarin sangat seru. Andai aja gua ada disitu ,” kata Febri sambil ketawa.
“ jangan ketawa ,” sunggut Gee muram. “ gue begini bukan gara-gara Aria ,”
“ terus? ,”
Gee diam saja, sambil membayangkan beragam reaksi Febri jika tahu kalau dia suka sama Raphael.  “ ga. Ga apa-apa. ,”
“ kok gitu? ,” tanya Febri kecewa. “ terus gara-gara apa lu jadi murung kaya gini? .”
“ gara-gara nyokap gue ga ngasih duit jajan sama gue ,” kata Gee asal. Febri langsung mencibir, dia tahu kalau Gee lagi bohong. Tapi,  Febri ga langsung menggubrisnya karena melihat Gee yang begitu sangat tidak mood hari ini. jadi, dia memutuskan untuk tidak menyinggung-nyinggung tentang masalahnya lagi sampai Gee sendiri yang cerita.
Sampai beberapa hari, Gee belum juga menceritakan apapun sama Febri, dan sikapnya juga jadi berubah. Gee sekarang  menjadi penyendiri dan terlihat murung, dia juga jadi nyuekin Aria, meski Aria sendiri yang menyapanya. Mungkin sudah sakit hati. Tapi, keanehan lain mulai terlihat pada Gee , saat dia bertemu Raphael diberbagai kesempatan.
Gee jadi sering panik sendiri kalau berpapasan sama Raphael, salting dan suka salah ngomong. Ditambah sikap Raphael yang suka perhatian , baik dan ramah sama Gee, membuat Gee makin ga sanggup buat menyangkal tentang perasaannya itu. Sebenarnya dia menikmati momennya saat bersama Raphael, tapi dalam hati dia terus berteriak, kalau semua itu salah! Dia ga boleh suka sama Raphael. Dia normal. Tapi itu hanya bersuar didalam hati, sisanya dia senang bisa dekat-dekat dengan Raphael , apa lagi saat dia bisa bergabung dalam club basket.
“ oke gue akui, gua suka sama cowok itu ,” kata Gee didepan cermin. Dia memandang bayangannya  sendiri, dan mengoreksi setiap sudut wajahnya. Ga jelek-jelek amat. Ganteng malah. Gee terkekeh sendiri sambil menyisir rambutnya, tapi disisir sesering apapun rambutnya akan tetap berantakan.  Dia memandang cermin sekali lagi, memastikan kalau penampilannya sudah oke. Lalu pergi keluar.
Hari ini Raphael dan yang lain mengajak Gee nobar disebuah kafe untuk menyaksikan pertandingan La liga. Kesempatan ini tak mungkin Gee lewatkan. Dengan senang hati dia menerima tawarannya itu, apa lagi Raphael sendiri yang mengajaknya. Gee girang sekali, bahkan dia sampai melompat-lompat dikamar. Penampilan Gee sangat macho saat itu, mungkin kalau dari sudut pandang cewek, Gee bisa dibilang cowok kece dan keren, tapi itu sudah tidak penting lagi. Dia sudah tidak tertarik. Yang sekarang membuatnya tertarik adalah...” Raphael! ”. Gee memanggil cowok itu, dan yang dipanggilnya langsung menoleh sambil melambai diantara kerumunan orang dikafe.
Disana Raphael dan teman-temannya sudah menunggu. Mereka sudah ada disana 20 menit yang lalu untuk membooking tempat. Raphael dengan coolnya memakai jumper coklat dam celana jeans yang sobek dibagian lutut, kepalanya memakai kupluk warna hitam. Cuma Raphael yang Gee perhatikan, sampai mereka masuk kedalam kafe. Beberapa menit kemudian pertandingan mulai, dan dalam beberapa detik saja, semua pengunjung hanyut dalam ketegangan pertandingan yang sedari tadi imbang 0-0. Mereka bersorak, berderu, dan sesekali kecewa ketika masing-masing pemain jagoan mereka nyaris mencetak gol. Gee yang saat itu matanya terpaku pada layar besar, hanya bisa memukul-mukul kesal kemeja, sementara jagoannya terus diserang. Dan saat jagoan Raphael menggiring bola, meliuk-liuk melewati beberapa pemain lawan, lalu tanpa tunggu lagi, melesat kedaerah kotak penalti, pemain nomor 7 itu pun mencetak gol hebat kegawang lawan, diikuti sorakan heboh penonton yang melepas luapan emosi kebahagian mereka saat tim jagoan mereka menang, Raphael yang kegirangan tanpa sadar memeluk Gee yang sedang kecewa. Dengan wajah terkejut Gee cuma diam membatu membiarkan Raphael memeluknya erat dalam euforia yang menggebu-gebu, tapi tak lama Raphael melepas pelukannya itu dan ganti memeluk temannya yang lain sambil berjingkrak senang.
Gee masih terpaku, matanya bergerak cepat kesegala arah, dan dia merasa kalau jantungnya berdegub kencang menyakitkan. Mulutnya kering kerontangan, matanya tak berkedip, dan nafasnya tertahan beberapa saat. Dia seperti sedang kerasukan , Cuma diam termangu diantara orang-orang yang ramai bergembira.  Lalu tanpa sadar Gee berkata: “ Raphael, gua suka sama lo ,” dan begitu pertandingan berlanjut, semua penonton kembali tenang dalam ketegangan.
“ ahhh kasian deh lu kalah. Inget ya taruhannya, yang kalah harus nelaktir makan yang menang ,” tutur Raphael sambil nyengir sama Gee dan temannya yang mendukung Barcelona.
Hati Gee mencelos, sekaligus lega. Barusan dia baru saja menyatakan perasaannya pada Raphael. dan untung saja dia tidak dengar. Huuuuhf....Gee membuang nafasnya berat. kali ini selamat, ga kebayang tadi kalau dia nekat nyatain perasaannya ke Raphael. mungkin dia bakal langsung bunuh diri.
“ eh, tadi kayanya lu bilang sesuatu. Apaan? ,” tanya Raphael tiba-tiba. Gee menoleh cepat, dan langsung melongo kaya orang bego. “ ahh---.”
“ GOOOOL! ,” teriak salah satu penonton, diikuti yang laiinya. Semua melonjak dari kursi penonton termasuk Raphael saat  Real Madrid mencetak gol lagi berkat sontekan cantik Cristiano Ronaldo. Dan lagi-lagi Gee terselamatkan oleh gol itu. Biar deh, kalah-kalah sekalian dari pada Raphael curiga.
Sampai pertandingan selesai , Gee diam membisu. Sementara Raphael lupa sama pertanyaannya tadi dan malah sibuk berdiskusi ngomongin bola sama teman-temannya.
Gee manatap langit malam yang gelap tanpa bintang. Awan-awan hitam memenuhi langit yang seharusnya cerah dimalam minggu. Sama seperti hati Gee yang kelabu. Yang sedang sendu karena keserbasalahannya yang menyelimutinya. Antara logika dan perasaan. Rasional dan irasional. Ga tau lagi apa...pokoknya malam itu Gee lagi galau total. Mereka berlima berjalan menuju parkiran, karena tadi nebeng sama Rico, Gee jadi nungguin dia dulu menelpon. Sementara ketiga temannya yang lain sudah duduk siap-siap dimotor. “ sory Gee, cewek gue minta jemput. Lu bareng yang lain deh ,” katanya membuat Gee kecewa. “ ah serius lo...bareng siapa?  Ga ada yang searah sama gue ,” cetus Gee . Rico Cuma angkat bahu sambil sekali lagi minta maaf. Lalu dengan berat hati Rico pergi duluan, dengan jok kosong dibelakangnya yang diganti sama satu helm.
“ udah , bareng gua aja.,” ajak Raphael sambil menyodorkan satu helm cadangannya. Gee terkesima, namun langsung buru-buru berpaling sambil menyambar helm itu tanpa memandang Raphael-duduk dibelakang dan pakai helm full face. Raphael menyalakan mesin motornya, lalu mereka pun meluncur dari parkiran ke rumah Gee. Disepanjang perjalanan mereka saling diam. Gee diam karena grogi dan menyembunyikan wajahnya dari balik helm, sementara Raphael diam karena perutnya yang tiba-tiba mules. Mungkin salah makan tadi. Yaah pokoknya kesalah pahaman ini membuat keduanya makin akrab untuk beberapa minggu. Sampai salah satunya membuat bencana besar. Dan membuat hubungan mereka sebagai teman merenggang.

Dua minggu kemudian. Setelah UN, mereka mengadakan acara pentas seni di sekolah untuk merayakannya. Dan Gee menyibukkan dirinya sendirr dengan menjadi panitia acara. Tapi sesibuk apapun, dia tetap masih dibayangi oleh perasaan menakutkannya, yaitu jatuh cinta sama Raphael. hal mengerikan itu masih terpeta dibenaknya sampai sekarang, dan masih membebani pikiran dan perasaannya. Sampai, ketika menjelang acara pentas seni dimulai.
Di kelas...
“ apa lagi sekarang? Otak lu udah rusak ya! ,” cecar Febri waktu Gee keceplosan mengatakan mau mengungkapkan perasaannya itu pada Raphael—Febri langsung berjengit ngeri. “ mungkin gue emang gila. Tapi gua ga kuat lagi , Feb ,” balas Gee putus asa. “ Gua harus ngomingin ini biar hati gua tenang. ,” tambahnya.
“ tapi--,”
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki memasuki kelas. Febri dan Gee langsung menoleh cepat kearah pintu yang terbuka dengan tatapan ngeri. Dan muncullah...
“ hemm...gua kaget waktu denger itu, tapi akhirnya gua ngerti perasaan lu, Gee ,” kata Aria tiba-tiba, membuat Gee mau pun Febri terpekik kaget. “ Aria??? ,”
“ tenang. Gua ga akan bilang-bilang kok. Rahasia lu aman sama gue ,” katanya santai. “ well, tapi...dalam masalah ini, gue rasa lu emang harus ngungkapinnya langsung, dari pada terus dipendam-pendam. Yang ada malah nyiksa diri lu sendiri. Ya, kan? Dan gue yakin kalau Raphael denger ini, meski dia kaget setengah mati, dia pasti bakal ngerti. ,” ujar Aria yakin. “ katakan saja, dan lu nggak akan menyesel di kemudian hari. Resiko sebesar apa-pun, lu harus terima, ini demi kebaikan lu sendiri ,” mendengar itu, Gee sedikit mempertimbangkannya. Ucapan Aria memang benar, selama ini Gee selalu menyembunyikan terus, dan menanggung semua siksaan yang tak berkesudahan itu. Mungkin ini waktu yang sangat tepat. “ lagian sebentar lagi kita lulus, dan kalau lu malu setelah mengungkapinya, lu bisa langsung menghilang aja , kan? ,” tambah Aria, seolah membaca pikirannya.
“ Enggak! Enggak bisa, Gee ga boleh ngelakuin itu! ,” sergah Febri tak setuju. “ lu ga malu apa? ,” semburnya cemas pada Gee. Gee tertunduk , dan saat itu juga emosinya meluap.
“ dimana dia? ,” tanyanya tiba-tiba. Febri mendelik curiga. “ mau ngapain lu? ,”
“ dimana dia sekarang?! ,” tanya Gee lagi pada Aria, seakan mengabaikan Febri. “ dia di ruang Radio ,” jawab Aria . “ dia sendirian kok disana. Lagi ngecek komputer ,”
Dan tanpa menunggu reaksi Febri yang ingin mencegahnya pergi, Gee langsung bergegas keluar kelas menuju ruang radio. Disana, dia langsung menemui Raphael yang tengah sibuk mengutak-atik komputer.
Raphael menyadari kadatangannya, dan langsung menoleh sebentar sambil menyunggingkan senyuman. “ oi—Gee. Ada apa? ,” sapa Raphael ramah. Gee terdiam sesaat didepan pintu, lalu segera mengingat maksud kedatangannya kemari. “ gua mau ngomong, Hel. ,” bisik Gee buru-buru.
“ ngomong aja ,” sahut Raphael santai , matanya masih terpaku pada layar komputer.
“ ini penting ,” Gee menambahkan. Mendengar kata ‘penting’, akhirnya Raphael berpaling dari komputer lalu berbalik menatap Gee yang sedang tertunduk dihadapannya. “ iyaa—apa? ,”
“ gue...sebelumnya gua minta maaf. Dan tolong jangan dipotong dulu sebelum gue selesai bicara ,” Gee memberi tahunya. Raphael nampak bingung namun tetap mengangguk setuju. “ oke ,”
Gee menghela nafas panjang, yang terasa menyesakkan didadanya. Lalu menguatkan dirinya sendiri dengan mengangguk mantap, dan mulai bicara....
Dia mengakui perasaanya pada Raphael. Semuanya. Dari awal, sampai akhir. Tak ada yang terlewat sedikit pun. Raphael pun mendengarkannya tanpa mencela, meskipun ekspresinya sudah sangat abstrak dan tidak bisa dijelaskan lagi dengan kata-kata. Mungkin seperti ekspresi jijik dan mau muntah, yah—seperti itulah barangkali.
Raphael keliatan syock dan ngeri, mirip reaksi Febri waktu pertama kali mendengarnya, tapi, sebagai seorang cowok populer, dia pun tak langsung menghujat Gee karena sudah mengatakan hal yang begitu mengejutkan. Dia, dengan bijak, menjelaskan semua kesalah pahamannya itu pada Gee, dan menganggapnya sebagai pengakuan kasih sayang seorang sahabat kepada sahabatnya.  Gee pun mengerti dan sadar kalau tidak mungkin mereka bersama-sebagai pasangan homo-seperti yang ia bayangkan, tapi dengan begitu Gee sudah merasa lebih baik , dan bebannya pun terangkat sepenuhnya. Dan mereka pun tetap berteman.
Kembali ke kelas...
Febri terkejut mendengar suara speaker berbunyi dikelas yang berasal dari radio. Begitu juga dengan semua murid yang sedang berada dikelas, kantin, maupun lapangan sekolah.
“ Ah—kena deh ,” seru Aria senang. Febri langsung berpaling ke Aria, dan mendapati cewek itu sedang tertawa licik. “ benar-benar seru! Ga sabar pengen ngeliat ekspresi anak-anak yang tahu kalau Gee itu Homo!!! ,”
“ ARIA???? LU SENGAJA? ,” sentak Febri marah. “ KELEWATAN LO!!! ,” Tanpa dosa, Aria malah tertawa-tawa senang sambil kabur dari kelas. Dan ketika Febri hendak mengejarnya, ternyata seluruh siswa sudah ramai berbondong-bondong keluar kelas memenuhi balkon. Dari lantai satu, dua , tiga, mereka semua terlihat terkejut dengan yang mereka dengar dari radio, dan tidak sedikit yang tertawa dan mencemoohnya. “ hah? Gee kok suka sama Raphael? hahah ga sangka dia Homo!! ,” kata salah satu dari anak-anak yang berkerumun kepada temannya, mereka berdua langsung cekikikan. “ ngapain dia ngumumin di radio? Ga tau malu ,” timpal Glend , tertawa ngakak. “ Gee? Siapa sih dia? Kok bangga banget kalau dia Homo? ,” dan masih banyak lagi komentar anak-anak tentanng peristiwa itu. Mereka pun tak segan-segan mendatangi ruang radio dan menghujat langsung Gee dengan berbagai ledekan yang pedas dan olok-olok berlebihan yang membuat Gee nyaris ingin bunuh diri saat itu juga--dengan kagetnya melihat anak-anak berkerumun memenuhi area lorong sekolah.
“ sial!!! Ini. cewek brengsek itu.... ,” rutuk Febri murka. Tak terima temannya dipermalukan. Tapi, apa yang bisa ia perbuat lagi? Toh semuanya sudah terjadi, dan wajah Gee takkan bisa di selamatkan dari rasa malu yang teramat sangat. 
Mulai detik itu, Gee sudah di cap sebagai homo oleh semua teman-temannya, terkecuali Febri. Tak ada julukan lain yang lebih menyakitkan dari pada julukan itu. Bahkan nama Gee bukan lagi Ge Dee, tapi Gee G, yang disingkat : Gee-Gay atau Gee-Homo. Benar-benar kejam.
Gee tak pernah terlihat lagi semenjak kejadian itu. Dia juga tidak hadir di acara perpisahan dan penerimaan ijazah. Dia menghilang entah kemana, tanpa kabar. Anak-anak yang masih mengejek Gee bilang kalau Gee mati bunuh diri gara-gara ga kuat nanggung malu.
Raphael yang juga menghilang beberapa hari, muncul kembali disaat acara perpisahan. Dia sudah pulih dari syock nya yang juga dianggap homo, tapi ga separah seperti yang dialami Gee, karena pada saat itu Gee lah yang mengakui perasaanya duluan, dan orang-orang juga dengar kalau Raphael mencoba menjelaskan keadaan yang sebenarnya. Raphael dan Febri yang khawatir akan keselamatan Gee, mencari-cari kabar tentangnya. Tapi sampai detik ini mereka tidak tahu Gee pergi kemana. Temannya itu pergi tanpa pamit.

Gee yang sekarang, tersentak dari lamunannya yang mengerikan itu, menggeleng-geleng beberapa kali untuk menjernihkan pikirannya kembali. Kemudian, matanya mengerjap-ngerjap, sambil mengamati kesekelilinya kamarnya . Lalu Gee bangun dari duduknya, lantas segera menyelesaikan membersihkan kamarnya, kemudian tertegun kembali di sisi jendela. Dia melamun lagi.
Dulu dia cowok normal. Sampai sekarang pun, dia yakin kalau dia normal , tapi kenapa ya dia sempat suka sama Raphael? padahal, kalau dia emang penyuka sesama jenis, seharusnya dia sudah suka sama Raphael sejak dulu! Tapi Gee tak berusaha menyangkalnya lagi, sampai detik ini perasaannya masih sama. Tak berubah. Yang berbeda hanyalah, sekarang Gee berusaha menyembuhkan hatinya dengan kehadiran seorang wanita. Dia adalah Dhea.
Gadis yang ia temuinya di kampus. Dhea sudah sudah tahu seluk-beluk dan masa lalu Gee, termasuk masa lalunya yang memalukan itu. Tapi, Dhea tak keberatan. Dia bisa menerima Gee apa adanya, dan menganggap itu semua sebagai masa lalu.
Dia dan Dhea sudah berpacaran selama setahun. Semakin lama Gee semakin menyayangi gadis itu. bukan hanya cantik, tapi dia juga sangat pengertian dan baik. Terlebih lagi, dia tidak pernah menyinggung-nyinggung masa lalu Gee atau membicarakan hal yang membuatnya tidak nyaman. Semuanya berjalan lancar, sampai, pada suatu hari , dia dipertemukan lagi dengan cinta pertamanya.
Dia  bertemu Raphael lagi saat sedang kencan dengan Dhea di sebuah restoran. Saat itu juga, Gee melihat Raphael sedang bersama seorang wanita. Siapakah dia?
Gee ingin langsung pergi dari restauran itu dan mencari tempat lain. Tapi urung ketika Raphael dengan lantang memanggilnya.
“ Gee!!!! ,”
Gee Cuma bisa terperangah dengan wajah tegang tersembunyi dibalik daftar menu. Dhea hanya kebingungan melihat tingkahnya. Detik berikutnya suara langkah Raphael terdengar mendekat kearah meja mereka, diikuti suara sepatu hak tinggi seorang wanita.
Lalu apakah yang akan Gee lakukan?