Pesan Sedih
Untukku
Aku terdiam dan terpana waktu kulihat seorang cowok berdiri
didekatku. Tubuhnya tinggi, dan kulitnya putih, memakai kaca mata kotak. Dia,
sangatlah tampan.
Aku tertarik, karena seperti dialah sosok cowok
idamanku, tapi aku tidak tahu siapa dia. Karena ini pertama kalinya aku melihat
cowok itu disini, disekolahku.
" Ryuji! ," panggil seseorang didepan aku.
Dan, cowok itu pun menyahut kepada orang yang memanggil tadi. Dia lantas pergi
menghampirnya.
"Ooh Ryuji namanya ," pikirku terkesima.
Kulihat sosoknya dari belakang yang tinggi. Berjalan dengan gagahnya, sampai
dimenghilang dari pandangan.
" Sir, aku baru saja bertemu dengan cowok
idamanku tadi, " seruku langsung memberi tahu Siri yang tengah
mencoret-coret halaman belakang bukunya. Dia menengadah menatapku. " oh
ya? Dimana? ,"
" dikantin tadi ," jawabku ceria.
Siri terkekeh seraya menutup bukunya " Disini?
siapa? kok baru ketemu?," tanyanya lagi.
" sepertinya dia anak baru ," kataku "
soalnya aku baru lihat cowok kaya dia ,"
"Hemm bisa jadi. Tampan gak?,"
" tentu.,"
"Makanya aku langsung suka ," ujarku
gembira.
" ooh yah---selalu cowok tampan yang kau suka.
Kenapa selalu melihat luarnya saja, sih?" keluh Siri heran.
" karena cinta sejati berawal dari pandangan
wajah. ," sahutku sambil nyengir lebar. Siri hanya mendengus dan mencibir , sudah menduga kalau aku akan jawab begitu.
Siri selalu menasihatiku kalau dalam memilih pasangan
janganlah hanya melihat tampangnya saja, tapi isi hatinya juga. Apakah dia
tulus atau tidak. Percuma kan kalau punya pacar ganteng tapi sering nyakitin
hati?. kupikir perkataan Siri memang ada benarnya, tapi bagaimana kita akan
tahan jika punya pacar yang jelek. Aku tidak mau seperti itu! Lagipula tidak
semua orang tampan itu brengsek kan?!
Aku selalu mendengus kalau Siri sudah mulai
menasehatiku tentang pacar sementara dia sendiri belum pernah sekalipun
pacaran. Sotoy sekali dia, kadang-kadang aku suka jengkel kalau sifat
nenek-neneknya keluar.
Sepulang sekolah, aku dan Siri bertemu si cowok
ganteng itu didepan sekolah, Dia sedang berdiri di trotoar sambil nunggu angkot.
Aku berbisik ke Siri bahwa cowok itulah yang aku
maksud. Dan Siri setuju kalau cowok itu memang ganteng. Tapi tetap saja Siri
bersikap dingin saat melihat setiap cowok yang aku sukai. Aku berinisiatif
ingin mengajaknya kenalan, tapi saat ku ajak Siri dia langsung menggeleng
keras.
“ gak ah. Malu, kita kan cewek, Rea ,”
tukasnya , masih dengan kepala menggeleng. “ masa kita nyamperin cowok duluan
,”
“ aahh biarin saja. Jaman sekarang
wanitalah yang memulai duluan ,” kataku sembari mengapit tangan Siri,
menggeretnya mendekati cowok itu. Siri berusah memberontak, dia hampir saja
mencubit lenganku, tapi dengan sigap aku lekas mengelak, dan dia pun akhirnya
menyerah.
Si cowok tadi menoleh kearah kami
berdua, tanpa ekpresi.
“ Hai! ,” sapaku lantang. Siri yang
disebelahku sedikit terkesiap karena suaraku yang begitu keras, dia pun
samar-samar ikut berda-dah kepadanya. Ryuji tersenyum tipis, tangannya melambai
sesaat.
“ hai juga ,” katanya malu-malu. “ nama
kamu siapa? Nama aku Rea, dan ini temanku Siri. Kamu anak baru yah, soalnya
muka kamu terlihat asing sih dan--,” Siri langsung menyenggol rusukku, untuk
menghentikan ocehanku yang tiada henti, dan aku pun langsung melototitnya
dengan tatapan: apa sih? Ngeganggu aja!
“ namaku Ryuuji ,” jawab Ryuuji singkat,
dan sebenarnya aku sudah tahu itu. “ iya aku baru saja pindah kesini, “
sambungnya.
“ waah, begitu ya. kalau gitu salam
kenal Ryuuji, aku harap kita bisa lebih akrab, iya kan , Siri? ,” ujarku sekaligus
menyindir Siri yang sedari tadi hanya diam saja. Siri langsung mengangguk
cepat-cepat mengiyakan sementara wajahnya mulai memerah.
Skip time. Beberapa bulan kemudian...
Aku dan Ryuuji jadi semakin dekat.
Sedangkan Siri masih tetap bersikap dingin padanya, meskipun kami bertiga
sering ngumpul bareng. Ryuuji sangat baik, dan dia juga perhatian padaku dan
Siri. Dia juga sudah sering mengajakku nonton, jalan bareng dan curhat.
Membuatku semakin ingin memilikinya segera. Entahlah, akhir-akhir ini aku jadi
sering mikirin Ryuuji. Mikirin apakah dia juga punya perasaan yang sama padaku?
Rasa gelisahku pun membuat aku ingin
menumpahkannya pada seseorang. Bukan pada Ryuuji, tapi pada Siri kali ini.
“ tumben kau main kerumahku. Sudah lama
sekali , kan ,” kata Siri ketika aku datang kerumahnya di Minggu sore. Aku yang
sudah dekat dengan Siri sejak SMP memang sudah sering main kerumahnya, tapi
sejak SMA dan kenal Ryuuji, aku jadi jarang kemari lagi. “ mau minum apa? Ada
es jeruk tuh ,” Siri menawari sambil menuju kulkas di dapur. “ boleh. Tapi
jangan manis-manis ya ,” pintaku, seperti sedang memesan minuman sama penjual
es jeruk. Siri langsung manyun , dan aku terkikik di balik majalah yang sedang
ku baca. “ iya nona ,” balasnya jengkel, tapi tetap menyuguhkan minumannya .
Kemudian Siri datang lalu menaruh nampannya di atas meja , seraya ikut duduk
disebelahku. “ ada apa? ,” tanya Siri.
“ Sir, kayanya aku naksir deh sama
Ryuuji ,” terangku blak-blakan, sembari meletakan kembali majalahnya.
“ oh ya? ,” Siri menanggapinya dingin,
membuatku tampak kecewa dengan responnya. “ kok cuma ‘oh ya?’ ,” tanyaku tak
puas.
“ terus mau kaya gimana? Apa aku harus
bilang Wow sambil guling-guling dipasir? ,” Siri bergurau tanpa memandangku.
“ yah seenggaknya kamu kaget atau apalah
,” balasku menggerutu.
“ ngapain kaget. Aku kan sudah tau sejak
awal kalau kamu suka sama Ryuuji. Kamu sendiri yang bilang kalau Ryuuji itu
cowok idaman kamu, ingat? ,” Siri mengingatkan. Dengan terpaksa aku mengiyakan,
sambil terus bergumam mencemooh padanya. “ apakah itu respon seorang sahabat
ketika temannya sedang butuh bantuan? ,” desisku keras, sengaja agar Siri mendengarnya.
Siri hanya menggeleng pelan, lantas berpaling padaku. “ iya deh. Ada apa Rea
ku? ,” tanyanya lunak.
“ aku harus gimana, Sir? Selama ini
Ryuuji terus baik sama aku. Dan aku takut kalau aku cuma ke ge-eran. Sementara
Ryuuji sendiri masih keliatan biasa-biasa saja. Aku penasaran banget tentang
perasaan dia ke aku tuh kaya gimana? ,” aku mengeluh sambil menyeruput habis es
jeruk dengan wajah cemberut. Membuat Siri sedikit tertawa kecil melihatku.
“ hemm, kamu sendiri pernah bilang kalau
jaman sekarang, wanitalah yang memulai duluan ,” kata Siri , suaranya berubah
serius. “ maksudnya? ,” tanyaku, tak mengerti. Sesaat Siri menghela nafas lantas
menatapku dengan tatapan yang dalam. “ Rea, kalau kamu suka dia, kamu katakan
saja langsung. Dan tanyakan pada Ryuuji
, apakah dia suka juga sama kamu? ,”
Aku terperangah sebentar. Tak bisa
membayangkan kalau aku yang mengatakannya duluan, sungguh memalukan. “ masa aku
duluan sih? ,” seruku.
“ terus siapa lagi? Kan kamu yang suka.
Lagi pula gak ada salahnya kan mengungkapkannya duluan ,” tutur Siri. “ emm...tapi--,”
“ ayolah, kamu bakalan terus penasaran
dan galau kayak gini kalau belum mencobanya. Jangan takut di tolak, toh itu
sudah jadi resikonya. Lagian kalau kamu di tolak, gak bakal ngerubah apapun ,”
kata Siri lagi sambil tertawa.
Aku pun cuma termangu. Sambil
membenamkan wajah di bantal sofa, memikirkan cara untuk mengungkapkannya pada
Ryuuji. “ aku malu , Sir ,” bisikku, dan wajahku memerah padam.
“ oh masih punya rasa malu ya? ,”
celetuk Siri, kemudian tertawa terbahak-bahak. Aku langsung melemparnya dengan
bantal yang sedari tadi ku pegang., tapi meleset, dan tawanya semakin menggema .
Rasanya saat seperti ini pernah kami rasakan sebelumnya. Saat kami SMP dulu.
Keesokan harinya. Saat pelajaran
Olahraga.
Aku sudah memutuskan ingin menembaknya.
Saat permainan basket untuk anak perempuan selesai, ku ajak Siri untuk
menemaniku, tapi dia menolak dan berkata mau ke UKS karena mendadak kondisinya
sedang tidak baik. Jadi, dengan sangat terpaksa, dia menyuruhku untuk pergi
sendiri.
Aku pun menuju bangku di sisi lapangan.
Disanalah Ryuuji sedang duduk, berpeluh habis main futsal. Dia terseyum lebar
padaku ketika aku datang menghamipirnya. Ryuuji bergeser lantas menepuk bangku
disebelahnya menyuruhku duduk.
“ hei ,” sapanya. Aku membalasnya dengan
senyum juga lantas menyodorkannya sekaleng minuman. “ waah tahu saja kalau aku
sedang butuh yang segar-segar ,” ucapnya senang , sembari membuka pengait pada
kaleng itu lantas meneguknya penuh dahaga. “ terimakasih ,”
“ sama-sama. Emm Ruuji, ada yang ingin
ku sampai kan...,” ujarku gugup.
“ oh ya? apa itu ?,” tanyanya.
“ errh itu...itu...Ryuuji...aku--menyukaimu
,” kataku lambat-lambat. Ryuuji nampak terperangah, mulutnya sedikit terbuka.
Sesaat kemudian dia malah tersenyum lebar. “ aku juga suka sama kamu kok ,”
jawabnya sambil tertawa kecil. “ a-aku serius, Ryu! ,” seruku tegas. “ lebih
dari pada sekedar perasaan teman. A....aku...aku menyukaimu sejak awal kita
bertemu—apa kau juga merasakan hal yang sama? ,” tanyaku lagi sambil tertunduk
malu. Sesaat hening. Ryuuji tak bersuara apa-pun, sementara dengan perasaan
yang amat tegang, aku memejamkan mata di hadapannya, menunggu jawaban Ryuuji.
Terdengar Ryuuji merdeham, dan
menggumamkan sesuatu. Jantungku berdegup tak karuan dan begitu menyesakkan
dada, sehingga tanpa tunggu lebih lama lagi aku segera bangkit dan pergi dari
situ dengan wajah merah padam. Aku tak sanggup mendengar kata, tidak!
“ Rea , tunggu! ,” panggil Ryuuji,
membuat langkahku terhenti saat itu juga. Aku tak berani menoleh. Kemudian
terdengar langkah kakinya mendekat, lalu berhenti, tepat di belakangku. Aku
semakin gemetaran dan mendakak lemas di bagian lutut. Kalau saja ada Siri, aku
mungkin sudah pegangan dengannya.
“ Bukankah aku sudah mengatakannya juga?
kenapa kau malah pergi? ,” ujar Ryuuji. “ a-apa?,” Desisku gelagapan. “ aku
juga bilang, kan kalau aku juga suka padamu. Dan ku pikir setelah bicara
seperti itu kita bisa berpacaran ,” bisiknya pelan, membuat bulu kudukku
merinding. “ a—apa kau serius? ,” tanyaku takut-takut. Dan sepertinya Ryuuji
mengangguk, tapi aku tidak tahu soalnya, aku memunggunginya terus. Lalu Ryuuji
memegang pundakku, membalikannya hingga wajah kami berhadapan. Dengan tatapan
yang dalam, dia mengatakannya sekali lagi “ aku juga menyukaimu, Rea. Mau kah
kau menjadi pacarku? ,”
Aku terperangah tak percaya. Seperti
sedang bermimpi. Mulutku sampai menganga saking
terkejutnya. Ryuuji masih menatapku,
seolah menunggu. “ jadi? ,”
Aku pun mengagguk pelan. Mengiyakan.
Namun, tiba-tiba saja teman-teman sekelasku bermunculan dilapangan. Mereka
bertepuk tangan seraya menyorakiku dengan nada menggoda. Kemudian menyelamati
hubungan kami. Di sela-sela hiruk-pikuk itu, di balik pundak Ryuuji, kulihat
sosok Siri tengah berlari terpogoh-pogoh di lorong. Wajahnya merah seperti
habis menangis, dan mulutnya terus ditutupi. Ada apa ya dengannya? Aku
penasaran, namun segera lupa oleh kebahagiaan yang begitu besar hari ini.
Ketika pulang sekolah, aku baru bertemu
Siri. Dia sedang berjalan gontai di trotoar , hendak pulang. “ Siri! ,” panggil
ku setengah berteriak. Dia pun berhenti, tapi tak menengok. Aku berlari
menghamburnya , merangkulnya dari belakang. “ yo! Kau tahu, kami resmi jadian
,” ujarku memberi tahu. “ oh yeah? Bagus kalau begitu ,” sahutnya singkat,
tanpa memandangku. Ku tengok wajahnya, dan dia langsung menunduk. “ kau kenapa?
Kok menangis? ,” tanyaku cemas. Siri kemudian memandangku, dengan matanya yang
sedikit memerah. “ oh-siapa yang menangis? Tadi mataku kelilipan ,” katanya
tanpa ekspresi. Aku mengernyit, dan tak lantas mempercayainya. Ekspresnyinya
jelas di buat-buat. Tapi aku tidak mau bertanya lebih banyak lagi, karena hari
ini aku begitu gembira. “ oke-oke. Kalau begitu kita ke mini market di depan
yuk! Aku mau mentelaktirmu makan es krim.,” ajakku.
“ maaf aku tidak bisa Rea. Kepalaku
masih sakit. Aku mau istirahat di rumah. Dan oh ya, selamat atas hubungan
kalian. Sampai jumpa ,” ucapnya cepat, kemudian pergi. Aku yang bingung hanya
bisa diam di tempat sambil memandangnya dari kejauhan, berharap kalau Siri
tidak apa-apa dan segera baikkan. “ seharusnya ini jadi hari yang istimewa. ,”
gumamku kecewa. Aku pun pulang dengan perasaan yang hampa.
Hubunganku dengan Ryuuji berjalan dengan
mulus. Kami berdua merasa kompak dan sangat cocok. Tapi, di tengah kebahagiaan
kami, muncul masalah pada Siri. Entah kenapa akhir-akhir ini dia sering melamun
dan terlihat galau, dia juga sering menyendiri di perpusatakan. Kalau ku
perhatikan, wajahnya murung sekali, seperti sedang banyak pikiran.
Akhirnya pada saat jam istirahat, saat
Ryuuji mengajakku ke kantin, aku menolaknya dan pergi sendirian ke perpustakaan
di lantai dua. Disanalah ku temui Siri sedang menyendiri di meja baca. Dia
menoleh sebentar sambil menyunggingkan senyuman tipis dengan wajah muramnya. Kemudian
aku duduk menghadapnya. “ sedang apa kau? ,”
“ baca buku ,” jawab Siri sekenanya. Aku
manggut-manggut saja. Hening. “ ku perhatikan sikapmu aneh belakangan ini ,”
aku mengomentari, dan membuat wajah Siri langsung mendongak. “ aneh kenapa? ,”
tanyanya balik.
“ yah, kau jadi lebih suka sendirian dan
terlihat murung. Hey—beri tahu aku, ada apa? Siapa tahu aku bisa membantu ,”
Siri terkekeh, senyumnya jadi berupa
seringaian. “ aku baik-baik saja. Oke? ,”
“ jangan bohong. Aku tahu kau sedang
kena masalah. Aku sudah kenal kau sejak lama ,” kataku tegas. “ ceritalah
padaku, maka aku akan marasa lebih berguna untukmu ,” akhirnya dengan helaan
nafas panjang Siri mulai bercerita. Tentang perasaannya. “ Rea, apakah aku
salah menyukai orang yang sudah berpacaran? ,” katanya begitu sedih. Aku
sedikit terkejut mendengarnya, namun segera tenang kembali. “ tentu saja tidak
Sir. Kau berhak menyukai siapapun, meski itu sudah jadi milik orang lain ,”
kataku pelan. Siri nampak menghela nafasnya lagi, kali ini lebih berat. “ aku
sangat bodoh. Seharusnya aku tahu kalau dia sudah punya pacar sekarang ,”
ucapnya,getir. “ bahkan aku berpikir untuk mengungkapkannya duluan seperti mu
,”
“ memangnya siapa dia? ,” tanyaku
penasaran. Siri berpaling, lalu menatap nanar rak-rak buku di belakangku. “ dia
orang yang spesial. Cinta pertamaku. Mungkin. Dan andai saja aku lebih dulu
memilikinya. Andai aku berani...,” aku semakin ikut bersedih, karena aku merasa
kesedihan Siri adalah kesedihanku juga. Aku tak tahu harus berbuat apa, selain
menghiburnya dengan kata-kata. “ Sudahlah Sir, jangan terlalu di
pikirkan...memang pahit sih, tapi cobalah untuk melupakan orang itu. Mungkin
butuh waktu yang lama untuk melupakannya, tapi aku yakin sedikit-demi sedikit
kau pasti bisa. Oh ya ngomong-ngomong siapa sih dia? ,” tanyaku masih penasaran
dengan sosok cowok yang disukai Siri. Tapi sampai percakapan kami usai Siri
masih enggan mengatakan siapa orang itu , bahkan ciri-cirinya pun tidak. Maka,
sebagai teman, aku harus mengerti dirinya yang masih sakit hati itu dengan
tidak menyinggung-nyinggung masalahnya lagi. Sampai di hari Anniversary kami
tiba.
Sudah tiga bulan kami berpacaran. Dan
kami sepakat akan merayakan hari jadi kami setiap tiga bulan sekali. Sama
seperti pasangan lainnya, aku pun memutuskan untuk tukar kado di hari itu. Aku
penasaran apa sih yang bakal Ryuuji berikan? Aku jadi deg-degan sendiri sambil
terus mencoret hari demi hari menuju tanggal 14 di kalender. Aku tersenyum
sendiri sampai membuat Ibuku menggeleng-geleng heran. Ternyata dia mengamatiku
dari tadi, membuatku jadi malu sendiri.
Tepat saat itu, Siri menelponku, dan dia
memintaku untuk datang ke rumahnya. Aku langsung buat alasan, karena disaat
berbarengan Ryuuji memintaku untuk datang kerumahnya juga. aku pun tak mungkin
mengecewaknya. “ maaf aku harus ke rumah sakit , Sir. Pamanku sedang sakit.
Maaf ya. memangnya ada apa kau menyuruhku datang? ,”
“ tidak apa-apa. Kalau begitu sampai
jumpa! ,” jawabnya cepat, dan langsung menutup telpon. aku mengernyit bingung
lalu segera bersiap-siap pergi ke rumah Ryuuji.
Keesokannya Siri datang kerumahku,
dengan membawa sepiring kue ulang tahun. Membuatku merasa tidak enak dan malu. Aku
baru ingat kemarin adalah hari ulang tahunnya. Dan sekarang Siri sendiri yang
mengantarkan kuenya itu untukku. “ kemarin karena kau tak datang, aku
menyisakannya untukmu. Nih! ,” aku menerimanya dengan perasaan yang amat
bersalah, tapi dia masih tetap tersenyum padaku. “ Maaf Siri. aku belum
menyiapkan kado dan tak datang ke rumahmu ,”
“ Tak apa. Lagi pula kemarin teman-teman
dan saudaraku pada datang, jadi aku tak begitu sedih. Kau tak datang karena
sedang menjenguk pamanmu kan?,” serunya ceria, membuatku semakin tidak enak.
Oh—aku benar-benar teman yang jahat, sampai-sampai lupa pada ulang tahun
temanku sendiri. “ Ryuuji juga sudah menyelamatiku kemarin dan dia juga
memberiku kado ,” kata Siri , membuatku langsung menoleh cepat memandangnya. “
Ryuuji memberimu kado? Memangnya dia tahu ulang tahunmu? ,” tanyaku penasaran.
“ ya bahkan sehari sebelumnya. Sampaikan terima kasihku padanya nanti ya,
karena aku tidak masuk besok. ,” kemudian Siri meminta diri pamit lalu pergi.
Aku pun hanya mengangguk sambil terbengong-bengong. “ kenapa Ryuuji tidak
memberi tahuku??? ,”
Setelah kejadian yang membuatku sangat
tidak enak kepada Siri, hal lain lagi membuatku sedikit penasaran dengannya
datang. Yaitu, kenapa belakangan ini Siri terlihat gembira sekali? Berbeda 180
derajat dari hari-hari sebelumnya. Hal itu membuatku ingin sekali bertanya,
tapi dia langsung menggeleng dan bilang : “ aku biasa saja ,”. Setelah beberapa
lama kuperhatikan, barulah aku sadar, kalau sekarang Siri sedang kasmaran. Tapi
sama siapa ya?
“ kulihat kau gembira sekali akhir-akhir
ini ,” tegurku saat kami menuju gerbang sekolah bersama. Disana Ryuuji sudah
menunggu. Siri langsung menoleh dan rahangnya langsung merapat, membentuk
sebuah garis. “ aku? Biasa saja ,” katanya, dengan jawaban yang sama. “ kau
tidak seceria ini beberapa hari yang lalu. Eh, apakah cintamu sudah terbalas?
,” tanyaku asal, membuat ekspresi ceria Siri memudar. “ sudahlah jangan bahas
itu. aku sudah hampir bisa merelakannya tahu, dan jangan buat aku menginginkannya
lagi ,” tuturnya pelan. Aku mengangguk seraya minta maaf. “ lalu apa yang
membuatmu senang? ,” tanyaku lagi.
“ aku senang karena..,” belum sempat dia
meneruskan perkataannya, tiba-tiba saja Ryuuji memanggilku, membuatku berpaling
dan lantas menghampirinya. “ bentar ya ,”
Kemudian kami sedikit bercakap-cakap,
lalu aku melambai kepada Siri karena akan segera pulang. Dia melambai padaku
dengan senyum hambarnya, seraya berpaling, dan lenyap dari lorong kelas.
Mungkin dia mau ke toilet dulu sebelum pulang, pikirku santai. Tanpa menyadari
kesedihan menyelimutinya lagi.
Hari Jumat, tanggal 13.
Hari anniv ku sudah dekat. Yah sekitar
beberapa jam lagi deh. Aku tidak sabar menunggunya, dan bertanya-tanya apa yang
akan Ryuuji berikan kepadaku? Sementara aku memandang kado kecil yang sudah aku
siapkan, dengan penuh harap. Ryuuji pasti akan senang menerima ini sebagai
hadiah anniv kami, pikirku. Aku terus berhayal-hayal sembari mengsms-nya.
Lama...dia tak membalas. Akhirnya sambil
menunggu sms balasannya, aku bersiap-siap berangkat kesekolah.
Sesampainya, aku melihat Ryuuji sedang
berjalan di halaman sekolah. Dia baru datang juga rupanya.
Aku bermaksud memanggilnya, namun
kudengar namanya dipanggil duluan oleh seseorang. Aku pun langsung berhenti,
melihat seorang gadis mungil, berambut ikal, berponi rata, tengah berlari kecil
menghampiri Ryuuji. Gadis itu adalah Siri, yang aneh sekali terlihat begitu
riang gembira. Kuperhatikan mereka : bercakap-cakap sambil tertawa, bercanda,
lalu tak lama Siri pun pergi. Sedang membicarakan apa mereka? sepertinya seru
sekali. Sesaat setelah Siri pergi, aku baru menghampiri Ryuuji, dan ekspresinya
memandangku seperti orang kaget. “ ooh-kau, Rea. Mengagetkan ku saja. ,”
katanya sembari mengelus-elus dada. “ pagi sayang ,” aku hanya manggut-manggut
saja sambil terseyum kaku. Lantas menggapit tangannya. “ Tadi Siri bicara apa
padamu? ,” aku bertanya. “ Gak penting, cuma sekedar nanya apa buku Pr nya ada
sama aku apa enggak? ,” jawab Rruuji. “ kok dia gak tanya aku juga? aku sama
dia kan sekelas? ,” ujarku heran, membuat Ryuuji nampak berpikir-pikir.
Gelagatnya mencurigakan. “ entahlah ,” gumamnya. “ oh ya kalau gitu, aku anter
kamu ke kelas yah—sekarang pejaran apa? ,” katanya gelagapan , dengan upaya
membuatku lupa soal tadi. “ gak usah, aku bisa sendiri. Eh iya, nanti malam
kita keluar yuk! Aku mau cari baju, temenin aku ! ,” pintaku manja, dan
sepertinya sudah lupa dengan kecurigaanku tadi.
Ryuuji nampak salah tingkah, dia terus
menggaruk-garuk kepalanya yang sepertinya tidak gatal. “ ehm, Rea....sorry,
kayaknya aku gak bisa nanti malam ,” katanya lambat-lambat. “ besok aja gimana?
,” usulnya kemudian. Aku langsung membelot sambil berkacak pinggang. “ kenapa
gak bisa? Emangnya kamu mau kemana? Kenapa harus besok? Memangnya kamu gak inget
besok hari apa ,” tanyaku bertubi-tubi. Ryuuji tersentak sedikit, dengan sabar
dia menjelaskannya, meskipun tetap saja membuatku kecewa.
Huh! Ryuuji bilang mau mengerjakan tugas
kelompok sama temannya nanti malam, dan juga bilang kalau itu tidak bisa ditunda.
Aku berusaha untuk mengerti, tapi tetap saja aku sebal setengah mati. Bahkan
temanku sendiri, Siri, tidak bisa menghiburku. Dia juga menghilang entah kemana.
Aah kenapa disaat seperti ini tidak ada yang menghiburku? Mereka semua pergi dengan
urusannya masing-masing. Sementara aku hanya sendiri mendekam dirumah. Sungguh
menyebalkan!
Untuk menghilangkan bosan, aku nekat
pergi ke mall sendirian. Biarlah aku menghilang sejenak untuk melepaskan rasa
jenuh. Maka, kesinilah aku pergi. Ke sebuah Mall tak jauh dari rumah. Aku menulusuri
toko-toko pakaiannya. Mencari dress yang bagus untuk ku pakai di hari anniv ku
nanti. Tapi anehnya, dari sekian banyak toko yang kusambangi, tak ada satu pun
yang cocok denganku. Aku pun mulai letih berjalan dan kakiku terasa pegal
sekali. Aku pun beristirahat sejenak, duduk di bangku kayu melengkung.
Bersandar dengan kedua lengan sambil merilexkan badan. Memang, kalau belanja
sedirian kurang mengasyikan, apa lagi tidak ada orang yang bisa di tanyai
pendapatnya. Hal seperti ini biasanya Siri yang paling jago. Dia pandai sekali
mencocokan baju sesuai dengan seleraku. Tapi, sekarang dia sedang pergi, dan
aku pun tidak tahu kemana. Beberapa menit kemudian, saat aku sedang memperhatikan
pengunjung yang hilir mudik di depanku, tiba-tiba saja mataku menagkap sosok
tubuh seseorang yang sangat familiar sekali. Dia sedang melihat-lihat baju di
toko yang tak jauh dari tempat ku berada. Dia bersama seseorang. Yang membuatku
sanggup untuk memekik kencang. “ R—Ryu!!! Siri!? ,” aku langsung terperanjat
dari duduk, lantas berjinjit untuk melihatnya lebih jelas dari atas
kepala-kepala pengunjung yang lain. Jantungku mencelos, dan mendadak berdetak
kencang. Seketika itu juga perasaanku mulai tak enak. Penasaran bercampur
berang, aku mulai menghampiri kedua orang itu, menyelinap diantara orang-orang
yang berjalan dan berhenti di toko-toko. Aku berusaha mempercepat langkah, tapi
orang-orang ini menghabatku. Kedua orang itu terlihat sedang bercanda sambil
mengambil sehelai baju dari kejauhan. Mereka tertawa lepas. Dan semakin ku
mendekat, semakin jelaslah bahawa mereka berdua adalah Ryuuji dan Siri.
Mereka berdua langsung menoleh dan
berhenti tertawa, seraya ada ketegangan menyelimuti ekpresi mereka. Aku
terengah penuh kemarahan. Berdiri di depan mereka dengan tangan terkepal. Siap
untuk tempur.
“ kalian! ,” seruku tajam. “ sedang apa
kalian disini? Ryu! Bukankah kau bilang mau mengerjakan tugas kelompok, hah? ,”
Mereka berdua saling pandang, kemudian
balik menatapku dengan tegang. “ K-kami...Rea, aku bisa jelaskan ,” cicit Ryu
tergagap. “ aku dan dia—kami hanya...,”
“ hanya apa??? ,” sentakku marah. “
kalian berdua pembohong! ,”
“ Tu—tunggu, Rea. Dengarkan dulu
penjelasan kami ,” kata Siri panik bercampur takut.
“ DIAM
KAU!! ,” teriakku kalap, membuat semua pengunjung menoleh dan
memperhatikan kami. Siri nampak terkejut sekali, dan dia nyaris menangis. “
kau—kalian! Aku kecewa sekali pada kalian. Tega-teganya membohongiku dan
mengkhianatiku ,” gerammu kesal. Aku tidak peduli lagi dengan tatapan aneh
orang-orang di sekelilingku yang sekarang tengah berbisik-bisik mengomentari.
Sementara Siri dan Ryuuji nampak syok. “ Rea, tenang. Ini semua tidak seperti
yang kau pikirkan! ,” ujar Ryuuji pelan. Terdengar suaranya begitu tertekan dan
panik. Tangannya bergerak hendak menyentuh pundakku, namun aku langsung
menepisnya dengan ekpresi jijik bercampur muak. “ CUKUP!!! ,” raungku emosi. “
cukup...aku gak mau dengar apa-apa lagi. Kalian...kalian mengkhianatiku. Dan..
,” kini aku menatap Siri dengan penuh kebencian. “ sudah kuduga memang selama
ini kau menyukai Ryu juga kan. Huh! Suka yah sama orang yang sudah punya pacar,
hmm...? dan sekarang kau mencoba merebutnya dariku, begitu? Katakan Siri,
KATAKAN! ,” emosiku sudah memuncak, rasanya aku ingin meledak! Entah bagaimana
lagi aku harus melontarkan kemarahanku yang menyakitkan ini. “ aku benci
kalian! Aku benci...dan kau Siri, mulai detik ini....kita putus sebagai
sahabat!! ,” kecamku padanya. Air mataku pun menetes, berleleran di pipi.
Sementara itu Ryuuji nampak ingin menyentuhku lagi, namun aku langsung mundur
menjauhinya sambil menyeka air mata yang membasahi wajah. “ cukup Ryu...kau
sudah membuatku kecewa. Aku sangat mencintaimu, tapi kenapa kau sungguh tega?!
,” isakku, merana. Aku pun berbalik, dan menyeruak pergi diantara kerumunan
orang yang menonton. Aku tak sanggup lagi berdiri disana. Aku tak kuat melihat
kedua orang yang aku sayangi tega menyakitiku. Dan tak kuasa lagi aku menahan
tangis pedih ini.
Aku ambruk di tepi tempat tidur ketika
sampai. Dan masih menagis tersedu-sedu. Aku tidak tahu lagi harus berbuat apa,
rasa kekecewaanku membuatku tak berdaya. Aku ingin sekali berteriak,
melontarkan semua emosi yang masih terpendam.
Hatiku benar-benar hancur. Sakit
rasanya....dan tak henti-hentinya pikiranku membayangankan tentang kebersamaan
mereka. Dan di benakku terus terngiang-ngiang ucapan Siri tentang perasaannya.
Apakah mereka sudah melakukannya sejak
lama dibelakangku? Apakah mereka telah berpacaran selama ini? Dan
bermacam-macam lagi pertanyaan yang muncul di kepalaku, sampai-sampai membuatku
pusing dan stres.
“ Rea...Rea, kamu sudah pulang? ,” suara
Ibu membangunkanku dari tidur. Aku mengerjap-ngerjap, dan tersadar. “ iya Buu
,” sahutku dengan suara yang diusahakan se-biasa mungkin. “ makanlah, Ibu sudah
siapkan makan malam nih ,” katanya lagi. Aku menguap seraya memaksakan diri
untuk duduk, tapi kepalaku terasa beraat sekali, sehingga aku tekulai kembali
ke kasur. “ iya Bu nanti! ,” dan kemudian hening. Ku rasa Ibu sudah pergi dari
situ. Aku memandang langit-langit kamar yang kerkerat. Pikiranku kosong,
tatapanku menerawang jauh. Dan terpejam kembali ketika kejadian itu tiba-tiba
saja muncul di benakku lagi.
Sungguh hari yang buruk untukmu, Rea!
Aku masuk keesokan harinya ke sekolah.
Berharap tidak ada hal buruk yang menimpaku lagi. Aku masuk saat pelajaran
sudah mulai lima menit yang lalu, dan mendapati Siri sedang duduk di bangkunya
seperti biasa, disebelahnya bangkuku yang kosong. Aku tak lantas duduk disana
seperti biasa, tersenyum menyapanya dan bersikap seolah tak terjadi apa-apa
diantara kami. Aku memilih duduk dengan Lukman di barisan depan. Sebisa mungkin
aku tak bicara apa lagi kontak mata dengan Siri, rasa benciku masih terukir
jelas sampai keubun-ubun. Membuatku ingin muntah kalau mengingatnya lagi.
Sementara antara aku dan Ryuuji...ku
anggap kami break!
Sedari malam dia terus menghubungiku
terus, baik lewat sms maupun telepon.Tapi tak satupun ku respon. Aku sudah
kelewat kecewa padanya, dan tidak mungkin memaafkannya begitu saja, meskipun
aku teramat sangat mencintainya dan tak ingin melepaskannya seperti apapun
kemarahanku.
Tapi tetap saja aku masih kesal.
“ Rea tunggu! ,” panggil Siri. membuatku
muak setengah mati mendengarnya. Aku jalan saja terus. Tapi dia menahanku. “
apa?! ,” sentakku galak. “ maafin aku! ,” katanya. “ enteng banget kamu bilang
maaf! Emang kamu pikir apa yang kamu lakukan? ,” tukasku berang. “ pergi dan
jangan ganggu aku! Aku gak sudi punya temen kayak kamu ,” semburku, lalu pergi
sambil sengaja menabrak pundaknya kasar. “ aku mau ngejelasin semuanya Rea!!
Rea!! Dengerin aku dulu...please, Re ,” aku terus berjalan, mengabaikan Siri
yang terus berteriak memanggilku. Tak peduli sekarang dia merintih dan
menangis. Penderitaanku lebih dalam dari pada
itu. aku pun tak perpaling lagi, saat itu juga persahabatan kami
berakhir untuk selama-lamanya.
Berakhrinya persahabatanku, tak berakhir
pula hubunganku dengan Ryu. Aku masih mengharapkannya, namun masih terlalu
angkuh untuk memaafkannya sekarang. Ryu masih suka menelponku, tapi lagi-lagi
aku tak menanggapinya. Dan, pada suatu hari barulah aku bicara dengannya, di
sebuah kafe sehabis pulang sekolah. Dia langsung membahas kejadian itu,
membuatku muak sekali. Dan yang yang lebih menjengkelkannya lagi, dia menyebut
nama Siri di hadapanku.
“ dia tidak masuk lagi ke sekolah
akhir-akhri ini. kau tahu? ,” tanyanya memancingku. “ heh mana ku tahu? Peduli
amat ,” sahutku angkuh. “ Rea, sudahku bilang. Saat itu kami berdua janjian
untuk membelikanmu hadiah untuk anniv. Aku yanng memintanya, jadi dia tidak
salah sama sekali. Dia tak punya perasaan padaku. Tak pernah, bahkan itu
sekali-kalinya kami bicara bersama! Ayolah ku mohon maafkan aku dan Siri! maaf
atas kebohongan kami ,” katanya memohon. Aku berpikir sejenak, mempertimbangkan
kata-kata Ryu. Yah mungkin benar memang niat mereka untuk membeli hadiah
untukku. Oke aku bisa maafkan, tapi untuk Siri yang menyukai Ryu dan menusukku
dari belakang, sungguh tak bisa ku maafkan lagi, apa lagi dia terlihat
memanfaatkan semuanya. “ aku memaafkanmu, tapi dengan Siri aku tidak bisa ,”
kataku tegas. “ hubungan persahabatan jauh lebih rumit dari yang kau
bayangakan. Sekali berkhianat maka akan jadi musuh, Ryu! ,”
“ aduh Rea. Apa kau masih berpikir dia
menyukaiku? Hah yang benar saja, dia itu dingin padaku! Dan tak pernah
sedikitpun Siri menggodaku atau melakukan hal yang tidak-tidak, percayalah! ,”
jelas Ryuuji serbasalah. “ aku pernah mendengarnya menyukai seseorang, dan dia
sudah punya pacar! Apakah itu tidak berarti apapun? Maksud dia adalah kau! Kau
orang yang disukainya selama ini!! ,” balasku ngotot, sambil menunjuknya dengan
amat gemas. Ryu menggeleng terperangah, menatapku kecewa sekali. Dia bangkit
dari duduk nya, lalu berkata “
sebenarnya ini sudah lama sekali, tapi Siri pernah mengancamku, suatu hari. Dia
bilang ‘ jangan sakiti Rea, cintai dia, lindungi dia, karena kalau sesuatu
terjadi padanya aku tak akan segan-segan memberimu pelajaran’ begitu katanya.
Dan saat itu aku sadar , kalau dia sangat menyayangimu Rea. Dia peduli padamu!
Seharusnya kau sadari itu ,” kemudian Ryuuji pergi menaiki motornya. Pulang.
Aku merenungi perkataan Ryu barusan. Benarkah Siri pernah berkata seperti itu?
Siri memperingatkan Ryu agar selalu mencintainya? Lalu...bagaimana dengan
pengakuan Siri tentang perasaannya itu?
Aku langsung tersentak seolah baru
sadar. Aku langsung beranjak dari sana dan bergegas pergi. Menemui Siri.
Betapa terkejutnya aku ketika mendengar
kabar dari Ibunya Siri, yang mengatakan bahwa Siri sedang ada di rumah sakit.
Dia mengalami kecelakaan lalulintas yang parah sehingga membuatnya koma
beberapa hari. Aku langsung pergi kerumah sakit yang dimaksud, mencari-cari
kamar Siri di rawat dengan paniknya. Lalu menyeruak masuk ketika sudah sampai.
Disana...disana lah tubuh Siri yang lemah terbaring, penuh luka dan di pakaikan
alat bantu pernafasan. Sungguh kasihan aku melihatnya. Sampai tak sadar aku
terisak saat menghamburnya dengan pelukan penuh sesal. Aku bersimpuh disisinya
seolah menumpahkan berjuta maaf ku yang tak ku sampaikan saat dia sadar. Aku
menyesal sekali. Dan ingin rasanya aku menggantikan luka yang ia derita. Ayah
dan Adiknya mencoba menenangkanku, memberiku air dan menyuruhku untuk duduk.
Aku mulai tenang sedikit, meskipun perasaanku masih amat pilu. Ku hibungi
Ryuuji dan kukabarkan tentang keadaan Siri yang sekarat. Dia kaget dan bilang
akan segera kemari.
Beberapa saat, aku sudah bisa
mengendalikan diriku. Aku mendekatkan bangkuku ke tempat tidur agar bisa lebih
jelas melihat Siri. Siri begitu menderita, banyak luka di bagian tubuhnya, dan
mungkin dihatinya juga. Aku masih diliputi perasaan bersalah. Menyesal karena
aku sendiri tidak tahu temanku sedang kesulitan. Aku datang saat dia sedang
terpuruk. Dan sadar aku tidak ada disampingnya ketika dia membutuhkanku. Aku
egois! Yah, sangat egois! Disaat aku lupa ulang tahunnya, dia malah memberiku
kado di hari annivku. Di saat dia ingin curhat, aku malah pergi dengan Ryuuji
tanpa memperdulikannya. Ooh, aku benci diriku sendiri! Apa gunanya aku? Aku
sahabatnya, dan kenapa malah menyakitinya seperti ini? Aku larut dalam
kesedihan. Sampai suara langkah kaki terdengar mendekatiku.
Ternya Ibunya Siri. Beliau berdiri
disebelahku seraya menatap anaknya di depan. Pandangannya kosong dan wajahnya
murung. “ tante....aku turut menyesal ,” ujarku simpatik. “ seharusnya saya
selalu ada untuk dia ,” lanjutku penuh sesal. “ maaf...” kemudian tante
membelai rambutku sayang, beberapa saat , sampai dia membungkuk padaku. “ Rea
ada yang ingin tante serahkan padamu,” katanya. “ apa itu ,tante?,” tanyaku
ingin tahu. Tante Indri mengeluarkan sepucuk surat dari kantong bajunya lalu
menyodorkannya padaku. “ surat dari Siri ,” ucapnya. Kemudian tak beberapa lama
dia pergi keluar. Meninggalkanku. Siri masih koma, dan monitor disampingnya
berdetak stabil. Aku memandang surat itu dengan penuh tanya. Perasaanku sedikit
tidak enak karena entah kenapa sepertinya surat ini surat terakhir bagi Siri.
tapi aku langsung menepisnya sejauh mungkin. Kemudian mulai membaca:
Dear Reaku
sayang.
Aku menulis ini
ketika kita sedang bertengkar. Sebelumnya kita belum pernah bertengkar seperti
ini. Dan aneh sekali kita bertengkar cuma gara-gara cowok.aku sedih sekali
waktu kau bilang membenciku dan memutuskan persaudaraan kita. tapi, tak apa,
aku mengerti perasaanmu...
Aku sedang jatuh
cinta disaat kau juga jatuh cinta sama Ryuuji. Sungguh kebetulan yang aneh, tapi
aku senang, karena kupikir jika kau berhasil maka aku juga akan berhasil.
Tapi nasib
berkata lain. Tommy ternyata sudah punya pacar, dan dia sendiri yang
mengenalkannya padaku. Sungguh pahit! Aku ingin memberi tahumu, tapi aku urung
melakukannya karena kau sedang bahagia sekali waktu itu. aku tidak mau kau
terbebani oleh masalahku.
Kau tahu Rea?
Aku sangat memujimu. Kau adalah Inspirasiku, panutanku dan sudah ku anggap
sebagai saudara. Tentu aku menyayangimu. Dan maaf kalau aku sudah bawel tentang
masalah percintaanmu. Aku hanya takut kau akan patah hati Rea!kemudian menangis
dan bersedih....aku tak bisa melihat itu semua. dan sampai akhirnya aku
mempercayakan seseorang padamu. Yaitu Ryuuji. Dia berhasil meyakinkanku akan
selalu menjaga dan mencintaimu setulus hati. aku yakin dialah yang akan
membuatmu bahagia, Rea. Maka dari itu, jangan bersedih, tetaplah tegar dan jaga
dirimu baik-baik.
Semoga kau dan
Ryuuji tetap saling mencintai.
Aku merestui
kalian berdua. Dan ku harap kalian bahagia kelak.
Sampai jumpa
Rea. Sahabat terbaikku.
Aku terisak setelah selesai membacanya.
Tetesan air mataku membasahi kertas itu. Aku sungguh tak bisa menahannya lagi.
Ditahan pun malah menyiksa dada. Aku meraung menangis, sambil memegang tangan
Siri erat. Aku tak ingin kehilangannya...
tiba-tiba...
hatiku mencelos, dan perasaanku kacau.
Sebisa mungkin aku memeriksanya lagi. mencari-cari denyut nadi dipergelangan
tangan Siri yang sedang kupegangi. Tapi tidak ada! Aku tidak bisa merasakan
nadinya. Aku panik setengah mati, ditambah bunyi monitor yang terus berbunyi
cepat, dan grafiknya sudah mulai lurus...” suster, dokter toloooong!!!!
Tante...tante!!! ,” teriakku sambil memencet-mencet tombol darurat di sebelah
tempat tidur. Aku panik dan tak tahu harus bagaimana. Sampai tante Indri ,
dokter dan beberapa suster datang kemari dengan berbagai peralatan. Aku yang
panik langsung memeluk Tante Indri yang nampaknya sama syoknya. Tubuhnya
bergetar, terasa jelas di dadaku. Dan dia menangis. Meraung-raung merana,
sementara gantian aku yang menenangkannya. Di detik-detik akhir ketika mereka
menangani Siri, bunyi beeep panjang membuat kami semua terkejut terperangah.
Wajah dokter berubah putus asa, sementara Tante Indri sudah pingsan dipundakku.
Disaat bersamaan, Ryuji datang menyeruak, dan wajahnya yang terengah langsung
pucat ditempat ketika melihat Siri yang sudah tak bernyawa lagi tergeletak di tempat
tidurnya.
Hari itu jadi hari yang sangat kelam dan
kelabu. Aku dan Ryu berdiri disebuah pemakaman.
Aku ingat pesannya. Dia bilang aku harus
tetap tegar dan bahagia, serta menjaga diriku sebaik mungkin. Aku tahu ini
masih sangat berat bagiku maupun Ryu. Tapi kami harus merelakannya pergi. Siri
pasti akan bahagia disana, karena aku yakin Tuhan pasti menjaganya untuk kami.
Ku taburkan bunga terakhirku di wajahmu.
Jasadmu yang indah dan harum. Kau bersandar bagaikan bidadari yang indah, dan
hatimu seputih embun pagi yang dingin. Tak tertandingi kasih sayangmu padaku.
Karena kau tulus mencintai dan menyayangi. Aku akan selalu mengenangmu....jauh
dilubuk hatiku, bersanding dengan nama Ryuuji disana...
We love you Siri, and i’m so sorry...