Sepulang dari sekolah, Arina
tidak langsung mengganti baju, dia langsung melempar tubuhnya ke kasur seraya
mendesah tak nyaman. Dia masih syock dan heran dengan kejadian tadi sepulang
sekolah. Dia melihat orang bisa menghilang. Di depan matanya kemudian cowok itu
muncul lagi.
“ gak mungkin ,” sentaknya,
terbangun dari tidur. Wajahnya penuh dengan peluh, dan tak terasa dia meremas
seprai tempat tidurnya.
“ bagaimana mungkin??? ini pasti
ada yang tidak beres. Lalu...kenapa mereka menunjukannya padaku? Jangan-jangan
mereka berniat buruk lagi ,” desis Arina masih tidak percaya. Kemudian tak
beberapa lama, pintu kamarnya di ketuk dua kali. Ibunya, menyuruhnya keluar
untuk makan malam.
Arina masih linglung saat turun
dan duduk di meja makan. Orang tuanya yang memperhatikan saling pandang, dan
kemudian menegurnya.
“ ada apa Arina? Kau terlihat
lesu? ,”
“ tidak apa-apa ,” jawabnya
menggeleng. Ayahnya terus mengawasinya tanpa berkata apa-apa kemudian melirik
istrinya yang kelihatan sama cemasnya.
“ apa hari pertamamu di sekolah
berjalan lancar? ,” tanya beliau lagi.
Arina mendongak dari piringnya,
berusaha tersenyum. “ baik-baik saja , Bu....menyenangkan malah. Nana sudah
dapat teman baru ,”
Ibunya mengangguk ragu, begitupun
dengan suaminya, kemudian mereka bertiga makan dalam diam.
Keesokan harinya. Sebenarnya
Arina enggan sekali masuk, tapi dia sudah berkata kepada Ibunya bahwa dia akan
kesekolah hari ini. dan tidak mungkin juga dia beralasan sakit tiba-tiba.
Dia masih takut bertemu dengan
orang-orang aneh itu. Jadi, dia berusaha untuk ke kelas sepagi mungkin agar
tidak bertatapan dengan mereka. Takut ada hal aneh yang terjadi lagi, Arina
langsung duduk di kelasnya bersama Franka.
“ pagi sekali kau datang.,” sapa
Franka.
“ yah aku selalu datang pagi ,”
kata Arina. Tak lama hal yang di takutkannya muncul. Julius dan kedua temannya
muncul di ambang pintu. Mereka berjalan lurus tanpa mengacuhkan Franka maupun
Arina yang sudah beringsut ketakutan, seolah tidak ada siapa-siapa di kelas itu
dan tidak terjadi apa-apun antara Arina dan mereka. Mereka lalu duduk berderet.
Diam, dan tak melakukan apapun selain menatap lurus papan tulis.
“ ke kenapa dengan mereka? ,”
bisik Arina ke Franka.
“ mereka memang begitu! Dingin
dan kaku, apa lagi si Julius, dia begitu sinis dan dingin, tapi kemarin entah
kenapa, dia jadi berbeda padamu? ,” Franka bertanya penasaran. Arina mengernyit
geli.
“ aku juga tidak tahu maksudnya
apa...tapi pas sepulang sekolah dia...,” Arina terhenti ragu, bimbang apakah
dia perlu memberitahu Franka soal keanehan Julius kemarin atau tidak.
“ Julius? Dia ngapain? ,”
desaknya ingin tahu.
Arina lantas menggeleng sambil
melirik barisan bangku paling belakang yang nampak mengawasinya tajam. “
tidak-apa-apa ,” ujar Arina nyaring, seolah memberi tahu mereka bertiga juga. “
Julius hanya berpapasan denganku ,”
Bel pun berbunyi. Dan pelajaran
segera di mulai.
Entah hanya perasaannya atau
memang benar, rasanya Julius terus saja memperhatikannya meski Arina sudah
berusaha cuek dan tidak menengok ke belakang. Tapi yang membuat dia tidak
nyaman adalah cengiran Joe , di sebelah kirinya yang terus saja mengganggu, dan
di sebelah kanannya, Reena memasang mata mengancam setiap kali dia menoleh
sediki kearahnya.
Arina sungguh dilema, dia ingin
sekali pindah , tapi tempat duduk tidak ada yang kosong dan mau tak-mau dia harus
menghabiskan dua jam pelajarannya dengan duduk tegak menghadap kedepan.
Akhirnya, dia pun muak. Arina
memberanikan diri untuk bertanya langsung dengan Julius ketika jam istirahat.
Julius sedang berdiri di balkon di depan kelas. Joe dan Reena sedang tidak ada.
“ Ju—Julius ,” panggil Arina
gagap. Julius tak menoleh, malah bersandar di tepi balkon. “ apa? ,”
Arina terpaku, beberapa saat dia
memandangi punggung Julius yang begitu tegap dan gagah. Tapi dia langsung
menggeleng keras, fokus dengan niatnya semula. “ bi..bisa kita bicara? Aku
ingin tanya sesuatu ,” Julius baru menoleh, itupun hanya sedikit. Tatapannya
kembali dingin, seolah Arina sudah menganggu ketenangannya. “ biacralah... ,”
ucap Julius lirih.
Dengan perlahan Arina melangkah
ke sebelah Julius. Langkahnya begitu lemah karena grogi. Kini Arina sudah di samping Julius. Dia diam
beberapa saat sampai Julius berdiri kembali. Arina merasa Julius tidak lah
tinggi, mungkin lebih tinggi Joe beberapa centimeter. Rambut Julius yang agak
gondrong dan keriting tertepa angin, terlihat sangat cocok dengan wajahnya yang
serius sehingga memperlihatkan sisi maskulinnya yang baru Arina sadari ketika
berdekatan dengannya.
“ apa yang ingin kau bicarakan?
Apa tentang kejadian kemarin ,” tanya Julius tanpa memandang Arina.
“ aku masih syock ,” gumam Arina.
“ tentu, dan wajar saja...mana
ada orang yang bisa mengilang begeitu saja, dan bisa melihatmu meskipun dari
jarak yang sangat jauh ,” kata Julius. Arina mengangkat alisnya bingung.”
Melihatku dari jarak jauh? ,”
“ disini, Reena bisa melihat kita
meski dia ada ditempat yang jauh, dan itulah kemampuannya. Aku bisa
bertransportasi sedangkan Joe, dia punya tulang super kuat bagaikan baja dan
kulitnya bagai kulit naga ,”
Arina melongo dan matanya melotot. “ aaa omong
kosong apa lagi ini? ,” pekiknya frustasi.
“ kau ingin tahu lebih lagi kan?
Ikutlah denganku ,”
Takut tapi penasaran, Arina
mengikuti Julius ke sebuah lorong. Lorong itu agak gelap dan berantakan. Banyak
bangku-bangku rusak, alat pel dan peti-peti kosong yang bertumpukan di sudut lorong. Arina berlari kecil untuk mengimbangi
langkah kaki Julius yang panjang, meskipun begitu sepertinya Julius berusaha
sepelan mungkin berjalan.
“ mau kemana kita? ,” tanya Arina
tanpa sadar menggenggam tangan Julius. Julius melirik lenganya, dan Arina
buru-buru melepas pegangannya dengan wajah memerah.
“ kita ke markas ku ,” jawabnya
singkat.
Dan sampailah mereka , didepan
sebuah pintu yang sudah berkeropengan catnya dan di selubungi sarang laba-laba.
Seperti pintu gudang, tapi setelah Julius membukanya, ruangan itu seratus kali
lipat berbeda dengan apa yang ia pikirkan. Di dalam sangat rapih dan wangi.
Membuat Arina sedikit lega.
“ woow, aku tidak tahu ada
ruangan seperti ini disini ,” ujarnya takjub. “ seperti gaya vampire, serba
merah ,”
Julius tersenyum. Dan senyum pertamanya
yang sungguhan. Bukan lagi menyeringai. “ masuklah ,”
Di dalam ternyata ada Joe. Dia
sedang duduk di sofa panjang yang kelihatannya nyaman. Joe nyengir lagi waktu
Arina masuk dan berdiri di hadapannya. Di depan sebuah meja baca, duduklah
Reena yang tengah membuka-buka buku besar, tertunduk-terpaku pada halaman yang
sedang ia baca.
“ lama sekali Julius, kupikir kau
tak datang ,” kata Reena tanpa mendongak. Julius menutup pintunya kemudian
duduk di sebelah Joe.
“ aku sedang menunggu Arina, dan
kebetulan sekali dia ingin bicara denganku ,”
“ lalu kenapa kau bawa kemari? ,”
tanya Reena dingin.
“ ku pikir ada hubungannya dengan
tawaran kita yang kemarin ,” terka Julius, terhenyak di sofanya.
“ waah aku jadi tak sabar ,”
celetuk Joe. “ kira-kira si cantik Arina ini bisa apa ya? ,”
Arina langsung menggeleng. “
whoa-whoa...tunggu dulu! sebelum kalian melanjutkan pembicaraan yang aneh ini,
boleh aku tahu, apa maksud kalian ? dan organisasi apa sih yang kalian maksud?
Dan apa hubungannya denganku? ,”
Julius dan Joe saling pandang.
Reena lalu menutup bukunya jengkel, kemudian mendekati Arina.
“ dengar Arina...kami adalah S.O
. Special Orphans. Dan kau tahukan
maksud kata orphan itu? kami adalah anak yatim piatu yang tidak tahu apa-pun
asal usul kami, siapa yang melahirkan kami dan apa tujuan kami di lahirkan.
Dan...yang membuat kami di sebut special adalah karena kemampuan kami yang
tidak di miliki oleh manusia biasa. Contohnya Julius, dia bisa berpindah-pindah
tempat semaunya, dia bisa mengendalikan gravitasi, dan Joe, dia punya tulang
yang kuat dan kulit yang keras seperti kulit naga, takkan terluka meski kau
sayat dia dengan belati. Aku...,” Reena sedikit enggan mengatakannya, namun
setelah menarik nafas panjang dia lalu melanjutkan. “ aku bisa melihat dengan
mata orang lain di mana pun dia berada. Kemampuanku mendeteksi orang-orang yang
seperti kita, aku bisa tahu keberadaan S.O dengan mata ketiga ku! ,”
“ mata ke tiga? ,” potong Arina kaget.
“ maksudmu? ...,”
“ yeah...aku punya mata ke tiga, yang bisa menghubungkan mataku dengan mata
orang lain. Dengan telapak tanganku, aku bisa menggunakan mata siapa saja untuk
melihat apa yang mereka lihat. ,” Reena menjulurkan telapak tangannya ke Arina.
Arina bisa melihat sebuah tanda lingkaran hitam
seukuran koin di tangan Reena. Dia memperhatikannya tanpa tahu apa
maksudnya, membuat Reena terlihat jengkel lagi. kemudian dia menarik tangannya
itu, sementara tangan kirinya perlahan terangakat, hendak menyeka poninya yang
tebal menutupi dahi. Reena terlihat ragu ketika ingin menyeka poninya, seakan
ada sesuatu yang cukup mengerikan disana. Arina nampak penasaran, sementara Joe
dan Julius mengamati dengan seksama.
Reena menyibakan poninya. Di
dahinya tampak kerutan aneh menjijikan yang tertutup seperti sebuah pelupuk.
Agak menonjol dan banyak urat-urat kecil di sekelilingnya.
Arina menahan pekikannya. Dia
tidak mau membuat Reena tersinggung kalau dia kelihatan ketakutan. Jadi dia
berusaha sebiasa mungkin.
“ apa itu...mata ketigamu? ,”
“ ---ya...seperti ini lah. Mata
ini akan selalu tertutup jika tidak ku tempelkan tangan kananku. Mata ini hanya ku gunakan di
saat genting ,” kata Reena menjelaskan.
“ maaf sebelumnya, apa itu dari
lahir? Dan apa ada orang lain yang pernah melihat matamu? ,” tanya Arina
takut-takut. Reena menyembunyikan mata itu dengan poni lagi, lalu mendesah. “
ya, dari lahir. Waktu itu ada anak kecil yang melihat mataku, dan dia langsung
menjerit ketakutan. Dia menyangka aku hantu ,”
Arina agak bersimpati, baru kali
ini dia melihat ekspresi Reena yang sendu selain tatapan mengancam dan sinis.
“ dan, sebenarnya masih banyak
lagi S.O di seluruh dunia ini, dengan beragam kemampuan. ,” sambung Joe. Arina
memandangnya sebentar lalu beralih ke Julius yang balas menatapnya.
“ lalu kau ingin bicara apa? ,”
“ kalau ini semua tentang S.O
yang kalian maksud, lalu apa hubungannya denganku? ,” tanya Arina tajam “
kenapa kalian pikir aku sama dengan kalian? ,”
Sesaat Julius nampak terdiam,
lalu kemudian dia berdiri di depan Arina dengan kedua tangannya tersembunyi di
saku. “ karena kau ada di dalam mimpiku...kau muncul di tahun ini , ke sekolah
ini, dan akhirnya bertemu kami meskipun kau tidak menyadari siapa kau
sebenarnya ,”
Mata Arina melotot dan mulutnya
sedikit menganga. Pikirannya di hujani bermacam-macam penjelasan dan pertanyaan
yang takkan pernah bisa memuaskan rasa penasarannya pada ketiga orang ini.
“ aku yang salah dengar atau aku
mulai sinting? ,” katanya mendadak frustasi. “ jujur saja aku masih sulit
mempercayai ini! ,”
“ dan aku juga ,” timpal Reena
ketus. “ Julius ngotot sekali kalau kau orangnya. Bahkan ku pikir kau bukanlah
S.O dan kau 100% gadis biasa ,”
“ Nah, itu baru benar ,” tukas
Arina senang ada yang sependapat dengannya.
“ jadi selama ini kau tinggal
sama siapa? ,” tanya Joe tiba-tiba. Arina mengernyit, seolah pertanyaan Joe ini
konyol sekali.
“ ya tentu saja sama kedua orang
tuaku! ,”
“ masalahnya semua S.O tidak
punya orang tua Arina, dan bagaimana bisa orang tua mereka bertahan setelah
melahirkan anak seperti kita Julius? ,” tanyanya kemudian beralih ke Julius. “
apa kau ingat tentang penyihir wanita yang di kutuk? Mana mungkin kalau dia S.O
,” tukasnya yang kini mulai setuju dengan pendapat Reena.
“ hemm, maaf sekali Arina, apakah
mereka betul orang tua kandungmu? ,” tanya Julius sopan.
“ ya ,”
“ kau yakin? ,” sambung Joe.
“ tentu saja. Apa perlu ku
buktikan? ,” tantang Arina mulai jengkel. Julius dan Joe saling lirik, kemudian
seperti mendapat ide.
“ buktikanlah...kalau kau memang
anak kedua orang tuamu, maka kami tidak akan mengganggumu lagi, dan kami akan
memperlakukanmu dengan baik. Jika tidak...,” Julius tersenyum tipis puas. “ kau
harus menuruti apa yang kami mau, dan kau tidak boleh menolak. Bagaimana? ,”
Arina nampak mempertimbangkan
tawaran itu. meskipun tidak begitu menguntungkan baginya , toh dia masih heran
kenapa Julius meragukan orang tuanya, dan bersikeras bahwa dia adalah sejenis
dari mereka. sampai beberapa saat terdiam, akhirnya Arina memutuskan. Dia
mengangguk sebagai tanda setuju. Julius menjulurkan tangannya untuk meresmikan kesepakatan
mereka, dan dengan berat hati Arina menyambar tangannya dengan wajah jengah.
“ setuju! ,”