BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS »

Sabtu, 23 Agustus 2014

Cerpen remaja romantis




Pesan Sedih Untukku
Aku terdiam dan terpana waktu kulihat seorang cowok berdiri didekatku. Tubuhnya tinggi, dan kulitnya putih, memakai kaca mata kotak. Dia, sangatlah tampan.
Aku tertarik, karena seperti dialah sosok cowok idamanku, tapi aku tidak tahu siapa dia. Karena ini pertama kalinya aku melihat cowok itu disini, disekolahku.
" Ryuji! ," panggil seseorang didepan aku. Dan, cowok itu pun menyahut kepada orang yang memanggil tadi. Dia lantas pergi menghampirnya.
"Ooh Ryuji namanya ," pikirku terkesima. Kulihat sosoknya dari belakang yang tinggi. Berjalan dengan gagahnya, sampai dimenghilang dari pandangan.
" Sir, aku baru saja bertemu dengan cowok idamanku tadi, " seruku langsung memberi tahu Siri yang tengah mencoret-coret halaman belakang bukunya. Dia menengadah menatapku. " oh ya? Dimana? ,"
" dikantin tadi ," jawabku ceria.
Siri terkekeh seraya menutup bukunya " Disini? siapa? kok baru ketemu?," tanyanya lagi.
" sepertinya dia anak baru ," kataku " soalnya aku baru lihat cowok kaya dia ,"
"Hemm bisa jadi. Tampan gak?,"
" tentu.,"
"Makanya aku langsung suka ," ujarku gembira.
" ooh yah---selalu cowok tampan yang kau suka. Kenapa selalu melihat luarnya saja, sih?" keluh Siri heran.
" karena cinta sejati berawal dari pandangan wajah. ," sahutku sambil nyengir lebar. Siri hanya mendengus  dan mencibir , sudah menduga kalau aku akan jawab begitu.

Siri selalu menasihatiku kalau dalam memilih pasangan janganlah hanya melihat tampangnya saja, tapi isi hatinya juga. Apakah dia tulus atau tidak. Percuma kan kalau punya pacar ganteng tapi sering nyakitin hati?. kupikir perkataan Siri memang ada benarnya, tapi bagaimana kita akan tahan jika punya pacar yang jelek. Aku tidak mau seperti itu! Lagipula tidak semua orang tampan itu brengsek kan?!
Aku selalu mendengus kalau Siri sudah mulai menasehatiku tentang pacar sementara dia sendiri belum pernah sekalipun pacaran. Sotoy sekali dia, kadang-kadang aku suka jengkel kalau sifat nenek-neneknya keluar.

Sepulang sekolah, aku dan Siri bertemu si cowok ganteng itu didepan sekolah, Dia sedang berdiri di trotoar sambil nunggu angkot.
Aku berbisik ke Siri bahwa cowok itulah yang aku maksud. Dan Siri setuju kalau cowok itu memang ganteng. Tapi tetap saja Siri bersikap dingin saat melihat setiap cowok yang aku sukai. Aku berinisiatif ingin mengajaknya kenalan, tapi saat ku ajak Siri dia langsung menggeleng keras.
“ gak ah. Malu, kita kan cewek, Rea ,” tukasnya , masih dengan kepala menggeleng. “ masa kita nyamperin cowok duluan ,”
“ aahh biarin saja. Jaman sekarang wanitalah yang memulai duluan ,” kataku sembari mengapit tangan Siri, menggeretnya mendekati cowok itu. Siri berusah memberontak, dia hampir saja mencubit lenganku, tapi dengan sigap aku lekas mengelak, dan dia pun akhirnya menyerah.
Si cowok tadi menoleh kearah kami berdua, tanpa ekpresi.
“ Hai! ,” sapaku lantang. Siri yang disebelahku sedikit terkesiap karena suaraku yang begitu keras, dia pun samar-samar ikut berda-dah kepadanya. Ryuji tersenyum tipis, tangannya melambai sesaat.
“ hai juga ,” katanya malu-malu. “ nama kamu siapa? Nama aku Rea, dan ini temanku Siri. Kamu anak baru yah, soalnya muka kamu terlihat asing sih dan--,” Siri langsung menyenggol rusukku, untuk menghentikan ocehanku yang tiada henti, dan aku pun langsung melototitnya dengan tatapan: apa sih? Ngeganggu aja!
“ namaku Ryuuji ,” jawab Ryuuji singkat, dan sebenarnya aku sudah tahu itu. “ iya aku baru saja pindah kesini, “ sambungnya.
“ waah, begitu ya. kalau gitu salam kenal Ryuuji, aku harap kita bisa lebih akrab, iya kan , Siri? ,” ujarku sekaligus menyindir Siri yang sedari tadi hanya diam saja. Siri langsung mengangguk cepat-cepat mengiyakan sementara wajahnya mulai memerah.

Skip time. Beberapa bulan kemudian...
Aku dan Ryuuji jadi semakin dekat. Sedangkan Siri masih tetap bersikap dingin padanya, meskipun kami bertiga sering ngumpul bareng. Ryuuji sangat baik, dan dia juga perhatian padaku dan Siri. Dia juga sudah sering mengajakku nonton, jalan bareng dan curhat. Membuatku semakin ingin memilikinya segera. Entahlah, akhir-akhir ini aku jadi sering mikirin Ryuuji. Mikirin apakah dia juga punya perasaan yang sama padaku?
Rasa gelisahku pun membuat aku ingin menumpahkannya pada seseorang. Bukan pada Ryuuji, tapi pada Siri kali ini.
“ tumben kau main kerumahku. Sudah lama sekali , kan ,” kata Siri ketika aku datang kerumahnya di Minggu sore. Aku yang sudah dekat dengan Siri sejak SMP memang sudah sering main kerumahnya, tapi sejak SMA dan kenal Ryuuji, aku jadi jarang kemari lagi. “ mau minum apa? Ada es jeruk tuh ,” Siri menawari sambil menuju kulkas di dapur. “ boleh. Tapi jangan manis-manis ya ,” pintaku, seperti sedang memesan minuman sama penjual es jeruk. Siri langsung manyun , dan aku terkikik di balik majalah yang sedang ku baca. “ iya nona ,” balasnya jengkel, tapi tetap menyuguhkan minumannya . Kemudian Siri datang lalu menaruh nampannya di atas meja , seraya ikut duduk disebelahku. “ ada apa? ,” tanya Siri.
“ Sir, kayanya aku naksir deh sama Ryuuji ,” terangku blak-blakan, sembari meletakan kembali majalahnya. 
“ oh ya? ,” Siri menanggapinya dingin, membuatku tampak kecewa dengan responnya. “ kok cuma ‘oh ya?’ ,” tanyaku tak puas.
“ terus mau kaya gimana? Apa aku harus bilang Wow sambil guling-guling dipasir? ,” Siri bergurau tanpa memandangku.
“ yah seenggaknya kamu kaget atau apalah ,” balasku menggerutu.
“ ngapain kaget. Aku kan sudah tau sejak awal kalau kamu suka sama Ryuuji. Kamu sendiri yang bilang kalau Ryuuji itu cowok idaman kamu, ingat? ,” Siri mengingatkan. Dengan terpaksa aku mengiyakan, sambil terus bergumam mencemooh padanya. “ apakah itu respon seorang sahabat ketika temannya sedang butuh bantuan? ,” desisku keras, sengaja agar Siri mendengarnya. Siri hanya menggeleng pelan, lantas berpaling padaku. “ iya deh. Ada apa Rea ku? ,” tanyanya lunak.
“ aku harus gimana, Sir? Selama ini Ryuuji terus baik sama aku. Dan aku takut kalau aku cuma ke ge-eran. Sementara Ryuuji sendiri masih keliatan biasa-biasa saja. Aku penasaran banget tentang perasaan dia ke aku tuh kaya gimana? ,” aku mengeluh sambil menyeruput habis es jeruk dengan wajah cemberut. Membuat Siri sedikit tertawa kecil melihatku.
“ hemm, kamu sendiri pernah bilang kalau jaman sekarang, wanitalah yang memulai duluan ,” kata Siri , suaranya berubah serius. “ maksudnya? ,” tanyaku, tak mengerti. Sesaat Siri menghela nafas lantas menatapku dengan tatapan yang dalam. “ Rea, kalau kamu suka dia, kamu katakan saja langsung. Dan tanyakan pada  Ryuuji , apakah dia suka juga sama kamu? ,”
Aku terperangah sebentar. Tak bisa membayangkan kalau aku yang mengatakannya duluan, sungguh memalukan. “ masa aku duluan sih? ,” seruku.
“ terus siapa lagi? Kan kamu yang suka. Lagi pula gak ada salahnya kan mengungkapkannya duluan ,” tutur Siri.  “ emm...tapi--,”
“ ayolah, kamu bakalan terus penasaran dan galau kayak gini kalau belum mencobanya. Jangan takut di tolak, toh itu sudah jadi resikonya. Lagian kalau kamu di tolak, gak bakal ngerubah apapun ,” kata Siri lagi sambil tertawa.
Aku pun cuma termangu. Sambil membenamkan wajah di bantal sofa, memikirkan cara untuk mengungkapkannya pada Ryuuji. “ aku malu , Sir ,” bisikku, dan wajahku memerah padam.
“ oh masih punya rasa malu ya? ,” celetuk Siri, kemudian tertawa terbahak-bahak. Aku langsung melemparnya dengan bantal yang sedari tadi ku pegang., tapi meleset, dan tawanya semakin menggema . Rasanya saat seperti ini pernah kami rasakan sebelumnya. Saat kami SMP dulu.

Keesokan harinya. Saat pelajaran Olahraga.
Aku sudah memutuskan ingin menembaknya. Saat permainan basket untuk anak perempuan selesai, ku ajak Siri untuk menemaniku, tapi dia menolak dan berkata mau ke UKS karena mendadak kondisinya sedang tidak baik. Jadi, dengan sangat terpaksa, dia menyuruhku untuk pergi sendiri.
Aku pun menuju bangku di sisi lapangan. Disanalah Ryuuji sedang duduk, berpeluh habis main futsal. Dia terseyum lebar padaku ketika aku datang menghamipirnya. Ryuuji bergeser lantas menepuk bangku disebelahnya menyuruhku duduk.
“ hei ,” sapanya. Aku membalasnya dengan senyum juga lantas menyodorkannya sekaleng minuman. “ waah tahu saja kalau aku sedang butuh yang segar-segar ,” ucapnya senang , sembari membuka pengait pada kaleng itu lantas meneguknya penuh dahaga. “ terimakasih ,”
“ sama-sama. Emm Ruuji, ada yang ingin ku sampai kan...,” ujarku gugup.
“ oh ya? apa itu ?,” tanyanya.
“ errh itu...itu...Ryuuji...aku--menyukaimu ,” kataku lambat-lambat. Ryuuji nampak terperangah, mulutnya sedikit terbuka. Sesaat kemudian dia malah tersenyum lebar. “ aku juga suka sama kamu kok ,” jawabnya sambil tertawa kecil. “ a-aku serius, Ryu! ,” seruku tegas. “ lebih dari pada sekedar perasaan teman. A....aku...aku menyukaimu sejak awal kita bertemu—apa kau juga merasakan hal yang sama? ,” tanyaku lagi sambil tertunduk malu. Sesaat hening. Ryuuji tak bersuara apa-pun, sementara dengan perasaan yang amat tegang, aku memejamkan mata di hadapannya, menunggu jawaban Ryuuji.
Terdengar Ryuuji merdeham, dan menggumamkan sesuatu. Jantungku berdegup tak karuan dan begitu menyesakkan dada, sehingga tanpa tunggu lebih lama lagi aku segera bangkit dan pergi dari situ dengan wajah merah padam. Aku tak sanggup mendengar kata, tidak!
“ Rea , tunggu! ,” panggil Ryuuji, membuat langkahku terhenti saat itu juga. Aku tak berani menoleh. Kemudian terdengar langkah kakinya mendekat, lalu berhenti, tepat di belakangku. Aku semakin gemetaran dan mendakak lemas di bagian lutut. Kalau saja ada Siri, aku mungkin sudah pegangan dengannya.
“ Bukankah aku sudah mengatakannya juga? kenapa kau malah pergi? ,” ujar Ryuuji. “ a-apa?,” Desisku gelagapan. “ aku juga bilang, kan kalau aku juga suka padamu. Dan ku pikir setelah bicara seperti itu kita bisa berpacaran ,” bisiknya pelan, membuat bulu kudukku merinding. “ a—apa kau serius? ,” tanyaku takut-takut. Dan sepertinya Ryuuji mengangguk, tapi aku tidak tahu soalnya, aku memunggunginya terus. Lalu Ryuuji memegang pundakku, membalikannya hingga wajah kami berhadapan. Dengan tatapan yang dalam, dia mengatakannya sekali lagi “ aku juga menyukaimu, Rea. Mau kah kau menjadi pacarku? ,”
Aku terperangah tak percaya. Seperti sedang bermimpi. Mulutku sampai menganga saking
terkejutnya. Ryuuji masih menatapku, seolah menunggu. “ jadi? ,”
Aku pun mengagguk pelan. Mengiyakan. Namun, tiba-tiba saja teman-teman sekelasku bermunculan dilapangan. Mereka bertepuk tangan seraya menyorakiku dengan nada menggoda. Kemudian menyelamati hubungan kami. Di sela-sela hiruk-pikuk itu, di balik pundak Ryuuji, kulihat sosok Siri tengah berlari terpogoh-pogoh di lorong. Wajahnya merah seperti habis menangis, dan mulutnya terus ditutupi. Ada apa ya dengannya? Aku penasaran, namun segera lupa oleh kebahagiaan yang begitu besar hari ini.
Ketika pulang sekolah, aku baru bertemu Siri. Dia sedang berjalan gontai di trotoar , hendak pulang. “ Siri! ,” panggil ku setengah berteriak. Dia pun berhenti, tapi tak menengok. Aku berlari menghamburnya , merangkulnya dari belakang. “ yo! Kau tahu, kami resmi jadian ,” ujarku memberi tahu. “ oh yeah? Bagus kalau begitu ,” sahutnya singkat, tanpa memandangku. Ku tengok wajahnya, dan dia langsung menunduk. “ kau kenapa? Kok menangis? ,” tanyaku cemas. Siri kemudian memandangku, dengan matanya yang sedikit memerah. “ oh-siapa yang menangis? Tadi mataku kelilipan ,” katanya tanpa ekspresi. Aku mengernyit, dan tak lantas mempercayainya. Ekspresnyinya jelas di buat-buat. Tapi aku tidak mau bertanya lebih banyak lagi, karena hari ini aku begitu gembira. “ oke-oke. Kalau begitu kita ke mini market di depan yuk! Aku mau mentelaktirmu makan es krim.,” ajakku.
“ maaf aku tidak bisa Rea. Kepalaku masih sakit. Aku mau istirahat di rumah. Dan oh ya, selamat atas hubungan kalian. Sampai jumpa ,” ucapnya cepat, kemudian pergi. Aku yang bingung hanya bisa diam di tempat sambil memandangnya dari kejauhan, berharap kalau Siri tidak apa-apa dan segera baikkan. “ seharusnya ini jadi hari yang istimewa. ,” gumamku kecewa. Aku pun pulang dengan perasaan yang hampa.
Hubunganku dengan Ryuuji berjalan dengan mulus. Kami berdua merasa kompak dan sangat cocok. Tapi, di tengah kebahagiaan kami, muncul masalah pada Siri. Entah kenapa akhir-akhir ini dia sering melamun dan terlihat galau, dia juga sering menyendiri di perpusatakan. Kalau ku perhatikan, wajahnya murung sekali, seperti sedang banyak pikiran.
Akhirnya pada saat jam istirahat, saat Ryuuji mengajakku ke kantin, aku menolaknya dan pergi sendirian ke perpustakaan di lantai dua. Disanalah ku temui Siri sedang menyendiri di meja baca. Dia menoleh sebentar sambil menyunggingkan senyuman tipis dengan wajah muramnya. Kemudian aku duduk menghadapnya. “ sedang apa kau? ,”
“ baca buku ,” jawab Siri sekenanya. Aku manggut-manggut saja. Hening. “ ku perhatikan sikapmu aneh belakangan ini ,” aku mengomentari, dan membuat wajah Siri langsung mendongak. “ aneh kenapa? ,” tanyanya balik.
“ yah, kau jadi lebih suka sendirian dan terlihat murung. Hey—beri tahu aku, ada apa? Siapa tahu aku bisa membantu ,”
Siri terkekeh, senyumnya jadi berupa seringaian. “ aku baik-baik saja. Oke? ,”
“ jangan bohong. Aku tahu kau sedang kena masalah. Aku sudah kenal kau sejak lama ,” kataku tegas. “ ceritalah padaku, maka aku akan marasa lebih berguna untukmu ,” akhirnya dengan helaan nafas panjang Siri mulai bercerita. Tentang perasaannya. “ Rea, apakah aku salah menyukai orang yang sudah berpacaran? ,” katanya begitu sedih. Aku sedikit terkejut mendengarnya, namun segera tenang kembali. “ tentu saja tidak Sir. Kau berhak menyukai siapapun, meski itu sudah jadi milik orang lain ,” kataku pelan. Siri nampak menghela nafasnya lagi, kali ini lebih berat. “ aku sangat bodoh. Seharusnya aku tahu kalau dia sudah punya pacar sekarang ,” ucapnya,getir. “ bahkan aku berpikir untuk mengungkapkannya duluan seperti mu ,”
“ memangnya siapa dia? ,” tanyaku penasaran. Siri berpaling, lalu menatap nanar rak-rak buku di belakangku. “ dia orang yang spesial. Cinta pertamaku. Mungkin. Dan andai saja aku lebih dulu memilikinya. Andai aku berani...,” aku semakin ikut bersedih, karena aku merasa kesedihan Siri adalah kesedihanku juga. Aku tak tahu harus berbuat apa, selain menghiburnya dengan kata-kata. “ Sudahlah Sir, jangan terlalu di pikirkan...memang pahit sih, tapi cobalah untuk melupakan orang itu. Mungkin butuh waktu yang lama untuk melupakannya, tapi aku yakin sedikit-demi sedikit kau pasti bisa. Oh ya ngomong-ngomong siapa sih dia? ,” tanyaku masih penasaran dengan sosok cowok yang disukai Siri. Tapi sampai percakapan kami usai Siri masih enggan mengatakan siapa orang itu , bahkan ciri-cirinya pun tidak. Maka, sebagai teman, aku harus mengerti dirinya yang masih sakit hati itu dengan tidak menyinggung-nyinggung masalahnya lagi. Sampai di hari Anniversary kami tiba.
Sudah tiga bulan kami berpacaran. Dan kami sepakat akan merayakan hari jadi kami setiap tiga bulan sekali. Sama seperti pasangan lainnya, aku pun memutuskan untuk tukar kado di hari itu. Aku penasaran apa sih yang bakal Ryuuji berikan? Aku jadi deg-degan sendiri sambil terus mencoret hari demi hari menuju tanggal 14 di kalender. Aku tersenyum sendiri sampai membuat Ibuku menggeleng-geleng heran. Ternyata dia mengamatiku dari tadi, membuatku jadi malu sendiri.
Tepat saat itu, Siri menelponku, dan dia memintaku untuk datang ke rumahnya. Aku langsung buat alasan, karena disaat berbarengan Ryuuji memintaku untuk datang kerumahnya juga. aku pun tak mungkin mengecewaknya. “ maaf aku harus ke rumah sakit , Sir. Pamanku sedang sakit. Maaf ya. memangnya ada apa kau menyuruhku datang? ,”
“ tidak apa-apa. Kalau begitu sampai jumpa! ,” jawabnya cepat, dan langsung menutup telpon. aku mengernyit bingung lalu segera bersiap-siap pergi ke rumah Ryuuji.

Keesokannya Siri datang kerumahku, dengan membawa sepiring kue ulang tahun. Membuatku merasa tidak enak dan malu. Aku baru ingat kemarin adalah hari ulang tahunnya. Dan sekarang Siri sendiri yang mengantarkan kuenya itu untukku. “ kemarin karena kau tak datang, aku menyisakannya untukmu. Nih! ,” aku menerimanya dengan perasaan yang amat bersalah, tapi dia masih tetap tersenyum padaku. “ Maaf Siri. aku belum menyiapkan kado dan tak datang ke rumahmu ,”
“ Tak apa. Lagi pula kemarin teman-teman dan saudaraku pada datang, jadi aku tak begitu sedih. Kau tak datang karena sedang menjenguk pamanmu kan?,” serunya ceria, membuatku semakin tidak enak. Oh—aku benar-benar teman yang jahat, sampai-sampai lupa pada ulang tahun temanku sendiri. “ Ryuuji juga sudah menyelamatiku kemarin dan dia juga memberiku kado ,” kata Siri , membuatku langsung menoleh cepat memandangnya. “ Ryuuji memberimu kado? Memangnya dia tahu ulang tahunmu? ,” tanyaku penasaran. “ ya bahkan sehari sebelumnya. Sampaikan terima kasihku padanya nanti ya, karena aku tidak masuk besok. ,” kemudian Siri meminta diri pamit lalu pergi. Aku pun hanya mengangguk sambil terbengong-bengong. “ kenapa Ryuuji tidak memberi tahuku??? ,”

Setelah kejadian yang membuatku sangat tidak enak kepada Siri, hal lain lagi membuatku sedikit penasaran dengannya datang. Yaitu, kenapa belakangan ini Siri terlihat gembira sekali? Berbeda 180 derajat dari hari-hari sebelumnya. Hal itu membuatku ingin sekali bertanya, tapi dia langsung menggeleng dan bilang : “ aku biasa saja ,”. Setelah beberapa lama kuperhatikan, barulah aku sadar, kalau sekarang Siri sedang kasmaran. Tapi sama siapa ya?
“ kulihat kau gembira sekali akhir-akhir ini ,” tegurku saat kami menuju gerbang sekolah bersama. Disana Ryuuji sudah menunggu. Siri langsung menoleh dan rahangnya langsung merapat, membentuk sebuah garis. “ aku? Biasa saja ,” katanya, dengan jawaban yang sama. “ kau tidak seceria ini beberapa hari yang lalu. Eh, apakah cintamu sudah terbalas? ,” tanyaku asal, membuat ekspresi ceria Siri memudar. “ sudahlah jangan bahas itu. aku sudah hampir bisa merelakannya tahu, dan jangan buat aku menginginkannya lagi ,” tuturnya pelan. Aku mengangguk seraya minta maaf. “ lalu apa yang membuatmu senang? ,” tanyaku lagi.
“ aku senang karena..,” belum sempat dia meneruskan perkataannya, tiba-tiba saja Ryuuji memanggilku, membuatku berpaling dan lantas menghampirinya. “ bentar ya ,”
Kemudian kami sedikit bercakap-cakap, lalu aku melambai kepada Siri karena akan segera pulang. Dia melambai padaku dengan senyum hambarnya, seraya berpaling, dan lenyap dari lorong kelas. Mungkin dia mau ke toilet dulu sebelum pulang, pikirku santai. Tanpa menyadari kesedihan menyelimutinya lagi.

Hari Jumat, tanggal 13.
Hari anniv ku sudah dekat. Yah sekitar beberapa jam lagi deh. Aku tidak sabar menunggunya, dan bertanya-tanya apa yang akan Ryuuji berikan kepadaku? Sementara aku memandang kado kecil yang sudah aku siapkan, dengan penuh harap. Ryuuji pasti akan senang menerima ini sebagai hadiah anniv kami, pikirku. Aku terus berhayal-hayal sembari mengsms-nya.
Lama...dia tak membalas. Akhirnya sambil menunggu sms balasannya, aku bersiap-siap berangkat kesekolah.
Sesampainya, aku melihat Ryuuji sedang berjalan di halaman sekolah. Dia baru datang juga rupanya.
Aku bermaksud memanggilnya, namun kudengar namanya dipanggil duluan oleh seseorang. Aku pun langsung berhenti, melihat seorang gadis mungil, berambut ikal, berponi rata, tengah berlari kecil menghampiri Ryuuji. Gadis itu adalah Siri, yang aneh sekali terlihat begitu riang gembira. Kuperhatikan mereka : bercakap-cakap sambil tertawa, bercanda, lalu tak lama Siri pun pergi. Sedang membicarakan apa mereka? sepertinya seru sekali. Sesaat setelah Siri pergi, aku baru menghampiri Ryuuji, dan ekspresinya memandangku seperti orang kaget. “ ooh-kau, Rea. Mengagetkan ku saja. ,” katanya sembari mengelus-elus dada. “ pagi sayang ,” aku hanya manggut-manggut saja sambil terseyum kaku. Lantas menggapit tangannya. “ Tadi Siri bicara apa padamu? ,” aku bertanya. “ Gak penting, cuma sekedar nanya apa buku Pr nya ada sama aku apa enggak? ,” jawab Rruuji. “ kok dia gak tanya aku juga? aku sama dia kan sekelas? ,” ujarku heran, membuat Ryuuji nampak berpikir-pikir. Gelagatnya mencurigakan. “ entahlah ,” gumamnya. “ oh ya kalau gitu, aku anter kamu ke kelas yah—sekarang pejaran apa? ,” katanya gelagapan , dengan upaya membuatku lupa soal tadi. “ gak usah, aku bisa sendiri. Eh iya, nanti malam kita keluar yuk! Aku mau cari baju, temenin aku ! ,” pintaku manja, dan sepertinya sudah lupa dengan kecurigaanku tadi.
Ryuuji nampak salah tingkah, dia terus menggaruk-garuk kepalanya yang sepertinya tidak gatal. “ ehm, Rea....sorry, kayaknya aku gak bisa nanti malam ,” katanya lambat-lambat. “ besok aja gimana? ,” usulnya kemudian. Aku langsung membelot sambil berkacak pinggang. “ kenapa gak bisa? Emangnya kamu mau kemana? Kenapa harus besok? Memangnya kamu gak inget besok hari apa ,” tanyaku bertubi-tubi. Ryuuji tersentak sedikit, dengan sabar dia menjelaskannya, meskipun tetap saja membuatku kecewa.
Huh! Ryuuji bilang mau mengerjakan tugas kelompok sama temannya nanti malam, dan juga bilang kalau itu tidak bisa ditunda. Aku berusaha untuk mengerti, tapi tetap saja aku sebal setengah mati. Bahkan temanku sendiri, Siri, tidak bisa menghiburku. Dia juga menghilang entah kemana. Aah kenapa disaat seperti ini tidak ada yang menghiburku? Mereka semua pergi dengan urusannya masing-masing. Sementara aku hanya sendiri mendekam dirumah. Sungguh menyebalkan!
Untuk menghilangkan bosan, aku nekat pergi ke mall sendirian. Biarlah aku menghilang sejenak untuk melepaskan rasa jenuh. Maka, kesinilah aku pergi. Ke sebuah Mall tak jauh dari rumah. Aku menulusuri toko-toko pakaiannya. Mencari dress yang bagus untuk ku pakai di hari anniv ku nanti. Tapi anehnya, dari sekian banyak toko yang kusambangi, tak ada satu pun yang cocok denganku. Aku pun mulai letih berjalan dan kakiku terasa pegal sekali. Aku pun beristirahat sejenak, duduk di bangku kayu melengkung. Bersandar dengan kedua lengan sambil merilexkan badan. Memang, kalau belanja sedirian kurang mengasyikan, apa lagi tidak ada orang yang bisa di tanyai pendapatnya. Hal seperti ini biasanya Siri yang paling jago. Dia pandai sekali mencocokan baju sesuai dengan seleraku. Tapi, sekarang dia sedang pergi, dan aku pun tidak tahu kemana. Beberapa menit kemudian, saat aku sedang memperhatikan pengunjung yang hilir mudik di depanku, tiba-tiba saja mataku menagkap sosok tubuh seseorang yang sangat familiar sekali. Dia sedang melihat-lihat baju di toko yang tak jauh dari tempat ku berada. Dia bersama seseorang. Yang membuatku sanggup untuk memekik kencang. “ R—Ryu!!! Siri!? ,” aku langsung terperanjat dari duduk, lantas berjinjit untuk melihatnya lebih jelas dari atas kepala-kepala pengunjung yang lain. Jantungku mencelos, dan mendadak berdetak kencang. Seketika itu juga perasaanku mulai tak enak. Penasaran bercampur berang, aku mulai menghampiri kedua orang itu, menyelinap diantara orang-orang yang berjalan dan berhenti di toko-toko. Aku berusaha mempercepat langkah, tapi orang-orang ini menghabatku. Kedua orang itu terlihat sedang bercanda sambil mengambil sehelai baju dari kejauhan. Mereka tertawa lepas. Dan semakin ku mendekat, semakin jelaslah bahawa mereka berdua adalah Ryuuji dan Siri.
Mereka berdua langsung menoleh dan berhenti tertawa, seraya ada ketegangan menyelimuti ekpresi mereka. Aku terengah penuh kemarahan. Berdiri di depan mereka dengan tangan terkepal. Siap untuk tempur.
“ kalian! ,” seruku tajam. “ sedang apa kalian disini? Ryu! Bukankah kau bilang mau mengerjakan tugas kelompok, hah? ,”
Mereka berdua saling pandang, kemudian balik menatapku dengan tegang. “ K-kami...Rea, aku bisa jelaskan ,” cicit Ryu tergagap. “ aku dan dia—kami hanya...,”
“ hanya apa??? ,” sentakku marah. “ kalian berdua pembohong! ,”
“ Tu—tunggu, Rea. Dengarkan dulu penjelasan kami ,” kata Siri panik bercampur takut.
“ DIAM  KAU!! ,” teriakku kalap, membuat semua pengunjung menoleh dan memperhatikan kami. Siri nampak terkejut sekali, dan dia nyaris menangis. “ kau—kalian! Aku kecewa sekali pada kalian. Tega-teganya membohongiku dan mengkhianatiku ,” gerammu kesal. Aku tidak peduli lagi dengan tatapan aneh orang-orang di sekelilingku yang sekarang tengah berbisik-bisik mengomentari. Sementara Siri dan Ryuuji nampak syok. “ Rea, tenang. Ini semua tidak seperti yang kau pikirkan! ,” ujar Ryuuji pelan. Terdengar suaranya begitu tertekan dan panik. Tangannya bergerak hendak menyentuh pundakku, namun aku langsung menepisnya dengan ekpresi jijik bercampur muak. “ CUKUP!!! ,” raungku emosi. “ cukup...aku gak mau dengar apa-apa lagi. Kalian...kalian mengkhianatiku. Dan.. ,” kini aku menatap Siri dengan penuh kebencian. “ sudah kuduga memang selama ini kau menyukai Ryu juga kan. Huh! Suka yah sama orang yang sudah punya pacar, hmm...? dan sekarang kau mencoba merebutnya dariku, begitu? Katakan Siri, KATAKAN! ,” emosiku sudah memuncak, rasanya aku ingin meledak! Entah bagaimana lagi aku harus melontarkan kemarahanku yang menyakitkan ini. “ aku benci kalian! Aku benci...dan kau Siri, mulai detik ini....kita putus sebagai sahabat!! ,” kecamku padanya. Air mataku pun menetes, berleleran di pipi. Sementara itu Ryuuji nampak ingin menyentuhku lagi, namun aku langsung mundur menjauhinya sambil menyeka air mata yang membasahi wajah. “ cukup Ryu...kau sudah membuatku kecewa. Aku sangat mencintaimu, tapi kenapa kau sungguh tega?! ,” isakku, merana. Aku pun berbalik, dan menyeruak pergi diantara kerumunan orang yang menonton. Aku tak sanggup lagi berdiri disana. Aku tak kuat melihat kedua orang yang aku sayangi tega menyakitiku. Dan tak kuasa lagi aku menahan tangis pedih ini.
Aku ambruk di tepi tempat tidur ketika sampai. Dan masih menagis tersedu-sedu. Aku tidak tahu lagi harus berbuat apa, rasa kekecewaanku membuatku tak berdaya. Aku ingin sekali berteriak, melontarkan semua emosi yang masih terpendam.
Hatiku benar-benar hancur. Sakit rasanya....dan tak henti-hentinya pikiranku membayangankan tentang kebersamaan mereka. Dan di benakku terus terngiang-ngiang ucapan Siri tentang perasaannya.
Apakah mereka sudah melakukannya sejak lama dibelakangku? Apakah mereka telah berpacaran selama ini? Dan bermacam-macam lagi pertanyaan yang muncul di kepalaku, sampai-sampai membuatku pusing dan stres.
“ Rea...Rea, kamu sudah pulang? ,” suara Ibu membangunkanku dari tidur. Aku mengerjap-ngerjap, dan tersadar. “ iya Buu ,” sahutku dengan suara yang diusahakan se-biasa mungkin. “ makanlah, Ibu sudah siapkan makan malam nih ,” katanya lagi. Aku menguap seraya memaksakan diri untuk duduk, tapi kepalaku terasa beraat sekali, sehingga aku tekulai kembali ke kasur. “ iya Bu nanti! ,” dan kemudian hening. Ku rasa Ibu sudah pergi dari situ. Aku memandang langit-langit kamar yang kerkerat. Pikiranku kosong, tatapanku menerawang jauh. Dan terpejam kembali ketika kejadian itu tiba-tiba saja muncul di benakku lagi.
Sungguh hari yang buruk untukmu, Rea!

Aku masuk keesokan harinya ke sekolah. Berharap tidak ada hal buruk yang menimpaku lagi. Aku masuk saat pelajaran sudah mulai lima menit yang lalu, dan mendapati Siri sedang duduk di bangkunya seperti biasa, disebelahnya bangkuku yang kosong. Aku tak lantas duduk disana seperti biasa, tersenyum menyapanya dan bersikap seolah tak terjadi apa-apa diantara kami. Aku memilih duduk dengan Lukman di barisan depan. Sebisa mungkin aku tak bicara apa lagi kontak mata dengan Siri, rasa benciku masih terukir jelas sampai keubun-ubun. Membuatku ingin muntah kalau mengingatnya lagi.
Sementara antara aku dan Ryuuji...ku anggap kami break!
Sedari malam dia terus menghubungiku terus, baik lewat sms maupun telepon.Tapi tak satupun ku respon. Aku sudah kelewat kecewa padanya, dan tidak mungkin memaafkannya begitu saja, meskipun aku teramat sangat mencintainya dan tak ingin melepaskannya seperti apapun kemarahanku.
Tapi tetap saja aku masih kesal.
“ Rea tunggu! ,” panggil Siri. membuatku muak setengah mati mendengarnya. Aku jalan saja terus. Tapi dia menahanku. “ apa?! ,” sentakku galak. “ maafin aku! ,” katanya. “ enteng banget kamu bilang maaf! Emang kamu pikir apa yang kamu lakukan? ,” tukasku berang. “ pergi dan jangan ganggu aku! Aku gak sudi punya temen kayak kamu ,” semburku, lalu pergi sambil sengaja menabrak pundaknya kasar. “ aku mau ngejelasin semuanya Rea!! Rea!! Dengerin aku dulu...please, Re ,” aku terus berjalan, mengabaikan Siri yang terus berteriak memanggilku. Tak peduli sekarang dia merintih dan menangis. Penderitaanku lebih dalam dari pada  itu. aku pun tak perpaling lagi, saat itu juga persahabatan kami berakhir untuk selama-lamanya.

Berakhrinya persahabatanku, tak berakhir pula hubunganku dengan Ryu. Aku masih mengharapkannya, namun masih terlalu angkuh untuk memaafkannya sekarang. Ryu masih suka menelponku, tapi lagi-lagi aku tak menanggapinya. Dan, pada suatu hari barulah aku bicara dengannya, di sebuah kafe sehabis pulang sekolah. Dia langsung membahas kejadian itu, membuatku muak sekali. Dan yang yang lebih menjengkelkannya lagi, dia menyebut nama Siri di hadapanku.
“ dia tidak masuk lagi ke sekolah akhir-akhri ini. kau tahu? ,” tanyanya memancingku. “ heh mana ku tahu? Peduli amat ,” sahutku angkuh. “ Rea, sudahku bilang. Saat itu kami berdua janjian untuk membelikanmu hadiah untuk anniv. Aku yanng memintanya, jadi dia tidak salah sama sekali. Dia tak punya perasaan padaku. Tak pernah, bahkan itu sekali-kalinya kami bicara bersama! Ayolah ku mohon maafkan aku dan Siri! maaf atas kebohongan kami ,” katanya memohon. Aku berpikir sejenak, mempertimbangkan kata-kata Ryu. Yah mungkin benar memang niat mereka untuk membeli hadiah untukku. Oke aku bisa maafkan, tapi untuk Siri yang menyukai Ryu dan menusukku dari belakang, sungguh tak bisa ku maafkan lagi, apa lagi dia terlihat memanfaatkan semuanya. “ aku memaafkanmu, tapi dengan Siri aku tidak bisa ,” kataku tegas. “ hubungan persahabatan jauh lebih rumit dari yang kau bayangakan. Sekali berkhianat maka akan jadi musuh, Ryu! ,”
“ aduh Rea. Apa kau masih berpikir dia menyukaiku? Hah yang benar saja, dia itu dingin padaku! Dan tak pernah sedikitpun Siri menggodaku atau melakukan hal yang tidak-tidak, percayalah! ,” jelas Ryuuji serbasalah. “ aku pernah mendengarnya menyukai seseorang, dan dia sudah punya pacar! Apakah itu tidak berarti apapun? Maksud dia adalah kau! Kau orang yang disukainya selama ini!! ,” balasku ngotot, sambil menunjuknya dengan amat gemas. Ryu menggeleng terperangah, menatapku kecewa sekali. Dia bangkit dari duduk nya, lalu berkata  “ sebenarnya ini sudah lama sekali, tapi Siri pernah mengancamku, suatu hari. Dia bilang ‘ jangan sakiti Rea, cintai dia, lindungi dia, karena kalau sesuatu terjadi padanya aku tak akan segan-segan memberimu pelajaran’ begitu katanya. Dan saat itu aku sadar , kalau dia sangat menyayangimu Rea. Dia peduli padamu! Seharusnya kau sadari itu ,” kemudian Ryuuji pergi menaiki motornya. Pulang. Aku merenungi perkataan Ryu barusan. Benarkah Siri pernah berkata seperti itu? Siri memperingatkan Ryu agar selalu mencintainya? Lalu...bagaimana dengan pengakuan Siri tentang perasaannya itu?
Aku langsung tersentak seolah baru sadar. Aku langsung beranjak dari sana dan bergegas pergi. Menemui Siri.
Betapa terkejutnya aku ketika mendengar kabar dari Ibunya Siri, yang mengatakan bahwa Siri sedang ada di rumah sakit. Dia mengalami kecelakaan lalulintas yang parah sehingga membuatnya koma beberapa hari. Aku langsung pergi kerumah sakit yang dimaksud, mencari-cari kamar Siri di rawat dengan paniknya. Lalu menyeruak masuk ketika sudah sampai. Disana...disana lah tubuh Siri yang lemah terbaring, penuh luka dan di pakaikan alat bantu pernafasan. Sungguh kasihan aku melihatnya. Sampai tak sadar aku terisak saat menghamburnya dengan pelukan penuh sesal. Aku bersimpuh disisinya seolah menumpahkan berjuta maaf ku yang tak ku sampaikan saat dia sadar. Aku menyesal sekali. Dan ingin rasanya aku menggantikan luka yang ia derita. Ayah dan Adiknya mencoba menenangkanku, memberiku air dan menyuruhku untuk duduk. Aku mulai tenang sedikit, meskipun perasaanku masih amat pilu. Ku hibungi Ryuuji dan kukabarkan tentang keadaan Siri yang sekarat. Dia kaget dan bilang akan segera kemari.
Beberapa saat, aku sudah bisa mengendalikan diriku. Aku mendekatkan bangkuku ke tempat tidur agar bisa lebih jelas melihat Siri. Siri begitu menderita, banyak luka di bagian tubuhnya, dan mungkin dihatinya juga. Aku masih diliputi perasaan bersalah. Menyesal karena aku sendiri tidak tahu temanku sedang kesulitan. Aku datang saat dia sedang terpuruk. Dan sadar aku tidak ada disampingnya ketika dia membutuhkanku. Aku egois! Yah, sangat egois! Disaat aku lupa ulang tahunnya, dia malah memberiku kado di hari annivku. Di saat dia ingin curhat, aku malah pergi dengan Ryuuji tanpa memperdulikannya. Ooh, aku benci diriku sendiri! Apa gunanya aku? Aku sahabatnya, dan kenapa malah menyakitinya seperti ini? Aku larut dalam kesedihan. Sampai suara langkah kaki terdengar mendekatiku.
Ternya Ibunya Siri. Beliau berdiri disebelahku seraya menatap anaknya di depan. Pandangannya kosong dan wajahnya murung. “ tante....aku turut menyesal ,” ujarku simpatik. “ seharusnya saya selalu ada untuk dia ,” lanjutku penuh sesal. “ maaf...” kemudian tante membelai rambutku sayang, beberapa saat , sampai dia membungkuk padaku. “ Rea ada yang ingin tante serahkan padamu,” katanya. “ apa itu ,tante?,” tanyaku ingin tahu. Tante Indri mengeluarkan sepucuk surat dari kantong bajunya lalu menyodorkannya padaku. “ surat dari Siri ,” ucapnya. Kemudian tak beberapa lama dia pergi keluar. Meninggalkanku. Siri masih koma, dan monitor disampingnya berdetak stabil. Aku memandang surat itu dengan penuh tanya. Perasaanku sedikit tidak enak karena entah kenapa sepertinya surat ini surat terakhir bagi Siri. tapi aku langsung menepisnya sejauh mungkin. Kemudian mulai membaca:
Dear Reaku sayang.
Aku menulis ini ketika kita sedang bertengkar. Sebelumnya kita belum pernah bertengkar seperti ini. Dan aneh sekali kita bertengkar cuma gara-gara cowok.aku sedih sekali waktu kau bilang membenciku dan memutuskan persaudaraan kita. tapi, tak apa, aku mengerti perasaanmu...
Aku sedang jatuh cinta disaat kau juga jatuh cinta sama Ryuuji. Sungguh kebetulan yang aneh, tapi aku senang, karena kupikir jika kau berhasil maka aku juga akan berhasil.
Tapi nasib berkata lain. Tommy ternyata sudah punya pacar, dan dia sendiri yang mengenalkannya padaku. Sungguh pahit! Aku ingin memberi tahumu, tapi aku urung melakukannya karena kau sedang bahagia sekali waktu itu. aku tidak mau kau terbebani oleh masalahku.
Kau tahu Rea? Aku sangat memujimu. Kau adalah Inspirasiku, panutanku dan sudah ku anggap sebagai saudara. Tentu aku menyayangimu. Dan maaf kalau aku sudah bawel tentang masalah percintaanmu. Aku hanya takut kau akan patah hati Rea!kemudian menangis dan bersedih....aku tak bisa melihat itu semua. dan sampai akhirnya aku mempercayakan seseorang padamu. Yaitu Ryuuji. Dia berhasil meyakinkanku akan selalu menjaga dan mencintaimu setulus hati. aku yakin dialah yang akan membuatmu bahagia, Rea. Maka dari itu, jangan bersedih, tetaplah tegar dan jaga dirimu baik-baik.
Semoga kau dan Ryuuji tetap saling mencintai.
Aku merestui kalian berdua. Dan ku harap kalian bahagia kelak.
Sampai jumpa Rea. Sahabat terbaikku.
Aku terisak setelah selesai membacanya. Tetesan air mataku membasahi kertas itu. Aku sungguh tak bisa menahannya lagi. Ditahan pun malah menyiksa dada. Aku meraung menangis, sambil memegang tangan Siri erat. Aku tak ingin kehilangannya...
tiba-tiba...
hatiku mencelos, dan perasaanku kacau. Sebisa mungkin aku memeriksanya lagi. mencari-cari denyut nadi dipergelangan tangan Siri yang sedang kupegangi. Tapi tidak ada! Aku tidak bisa merasakan nadinya. Aku panik setengah mati, ditambah bunyi monitor yang terus berbunyi cepat, dan grafiknya sudah mulai lurus...” suster, dokter toloooong!!!! Tante...tante!!! ,” teriakku sambil memencet-mencet tombol darurat di sebelah tempat tidur. Aku panik dan tak tahu harus bagaimana. Sampai tante Indri , dokter dan beberapa suster datang kemari dengan berbagai peralatan. Aku yang panik langsung memeluk Tante Indri yang nampaknya sama syoknya. Tubuhnya bergetar, terasa jelas di dadaku. Dan dia menangis. Meraung-raung merana, sementara gantian aku yang menenangkannya. Di detik-detik akhir ketika mereka menangani Siri, bunyi beeep panjang membuat kami semua terkejut terperangah. Wajah dokter berubah putus asa, sementara Tante Indri sudah pingsan dipundakku. Disaat bersamaan, Ryuji datang menyeruak, dan wajahnya yang terengah langsung pucat ditempat ketika melihat Siri yang sudah tak bernyawa lagi tergeletak di tempat tidurnya.

Hari itu jadi hari yang sangat kelam dan kelabu. Aku dan Ryu berdiri disebuah pemakaman.
Aku ingat pesannya. Dia bilang aku harus tetap tegar dan bahagia, serta menjaga diriku sebaik mungkin. Aku tahu ini masih sangat berat bagiku maupun Ryu. Tapi kami harus merelakannya pergi. Siri pasti akan bahagia disana, karena aku yakin Tuhan pasti menjaganya untuk kami.
Ku taburkan bunga terakhirku di wajahmu. Jasadmu yang indah dan harum. Kau bersandar bagaikan bidadari yang indah, dan hatimu seputih embun pagi yang dingin. Tak tertandingi kasih sayangmu padaku. Karena kau tulus mencintai dan menyayangi. Aku akan selalu mengenangmu....jauh dilubuk hatiku, bersanding dengan nama Ryuuji disana...
We love you Siri, and i’m so sorry...




0 komentar: