BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS »

Selasa, 19 Agustus 2014

Gee. G’



“ ini...mengerikan! ,” pikir seorang cowok yang sedang mengamati sebuah foto yang ia temukan terselip dibuku tahunan sekolahnya dua tahun yang lalu, ketika dia sedang bersih-bersih di kamarnya. Cowok itu bernama Ge Dee, seorang mahasiswa semester 3 yang nampak biasa-biasa saja, namun menyimpan misteri di masa lalunya. Dia mengernyit menatap foto itu. Foto dirinya sewaktu SMA dulu bersama teman cowoknya, di potret dilorong sekolah. Tampak mereka bedua berangkulan layaknya dua sahabat karib. Terlihat normal. Tapi, andai saja kalian tahu apa yang sebenarnya terjadi waktu itu. Sewaktu foto itu diambil. Bagaimana kisah Ge Dee yang paling memalukan itu terjadi.
Cowo itu bergidik ngeri lantas menaruh fotonya dilaci. Seolah kenangan dari Foto itu membuatnya jijik hingga tak berani memandanginya lama-lama.  Dia pun terhenyak duduk dikursi, sambil bersandar merilexkan tubuhnya. Dia mendesah lelah, sembari memijat-mijat pelipisnya yang terasa sakit, lalu....kenangan itu pun seolah terputar lagi seperti sebuah kaset.
Kejadian itu...
Tepat saat mereka naik ke kelas 3.
Menyukai lawan jenis itu wajar. Apa lagi sama teman sekelas. Sering banget kan kalian dengar! Kalau anak sekarang sih bilangnya cinta monyet. Tapi kurasa monyetku ini susah sekali kutaklukan. Nama monyetnya Aria. Dia teman sekelasku ketika aku kelas tiga.
Aria anak yang supel dan juga baik, serta ramah pada siapapun. Itulah yang membuatnya disukai banyak orang, terutama dikalangan laki-laki. Bisa disebut dia itu primadona di sekolah ini, karena hampir setengah dari murid laki-lakinya pasti suka sama Aria. Termasuk aku.
Tapi aku tidak seberuntung Tony, Herman atau Raphael yang terkenal populer juga disekolah sebagai pangeran disni, yang dengan mudah mengajak Aria untuk makan dikantin bareng atau sekedar ngobrol. Anak sederhana sepertiku hanya bisa mengaguminya dari jauh saja. Jangankan ngajak makan bareng, untuk menyapanya saja mulutku sulit sekali. Rasanya aku tidak pantas untuk menyapa Aria.
Pernah waktu itu aku keceplosan memanggilnya, saat sedang di perpus. Alih-alih ngajak ngobrol , reaksiku yang grogi itu malah membuat Aria jadi ilfeel.
“ hai Aria!!! ,” sapaku setengah terpekik. Aria yang sedang memilah-milah buku terlihat terkejut karena buku yang dipegangnya mendadak jatuh. “ oo—hai...emm Gee ,” ( Gee nama panggilanku dikelas. Karena anak-anak malas memanggilku dengan nama lengkap, makanya mereka hanya pakai nama depan saja. ) balas Aria masih kelihatan kaget. Semua pengunjung diperpustakaan mengawasiku tajam, apa lagi si pengawas perpus. Dia masih mengintaiku sampai aku menghilang dari rak buku ke meja baca.
Kulihat Aria masih mematung disana, melihat-lihat buku sambil sesekali melirik kearahku. Lirikannya seperti waspada. Aku memberanikan diri untuk mengajaknya ngobrol nanti. Ketika Aria menuju meja baca , agak jauh dari tempatku, aku berinisiatif untuk pindah ke mejanya.
Aria tertegun lalu mendongak , memandangku sesaat lalu tersenyum samar-samar. Kupikir dia terpaksa.   Tapi, aku berusaha mengabaikannya.
  hh—hai Aria, sedang baca apa? ,” tanyaku basa-basi.
Aria mendongak lagi dari bukunya. “ lagi baca buku ,”
Aku manggut-manggut paham. Yah ga usah dibilang juga udah jelaskan, dia lagi baca buku!. Aku juga tahu! . “ buku apa? ,” tanyaku lagi.
“ buku tentang sastra. ,” jawab Aria polos sembari menunjukan cover depan bukunya padaku.
“ emm, suka baca yang berat-berat ya? aku ga tau kalau kamu juga suka baca diperpus, aku pikir cewek kayak kamu suka nongkrong, kalau aku sih lebih suka baca tentang sejarah, dan...,” aku berhenti bicara ketika tahu kalau aku cuma dikacangin sama Aria. Sepertinya dia sama sekali ga mendengarkan aku ngomong .
Aku cuma bisa diam, sambil garuk-garuk kepala—bingung mau ngobrolin apa. Toh apapun yang aku omongin ga akan ada yang nyambung buatnya. Lantas aku cuma duduk bengong disitu sambil  mandangin rambut Aria yang hitam legam nan indah nutupin wajahnya yang imut sedang membaca. Cukup lama, sampai tiba-tiba Aria menegakan wajahanya lurus kearahku dengan tatapan bingung.
“ kamu ga apa-apa Gee? ,” tanya Aria. Aku terkesiap kaget, karena Aria menyadarkanku dari lamunan. Aku hanya mengangguk gelagapan. Lalu kembali salah tingkah.
“ eengg...kamu, udah selesai baca? ,” tanyaku lambat-lambat.
“ udah . lho! Kamu nungguin aku baca? Ngapain?? ,”
“ ah? Eng-enggak kok. Aku...,” Aria ngeliatin aku lama banget, dengan tatapan menyelidik. Bikin aku makin salting.
“ eh, aku mau masuk ke kelas dulu ya...kayanya bukuku ga diberesin tadi ,” kataku bohong, berupaya menghindar dari tatapan introgasi Aria yang semakin menyipit.
“ oke, aku juga mau kesana. Bareng aja kalau begitu ,”
Singkat cerita, sejak saat itu, ketika kami menuju kelas bareng, entah kenapa kami berdua jadi dekat. Aria jadi sering menyapaku, dan kami sering bertemu diperpus. Pokonya, sikap Aria itu bikin aku jadi Ge-er banget. Aku jadi berani untuk menyapanya duluan, ngajak ngbrol dan akhirnya....aku jadi berani mau nyatain perasaan aku sama Aria.

Niatku sudah bulat. Dan aku berencana akan menembak Aria besok saat istirahat.
Sebelumnya ,aku mau  merundingkan dulu rencanaku ini sama Febri, teman sebangkuku. dia jago dalam hal seperti ini, jadi kupikir sangatlah bijak datang kepadanya. Tapi...
“ apa??? Lu mau nembak Aria? ,” pekiknya kaget, membuatku juga ikutan kaget saat menceritakan niat ku itu dikelas.
duuh biasa aja dong, kaget nih gue ,”
“ yah iyalah. Lu udah gila ya mau nembak dia? ...ga masuk akal ,” cetusnya berapi-api. “ kenapa ga masukk akal? ,” tanyaku heran.
“ jelas! Aria itu cewek populer, dan ga sembarangan cowok yang bisa nembak dia. Inget kan gimana Boby yang segitu kaya dan kecenya ditolak mentah-mentah sama Aria didepan banyak orang? ,” kata Febri mengingatkan kejadian di bulan lalu. Gee membayangkannya dengan tatapan geli. Dia ingat betul betapa memalukannya ekspresi Boby saat itu.
“ yeah—lucu juga sih waktu itu ,” gumam Gee menerawang. “ kayanya tuh anak kapok deh, buktinya sekarang dia jarang keliatan dan kalo ketemu sama Aria dia langsung ngumpet ,”
“ Nah! ,” seru Febri. “ sekarang lu ngertikan? ,”
Gee cuma mengernyit  bingung sementara Febri menatapnya dengan penuh harap.
“ oke ,” jawab Gee akhirnya.
“ oke buat ngelupain niat lo itu? ,” tebak Febri kelihatan lega.
“ enggak.  Gue jawab ‘oke’ buat tetep ngelanjutin niat gue. Dan gua pastiin ga akan sememalukan Boby kaya dulu ,” katanya mantap.
Febri cuma bisa menepuk dahinya putus asa sembari membayangkan kegagalan temannya itu besok. Diam-diam dia berharap Gee bakal berhasil, meskipun prensentase keberhasilannya cuma 1%. Yeah, satu persennya itu kalau didunia ini udah ga ada cowok lagi, dan akhirnya Aria ga punya pilihan lain, selain nerima Gee. Tiba-tiba saja Febri jadi geli sendiri saat membayangkannya.

Saat jam istirahat.
Entah kenapa perasaan Gee jadi bedebar-debar. Rasanya perutnya mendadak mulas dan sakit. Dalam hati dia terus menguatkan tekadnya agar tetap maju. Tapi, melihat persiapan yang sudah ia lakukan—yaitu hanya modal nekat, membuatnya jadi takut sendiri. Takut ditolak.
Bel istirahat terus berbunyi, dan semakin lama semakin nyaring. Seolah itu juga jadi bel bagi Gee untuk segera melaksanakan keinginannya , yaitu menyatakan perasaannya pada Aria. Yeah, sudah dua minggu respon Aria padanya menandakan kalau dia nyaman sama Gee, dia juga sudah sering smsan dan telponan. Meskipun begitu bukan jaminan kalau Aria akan menerimanya langsung.
“ coba dulu, baru lihat hasilnya. oke ,” Gee menyemangati dirinya sendiri sambil berjalan di lorong kelas menuju kantin. Gee tahu kalau Aria pasti ada disana, makanya, setelah pelajaran usai dia buru-buru keluar kekamar mandi untuk menyiapkan semuanya—bercermin sebentar-merapihkan pakaiannya, dan memastikan kalau nafasnya tidak bau kali ini.
Dan...sampailah dia , dikantin.
 Dikantin ternyata ramainya bukan main. Bahkan tidak ada ruang sedikit pun untuk bernafas, apa lagi nyatain perasaan sama orang. Kacau. Rencananya mendadak berubah. Dia ga mungkin kan bisik-bisik sama Aria tentang perasaannya. Yang ada...
“ APA? KAMU NGOMONG APA? ,”
“ AKU SUKA SAMA KAMU ARIA!!! ,” mungkin saking bisingnya, Gee harus teriak-teriak seperti itu.
Dan sukur-syukur kalau di terima. Kalau ditolak...
“ HAH? KAMU SUKA SAMA AKU? SINTING KAMU YA ???!!! ,”
Jleb.
Ga usah dibayangin lagi, Gee bakal jadi bahan tertawaan semua orang. Dan ga kebayang deh malunya kaya apa.
 Setelah menghayal begitu, Gee buru-buru menyingkir dari kantin dan bergegas menuju taman sekolah. Mengsms Aria agar ke taman. Dia juga menambahkan kalau ada hal yang mendesak yang perlu Gee beritahu padanya.
Maka, tak lama Aria pun datang ke taman. Dan resenya, dia juga bawa teman.
Gee langsung bangkit dan menghampirinya. Dia berbisik ke Aria agar temannya tidak usah ikut. Aria pun setuju, dan menyuruh temannya untuk menjauh dari taman. Meskipun begitu ekspresi Aria kelihatan bingung dan dahinya tak henti berkerut-kerut.
“ ada apa Gee? ,” tanya Aria ketika mereka duduk di bangku taman. Jauh dari tempat teman Aria berada.
Gee masih terbelenggu. Mendadak pikirannya kosong. Dia kelihatan mematung memandangi Aria.
“ Gee?! ,” tegur Aria heran.
“....gue, eh—aku ,” gumamnya salah tingkah. “ aku...aku--,”
“ aku apa?! ,” potong Aria mulai tak sabar, sambil kakinya menghentak ketanah dengan cepat.
“ ehh...gini lho...aku tuh suka sama kamu ,” katanya pelan nyaris tak terdengar.
“ apa? Kamu bilang apa? Aku ga denger.,” tanya Aria,sambil  menunduk mencari wajah Gee.
Hening.
Gee tak menjawab. Sampai akhirnya Aria menyerah dan hendak pergi.
“ okelah kalau kamu ga jadi ngomong. Aku pergi dulu ya ,”
Ketika Aria berdiri , barulah keberanian Gee muncul. Dan tiba-tiba...
“ AKU SUKA SAMA KAMU ARIA!!,” teriak Gee akhrinya. “Aku...suka sama kamu, kamu mau kan jadi pacar aku? ,”
Hening.
Kali ini Aria yang terdiam. Dia mematung sambil berdiri membelakangi Gee. Gee penasaran sekaligus takut, ingin tahu reaksi Aria seperti apa. Apakah senang dan lalu mengangguk menerimanya atau???
Gee perlahan berdiri. Tepat dibelakang Aria. Tangannya sudah terangkat ingin menyentuh pundaknya, tapi berhenti dan malah mengambang diudara . tiba-tiba saja tubuh Aria bergetar kuat . dan terdengarlah suara cekikikan.
“ huahahaha....apa Gee? Lu suka sama gue? Lu pasti becanda , kan? ,” ujarnya sambil tertawa. Tawanya geli sekali. Wajah Gee langsung memerah, semerah kepiting rebus.” Ngaco! Hahaha belajar dari mana sih lu ngebanyol kaya gini ,”
Dan, saat itu juga Gee sadar kalau Aria telah menolaknya. Menolak dengan cara yang amat menyakitkan. Yaitu dengan tertawa menghina, menganggap itu lucu dan akhirnya meninggalkan Gee sendirian di taman.  Tanpa mengatakan apa-apa lagi-Aria cuma cekikikan, sambil pergi dengan teman-temannya . Setidaknya kata ‘maaf’ membuat Gee lebih baik dan merasa di hargai. Tapi, cewe tengik itu malah mengabaikannya begitu saja.
Hancur....hancur sekali hatinya. Sakit....sakit sampai keulu hati. Rasanya hidup sudah tidak ada gunanya lagi. Gee pun terhuyung lemas menuju kelasnya kembali.

“ kenapa lu? ,” tegur seseorang. Gee menoleh pelan tak bersemangat kearah suara itu, lalu mendapati  Raphael yang bersimbah keringat sudah ada disampingnya.
“ oh—elu! Ga apa-apa ,” kata Gee parau. Raphael mengernyit tidak percaya, sementara dia melihat wajah Gee begitu amat kusut dan mengenaskan. Seperti sudah tidak ada nyawanya lagi . Raphael memungut bola basket didekat kaki Gee, lalu berpaling kearahnya. “ tapi muka lu kacau banget ,”
“ yeah muka gue emang begini ,” tutur Gee singkat dan tak perduli.
“ kalau gitu kita main basket aja Yuk! Biar muka lu ga kusut lagi! ,” seru Raphael semangat seraya mendorong Gee dengan bola basketnya.
“ ahh engga ah. Lagi ga ada tenaga ,” kata Gee,berlaganya so lemas. Mirip tengkorak jalan.
“ udah ayo, kita lagi kurang pemain nih! ,” desaknya tak sabar sambil menyeret tangan Gee menuju lapangan .
Dilapangan ternyata sedang banyak cewek-cewek lagi pada nonton anak basket main. Dan anehnya, ketika Raphael dan Gee masuk kelapangan, semua anak-anak cewek itu langsung bersorak heboh kegirangan, bak fans fanatik korea. Gee mngernyit heran, dan menarik tangannya dari cengkraman Raphael.
“ apa-apaan nih? Kok rame banget ,” tanyanya.
“ biasalah, kalau anak basket lagi main, anak ceweknya pada heboh gitu. Apa lagi ada gue ,” jelas Raphael bangga. Gee langsung mencibir  di belakang Raphael lalu akhrinya ikutan bermain. Dia pun sejenak melupakan  kesedihanya  tadi dan terhenyak dalam permainan basket yang begitu menyenangkan.
Selesai bermain, Gee dan Raphael duduk-duduk di tengah lapangan sambil beristirahat. Lalu Raphael mulai membuka percakapan. Basi-basi ngomongin bola, lalu akhirnya nyambung-nyambung ke topik permasalah Gee yang baru saja di tolak. Gee menceritakan semuanya, tentang bagaimana cara Aria menolaknya dengin begitu keji.
“ heh, dia begitu lagi ,” komentar Raphael . “itu sih lebih sadis dari pada langsung nolak. Dia benar-benar gadis yang kejam ,” tambahnya.
Gee langsung mengangguk setuju.
  makanya, gue ga suka cewe--,”
“ hah? Ga suka cewe? ,” potong Gee kaget. “ ehh , enak aja. Belum juga kelar gue ngomong! Maksudnya, gua ga suka cewek yang prefectionis kaya gituu...,” lanjutnya menjelaskan. Gee hanya manggut-manggut tanpa komentar. Sesaat dia sedikit senang karena ada juga cowok yang tidak menyukai Aria. Raphael benar-benar cowok yang beda.
“ udahlah ga usah dipikirin. Masih banyak cewek yang lebih baik dari dia ,” ujar Raphael sambil menepuk pundak Gee. Gee menoleh kearah Raphael, bermaksud menepis tangannya dari pundak ,tapi, disaat bersamaan Raphael yang sedang memandangnya juga sambil tersenyum memberi semangat, malah membuat Gee berhenti bergerak. Dan mematung seketika.
Pandangan mereka pun beradu. Raphael yang kebingungan melihat tatapan Gee yang begitu dalam dan terbengong-bengong, akhrinya menegurnya . “ oi—oi Gee,lu kenapa? ,”
Gee masih saja mandangin Raphael. Lama banget. “ woi! Gee muka lu merah, tuh. Lu sakit? ,” tegurnya lagi. Gee terkesiap dan tersadar. Alangkah memalukannya dia dihadapan Raphael. Cowok cool  dan ganteng itu. dan...eh? kenapa dia jadi berpikir begitu? Astaga. Buru-buru Gee menggelengkan kepalanya, dan menepis jauh-jauh perasaan anehnya itu. Tiba-tiba saja dia merasa kalau poninya tersibak.
“ jidat lu panas Gee. Kayaknya lu sakit beneran ,” kata Raphael ,sembari menempelkan telapak tangannya di dahi Gee. Lagi-lagi pandangan mereka bertemu , dan kali ini wajah Raphael begitu dekat dengannya. “ waah muka lu tambah merah ,”
“ GYAAAAA ,” teriak Gee kaget sembari mundur menjauhi Raphael. Raphael melongo heran. “ lho kenapa? ,”
“ eehh---lu ngapain? ,” tanya Gee panik. “ ga ngapa-ngapain kok. Meriksa lu doang! ,” jawab Raphael  masih bingung. Gee sadar kalau sikapnya mulai aneh, dan kalau pun dia berlama-lama disini malah akan menarik perhatian teman-teman Raphael yang lain. Lalu Gee langsung bangkit , dan berlari dari lapangan yang sudah sepi. “ kenapa dia?? ,” pikir Raphael.
Saat Gee sampai dirumah, setelah pulang sekolah, dia langsung ambruk ditempat tidurnya. Wajahnya masih merah sampai sekarang, dan itu bukan karena kesal habis ditolak, tapi gara-gara bertatapan sama cowok ganteng. Gee langsung berjengit geli, membayangkan bahwa dia tadi berpikir kalau Raphael benar-benar ganteng dan keren meskipun sedang berkeringat, dan itu membuatnya....terpesona.  “ Wakkk! Apa aku sudah gila?? ,” teriak Gee dalam hati sambil  mengejang-ngejang diatas tempat tidur menahan rasa malunya. “ kenapa reaksi gue malah begitu? Gue kan cowok? Ngapain juga deg degan ,”
 Gee mulai resah, dan serba salah. Mau tidur ga bisa, bangun pun cuma bengong, dan kalau udah bengong, yang dipikirkannya hanya wajah Raphael , Raphael dan Raphael. Tak henti-hentinya dia memikirkan cowok itu, membayangkan mata kecoklatannya yang begitu indah.  Jantungnya pun masih deg-degan, dan mendadak seperti oranag linglung. Gejala ini pernah ia rasakan sebelumnya,sama seperti saat pertama kali melihat Aria, tapi kali ini rasanya lebih dahsyat. Mungkinkah ...
“ ga mungkin ,” desis Gee meyakinkan dirinya sendiri kalau pikirannya itu salah. Bisa jadi ini cuma gejala sakit biasa. Pikirnya . tapi...” matanya indah juga. Hupp,” buru-buru dia menekap mulutnya. “ biacara apa aku ini??? apa barusan aku memikirkannya lagi? Ya ampun, aku benar-benar sudah gila. Yeah aku gila....ga mungkin ini perasaan suka. ,” tapi mau dia menyangkalnya sekuat apa-pun, tetap saja bayangan Raphael yang begitu ramah padanya terus terbayang-bayang, seolah seperti menerornya. Sampai beberapa kali Gee tersentak dari tidurnya dengan wajah penuh keringat. Seperti habis mimpi buruk ,dikejar-kejar hantu yang berwujud cowok ganteng, dan anehnya didalam mimpinya itu Gee malah dengan senang hati di tangkap dan dipeluk oleh hantu itu. benar-benar mengerikan.
“ ini ga bisa dibiarkan...ga..enggak. ini ga bener, Raphael itu cowok dan gue itu cowok. Gua ga mungkin suka sama dia. Gua bukan gay, gua bukan penyuka sesama, ya , mungkin gua Cuma depresi gara-gara ditolak Aria dan gue mulai gila ,” kata Gee ketakutan sendiri. Dia pun bangkit dari tempat tidur menuju kamar lalu berendam didalam air dingin.
Gee datang kesekolah dengan tampang yang lebih kusut dari biasanya , ditambah rambutnya yang acak-acakan itu, semakin membuat Gee terlihat menyedihkan. Febri yang sudah di bangkunya, terlihat begitu simpatik dan penasaran dengan apa yang sudah terjadi. Sampai Gee duduk , dia baru bertanya.
“ yo , ada apa? ,” Gee tidak menjawab dan malah menelungkup dimeja. Suara nafasnya terdengar berat sekali. “ jadi...ditolak ya? ,” terka Febri.
“ lebih parah ,” sahut Gee pelan. “ lalu? ,”
Gee menegakkan tubuhnya susah payah-menatap Febri dengan tatapan memohon. “ sepertinya kemarin sangat seru. Andai aja gua ada disitu ,” kata Febri sambil ketawa.
“ jangan ketawa ,” sunggut Gee muram. “ gue begini bukan gara-gara Aria ,”
“ terus? ,”
Gee diam saja, sambil membayangkan beragam reaksi Febri jika tahu kalau dia suka sama Raphael.  “ ga. Ga apa-apa. ,”
“ kok gitu? ,” tanya Febri kecewa. “ terus gara-gara apa lu jadi murung kaya gini? .”
“ gara-gara nyokap gue ga ngasih duit jajan sama gue ,” kata Gee asal. Febri langsung mencibir, dia tahu kalau Gee lagi bohong. Tapi,  Febri ga langsung menggubrisnya karena melihat Gee yang begitu sangat tidak mood hari ini. jadi, dia memutuskan untuk tidak menyinggung-nyinggung tentang masalahnya lagi sampai Gee sendiri yang cerita.
Sampai beberapa hari, Gee belum juga menceritakan apapun sama Febri, dan sikapnya juga jadi berubah. Gee sekarang  menjadi penyendiri dan terlihat murung, dia juga jadi nyuekin Aria, meski Aria sendiri yang menyapanya. Mungkin sudah sakit hati. Tapi, keanehan lain mulai terlihat pada Gee , saat dia bertemu Raphael diberbagai kesempatan.
Gee jadi sering panik sendiri kalau berpapasan sama Raphael, salting dan suka salah ngomong. Ditambah sikap Raphael yang suka perhatian , baik dan ramah sama Gee, membuat Gee makin ga sanggup buat menyangkal tentang perasaannya itu. Sebenarnya dia menikmati momennya saat bersama Raphael, tapi dalam hati dia terus berteriak, kalau semua itu salah! Dia ga boleh suka sama Raphael. Dia normal. Tapi itu hanya bersuar didalam hati, sisanya dia senang bisa dekat-dekat dengan Raphael , apa lagi saat dia bisa bergabung dalam club basket.
“ oke gue akui, gua suka sama cowok itu ,” kata Gee didepan cermin. Dia memandang bayangannya  sendiri, dan mengoreksi setiap sudut wajahnya. Ga jelek-jelek amat. Ganteng malah. Gee terkekeh sendiri sambil menyisir rambutnya, tapi disisir sesering apapun rambutnya akan tetap berantakan.  Dia memandang cermin sekali lagi, memastikan kalau penampilannya sudah oke. Lalu pergi keluar.
Hari ini Raphael dan yang lain mengajak Gee nobar disebuah kafe untuk menyaksikan pertandingan La liga. Kesempatan ini tak mungkin Gee lewatkan. Dengan senang hati dia menerima tawarannya itu, apa lagi Raphael sendiri yang mengajaknya. Gee girang sekali, bahkan dia sampai melompat-lompat dikamar. Penampilan Gee sangat macho saat itu, mungkin kalau dari sudut pandang cewek, Gee bisa dibilang cowok kece dan keren, tapi itu sudah tidak penting lagi. Dia sudah tidak tertarik. Yang sekarang membuatnya tertarik adalah...” Raphael! ”. Gee memanggil cowok itu, dan yang dipanggilnya langsung menoleh sambil melambai diantara kerumunan orang dikafe.
Disana Raphael dan teman-temannya sudah menunggu. Mereka sudah ada disana 20 menit yang lalu untuk membooking tempat. Raphael dengan coolnya memakai jumper coklat dam celana jeans yang sobek dibagian lutut, kepalanya memakai kupluk warna hitam. Cuma Raphael yang Gee perhatikan, sampai mereka masuk kedalam kafe. Beberapa menit kemudian pertandingan mulai, dan dalam beberapa detik saja, semua pengunjung hanyut dalam ketegangan pertandingan yang sedari tadi imbang 0-0. Mereka bersorak, berderu, dan sesekali kecewa ketika masing-masing pemain jagoan mereka nyaris mencetak gol. Gee yang saat itu matanya terpaku pada layar besar, hanya bisa memukul-mukul kesal kemeja, sementara jagoannya terus diserang. Dan saat jagoan Raphael menggiring bola, meliuk-liuk melewati beberapa pemain lawan, lalu tanpa tunggu lagi, melesat kedaerah kotak penalti, pemain nomor 7 itu pun mencetak gol hebat kegawang lawan, diikuti sorakan heboh penonton yang melepas luapan emosi kebahagian mereka saat tim jagoan mereka menang, Raphael yang kegirangan tanpa sadar memeluk Gee yang sedang kecewa. Dengan wajah terkejut Gee cuma diam membatu membiarkan Raphael memeluknya erat dalam euforia yang menggebu-gebu, tapi tak lama Raphael melepas pelukannya itu dan ganti memeluk temannya yang lain sambil berjingkrak senang.
Gee masih terpaku, matanya bergerak cepat kesegala arah, dan dia merasa kalau jantungnya berdegub kencang menyakitkan. Mulutnya kering kerontangan, matanya tak berkedip, dan nafasnya tertahan beberapa saat. Dia seperti sedang kerasukan , Cuma diam termangu diantara orang-orang yang ramai bergembira.  Lalu tanpa sadar Gee berkata: “ Raphael, gua suka sama lo ,” dan begitu pertandingan berlanjut, semua penonton kembali tenang dalam ketegangan.
“ ahhh kasian deh lu kalah. Inget ya taruhannya, yang kalah harus nelaktir makan yang menang ,” tutur Raphael sambil nyengir sama Gee dan temannya yang mendukung Barcelona.
Hati Gee mencelos, sekaligus lega. Barusan dia baru saja menyatakan perasaannya pada Raphael. dan untung saja dia tidak dengar. Huuuuhf....Gee membuang nafasnya berat. kali ini selamat, ga kebayang tadi kalau dia nekat nyatain perasaannya ke Raphael. mungkin dia bakal langsung bunuh diri.
“ eh, tadi kayanya lu bilang sesuatu. Apaan? ,” tanya Raphael tiba-tiba. Gee menoleh cepat, dan langsung melongo kaya orang bego. “ ahh---.”
“ GOOOOL! ,” teriak salah satu penonton, diikuti yang laiinya. Semua melonjak dari kursi penonton termasuk Raphael saat  Real Madrid mencetak gol lagi berkat sontekan cantik Cristiano Ronaldo. Dan lagi-lagi Gee terselamatkan oleh gol itu. Biar deh, kalah-kalah sekalian dari pada Raphael curiga.
Sampai pertandingan selesai , Gee diam membisu. Sementara Raphael lupa sama pertanyaannya tadi dan malah sibuk berdiskusi ngomongin bola sama teman-temannya.
Gee manatap langit malam yang gelap tanpa bintang. Awan-awan hitam memenuhi langit yang seharusnya cerah dimalam minggu. Sama seperti hati Gee yang kelabu. Yang sedang sendu karena keserbasalahannya yang menyelimutinya. Antara logika dan perasaan. Rasional dan irasional. Ga tau lagi apa...pokoknya malam itu Gee lagi galau total. Mereka berlima berjalan menuju parkiran, karena tadi nebeng sama Rico, Gee jadi nungguin dia dulu menelpon. Sementara ketiga temannya yang lain sudah duduk siap-siap dimotor. “ sory Gee, cewek gue minta jemput. Lu bareng yang lain deh ,” katanya membuat Gee kecewa. “ ah serius lo...bareng siapa?  Ga ada yang searah sama gue ,” cetus Gee . Rico Cuma angkat bahu sambil sekali lagi minta maaf. Lalu dengan berat hati Rico pergi duluan, dengan jok kosong dibelakangnya yang diganti sama satu helm.
“ udah , bareng gua aja.,” ajak Raphael sambil menyodorkan satu helm cadangannya. Gee terkesima, namun langsung buru-buru berpaling sambil menyambar helm itu tanpa memandang Raphael-duduk dibelakang dan pakai helm full face. Raphael menyalakan mesin motornya, lalu mereka pun meluncur dari parkiran ke rumah Gee. Disepanjang perjalanan mereka saling diam. Gee diam karena grogi dan menyembunyikan wajahnya dari balik helm, sementara Raphael diam karena perutnya yang tiba-tiba mules. Mungkin salah makan tadi. Yaah pokoknya kesalah pahaman ini membuat keduanya makin akrab untuk beberapa minggu. Sampai salah satunya membuat bencana besar. Dan membuat hubungan mereka sebagai teman merenggang.

Dua minggu kemudian. Setelah UN, mereka mengadakan acara pentas seni di sekolah untuk merayakannya. Dan Gee menyibukkan dirinya sendirr dengan menjadi panitia acara. Tapi sesibuk apapun, dia tetap masih dibayangi oleh perasaan menakutkannya, yaitu jatuh cinta sama Raphael. hal mengerikan itu masih terpeta dibenaknya sampai sekarang, dan masih membebani pikiran dan perasaannya. Sampai, ketika menjelang acara pentas seni dimulai.
Di kelas...
“ apa lagi sekarang? Otak lu udah rusak ya! ,” cecar Febri waktu Gee keceplosan mengatakan mau mengungkapkan perasaannya itu pada Raphael—Febri langsung berjengit ngeri. “ mungkin gue emang gila. Tapi gua ga kuat lagi , Feb ,” balas Gee putus asa. “ Gua harus ngomingin ini biar hati gua tenang. ,” tambahnya.
“ tapi--,”
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki memasuki kelas. Febri dan Gee langsung menoleh cepat kearah pintu yang terbuka dengan tatapan ngeri. Dan muncullah...
“ hemm...gua kaget waktu denger itu, tapi akhirnya gua ngerti perasaan lu, Gee ,” kata Aria tiba-tiba, membuat Gee mau pun Febri terpekik kaget. “ Aria??? ,”
“ tenang. Gua ga akan bilang-bilang kok. Rahasia lu aman sama gue ,” katanya santai. “ well, tapi...dalam masalah ini, gue rasa lu emang harus ngungkapinnya langsung, dari pada terus dipendam-pendam. Yang ada malah nyiksa diri lu sendiri. Ya, kan? Dan gue yakin kalau Raphael denger ini, meski dia kaget setengah mati, dia pasti bakal ngerti. ,” ujar Aria yakin. “ katakan saja, dan lu nggak akan menyesel di kemudian hari. Resiko sebesar apa-pun, lu harus terima, ini demi kebaikan lu sendiri ,” mendengar itu, Gee sedikit mempertimbangkannya. Ucapan Aria memang benar, selama ini Gee selalu menyembunyikan terus, dan menanggung semua siksaan yang tak berkesudahan itu. Mungkin ini waktu yang sangat tepat. “ lagian sebentar lagi kita lulus, dan kalau lu malu setelah mengungkapinya, lu bisa langsung menghilang aja , kan? ,” tambah Aria, seolah membaca pikirannya.
“ Enggak! Enggak bisa, Gee ga boleh ngelakuin itu! ,” sergah Febri tak setuju. “ lu ga malu apa? ,” semburnya cemas pada Gee. Gee tertunduk , dan saat itu juga emosinya meluap.
“ dimana dia? ,” tanyanya tiba-tiba. Febri mendelik curiga. “ mau ngapain lu? ,”
“ dimana dia sekarang?! ,” tanya Gee lagi pada Aria, seakan mengabaikan Febri. “ dia di ruang Radio ,” jawab Aria . “ dia sendirian kok disana. Lagi ngecek komputer ,”
Dan tanpa menunggu reaksi Febri yang ingin mencegahnya pergi, Gee langsung bergegas keluar kelas menuju ruang radio. Disana, dia langsung menemui Raphael yang tengah sibuk mengutak-atik komputer.
Raphael menyadari kadatangannya, dan langsung menoleh sebentar sambil menyunggingkan senyuman. “ oi—Gee. Ada apa? ,” sapa Raphael ramah. Gee terdiam sesaat didepan pintu, lalu segera mengingat maksud kedatangannya kemari. “ gua mau ngomong, Hel. ,” bisik Gee buru-buru.
“ ngomong aja ,” sahut Raphael santai , matanya masih terpaku pada layar komputer.
“ ini penting ,” Gee menambahkan. Mendengar kata ‘penting’, akhirnya Raphael berpaling dari komputer lalu berbalik menatap Gee yang sedang tertunduk dihadapannya. “ iyaa—apa? ,”
“ gue...sebelumnya gua minta maaf. Dan tolong jangan dipotong dulu sebelum gue selesai bicara ,” Gee memberi tahunya. Raphael nampak bingung namun tetap mengangguk setuju. “ oke ,”
Gee menghela nafas panjang, yang terasa menyesakkan didadanya. Lalu menguatkan dirinya sendiri dengan mengangguk mantap, dan mulai bicara....
Dia mengakui perasaanya pada Raphael. Semuanya. Dari awal, sampai akhir. Tak ada yang terlewat sedikit pun. Raphael pun mendengarkannya tanpa mencela, meskipun ekspresinya sudah sangat abstrak dan tidak bisa dijelaskan lagi dengan kata-kata. Mungkin seperti ekspresi jijik dan mau muntah, yah—seperti itulah barangkali.
Raphael keliatan syock dan ngeri, mirip reaksi Febri waktu pertama kali mendengarnya, tapi, sebagai seorang cowok populer, dia pun tak langsung menghujat Gee karena sudah mengatakan hal yang begitu mengejutkan. Dia, dengan bijak, menjelaskan semua kesalah pahamannya itu pada Gee, dan menganggapnya sebagai pengakuan kasih sayang seorang sahabat kepada sahabatnya.  Gee pun mengerti dan sadar kalau tidak mungkin mereka bersama-sebagai pasangan homo-seperti yang ia bayangkan, tapi dengan begitu Gee sudah merasa lebih baik , dan bebannya pun terangkat sepenuhnya. Dan mereka pun tetap berteman.
Kembali ke kelas...
Febri terkejut mendengar suara speaker berbunyi dikelas yang berasal dari radio. Begitu juga dengan semua murid yang sedang berada dikelas, kantin, maupun lapangan sekolah.
“ Ah—kena deh ,” seru Aria senang. Febri langsung berpaling ke Aria, dan mendapati cewek itu sedang tertawa licik. “ benar-benar seru! Ga sabar pengen ngeliat ekspresi anak-anak yang tahu kalau Gee itu Homo!!! ,”
“ ARIA???? LU SENGAJA? ,” sentak Febri marah. “ KELEWATAN LO!!! ,” Tanpa dosa, Aria malah tertawa-tawa senang sambil kabur dari kelas. Dan ketika Febri hendak mengejarnya, ternyata seluruh siswa sudah ramai berbondong-bondong keluar kelas memenuhi balkon. Dari lantai satu, dua , tiga, mereka semua terlihat terkejut dengan yang mereka dengar dari radio, dan tidak sedikit yang tertawa dan mencemoohnya. “ hah? Gee kok suka sama Raphael? hahah ga sangka dia Homo!! ,” kata salah satu dari anak-anak yang berkerumun kepada temannya, mereka berdua langsung cekikikan. “ ngapain dia ngumumin di radio? Ga tau malu ,” timpal Glend , tertawa ngakak. “ Gee? Siapa sih dia? Kok bangga banget kalau dia Homo? ,” dan masih banyak lagi komentar anak-anak tentanng peristiwa itu. Mereka pun tak segan-segan mendatangi ruang radio dan menghujat langsung Gee dengan berbagai ledekan yang pedas dan olok-olok berlebihan yang membuat Gee nyaris ingin bunuh diri saat itu juga--dengan kagetnya melihat anak-anak berkerumun memenuhi area lorong sekolah.
“ sial!!! Ini. cewek brengsek itu.... ,” rutuk Febri murka. Tak terima temannya dipermalukan. Tapi, apa yang bisa ia perbuat lagi? Toh semuanya sudah terjadi, dan wajah Gee takkan bisa di selamatkan dari rasa malu yang teramat sangat. 
Mulai detik itu, Gee sudah di cap sebagai homo oleh semua teman-temannya, terkecuali Febri. Tak ada julukan lain yang lebih menyakitkan dari pada julukan itu. Bahkan nama Gee bukan lagi Ge Dee, tapi Gee G, yang disingkat : Gee-Gay atau Gee-Homo. Benar-benar kejam.
Gee tak pernah terlihat lagi semenjak kejadian itu. Dia juga tidak hadir di acara perpisahan dan penerimaan ijazah. Dia menghilang entah kemana, tanpa kabar. Anak-anak yang masih mengejek Gee bilang kalau Gee mati bunuh diri gara-gara ga kuat nanggung malu.
Raphael yang juga menghilang beberapa hari, muncul kembali disaat acara perpisahan. Dia sudah pulih dari syock nya yang juga dianggap homo, tapi ga separah seperti yang dialami Gee, karena pada saat itu Gee lah yang mengakui perasaanya duluan, dan orang-orang juga dengar kalau Raphael mencoba menjelaskan keadaan yang sebenarnya. Raphael dan Febri yang khawatir akan keselamatan Gee, mencari-cari kabar tentangnya. Tapi sampai detik ini mereka tidak tahu Gee pergi kemana. Temannya itu pergi tanpa pamit.

Gee yang sekarang, tersentak dari lamunannya yang mengerikan itu, menggeleng-geleng beberapa kali untuk menjernihkan pikirannya kembali. Kemudian, matanya mengerjap-ngerjap, sambil mengamati kesekelilinya kamarnya . Lalu Gee bangun dari duduknya, lantas segera menyelesaikan membersihkan kamarnya, kemudian tertegun kembali di sisi jendela. Dia melamun lagi.
Dulu dia cowok normal. Sampai sekarang pun, dia yakin kalau dia normal , tapi kenapa ya dia sempat suka sama Raphael? padahal, kalau dia emang penyuka sesama jenis, seharusnya dia sudah suka sama Raphael sejak dulu! Tapi Gee tak berusaha menyangkalnya lagi, sampai detik ini perasaannya masih sama. Tak berubah. Yang berbeda hanyalah, sekarang Gee berusaha menyembuhkan hatinya dengan kehadiran seorang wanita. Dia adalah Dhea.
Gadis yang ia temuinya di kampus. Dhea sudah sudah tahu seluk-beluk dan masa lalu Gee, termasuk masa lalunya yang memalukan itu. Tapi, Dhea tak keberatan. Dia bisa menerima Gee apa adanya, dan menganggap itu semua sebagai masa lalu.
Dia dan Dhea sudah berpacaran selama setahun. Semakin lama Gee semakin menyayangi gadis itu. bukan hanya cantik, tapi dia juga sangat pengertian dan baik. Terlebih lagi, dia tidak pernah menyinggung-nyinggung masa lalu Gee atau membicarakan hal yang membuatnya tidak nyaman. Semuanya berjalan lancar, sampai, pada suatu hari , dia dipertemukan lagi dengan cinta pertamanya.
Dia  bertemu Raphael lagi saat sedang kencan dengan Dhea di sebuah restoran. Saat itu juga, Gee melihat Raphael sedang bersama seorang wanita. Siapakah dia?
Gee ingin langsung pergi dari restauran itu dan mencari tempat lain. Tapi urung ketika Raphael dengan lantang memanggilnya.
“ Gee!!!! ,”
Gee Cuma bisa terperangah dengan wajah tegang tersembunyi dibalik daftar menu. Dhea hanya kebingungan melihat tingkahnya. Detik berikutnya suara langkah Raphael terdengar mendekat kearah meja mereka, diikuti suara sepatu hak tinggi seorang wanita.
Lalu apakah yang akan Gee lakukan?

0 komentar: