“ ini...mengerikan!
,” pikir seorang cowok yang sedang mengamati sebuah foto yang ia temukan
terselip dibuku tahunan sekolahnya dua tahun yang lalu, ketika dia sedang bersih-bersih
di kamarnya. Cowok itu bernama Ge Dee, seorang mahasiswa semester 3 yang nampak
biasa-biasa saja, namun menyimpan misteri di masa lalunya. Dia mengernyit
menatap foto itu. Foto dirinya sewaktu SMA dulu bersama teman cowoknya, di
potret dilorong sekolah. Tampak mereka bedua berangkulan layaknya dua sahabat
karib. Terlihat normal. Tapi, andai saja kalian tahu apa yang sebenarnya
terjadi waktu itu. Sewaktu foto itu diambil. Bagaimana kisah Ge Dee yang paling
memalukan itu terjadi.
Cowo itu
bergidik ngeri lantas menaruh fotonya dilaci. Seolah kenangan dari Foto itu
membuatnya jijik hingga tak berani memandanginya lama-lama. Dia pun terhenyak duduk dikursi, sambil
bersandar merilexkan tubuhnya. Dia mendesah lelah, sembari memijat-mijat
pelipisnya yang terasa sakit, lalu....kenangan itu pun seolah terputar lagi
seperti sebuah kaset.
Kejadian itu...
Tepat saat
mereka naik ke kelas 3.
Menyukai lawan
jenis itu wajar. Apa lagi sama teman sekelas. Sering banget kan kalian dengar!
Kalau anak sekarang sih bilangnya cinta monyet. Tapi kurasa monyetku ini susah
sekali kutaklukan. Nama monyetnya Aria. Dia teman sekelasku ketika aku kelas tiga.
Aria anak yang
supel dan juga baik, serta ramah pada siapapun. Itulah yang membuatnya disukai
banyak orang, terutama dikalangan laki-laki. Bisa disebut dia itu primadona di
sekolah ini, karena hampir setengah dari murid laki-lakinya pasti suka sama
Aria. Termasuk aku.
Tapi aku tidak
seberuntung Tony, Herman atau Raphael yang terkenal populer juga disekolah
sebagai pangeran disni, yang dengan mudah mengajak Aria untuk makan dikantin
bareng atau sekedar ngobrol. Anak sederhana sepertiku hanya bisa mengaguminya
dari jauh saja. Jangankan ngajak makan bareng, untuk menyapanya saja mulutku sulit
sekali. Rasanya aku tidak pantas untuk menyapa Aria.
Pernah waktu itu
aku keceplosan memanggilnya, saat sedang di perpus. Alih-alih ngajak ngobrol ,
reaksiku yang grogi itu malah membuat Aria jadi ilfeel.
“ hai Aria!!! ,”
sapaku setengah terpekik. Aria yang sedang memilah-milah buku terlihat terkejut
karena buku yang dipegangnya mendadak jatuh. “ oo—hai...emm Gee ,” ( Gee nama
panggilanku dikelas. Karena anak-anak malas memanggilku dengan nama lengkap,
makanya mereka hanya pakai nama depan saja. ) balas Aria masih kelihatan kaget.
Semua pengunjung diperpustakaan mengawasiku tajam, apa lagi si pengawas perpus.
Dia masih mengintaiku sampai aku menghilang dari rak buku ke meja baca.
Kulihat Aria
masih mematung disana, melihat-lihat buku sambil sesekali melirik kearahku.
Lirikannya seperti waspada. Aku memberanikan diri untuk mengajaknya ngobrol
nanti. Ketika Aria menuju meja baca , agak jauh dari tempatku, aku berinisiatif
untuk pindah ke mejanya.
Aria tertegun
lalu mendongak , memandangku sesaat lalu tersenyum samar-samar. Kupikir dia
terpaksa. Tapi, aku berusaha
mengabaikannya.
“ hh—hai Aria, sedang baca apa? ,” tanyaku
basa-basi.
Aria mendongak
lagi dari bukunya. “ lagi baca buku ,”
Aku
manggut-manggut paham. Yah ga usah dibilang juga udah jelaskan, dia lagi baca
buku!. Aku juga tahu! . “ buku apa? ,” tanyaku lagi.
“ buku tentang sastra.
,” jawab Aria polos sembari menunjukan cover depan bukunya padaku.
“ emm, suka baca
yang berat-berat ya? aku ga tau kalau kamu juga suka baca diperpus, aku pikir
cewek kayak kamu suka nongkrong, kalau aku sih lebih suka baca tentang sejarah,
dan...,” aku berhenti bicara ketika tahu kalau aku cuma dikacangin sama Aria.
Sepertinya dia sama sekali ga mendengarkan aku ngomong .
Aku cuma bisa
diam, sambil garuk-garuk kepala—bingung mau ngobrolin apa. Toh apapun yang aku
omongin ga akan ada yang nyambung buatnya. Lantas aku cuma duduk bengong disitu
sambil mandangin rambut Aria yang hitam
legam nan indah nutupin wajahnya yang imut sedang membaca. Cukup lama, sampai
tiba-tiba Aria menegakan wajahanya lurus kearahku dengan tatapan bingung.
“ kamu ga
apa-apa Gee? ,” tanya Aria. Aku terkesiap kaget, karena Aria menyadarkanku dari
lamunan. Aku hanya mengangguk gelagapan. Lalu kembali salah tingkah.
“ eengg...kamu,
udah selesai baca? ,” tanyaku lambat-lambat.
“ udah . lho!
Kamu nungguin aku baca? Ngapain?? ,”
“ ah? Eng-enggak
kok. Aku...,” Aria ngeliatin aku lama banget, dengan tatapan menyelidik. Bikin
aku makin salting.
“ eh, aku mau
masuk ke kelas dulu ya...kayanya bukuku ga diberesin tadi ,” kataku bohong,
berupaya menghindar dari tatapan introgasi Aria yang semakin menyipit.
“ oke, aku juga
mau kesana. Bareng aja kalau begitu ,”
Singkat cerita,
sejak saat itu, ketika kami menuju kelas bareng, entah kenapa kami berdua jadi
dekat. Aria jadi sering menyapaku, dan kami sering bertemu diperpus. Pokonya,
sikap Aria itu bikin aku jadi Ge-er banget. Aku jadi berani untuk menyapanya
duluan, ngajak ngbrol dan akhirnya....aku jadi berani mau nyatain perasaan aku
sama Aria.
Niatku sudah
bulat. Dan aku berencana akan menembak Aria besok saat istirahat.
Sebelumnya ,aku
mau merundingkan dulu rencanaku ini sama
Febri, teman sebangkuku. dia jago dalam hal seperti ini, jadi kupikir sangatlah
bijak datang kepadanya. Tapi...
“ apa??? Lu mau
nembak Aria? ,” pekiknya kaget, membuatku juga ikutan kaget saat menceritakan
niat ku itu dikelas.
“ duuh biasa aja dong, kaget nih gue ,”
“ yah iyalah. Lu
udah gila ya mau nembak dia? ...ga masuk akal ,” cetusnya berapi-api. “ kenapa
ga masukk akal? ,” tanyaku heran.
“ jelas! Aria
itu cewek populer, dan ga sembarangan cowok yang bisa nembak dia. Inget kan
gimana Boby yang segitu kaya dan kecenya ditolak mentah-mentah sama Aria
didepan banyak orang? ,” kata Febri mengingatkan kejadian di bulan lalu. Gee
membayangkannya dengan tatapan geli. Dia ingat betul betapa memalukannya
ekspresi Boby saat itu.
“ yeah—lucu juga
sih waktu itu ,” gumam Gee menerawang. “ kayanya tuh anak kapok deh, buktinya
sekarang dia jarang keliatan dan kalo ketemu sama Aria dia langsung ngumpet ,”
“ Nah! ,” seru
Febri. “ sekarang lu ngertikan? ,”
Gee cuma
mengernyit bingung sementara Febri menatapnya
dengan penuh harap.
“ oke ,” jawab
Gee akhirnya.
“ oke buat
ngelupain niat lo itu? ,” tebak Febri kelihatan lega.
“ enggak. Gue jawab ‘oke’ buat tetep ngelanjutin niat
gue. Dan gua pastiin ga akan sememalukan Boby kaya dulu ,” katanya mantap.
Febri cuma bisa
menepuk dahinya putus asa sembari membayangkan kegagalan temannya itu besok.
Diam-diam dia berharap Gee bakal berhasil, meskipun prensentase keberhasilannya
cuma 1%. Yeah, satu persennya itu kalau didunia ini udah ga ada cowok lagi, dan
akhirnya Aria ga punya pilihan lain, selain nerima Gee. Tiba-tiba saja Febri
jadi geli sendiri saat membayangkannya.
Saat jam
istirahat.
Entah kenapa
perasaan Gee jadi bedebar-debar. Rasanya perutnya mendadak mulas dan sakit.
Dalam hati dia terus menguatkan tekadnya agar tetap maju. Tapi, melihat
persiapan yang sudah ia lakukan—yaitu hanya modal nekat, membuatnya jadi takut
sendiri. Takut ditolak.
Bel istirahat
terus berbunyi, dan semakin lama semakin nyaring. Seolah itu juga jadi bel bagi
Gee untuk segera melaksanakan keinginannya , yaitu menyatakan perasaannya pada
Aria. Yeah, sudah dua minggu respon Aria padanya menandakan kalau dia nyaman
sama Gee, dia juga sudah sering smsan dan telponan. Meskipun begitu bukan
jaminan kalau Aria akan menerimanya langsung.
“ coba dulu,
baru lihat hasilnya. oke ,” Gee menyemangati dirinya sendiri sambil berjalan di
lorong kelas menuju kantin. Gee tahu kalau Aria pasti ada disana, makanya,
setelah pelajaran usai dia buru-buru keluar kekamar mandi untuk menyiapkan
semuanya—bercermin sebentar-merapihkan pakaiannya, dan memastikan kalau
nafasnya tidak bau kali ini.
Dan...sampailah
dia , dikantin.
Dikantin ternyata ramainya bukan main. Bahkan
tidak ada ruang sedikit pun untuk bernafas, apa lagi nyatain perasaan sama
orang. Kacau. Rencananya mendadak berubah. Dia ga mungkin kan bisik-bisik sama
Aria tentang perasaannya. Yang ada...
“ APA? KAMU
NGOMONG APA? ,”
“ AKU SUKA SAMA
KAMU ARIA!!! ,” mungkin saking bisingnya, Gee harus teriak-teriak seperti itu.
Dan sukur-syukur
kalau di terima. Kalau ditolak...
“ HAH? KAMU SUKA
SAMA AKU? SINTING KAMU YA ???!!! ,”
Jleb.
Ga usah
dibayangin lagi, Gee bakal jadi bahan tertawaan semua orang. Dan ga kebayang deh
malunya kaya apa.
Setelah menghayal begitu, Gee buru-buru
menyingkir dari kantin dan bergegas menuju taman sekolah. Mengsms Aria agar ke
taman. Dia juga menambahkan kalau ada hal yang mendesak yang perlu Gee beritahu
padanya.
Maka, tak lama
Aria pun datang ke taman. Dan resenya, dia juga bawa teman.
Gee langsung
bangkit dan menghampirinya. Dia berbisik ke Aria agar temannya tidak usah ikut.
Aria pun setuju, dan menyuruh temannya untuk menjauh dari taman. Meskipun
begitu ekspresi Aria kelihatan bingung dan dahinya tak henti berkerut-kerut.
“ ada apa Gee?
,” tanya Aria ketika mereka duduk di bangku taman. Jauh dari tempat teman Aria
berada.
Gee masih
terbelenggu. Mendadak pikirannya kosong. Dia kelihatan mematung memandangi
Aria.
“ Gee?! ,” tegur
Aria heran.
“....gue, eh—aku
,” gumamnya salah tingkah. “ aku...aku--,”
“ aku apa?! ,”
potong Aria mulai tak sabar, sambil kakinya menghentak ketanah dengan cepat.
“ ehh...gini lho...aku
tuh suka sama kamu ,” katanya pelan nyaris tak terdengar.
“ apa? Kamu
bilang apa? Aku ga denger.,” tanya Aria,sambil menunduk mencari wajah Gee.
Hening.
Gee tak
menjawab. Sampai akhirnya Aria menyerah dan hendak pergi.
“ okelah kalau
kamu ga jadi ngomong. Aku pergi dulu ya ,”
Ketika Aria
berdiri , barulah keberanian Gee muncul. Dan tiba-tiba...
“ AKU SUKA SAMA
KAMU ARIA!!,” teriak Gee akhrinya. “Aku...suka sama kamu, kamu mau kan jadi
pacar aku? ,”
Hening.
Kali ini Aria
yang terdiam. Dia mematung sambil berdiri membelakangi Gee. Gee penasaran
sekaligus takut, ingin tahu reaksi Aria seperti apa. Apakah senang dan lalu
mengangguk menerimanya atau???
Gee perlahan
berdiri. Tepat dibelakang Aria. Tangannya sudah terangkat ingin menyentuh
pundaknya, tapi berhenti dan malah mengambang diudara . tiba-tiba saja tubuh
Aria bergetar kuat . dan terdengarlah suara cekikikan.
“
huahahaha....apa Gee? Lu suka sama gue? Lu pasti becanda , kan? ,” ujarnya
sambil tertawa. Tawanya geli sekali. Wajah Gee langsung memerah, semerah
kepiting rebus.” Ngaco! Hahaha belajar dari mana sih lu ngebanyol kaya gini ,”
Dan, saat itu juga
Gee sadar kalau Aria telah menolaknya. Menolak dengan cara yang amat
menyakitkan. Yaitu dengan tertawa menghina, menganggap itu lucu dan akhirnya
meninggalkan Gee sendirian di taman.
Tanpa mengatakan apa-apa lagi-Aria cuma cekikikan, sambil pergi dengan
teman-temannya . Setidaknya kata ‘maaf’ membuat Gee lebih baik dan merasa di
hargai. Tapi, cewe tengik itu malah mengabaikannya begitu saja.
Hancur....hancur
sekali hatinya. Sakit....sakit sampai keulu hati. Rasanya hidup sudah tidak ada
gunanya lagi. Gee pun terhuyung lemas menuju kelasnya kembali.
“ kenapa lu? ,”
tegur seseorang. Gee menoleh pelan tak bersemangat kearah suara itu, lalu
mendapati Raphael yang bersimbah
keringat sudah ada disampingnya.
“ oh—elu! Ga
apa-apa ,” kata Gee parau. Raphael mengernyit tidak percaya, sementara dia
melihat wajah Gee begitu amat kusut dan mengenaskan. Seperti sudah tidak ada
nyawanya lagi . Raphael memungut bola basket didekat kaki Gee, lalu berpaling
kearahnya. “ tapi muka lu kacau banget ,”
“ yeah muka gue
emang begini ,” tutur Gee singkat dan tak perduli.
“ kalau gitu
kita main basket aja Yuk! Biar muka lu ga kusut lagi! ,” seru Raphael semangat
seraya mendorong Gee dengan bola basketnya.
“ ahh engga ah.
Lagi ga ada tenaga ,” kata Gee,berlaganya so lemas. Mirip tengkorak jalan.
“ udah ayo, kita
lagi kurang pemain nih! ,” desaknya tak sabar sambil menyeret tangan Gee menuju
lapangan .
Dilapangan ternyata
sedang banyak cewek-cewek lagi pada nonton anak basket main. Dan anehnya,
ketika Raphael dan Gee masuk kelapangan, semua anak-anak cewek itu langsung bersorak
heboh kegirangan, bak fans fanatik korea. Gee mngernyit heran, dan menarik
tangannya dari cengkraman Raphael.
“ apa-apaan nih?
Kok rame banget ,” tanyanya.
“ biasalah,
kalau anak basket lagi main, anak ceweknya pada heboh gitu. Apa lagi ada gue ,”
jelas Raphael bangga. Gee langsung mencibir
di belakang Raphael lalu akhrinya ikutan bermain. Dia pun sejenak
melupakan kesedihanya tadi dan terhenyak dalam permainan basket
yang begitu menyenangkan.
Selesai bermain,
Gee dan Raphael duduk-duduk di tengah lapangan sambil beristirahat. Lalu
Raphael mulai membuka percakapan. Basi-basi ngomongin bola, lalu akhirnya
nyambung-nyambung ke topik permasalah Gee yang baru saja di tolak. Gee
menceritakan semuanya, tentang bagaimana cara Aria menolaknya dengin begitu
keji.
“ heh, dia
begitu lagi ,” komentar Raphael . “itu sih lebih sadis dari pada langsung
nolak. Dia benar-benar gadis yang kejam ,” tambahnya.
Gee langsung mengangguk
setuju.
“ makanya, gue ga suka cewe--,”
“ hah? Ga suka
cewe? ,” potong Gee kaget. “ ehh , enak aja. Belum juga kelar gue ngomong!
Maksudnya, gua ga suka cewek yang prefectionis kaya gituu...,” lanjutnya
menjelaskan. Gee hanya manggut-manggut tanpa komentar. Sesaat dia sedikit
senang karena ada juga cowok yang tidak menyukai Aria. Raphael benar-benar cowok
yang beda.
“ udahlah ga
usah dipikirin. Masih banyak cewek yang lebih baik dari dia ,” ujar Raphael sambil menepuk pundak Gee. Gee menoleh kearah
Raphael, bermaksud menepis tangannya dari pundak ,tapi, disaat bersamaan
Raphael yang sedang memandangnya juga sambil tersenyum memberi semangat, malah
membuat Gee berhenti bergerak. Dan mematung seketika.
Pandangan mereka
pun beradu. Raphael yang kebingungan melihat tatapan Gee yang begitu dalam dan
terbengong-bengong, akhrinya menegurnya . “ oi—oi Gee,lu kenapa? ,”
Gee masih saja
mandangin Raphael. Lama banget. “ woi! Gee muka lu merah, tuh. Lu sakit? ,” tegurnya
lagi. Gee terkesiap dan tersadar. Alangkah memalukannya dia dihadapan Raphael.
Cowok cool dan ganteng itu. dan...eh?
kenapa dia jadi berpikir begitu? Astaga. Buru-buru Gee menggelengkan kepalanya,
dan menepis jauh-jauh perasaan anehnya itu. Tiba-tiba saja dia merasa kalau
poninya tersibak.
“ jidat lu panas
Gee. Kayaknya lu sakit beneran ,” kata Raphael ,sembari menempelkan telapak
tangannya di dahi Gee. Lagi-lagi pandangan mereka bertemu , dan kali ini wajah
Raphael begitu dekat dengannya. “ waah muka lu tambah merah ,”
“ GYAAAAA ,”
teriak Gee kaget sembari mundur menjauhi Raphael. Raphael melongo heran. “ lho
kenapa? ,”
“ eehh---lu
ngapain? ,” tanya Gee panik. “ ga ngapa-ngapain kok. Meriksa lu doang! ,” jawab
Raphael masih bingung. Gee sadar kalau
sikapnya mulai aneh, dan kalau pun dia berlama-lama disini malah akan menarik
perhatian teman-teman Raphael yang lain. Lalu Gee langsung bangkit , dan
berlari dari lapangan yang sudah sepi. “ kenapa dia?? ,” pikir Raphael.
Saat Gee sampai
dirumah, setelah pulang sekolah, dia langsung ambruk ditempat tidurnya.
Wajahnya masih merah sampai sekarang, dan itu bukan karena kesal habis ditolak,
tapi gara-gara bertatapan sama cowok ganteng. Gee langsung berjengit geli,
membayangkan bahwa dia tadi berpikir kalau Raphael benar-benar ganteng dan
keren meskipun sedang berkeringat, dan itu membuatnya....terpesona. “ Wakkk! Apa aku sudah gila?? ,” teriak Gee
dalam hati sambil mengejang-ngejang
diatas tempat tidur menahan rasa malunya. “ kenapa reaksi gue malah begitu? Gue
kan cowok? Ngapain juga deg degan ,”
Gee mulai resah, dan serba salah. Mau tidur ga
bisa, bangun pun cuma bengong, dan kalau udah bengong, yang dipikirkannya hanya
wajah Raphael , Raphael dan Raphael. Tak henti-hentinya dia memikirkan cowok
itu, membayangkan mata kecoklatannya yang begitu indah. Jantungnya pun masih deg-degan, dan mendadak
seperti oranag linglung. Gejala ini pernah ia rasakan sebelumnya,sama seperti
saat pertama kali melihat Aria, tapi kali ini rasanya lebih dahsyat. Mungkinkah
...
“ ga mungkin ,”
desis Gee meyakinkan dirinya sendiri kalau pikirannya itu salah. Bisa jadi ini cuma
gejala sakit biasa. Pikirnya . tapi...” matanya indah juga. Hupp,” buru-buru
dia menekap mulutnya. “ biacara apa aku ini??? apa barusan aku memikirkannya
lagi? Ya ampun, aku benar-benar sudah gila. Yeah aku gila....ga mungkin ini
perasaan suka. ,” tapi mau dia menyangkalnya sekuat apa-pun, tetap saja
bayangan Raphael yang begitu ramah padanya terus terbayang-bayang, seolah
seperti menerornya. Sampai beberapa kali Gee tersentak dari tidurnya dengan
wajah penuh keringat. Seperti habis mimpi buruk ,dikejar-kejar hantu yang
berwujud cowok ganteng, dan anehnya didalam mimpinya itu Gee malah dengan
senang hati di tangkap dan dipeluk oleh hantu itu. benar-benar mengerikan.
“ ini ga bisa
dibiarkan...ga..enggak. ini ga bener, Raphael itu cowok dan gue itu cowok. Gua
ga mungkin suka sama dia. Gua bukan gay, gua bukan penyuka sesama, ya , mungkin
gua Cuma depresi gara-gara ditolak Aria dan gue mulai gila ,” kata Gee
ketakutan sendiri. Dia pun bangkit dari tempat tidur menuju kamar lalu berendam
didalam air dingin.
Gee datang
kesekolah dengan tampang yang lebih kusut dari biasanya , ditambah rambutnya
yang acak-acakan itu, semakin membuat Gee terlihat menyedihkan. Febri yang
sudah di bangkunya, terlihat begitu simpatik dan penasaran dengan apa yang
sudah terjadi. Sampai Gee duduk , dia baru bertanya.
“ yo , ada apa?
,” Gee tidak menjawab dan malah menelungkup dimeja. Suara nafasnya terdengar
berat sekali. “ jadi...ditolak ya? ,” terka Febri.
“ lebih parah ,”
sahut Gee pelan. “ lalu? ,”
Gee menegakkan
tubuhnya susah payah-menatap Febri dengan tatapan memohon. “ sepertinya kemarin
sangat seru. Andai aja gua ada disitu ,” kata Febri sambil ketawa.
“ jangan ketawa
,” sunggut Gee muram. “ gue begini bukan gara-gara Aria ,”
“ terus? ,”
Gee diam saja,
sambil membayangkan beragam reaksi Febri jika tahu kalau dia suka sama Raphael.
“ ga. Ga apa-apa. ,”
“ kok gitu? ,”
tanya Febri kecewa. “ terus gara-gara apa lu jadi murung kaya gini? .”
“ gara-gara
nyokap gue ga ngasih duit jajan sama gue ,” kata Gee asal. Febri langsung
mencibir, dia tahu kalau Gee lagi bohong. Tapi,
Febri ga langsung menggubrisnya karena melihat Gee yang begitu sangat
tidak mood hari ini. jadi, dia memutuskan untuk tidak menyinggung-nyinggung
tentang masalahnya lagi sampai Gee sendiri yang cerita.
Sampai beberapa
hari, Gee belum juga menceritakan apapun sama Febri, dan sikapnya juga jadi
berubah. Gee sekarang menjadi penyendiri
dan terlihat murung, dia juga jadi nyuekin Aria, meski Aria sendiri yang
menyapanya. Mungkin sudah sakit hati. Tapi, keanehan lain mulai terlihat pada
Gee , saat dia bertemu Raphael diberbagai kesempatan.
Gee jadi sering
panik sendiri kalau berpapasan sama Raphael, salting dan suka salah ngomong.
Ditambah sikap Raphael yang suka perhatian , baik dan ramah sama Gee, membuat
Gee makin ga sanggup buat menyangkal tentang perasaannya itu. Sebenarnya dia
menikmati momennya saat bersama Raphael, tapi dalam hati dia terus berteriak,
kalau semua itu salah! Dia ga boleh suka sama Raphael. Dia normal. Tapi itu
hanya bersuar didalam hati, sisanya dia senang bisa dekat-dekat dengan Raphael
, apa lagi saat dia bisa bergabung dalam club basket.
“ oke gue akui,
gua suka sama cowok itu ,” kata Gee didepan cermin. Dia memandang
bayangannya sendiri, dan mengoreksi
setiap sudut wajahnya. Ga jelek-jelek amat. Ganteng malah. Gee terkekeh sendiri
sambil menyisir rambutnya, tapi disisir sesering apapun rambutnya akan tetap
berantakan. Dia memandang cermin sekali
lagi, memastikan kalau penampilannya sudah oke. Lalu pergi keluar.
Hari ini Raphael
dan yang lain mengajak Gee nobar disebuah kafe untuk menyaksikan pertandingan
La liga. Kesempatan ini tak mungkin Gee lewatkan. Dengan senang hati dia
menerima tawarannya itu, apa lagi Raphael sendiri yang mengajaknya. Gee girang
sekali, bahkan dia sampai melompat-lompat dikamar. Penampilan Gee sangat macho
saat itu, mungkin kalau dari sudut pandang cewek, Gee bisa dibilang cowok kece
dan keren, tapi itu sudah tidak penting lagi. Dia sudah tidak tertarik. Yang
sekarang membuatnya tertarik adalah...” Raphael! ”. Gee memanggil cowok itu,
dan yang dipanggilnya langsung menoleh sambil melambai diantara kerumunan orang
dikafe.
Disana Raphael
dan teman-temannya sudah menunggu. Mereka sudah ada disana 20 menit yang lalu
untuk membooking tempat. Raphael dengan coolnya memakai jumper coklat dam
celana jeans yang sobek dibagian lutut, kepalanya memakai kupluk warna hitam.
Cuma Raphael yang Gee perhatikan, sampai mereka masuk kedalam kafe. Beberapa
menit kemudian pertandingan mulai, dan dalam beberapa detik saja, semua
pengunjung hanyut dalam ketegangan pertandingan yang sedari tadi imbang 0-0.
Mereka bersorak, berderu, dan sesekali kecewa ketika masing-masing pemain
jagoan mereka nyaris mencetak gol. Gee yang saat itu matanya terpaku pada layar
besar, hanya bisa memukul-mukul kesal kemeja, sementara jagoannya terus
diserang. Dan saat jagoan Raphael menggiring bola, meliuk-liuk melewati
beberapa pemain lawan, lalu tanpa tunggu lagi, melesat kedaerah kotak penalti,
pemain nomor 7 itu pun mencetak gol hebat kegawang lawan, diikuti sorakan heboh
penonton yang melepas luapan emosi kebahagian mereka saat tim jagoan mereka
menang, Raphael yang kegirangan tanpa sadar memeluk Gee yang sedang kecewa.
Dengan wajah terkejut Gee cuma diam membatu membiarkan Raphael memeluknya erat
dalam euforia yang menggebu-gebu, tapi tak lama Raphael melepas pelukannya itu
dan ganti memeluk temannya yang lain sambil berjingkrak senang.
Gee masih
terpaku, matanya bergerak cepat kesegala arah, dan dia merasa kalau jantungnya
berdegub kencang menyakitkan. Mulutnya kering kerontangan, matanya tak
berkedip, dan nafasnya tertahan beberapa saat. Dia seperti sedang kerasukan ,
Cuma diam termangu diantara orang-orang yang ramai bergembira. Lalu tanpa sadar Gee berkata: “ Raphael, gua
suka sama lo ,” dan begitu pertandingan berlanjut, semua penonton kembali
tenang dalam ketegangan.
“ ahhh kasian
deh lu kalah. Inget ya taruhannya, yang kalah harus nelaktir makan yang menang
,” tutur Raphael sambil nyengir sama Gee dan temannya yang mendukung Barcelona.
Hati Gee
mencelos, sekaligus lega. Barusan dia baru saja menyatakan perasaannya pada
Raphael. dan untung saja dia tidak dengar. Huuuuhf....Gee membuang nafasnya
berat. kali ini selamat, ga kebayang tadi kalau dia nekat nyatain perasaannya
ke Raphael. mungkin dia bakal langsung bunuh diri.
“ eh, tadi
kayanya lu bilang sesuatu. Apaan? ,” tanya Raphael tiba-tiba. Gee menoleh
cepat, dan langsung melongo kaya orang bego. “ ahh---.”
“ GOOOOL! ,”
teriak salah satu penonton, diikuti yang laiinya. Semua melonjak dari kursi
penonton termasuk Raphael saat Real
Madrid mencetak gol lagi berkat sontekan cantik Cristiano Ronaldo. Dan
lagi-lagi Gee terselamatkan oleh gol itu. Biar deh, kalah-kalah sekalian dari
pada Raphael curiga.
Sampai
pertandingan selesai , Gee diam membisu. Sementara Raphael lupa sama
pertanyaannya tadi dan malah sibuk berdiskusi ngomongin bola sama
teman-temannya.
Gee manatap
langit malam yang gelap tanpa bintang. Awan-awan hitam memenuhi langit yang
seharusnya cerah dimalam minggu. Sama seperti hati Gee yang kelabu. Yang sedang
sendu karena keserbasalahannya yang menyelimutinya. Antara logika dan perasaan.
Rasional dan irasional. Ga tau lagi apa...pokoknya malam itu Gee lagi galau
total. Mereka berlima berjalan menuju parkiran, karena tadi nebeng sama Rico,
Gee jadi nungguin dia dulu menelpon. Sementara ketiga temannya yang lain sudah
duduk siap-siap dimotor. “ sory Gee, cewek gue minta jemput. Lu bareng yang
lain deh ,” katanya membuat Gee kecewa. “ ah serius lo...bareng siapa? Ga ada yang searah sama gue ,” cetus Gee . Rico
Cuma angkat bahu sambil sekali lagi minta maaf. Lalu dengan berat hati Rico
pergi duluan, dengan jok kosong dibelakangnya yang diganti sama satu helm.
“ udah , bareng
gua aja.,” ajak Raphael sambil menyodorkan satu helm cadangannya. Gee
terkesima, namun langsung buru-buru berpaling sambil menyambar helm itu tanpa
memandang Raphael-duduk dibelakang dan pakai helm full face. Raphael menyalakan
mesin motornya, lalu mereka pun meluncur dari parkiran ke rumah Gee.
Disepanjang perjalanan mereka saling diam. Gee diam karena grogi dan
menyembunyikan wajahnya dari balik helm, sementara Raphael diam karena perutnya
yang tiba-tiba mules. Mungkin salah makan tadi. Yaah pokoknya kesalah pahaman
ini membuat keduanya makin akrab untuk beberapa minggu. Sampai salah satunya
membuat bencana besar. Dan membuat hubungan mereka sebagai teman merenggang.
Dua minggu
kemudian. Setelah UN, mereka mengadakan acara pentas seni di sekolah untuk
merayakannya. Dan Gee menyibukkan dirinya sendirr dengan menjadi panitia acara.
Tapi sesibuk apapun, dia tetap masih dibayangi oleh perasaan menakutkannya,
yaitu jatuh cinta sama Raphael. hal mengerikan itu masih terpeta dibenaknya
sampai sekarang, dan masih membebani pikiran dan perasaannya. Sampai, ketika
menjelang acara pentas seni dimulai.
Di kelas...
“ apa lagi
sekarang? Otak lu udah rusak ya! ,” cecar Febri waktu Gee keceplosan mengatakan
mau mengungkapkan perasaannya itu pada Raphael—Febri langsung berjengit ngeri.
“ mungkin gue emang gila. Tapi gua ga kuat lagi , Feb ,” balas Gee putus asa. “
Gua harus ngomingin ini biar hati gua tenang. ,” tambahnya.
“ tapi--,”
Tiba-tiba
terdengar suara langkah kaki memasuki kelas. Febri dan Gee langsung menoleh
cepat kearah pintu yang terbuka dengan tatapan ngeri. Dan muncullah...
“ hemm...gua
kaget waktu denger itu, tapi akhirnya gua ngerti perasaan lu, Gee ,” kata Aria
tiba-tiba, membuat Gee mau pun Febri terpekik kaget. “ Aria??? ,”
“ tenang. Gua ga
akan bilang-bilang kok. Rahasia lu aman sama gue ,” katanya santai. “ well,
tapi...dalam masalah ini, gue rasa lu emang harus ngungkapinnya langsung, dari
pada terus dipendam-pendam. Yang ada malah nyiksa diri lu sendiri. Ya, kan? Dan
gue yakin kalau Raphael denger ini, meski dia kaget setengah mati, dia pasti
bakal ngerti. ,” ujar Aria yakin. “ katakan saja, dan lu nggak akan menyesel di
kemudian hari. Resiko sebesar apa-pun, lu harus terima, ini demi kebaikan lu
sendiri ,” mendengar itu, Gee sedikit mempertimbangkannya. Ucapan Aria memang
benar, selama ini Gee selalu menyembunyikan terus, dan menanggung semua siksaan
yang tak berkesudahan itu. Mungkin ini waktu yang sangat tepat. “ lagian
sebentar lagi kita lulus, dan kalau lu malu setelah mengungkapinya, lu bisa
langsung menghilang aja , kan? ,” tambah Aria, seolah membaca pikirannya.
“ Enggak! Enggak
bisa, Gee ga boleh ngelakuin itu! ,” sergah Febri tak setuju. “ lu ga malu apa?
,” semburnya cemas pada Gee. Gee tertunduk , dan saat itu juga emosinya meluap.
“ dimana dia? ,”
tanyanya tiba-tiba. Febri mendelik curiga. “ mau ngapain lu? ,”
“ dimana dia
sekarang?! ,” tanya Gee lagi pada Aria, seakan mengabaikan Febri. “ dia di
ruang Radio ,” jawab Aria . “ dia sendirian kok disana. Lagi ngecek komputer ,”
Dan tanpa
menunggu reaksi Febri yang ingin mencegahnya pergi, Gee langsung bergegas
keluar kelas menuju ruang radio. Disana, dia langsung menemui Raphael yang
tengah sibuk mengutak-atik komputer.
Raphael
menyadari kadatangannya, dan langsung menoleh sebentar sambil menyunggingkan
senyuman. “ oi—Gee. Ada apa? ,” sapa Raphael ramah. Gee terdiam sesaat didepan
pintu, lalu segera mengingat maksud kedatangannya kemari. “ gua mau ngomong,
Hel. ,” bisik Gee buru-buru.
“ ngomong aja ,”
sahut Raphael santai , matanya masih terpaku pada layar komputer.
“ ini penting ,”
Gee menambahkan. Mendengar kata ‘penting’, akhirnya Raphael berpaling dari
komputer lalu berbalik menatap Gee yang sedang tertunduk dihadapannya. “
iyaa—apa? ,”
“
gue...sebelumnya gua minta maaf. Dan tolong jangan dipotong dulu sebelum gue
selesai bicara ,” Gee memberi tahunya. Raphael nampak bingung namun tetap
mengangguk setuju. “ oke ,”
Gee menghela
nafas panjang, yang terasa menyesakkan didadanya. Lalu menguatkan dirinya
sendiri dengan mengangguk mantap, dan mulai bicara....
Dia mengakui
perasaanya pada Raphael. Semuanya. Dari awal, sampai akhir. Tak ada yang
terlewat sedikit pun. Raphael pun mendengarkannya tanpa mencela, meskipun
ekspresinya sudah sangat abstrak dan tidak bisa dijelaskan lagi dengan
kata-kata. Mungkin seperti ekspresi jijik dan mau muntah, yah—seperti itulah
barangkali.
Raphael keliatan
syock dan ngeri, mirip reaksi Febri waktu pertama kali mendengarnya, tapi,
sebagai seorang cowok populer, dia pun tak langsung menghujat Gee karena sudah
mengatakan hal yang begitu mengejutkan. Dia, dengan bijak, menjelaskan semua
kesalah pahamannya itu pada Gee, dan menganggapnya sebagai pengakuan kasih
sayang seorang sahabat kepada sahabatnya.
Gee pun mengerti dan sadar kalau tidak mungkin mereka bersama-sebagai
pasangan homo-seperti yang ia bayangkan, tapi dengan begitu Gee sudah merasa lebih
baik , dan bebannya pun terangkat sepenuhnya. Dan mereka pun tetap berteman.
Kembali ke
kelas...
Febri terkejut
mendengar suara speaker berbunyi dikelas yang berasal dari radio. Begitu juga
dengan semua murid yang sedang berada dikelas, kantin, maupun lapangan sekolah.
“ Ah—kena deh ,”
seru Aria senang. Febri langsung berpaling ke Aria, dan mendapati cewek itu
sedang tertawa licik. “ benar-benar seru! Ga sabar pengen ngeliat ekspresi
anak-anak yang tahu kalau Gee itu Homo!!! ,”
“ ARIA???? LU
SENGAJA? ,” sentak Febri marah. “ KELEWATAN LO!!! ,” Tanpa dosa, Aria malah tertawa-tawa
senang sambil kabur dari kelas. Dan ketika Febri hendak mengejarnya, ternyata
seluruh siswa sudah ramai berbondong-bondong keluar kelas memenuhi balkon. Dari
lantai satu, dua , tiga, mereka semua terlihat terkejut dengan yang mereka
dengar dari radio, dan tidak sedikit yang tertawa dan mencemoohnya. “ hah? Gee
kok suka sama Raphael? hahah ga sangka dia Homo!! ,” kata salah satu dari
anak-anak yang berkerumun kepada temannya, mereka berdua langsung cekikikan. “
ngapain dia ngumumin di radio? Ga tau malu ,” timpal Glend , tertawa ngakak. “
Gee? Siapa sih dia? Kok bangga banget kalau dia Homo? ,” dan masih banyak lagi
komentar anak-anak tentanng peristiwa itu. Mereka pun tak segan-segan
mendatangi ruang radio dan menghujat langsung Gee dengan berbagai ledekan yang
pedas dan olok-olok berlebihan yang membuat Gee nyaris ingin bunuh diri saat
itu juga--dengan kagetnya melihat anak-anak berkerumun memenuhi area lorong
sekolah.
“ sial!!! Ini.
cewek brengsek itu.... ,” rutuk Febri murka. Tak terima temannya dipermalukan.
Tapi, apa yang bisa ia perbuat lagi? Toh semuanya sudah terjadi, dan wajah Gee
takkan bisa di selamatkan dari rasa malu yang teramat sangat.
Mulai detik itu,
Gee sudah di cap sebagai homo oleh semua teman-temannya, terkecuali Febri. Tak ada
julukan lain yang lebih menyakitkan dari pada julukan itu. Bahkan nama Gee
bukan lagi Ge Dee, tapi Gee G, yang disingkat : Gee-Gay atau Gee-Homo.
Benar-benar kejam.
Gee tak pernah
terlihat lagi semenjak kejadian itu. Dia juga tidak hadir di acara perpisahan
dan penerimaan ijazah. Dia menghilang entah kemana, tanpa kabar. Anak-anak yang
masih mengejek Gee bilang kalau Gee mati bunuh diri gara-gara ga kuat nanggung
malu.
Raphael yang
juga menghilang beberapa hari, muncul kembali disaat acara perpisahan. Dia
sudah pulih dari syock nya yang juga dianggap homo, tapi ga separah seperti
yang dialami Gee, karena pada saat itu Gee lah yang mengakui perasaanya duluan,
dan orang-orang juga dengar kalau Raphael mencoba menjelaskan keadaan yang
sebenarnya. Raphael dan Febri yang khawatir akan keselamatan Gee, mencari-cari
kabar tentangnya. Tapi sampai detik ini mereka tidak tahu Gee pergi kemana.
Temannya itu pergi tanpa pamit.
Gee yang
sekarang, tersentak dari lamunannya yang mengerikan itu, menggeleng-geleng
beberapa kali untuk menjernihkan pikirannya kembali. Kemudian, matanya
mengerjap-ngerjap, sambil mengamati kesekelilinya kamarnya . Lalu Gee bangun
dari duduknya, lantas segera menyelesaikan membersihkan kamarnya, kemudian
tertegun kembali di sisi jendela. Dia melamun lagi.
Dulu dia cowok
normal. Sampai sekarang pun, dia yakin kalau dia normal , tapi kenapa ya dia
sempat suka sama Raphael? padahal, kalau dia emang penyuka sesama jenis,
seharusnya dia sudah suka sama Raphael sejak dulu! Tapi Gee tak berusaha menyangkalnya
lagi, sampai detik ini perasaannya masih sama. Tak berubah. Yang berbeda
hanyalah, sekarang Gee berusaha menyembuhkan hatinya dengan kehadiran seorang
wanita. Dia adalah Dhea.
Gadis yang ia
temuinya di kampus. Dhea sudah sudah tahu seluk-beluk dan masa lalu Gee,
termasuk masa lalunya yang memalukan itu. Tapi, Dhea tak keberatan. Dia bisa
menerima Gee apa adanya, dan menganggap itu semua sebagai masa lalu.
Dia dan Dhea
sudah berpacaran selama setahun. Semakin lama Gee semakin menyayangi gadis itu.
bukan hanya cantik, tapi dia juga sangat pengertian dan baik. Terlebih lagi,
dia tidak pernah menyinggung-nyinggung masa lalu Gee atau membicarakan hal yang
membuatnya tidak nyaman. Semuanya berjalan lancar, sampai, pada suatu hari ,
dia dipertemukan lagi dengan cinta pertamanya.
Dia bertemu Raphael lagi saat sedang kencan
dengan Dhea di sebuah restoran. Saat itu juga, Gee melihat Raphael sedang
bersama seorang wanita. Siapakah dia?
Gee ingin
langsung pergi dari restauran itu dan mencari tempat lain. Tapi urung ketika
Raphael dengan lantang memanggilnya.
“ Gee!!!! ,”
Gee Cuma bisa
terperangah dengan wajah tegang tersembunyi dibalik daftar menu. Dhea hanya
kebingungan melihat tingkahnya. Detik berikutnya suara langkah Raphael
terdengar mendekat kearah meja mereka, diikuti suara sepatu hak tinggi seorang
wanita.
Lalu apakah yang
akan Gee lakukan?
0 komentar:
Posting Komentar