BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS »

Minggu, 05 Oktober 2014

Rough Secret. Chapter 2. “ Kesepakatan “




Sepulang dari sekolah, Arina tidak langsung mengganti baju, dia langsung melempar tubuhnya ke kasur seraya mendesah tak nyaman. Dia masih syock dan heran dengan kejadian tadi sepulang sekolah. Dia melihat orang bisa menghilang. Di depan matanya kemudian cowok itu muncul lagi.
“ gak mungkin ,” sentaknya, terbangun dari tidur. Wajahnya penuh dengan peluh, dan tak terasa dia meremas seprai tempat tidurnya.
“ bagaimana mungkin??? ini pasti ada yang tidak beres. Lalu...kenapa mereka menunjukannya padaku? Jangan-jangan mereka berniat buruk lagi ,” desis Arina masih tidak percaya. Kemudian tak beberapa lama, pintu kamarnya di ketuk dua kali. Ibunya, menyuruhnya keluar untuk makan malam.
Arina masih linglung saat turun dan duduk di meja makan. Orang tuanya yang memperhatikan saling pandang, dan kemudian menegurnya.
“ ada apa Arina? Kau terlihat lesu? ,”
“ tidak apa-apa ,” jawabnya menggeleng. Ayahnya terus mengawasinya tanpa berkata apa-apa kemudian melirik istrinya yang kelihatan sama cemasnya.
“ apa hari pertamamu di sekolah berjalan lancar? ,” tanya beliau lagi.
Arina mendongak dari piringnya, berusaha tersenyum. “ baik-baik saja , Bu....menyenangkan malah. Nana sudah dapat teman baru ,”
Ibunya mengangguk ragu, begitupun dengan suaminya, kemudian mereka bertiga makan dalam diam.

Keesokan harinya. Sebenarnya Arina enggan sekali masuk, tapi dia sudah berkata kepada Ibunya bahwa dia akan kesekolah hari ini. dan tidak mungkin juga dia beralasan sakit tiba-tiba.
Dia masih takut bertemu dengan orang-orang aneh itu. Jadi, dia berusaha untuk ke kelas sepagi mungkin agar tidak bertatapan dengan mereka. Takut ada hal aneh yang terjadi lagi, Arina langsung duduk di kelasnya bersama Franka.
“ pagi sekali kau datang.,” sapa Franka.
“ yah aku selalu datang pagi ,” kata Arina. Tak lama hal yang di takutkannya muncul. Julius dan kedua temannya muncul di ambang pintu. Mereka berjalan lurus tanpa mengacuhkan Franka maupun Arina yang sudah beringsut ketakutan, seolah tidak ada siapa-siapa di kelas itu dan tidak terjadi apa-apun antara Arina dan mereka. Mereka lalu duduk berderet. Diam, dan tak melakukan apapun selain menatap lurus papan tulis.
“ ke kenapa dengan mereka? ,” bisik Arina ke Franka.
“ mereka memang begitu! Dingin dan kaku, apa lagi si Julius, dia begitu sinis dan dingin, tapi kemarin entah kenapa, dia jadi berbeda padamu? ,” Franka bertanya penasaran. Arina mengernyit geli.
“ aku juga tidak tahu maksudnya apa...tapi pas sepulang sekolah dia...,” Arina terhenti ragu, bimbang apakah dia perlu memberitahu Franka soal keanehan Julius kemarin atau tidak.
“ Julius? Dia ngapain? ,” desaknya ingin tahu.
Arina lantas menggeleng sambil melirik barisan bangku paling belakang yang nampak mengawasinya tajam. “ tidak-apa-apa ,” ujar Arina nyaring, seolah memberi tahu mereka bertiga juga. “ Julius hanya berpapasan denganku ,”
Bel pun berbunyi. Dan pelajaran segera di mulai.
Entah hanya perasaannya atau memang benar, rasanya Julius terus saja memperhatikannya meski Arina sudah berusaha cuek dan tidak menengok ke belakang. Tapi yang membuat dia tidak nyaman adalah cengiran Joe , di sebelah kirinya yang terus saja mengganggu, dan di sebelah kanannya, Reena memasang mata mengancam setiap kali dia menoleh sediki kearahnya.
Arina sungguh dilema, dia ingin sekali pindah , tapi tempat duduk tidak ada yang kosong dan mau tak-mau dia harus menghabiskan dua jam pelajarannya dengan duduk tegak menghadap kedepan.
Akhirnya, dia pun muak. Arina memberanikan diri untuk bertanya langsung dengan Julius ketika jam istirahat. Julius sedang berdiri di balkon di depan kelas. Joe dan Reena sedang tidak ada.
“ Ju—Julius ,” panggil Arina gagap. Julius tak menoleh, malah bersandar di tepi balkon. “ apa? ,”
Arina terpaku, beberapa saat dia memandangi punggung Julius yang begitu tegap dan gagah. Tapi dia langsung menggeleng keras, fokus dengan niatnya semula. “ bi..bisa kita bicara? Aku ingin tanya sesuatu ,” Julius baru menoleh, itupun hanya sedikit. Tatapannya kembali dingin, seolah Arina sudah menganggu ketenangannya. “ biacralah... ,” ucap Julius lirih.
Dengan perlahan Arina melangkah ke sebelah Julius. Langkahnya begitu lemah karena grogi.  Kini Arina sudah di samping Julius. Dia diam beberapa saat sampai Julius berdiri kembali. Arina merasa Julius tidak lah tinggi, mungkin lebih tinggi Joe beberapa centimeter. Rambut Julius yang agak gondrong dan keriting tertepa angin, terlihat sangat cocok dengan wajahnya yang serius sehingga memperlihatkan sisi maskulinnya yang baru Arina sadari ketika berdekatan dengannya.
“ apa yang ingin kau bicarakan? Apa tentang kejadian kemarin ,” tanya Julius tanpa memandang Arina.
“ aku masih syock ,” gumam Arina.
“ tentu, dan wajar saja...mana ada orang yang bisa mengilang begeitu saja, dan bisa melihatmu meskipun dari jarak yang sangat jauh ,” kata Julius. Arina mengangkat alisnya bingung.” Melihatku dari jarak jauh? ,”
“ disini, Reena bisa melihat kita meski dia ada ditempat yang jauh, dan itulah kemampuannya. Aku bisa bertransportasi sedangkan Joe, dia punya tulang super kuat bagaikan baja dan kulitnya bagai kulit naga ,”
Arina  melongo dan matanya melotot. “ aaa omong kosong apa lagi ini? ,” pekiknya frustasi.
“ kau ingin tahu lebih lagi kan? Ikutlah denganku ,”
Takut tapi penasaran, Arina mengikuti Julius ke sebuah lorong. Lorong itu agak gelap dan berantakan. Banyak bangku-bangku rusak, alat pel dan peti-peti kosong yang bertumpukan di sudut  lorong. Arina berlari kecil untuk mengimbangi langkah kaki Julius yang panjang, meskipun begitu sepertinya Julius berusaha sepelan mungkin berjalan.
“ mau kemana kita? ,” tanya Arina tanpa sadar menggenggam tangan Julius. Julius melirik lenganya, dan Arina buru-buru melepas pegangannya dengan wajah memerah.
“ kita ke markas ku ,” jawabnya singkat.
Dan sampailah mereka , didepan sebuah pintu yang sudah berkeropengan catnya dan di selubungi sarang laba-laba. Seperti pintu gudang, tapi setelah Julius membukanya, ruangan itu seratus kali lipat berbeda dengan apa yang ia pikirkan. Di dalam sangat rapih dan wangi. Membuat Arina sedikit lega.
“ woow, aku tidak tahu ada ruangan seperti ini disini ,” ujarnya takjub. “ seperti gaya vampire, serba merah ,”
Julius tersenyum. Dan senyum pertamanya yang sungguhan. Bukan lagi menyeringai. “ masuklah ,”
Di dalam ternyata ada Joe. Dia sedang duduk di sofa panjang yang kelihatannya nyaman. Joe nyengir lagi waktu Arina masuk dan berdiri di hadapannya. Di depan sebuah meja baca, duduklah Reena yang tengah membuka-buka buku besar, tertunduk-terpaku pada halaman yang sedang ia baca.
“ lama sekali Julius, kupikir kau tak datang ,” kata Reena tanpa mendongak. Julius menutup pintunya kemudian duduk di sebelah Joe.
“ aku sedang menunggu Arina, dan kebetulan sekali dia ingin bicara denganku ,”
“ lalu kenapa kau bawa kemari? ,” tanya Reena dingin.
“ ku pikir ada hubungannya dengan tawaran kita yang kemarin ,” terka Julius, terhenyak di sofanya.
“ waah aku jadi tak sabar ,” celetuk Joe. “ kira-kira si cantik Arina ini bisa apa ya? ,”
Arina langsung menggeleng. “ whoa-whoa...tunggu dulu! sebelum kalian melanjutkan pembicaraan yang aneh ini, boleh aku tahu, apa maksud kalian ? dan organisasi apa sih yang kalian maksud? Dan apa hubungannya denganku? ,”
Julius dan Joe saling pandang. Reena lalu menutup bukunya jengkel, kemudian mendekati Arina.
“ dengar Arina...kami adalah S.O . Special Orphans. Dan kau tahukan maksud kata orphan itu? kami adalah anak yatim piatu yang tidak tahu apa-pun asal usul kami, siapa yang melahirkan kami dan apa tujuan kami di lahirkan. Dan...yang membuat kami di sebut special adalah karena kemampuan kami yang tidak di miliki oleh manusia biasa. Contohnya Julius, dia bisa berpindah-pindah tempat semaunya, dia bisa mengendalikan gravitasi, dan Joe, dia punya tulang yang kuat dan kulit yang keras seperti kulit naga, takkan terluka meski kau sayat dia dengan belati. Aku...,” Reena sedikit enggan mengatakannya, namun setelah menarik nafas panjang dia lalu melanjutkan. “ aku bisa melihat dengan mata orang lain di mana pun dia berada. Kemampuanku mendeteksi orang-orang yang seperti kita, aku bisa tahu keberadaan S.O dengan mata ketiga ku! ,”
“ mata ke tiga? ,” potong Arina kaget. “ maksudmu? ...,”
“ yeah...aku punya mata ke tiga, yang bisa menghubungkan mataku dengan mata orang lain. Dengan telapak tanganku, aku bisa menggunakan mata siapa saja untuk melihat apa yang mereka lihat. ,” Reena menjulurkan telapak tangannya ke Arina. Arina bisa melihat sebuah tanda lingkaran hitam  seukuran koin di tangan Reena. Dia memperhatikannya tanpa tahu apa maksudnya, membuat Reena terlihat jengkel lagi. kemudian dia menarik tangannya itu, sementara tangan kirinya perlahan terangakat, hendak menyeka poninya yang tebal menutupi dahi. Reena terlihat ragu ketika ingin menyeka poninya, seakan ada sesuatu yang cukup mengerikan disana. Arina nampak penasaran, sementara Joe dan Julius mengamati dengan seksama.
Reena menyibakan poninya. Di dahinya tampak kerutan aneh menjijikan yang tertutup seperti sebuah pelupuk. Agak menonjol dan banyak urat-urat kecil di sekelilingnya.
Arina menahan pekikannya. Dia tidak mau membuat Reena tersinggung kalau dia kelihatan ketakutan. Jadi dia berusaha sebiasa mungkin.
“ apa itu...mata ketigamu? ,”
“ ---ya...seperti ini lah. Mata ini akan selalu tertutup jika tidak ku tempelkan  tangan kananku. Mata ini hanya ku gunakan di saat genting ,” kata Reena menjelaskan.
“ maaf sebelumnya, apa itu dari lahir? Dan apa ada orang lain yang pernah melihat matamu? ,” tanya Arina takut-takut. Reena menyembunyikan mata itu dengan poni lagi, lalu mendesah. “ ya, dari lahir. Waktu itu ada anak kecil yang melihat mataku, dan dia langsung menjerit ketakutan. Dia menyangka aku hantu ,”
Arina agak bersimpati, baru kali ini dia melihat ekspresi Reena yang sendu selain tatapan mengancam dan sinis.
“ dan, sebenarnya masih banyak lagi S.O di seluruh dunia ini, dengan beragam kemampuan. ,” sambung Joe. Arina memandangnya sebentar lalu beralih ke Julius yang balas menatapnya.
“ lalu kau ingin bicara apa? ,”
“ kalau ini semua tentang S.O yang kalian maksud, lalu apa hubungannya denganku? ,” tanya Arina tajam “ kenapa kalian pikir aku sama dengan kalian? ,”
Sesaat Julius nampak terdiam, lalu kemudian dia berdiri di depan Arina dengan kedua tangannya tersembunyi di saku. “ karena kau ada di dalam mimpiku...kau muncul di tahun ini , ke sekolah ini, dan akhirnya bertemu kami meskipun kau tidak menyadari siapa kau sebenarnya ,”
Mata Arina melotot dan mulutnya sedikit menganga. Pikirannya di hujani bermacam-macam penjelasan dan pertanyaan yang takkan pernah bisa memuaskan rasa penasarannya pada ketiga orang ini.
“ aku yang salah dengar atau aku mulai sinting? ,” katanya mendadak frustasi. “ jujur saja aku masih sulit mempercayai ini! ,”
“ dan aku juga ,” timpal Reena ketus. “ Julius ngotot sekali kalau kau orangnya. Bahkan ku pikir kau bukanlah S.O dan kau 100% gadis biasa ,”
“ Nah, itu baru benar ,” tukas Arina senang ada yang sependapat dengannya.
“ jadi selama ini kau tinggal sama siapa? ,” tanya Joe tiba-tiba. Arina mengernyit, seolah pertanyaan Joe ini konyol sekali.
“ ya tentu saja sama kedua orang tuaku! ,”
“ masalahnya semua S.O tidak punya orang tua Arina, dan bagaimana bisa orang tua mereka bertahan setelah melahirkan anak seperti kita Julius? ,” tanyanya kemudian beralih ke Julius. “ apa kau ingat tentang penyihir wanita yang di kutuk? Mana mungkin kalau dia S.O ,” tukasnya yang kini mulai setuju dengan pendapat Reena.
“ hemm, maaf sekali Arina, apakah mereka betul orang tua kandungmu? ,” tanya Julius sopan.
“ ya ,”
“ kau yakin? ,” sambung Joe.
“ tentu saja. Apa perlu ku buktikan? ,” tantang Arina mulai jengkel. Julius dan Joe saling lirik, kemudian seperti mendapat ide.
“ buktikanlah...kalau kau memang anak kedua orang tuamu, maka kami tidak akan mengganggumu lagi, dan kami akan memperlakukanmu dengan baik. Jika tidak...,” Julius tersenyum tipis puas. “ kau harus menuruti apa yang kami mau, dan kau tidak boleh menolak. Bagaimana? ,”
Arina nampak mempertimbangkan tawaran itu. meskipun tidak begitu menguntungkan baginya , toh dia masih heran kenapa Julius meragukan orang tuanya, dan bersikeras bahwa dia adalah sejenis dari mereka. sampai beberapa saat terdiam, akhirnya Arina memutuskan. Dia mengangguk sebagai tanda setuju. Julius menjulurkan tangannya untuk meresmikan kesepakatan mereka, dan dengan berat hati Arina menyambar tangannya dengan wajah jengah.
“ setuju! ,”

0 komentar: