Ini adalah kisah fiktif! antara seorang gadis biasa dengan seorang cowok misterius. yang takkan pernah terjadi di dunia nyata. berawal dari pertemuan mereka yang aneh. tak terduga. membuat gadis itu menjadi berbeda dan menyadari keberadaan dirinya sendiri dan orang-orang yang ia kenal di sekolah itu.
part 1. si Cowok aneh dan teman-temannya
suasana hening di kelas. saat pelajaran tengah berlangsung.
drap-drap ( terdengar suara langkah kaki gontai masuk ke kelas-kemudian membuka pintu )
beberapa anak menoleh, melihat dia, tapi tak begitu lama, langsung berpaling lagi ke buku bacaan mereka. tak begitu tertarik, begitu pun dia, yang sekarang melangkah ke arah barisan bangku paling belakang dengan santainya. dia duduk tanpa suara, lalu mengikuti yang lainnya membuka buku-tapi tak di baca.
sesaat kemudian, seorang guru datang . beliau wali muridnya. bertubuh gemuk dengan kepala botak . dia tak sendiri, melainkan bersama seseorang. mengikutinya gugup dengan wajah tertunduk salah tingkah. gadis itu tak berani menatap kedepan.
dia mungil, putih dan berwajah lucu. rambutnya panjang sepinggang, hitam dan mempunyai poni yang rata menutupi dahinya.
cowok itu ( yang tadi baru masuk ke kelas ) mendengak memperhatikan si cewek. tak berpikir sesuatu. dia kemudian melirik kanan-kiri meja temannya yang nampak sama tengah memperhatikan sosok gadis di depan kelas.
" heh bagaimana? ," tanya yang di sebelah kanannya. si cowok cuma anggkat bahu. masih diam.
" menurutku bukan dia ," ujar cewek di sebelah kirinya. dia bernama Reena. agar bisa membedakannya dengan gadis di depan, dia merupakan teman si cowok.
" kenapa kau berpikir begitu ," bisiknya.
" entahlah...aku tidak merasakan energynya ," jawab Reena datar. si cowok menganggung pelan, kemudian berpaling ke sebelah kanannya. ekspresi Joe senang sekali. matanya tak lepas memperhatikan gadis itu.
" Reena salah! aku yakin dia orangnya. ," kata Joe membisikinya dari sudut bibir. " kau lebih percaya aku kan! ,"
" ohh-aku tak tahu juga...tapi kurasa dia ini tipe yang berbeda. baiklah, usahakan kau mengajaknya berkenalan. buat dia berteman dengan kita ," Reena langsung mencoleknya. membuat si cowok kesakitan.
" apa? ,"
" seharusnya aku yang kau suruh! aku kan cewek! kalau Joe yang mendekatinya, aku yakin dia gak bakalan mau temenan sama kita, kau lihat sendirikan Joe itu sikapnya kayak gimana ," cetus Reena mendesis. Joe langsung menoleh tersinggung. melirik Reena menantang. Reeena balas melototinya.
" sudah hentikan! ," kata si cowok yang di tengah. mereka berdua langsung buang muka.
pak guru memperkenalkan gadis itu. dan gadis itu pun memperkenalkan dirinya sendiri dengan canggung.
" Arina namanya ," gumam Joe senang. matanya berkelit-kelit dengan senyum menyeringai.
" hentikan Joe. jangan menyeringai begitu ,"
" aku tersenyum bukan menyeringai ," balasnya jengkel.
" wajahmu seperti mengancamnya, mencurigakan! ," tutur Reena asal.
sementara mereka berbisik-bisik. si Arina sudah berjalan menuju bangku kosong yang tak jauh dari mereka bertiga.
dia memandang cowok itu. lama, dan akhirnya melirik Reena dan Joe yang nampak suram dan mencurigakan. Arina lekas duduk. cepat-cepat langsung membuka buku, mengalihkan perhatiannya.
dia masih gugup dengan tatapan anak-anak.
" ssst-ssst, Julius! ," panggil Reena.
" apa? ,"
" kau saja yang menyapanya! ,"
Julius ( si cowok ) menggeleng lugu. " tidak ah ,"
" ah payah! kau kan dekat sekali dengannya ," desisnya lagi.
" kau yang mau tadi, kan ," jawab Julius tak mau kalah, bedanya dia membalas tanpa ekspresi.
" masa bodo! ," celetuk Reena sambil berpaling. dia tak mau melakukannya padahal dia sendiriyang mengajukan diri.
Julius merasa gengsi. tak mungkin dia menyapanya duluan. lagi pula Arina tidak menoleh kesini! Joe memandangi Arina terus, sampai membuatnya sediki bergerak tak nyaman.
" baiklah, aku yang akan menyapanya ," gumam Joe antusias ke pada Julius. Julius cuma mengehela nafas singkat.
saat jam istirahat...
Arina langsung dapat teman. Yena dan Franka mengajaknya ngobrol di luar kelas. mereka nampak akrab sekali. Joe dan Julius saling pandang. tak tahu harus berbuat apa...sementara Arina dan yang llain sudah melangkah pergi menjauh.
" payah! ," kata Julius mencemooh.
" kau pikir itu mudah! ," cetus Joe setengah berteriak. " oh lupakan, aku bisa mengajaknya bicara nanti kan. jangan buru-buru Julius! ,"
mereka mengikutinya dengan langkah pelan. seperti sedang menguntit. Julius bisa bersikap biasa-biasa saja, tapi Joe malah menarik perhatian dengan mengendap-endap di pot bunga dan semak-semak.
" hentikan bodoh ," desis Julius sambil menendang pinggang Joe pelan.
" diam, kalau kau berisik, kita akan ketahuan ,"
" kau yang membuat kita ketahuan! orang-orang memperhatikanmu tau ," geram Julius gemas.
Aria menoleh kearah mereka. tatapannya tak bisa di jelaskan. yang pasti, Julius dan Joe tak mungkin langsung menghampirinya dan mengajaknya berkenalan.
" ahh, sulit sekali ," keluh Joe ketika mereka sampai di kelas selanjutnya.
" lain kali bersikap normal sajalah ," tukas Julius. " lakukan dengan cara laki-laki ,"
" memangnya kau bisa? ," tanya Joe menantang.
" lihat dan perhatikan! ," tak beberapa lama, Arina dan temannya muncul di kelas. Julius dengan cepat berbalik, melangkah mendekatinya tanpa ekspresi. dia dan Arina berpapasan, mereka tak saling menyapa sampai Julius dengan sengaja menyenggol pundaknya.
" duuh! ," seru Arina kesakitan. sapu tangannya terjatuh. dan tepat sekali di depan kaki Julius.
" maaf! apa kau tak apa-apa? ," tanya Julius ramah, penuh karisma.
Arina bengong terpesona. wajah Julius yang suram dan kelam berubah drastis menjadi wajah sumringah di penuhi senyuman-senyuman manis. dia begitu terllihat ramah, jauh sekali dengan sifat aslinya : dingin dan datar. Franka dan Yena saling pandang, kemudian memandang Julius dengan penuh keheranan sekaligus kagum.
" aaku tidak apa-apa ," kata Arina salah tingkah. dia terus saja mengusap pundaknya dan tak berani menatap mata Julius langsung.
Julius meraih sapu tangan Arina yang terjatuh, lantas memberikanya pada Arina.
" ini milikmu ,"
" I-iya , makasih ," ujarnya malu-malu. Julius hanya mengangguk pelan sebagai tanggapan, kemudian dia pergi keluar kelas, masih dengan senyum ramah di wajahnya.
anak-anak yang mengamati tadi sama terpesonanya dengan Arina. mereka terkejut sekali melihat Julius yang jarang bicara itu tersenyum dan bertingkah seperti tadi terhadap mereka.
Joe yang ikut memperhatikan, mengikuti Julius ke luar kelas. " heh, aktingmu berhasil membuat semua anak cewek di kelas kita kegirangan. seharusnya kau jadi aktor ," komentar Joe. " asli, beda banget sama dirimu yang sebenarnya ,"
" sudahlah...kau tahu aku tidak bersungguh-sungguh, kan. yang terpenting, aku sudah membuat peluang agar Arina mau bicara sama kita . tinggal tunggu waktu yang tepat untuk merekrutnya ,"
" begitu. sebelumnya aku ingin tanya, kenapa kau merasa yakin kalau cewek itu orangnya? ," tanya Joe penasaran. " Reena saja ragu, padahal dia yang ahli dalam hal ini ,"
Julius nampak mempertimbangkan sambil melipat kedua tangannya di dada. " entahlah...,"
" kau harus pastikan, lagi pula kenapa kau berpikir untuk menambah orang baru? kuras tim kita juga sudah cukup! ,"
" belum, bertiga saja belum cukup! aku malah berpikir ingin mengumpulkan orang sebanyak-banyaknya! ," kata Julius mantap.
" tapi kenapa? tujuan kita hanya itu',"
" lebih dari itu Joe...aku merasa nanti akan ada masalah besar yang menimpa kita, menimpa orang-orang speerti kita! ," cetus Julius , nadanya tinggi dan tegas. Joe nampak menciut, jadi dia hanya mengangguk sambil berlalu. " baiklah...aku percaya padamu ,"
sehabis pulang sekolah.
Arina nampak sendirian menuju rumahnya. diantara kerumunan anak-anak yang berhamburan hendak pulang. Joe , Julius dan Reena sudah menunggunya didepan gang. dari informasi yang mereka dapat, di gang itulah Arina lewat.
ketika Arina sudah mendekati gang, Joe dan Reena yang tepat berdiri di kanan kiri Julius langsung menghilang secara dramatis dengan bunyi suara letupan asap. seketika itu juga, Julius langsung berdiri tegak, menyambar tangan Arina yang melintas di depannya.
Arina terpekik kaget, karena Julius menyeretnya ke ujung gang- menyudutkannya di tembok.
" Julius, kau Julius yang tadi, kan? mau apa kau? ," tanya Arina panik.
Julius memasang senyumnya yang tadi, namun lebih lebar dari sebelumnya. " tenang saja, aku hanya ingin bicara sedikit ,"
" apa? ,"
" kau percaya padaku, kan?," tanyanya,
Arina mengangguk ragu.
" aku ingin kau bergabung dengan kami ," tukas Julius tiba-tiba, membuat Arina nampak sedikit terkejut.
" bergabung? denganmu? untuk apa? ,"
" untuk menjadi bagian dari organisasi kami....organisasi hitam pembela kebenaran. the Rough ,"
" haaa? the Rough apa? organisasi hitam? apa kau bercanda? ," tanya Arina banyak-banyak.
" well. aku tidak tahu harus dari mana menjelaskannya padamu, tapi...organisasi ini hanya untuk orang-orang yang punya kemampuan,"
" ke-kemampuan. seperti apa? ," tanya Arina lagi heran sekaligus takut. " sudahlah, aku baru saja disini, jadi jangan buat aku takut . aku tidak mengerti maksudmu, lagian aku tidak tertarik! ," katanya, kemudian berusaha pergi, namun Julius menahannya. " eh, tahan dulu. biar aku jelaskan sampai tuntas ,"
" aku tidak mau dengar lagi--,"
tiba-tiba saja, di dalam keremangan di belakang pundak Julius, wajah Reena dan Joe muncul. Membuat Arine terbelalak kaget.
" haaa, kalian??? dari mana kalian muncul?? ,"
Reena melangkah melewati Julius dan berhadapan langsung dengan Arina. matanya menyipit tanjam seolah menusuk wajahnya. " kau Arina? yang sering Julius ceritakan. katanya kau sama seperti kita, begitu? jadi apa kemampuanmu? ,"
Arina menggeleng tidak mengerti dengan wajah pucat pasi ketakutan. dia pikir dia sedang di bully.
" jangan begitu, Ree. kau membuatnya ketakutan ," tegur Joe, membuat Reena langsung menoleh kearahnya. Joe langsung angkat tangan sambil mengerling. " biarkan bos kita yang menjelaskan ,"
Julius mendecak, sambil memasang aksen wibawanya. dia menatap Arina yang mematung di tempat.
" begini, kami itu--emm akan lebih baik ku tunjukan saja padamu langsung. coba lihat wajah Reena! ,"
" kenapa harus aku? ," sentak Reena tak terima. " kenapa tak kau saja? ,"
" oke ," gumam Julius mengalah. " lihat, aku masih disini--," Arina menawasi Julius yang menunjuk dirinya sendiri, kemudian, Julius seperti melakukan gerakan kecil seperti ingin menjentikan jarinya, lalu...
slebb..
Julius menghilang dengan meninggalkan kepulan asap kecil seperti asap rokok.
Arina melotot dan menganga tidak percaya.
" ke-ke kemana dia? dia , kemana?...barusan saja dia di depanku? ," gagapnya heran sekaligus kagum. dia memicingkan mata kesegala arah, mencari Julius, lalu memandang Joe dan Reena.
" ini pasti tipuan !! ," seru Arina " ba-bagaimana bisa dia menghilang? ,"
" dia sedang di suatu tempat sekarang, ini namanya teleportasi, dan itu salah satu kemampuan Julius,"
slebb..
tiba-tiba, Julius kembali muncul, tepat di belakang Arina.
" jadi kau tahu, kami punya kemampuan yang tidak bisa di lakukan oleh manusia biasa. dan kau...aku belum tahu apa kemampuanmu, tetapi aku yakin kekuatanmu itu sangat berguna untuk kami. dengar, Arina , ada banyak sekali orang-orang sepertiku, seperti kami dan kau. dan sekarang kami sedang menjalankan misi. apa kau mau bergabung bersama kami? ,"
" tidak! ," jawab Arina langsung. " tidak mungkin! mana ada hal seperti itu di dunia ini? apa kalian gila? itu pasti hanya tipuan mata. apa sih maksud kalian itu? dasar Aneh-- biarkan aku pergi ," kata Arina, bergegas pergi , menyeruak melewati Julius dan yang lainnya. Joe hendak mengejarnya tapi Julius malah menahannya.
" biarkan, biarkan dia pergi. biar dia yang sadar sendiri, dan datang pada kita ,".
Minggu, 07 September 2014
Rough secret
Diposting oleh Unknown di 00.41 0 komentar
Langganan:
Komentar (Atom)