BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS »

Selasa, 19 Agustus 2014

Gee. G’



“ ini...mengerikan! ,” pikir seorang cowok yang sedang mengamati sebuah foto yang ia temukan terselip dibuku tahunan sekolahnya dua tahun yang lalu, ketika dia sedang bersih-bersih di kamarnya. Cowok itu bernama Ge Dee, seorang mahasiswa semester 3 yang nampak biasa-biasa saja, namun menyimpan misteri di masa lalunya. Dia mengernyit menatap foto itu. Foto dirinya sewaktu SMA dulu bersama teman cowoknya, di potret dilorong sekolah. Tampak mereka bedua berangkulan layaknya dua sahabat karib. Terlihat normal. Tapi, andai saja kalian tahu apa yang sebenarnya terjadi waktu itu. Sewaktu foto itu diambil. Bagaimana kisah Ge Dee yang paling memalukan itu terjadi.
Cowo itu bergidik ngeri lantas menaruh fotonya dilaci. Seolah kenangan dari Foto itu membuatnya jijik hingga tak berani memandanginya lama-lama.  Dia pun terhenyak duduk dikursi, sambil bersandar merilexkan tubuhnya. Dia mendesah lelah, sembari memijat-mijat pelipisnya yang terasa sakit, lalu....kenangan itu pun seolah terputar lagi seperti sebuah kaset.
Kejadian itu...
Tepat saat mereka naik ke kelas 3.
Menyukai lawan jenis itu wajar. Apa lagi sama teman sekelas. Sering banget kan kalian dengar! Kalau anak sekarang sih bilangnya cinta monyet. Tapi kurasa monyetku ini susah sekali kutaklukan. Nama monyetnya Aria. Dia teman sekelasku ketika aku kelas tiga.
Aria anak yang supel dan juga baik, serta ramah pada siapapun. Itulah yang membuatnya disukai banyak orang, terutama dikalangan laki-laki. Bisa disebut dia itu primadona di sekolah ini, karena hampir setengah dari murid laki-lakinya pasti suka sama Aria. Termasuk aku.
Tapi aku tidak seberuntung Tony, Herman atau Raphael yang terkenal populer juga disekolah sebagai pangeran disni, yang dengan mudah mengajak Aria untuk makan dikantin bareng atau sekedar ngobrol. Anak sederhana sepertiku hanya bisa mengaguminya dari jauh saja. Jangankan ngajak makan bareng, untuk menyapanya saja mulutku sulit sekali. Rasanya aku tidak pantas untuk menyapa Aria.
Pernah waktu itu aku keceplosan memanggilnya, saat sedang di perpus. Alih-alih ngajak ngobrol , reaksiku yang grogi itu malah membuat Aria jadi ilfeel.
“ hai Aria!!! ,” sapaku setengah terpekik. Aria yang sedang memilah-milah buku terlihat terkejut karena buku yang dipegangnya mendadak jatuh. “ oo—hai...emm Gee ,” ( Gee nama panggilanku dikelas. Karena anak-anak malas memanggilku dengan nama lengkap, makanya mereka hanya pakai nama depan saja. ) balas Aria masih kelihatan kaget. Semua pengunjung diperpustakaan mengawasiku tajam, apa lagi si pengawas perpus. Dia masih mengintaiku sampai aku menghilang dari rak buku ke meja baca.
Kulihat Aria masih mematung disana, melihat-lihat buku sambil sesekali melirik kearahku. Lirikannya seperti waspada. Aku memberanikan diri untuk mengajaknya ngobrol nanti. Ketika Aria menuju meja baca , agak jauh dari tempatku, aku berinisiatif untuk pindah ke mejanya.
Aria tertegun lalu mendongak , memandangku sesaat lalu tersenyum samar-samar. Kupikir dia terpaksa.   Tapi, aku berusaha mengabaikannya.
  hh—hai Aria, sedang baca apa? ,” tanyaku basa-basi.
Aria mendongak lagi dari bukunya. “ lagi baca buku ,”
Aku manggut-manggut paham. Yah ga usah dibilang juga udah jelaskan, dia lagi baca buku!. Aku juga tahu! . “ buku apa? ,” tanyaku lagi.
“ buku tentang sastra. ,” jawab Aria polos sembari menunjukan cover depan bukunya padaku.
“ emm, suka baca yang berat-berat ya? aku ga tau kalau kamu juga suka baca diperpus, aku pikir cewek kayak kamu suka nongkrong, kalau aku sih lebih suka baca tentang sejarah, dan...,” aku berhenti bicara ketika tahu kalau aku cuma dikacangin sama Aria. Sepertinya dia sama sekali ga mendengarkan aku ngomong .
Aku cuma bisa diam, sambil garuk-garuk kepala—bingung mau ngobrolin apa. Toh apapun yang aku omongin ga akan ada yang nyambung buatnya. Lantas aku cuma duduk bengong disitu sambil  mandangin rambut Aria yang hitam legam nan indah nutupin wajahnya yang imut sedang membaca. Cukup lama, sampai tiba-tiba Aria menegakan wajahanya lurus kearahku dengan tatapan bingung.
“ kamu ga apa-apa Gee? ,” tanya Aria. Aku terkesiap kaget, karena Aria menyadarkanku dari lamunan. Aku hanya mengangguk gelagapan. Lalu kembali salah tingkah.
“ eengg...kamu, udah selesai baca? ,” tanyaku lambat-lambat.
“ udah . lho! Kamu nungguin aku baca? Ngapain?? ,”
“ ah? Eng-enggak kok. Aku...,” Aria ngeliatin aku lama banget, dengan tatapan menyelidik. Bikin aku makin salting.
“ eh, aku mau masuk ke kelas dulu ya...kayanya bukuku ga diberesin tadi ,” kataku bohong, berupaya menghindar dari tatapan introgasi Aria yang semakin menyipit.
“ oke, aku juga mau kesana. Bareng aja kalau begitu ,”
Singkat cerita, sejak saat itu, ketika kami menuju kelas bareng, entah kenapa kami berdua jadi dekat. Aria jadi sering menyapaku, dan kami sering bertemu diperpus. Pokonya, sikap Aria itu bikin aku jadi Ge-er banget. Aku jadi berani untuk menyapanya duluan, ngajak ngbrol dan akhirnya....aku jadi berani mau nyatain perasaan aku sama Aria.

Niatku sudah bulat. Dan aku berencana akan menembak Aria besok saat istirahat.
Sebelumnya ,aku mau  merundingkan dulu rencanaku ini sama Febri, teman sebangkuku. dia jago dalam hal seperti ini, jadi kupikir sangatlah bijak datang kepadanya. Tapi...
“ apa??? Lu mau nembak Aria? ,” pekiknya kaget, membuatku juga ikutan kaget saat menceritakan niat ku itu dikelas.
duuh biasa aja dong, kaget nih gue ,”
“ yah iyalah. Lu udah gila ya mau nembak dia? ...ga masuk akal ,” cetusnya berapi-api. “ kenapa ga masukk akal? ,” tanyaku heran.
“ jelas! Aria itu cewek populer, dan ga sembarangan cowok yang bisa nembak dia. Inget kan gimana Boby yang segitu kaya dan kecenya ditolak mentah-mentah sama Aria didepan banyak orang? ,” kata Febri mengingatkan kejadian di bulan lalu. Gee membayangkannya dengan tatapan geli. Dia ingat betul betapa memalukannya ekspresi Boby saat itu.
“ yeah—lucu juga sih waktu itu ,” gumam Gee menerawang. “ kayanya tuh anak kapok deh, buktinya sekarang dia jarang keliatan dan kalo ketemu sama Aria dia langsung ngumpet ,”
“ Nah! ,” seru Febri. “ sekarang lu ngertikan? ,”
Gee cuma mengernyit  bingung sementara Febri menatapnya dengan penuh harap.
“ oke ,” jawab Gee akhirnya.
“ oke buat ngelupain niat lo itu? ,” tebak Febri kelihatan lega.
“ enggak.  Gue jawab ‘oke’ buat tetep ngelanjutin niat gue. Dan gua pastiin ga akan sememalukan Boby kaya dulu ,” katanya mantap.
Febri cuma bisa menepuk dahinya putus asa sembari membayangkan kegagalan temannya itu besok. Diam-diam dia berharap Gee bakal berhasil, meskipun prensentase keberhasilannya cuma 1%. Yeah, satu persennya itu kalau didunia ini udah ga ada cowok lagi, dan akhirnya Aria ga punya pilihan lain, selain nerima Gee. Tiba-tiba saja Febri jadi geli sendiri saat membayangkannya.

Saat jam istirahat.
Entah kenapa perasaan Gee jadi bedebar-debar. Rasanya perutnya mendadak mulas dan sakit. Dalam hati dia terus menguatkan tekadnya agar tetap maju. Tapi, melihat persiapan yang sudah ia lakukan—yaitu hanya modal nekat, membuatnya jadi takut sendiri. Takut ditolak.
Bel istirahat terus berbunyi, dan semakin lama semakin nyaring. Seolah itu juga jadi bel bagi Gee untuk segera melaksanakan keinginannya , yaitu menyatakan perasaannya pada Aria. Yeah, sudah dua minggu respon Aria padanya menandakan kalau dia nyaman sama Gee, dia juga sudah sering smsan dan telponan. Meskipun begitu bukan jaminan kalau Aria akan menerimanya langsung.
“ coba dulu, baru lihat hasilnya. oke ,” Gee menyemangati dirinya sendiri sambil berjalan di lorong kelas menuju kantin. Gee tahu kalau Aria pasti ada disana, makanya, setelah pelajaran usai dia buru-buru keluar kekamar mandi untuk menyiapkan semuanya—bercermin sebentar-merapihkan pakaiannya, dan memastikan kalau nafasnya tidak bau kali ini.
Dan...sampailah dia , dikantin.
 Dikantin ternyata ramainya bukan main. Bahkan tidak ada ruang sedikit pun untuk bernafas, apa lagi nyatain perasaan sama orang. Kacau. Rencananya mendadak berubah. Dia ga mungkin kan bisik-bisik sama Aria tentang perasaannya. Yang ada...
“ APA? KAMU NGOMONG APA? ,”
“ AKU SUKA SAMA KAMU ARIA!!! ,” mungkin saking bisingnya, Gee harus teriak-teriak seperti itu.
Dan sukur-syukur kalau di terima. Kalau ditolak...
“ HAH? KAMU SUKA SAMA AKU? SINTING KAMU YA ???!!! ,”
Jleb.
Ga usah dibayangin lagi, Gee bakal jadi bahan tertawaan semua orang. Dan ga kebayang deh malunya kaya apa.
 Setelah menghayal begitu, Gee buru-buru menyingkir dari kantin dan bergegas menuju taman sekolah. Mengsms Aria agar ke taman. Dia juga menambahkan kalau ada hal yang mendesak yang perlu Gee beritahu padanya.
Maka, tak lama Aria pun datang ke taman. Dan resenya, dia juga bawa teman.
Gee langsung bangkit dan menghampirinya. Dia berbisik ke Aria agar temannya tidak usah ikut. Aria pun setuju, dan menyuruh temannya untuk menjauh dari taman. Meskipun begitu ekspresi Aria kelihatan bingung dan dahinya tak henti berkerut-kerut.
“ ada apa Gee? ,” tanya Aria ketika mereka duduk di bangku taman. Jauh dari tempat teman Aria berada.
Gee masih terbelenggu. Mendadak pikirannya kosong. Dia kelihatan mematung memandangi Aria.
“ Gee?! ,” tegur Aria heran.
“....gue, eh—aku ,” gumamnya salah tingkah. “ aku...aku--,”
“ aku apa?! ,” potong Aria mulai tak sabar, sambil kakinya menghentak ketanah dengan cepat.
“ ehh...gini lho...aku tuh suka sama kamu ,” katanya pelan nyaris tak terdengar.
“ apa? Kamu bilang apa? Aku ga denger.,” tanya Aria,sambil  menunduk mencari wajah Gee.
Hening.
Gee tak menjawab. Sampai akhirnya Aria menyerah dan hendak pergi.
“ okelah kalau kamu ga jadi ngomong. Aku pergi dulu ya ,”
Ketika Aria berdiri , barulah keberanian Gee muncul. Dan tiba-tiba...
“ AKU SUKA SAMA KAMU ARIA!!,” teriak Gee akhrinya. “Aku...suka sama kamu, kamu mau kan jadi pacar aku? ,”
Hening.
Kali ini Aria yang terdiam. Dia mematung sambil berdiri membelakangi Gee. Gee penasaran sekaligus takut, ingin tahu reaksi Aria seperti apa. Apakah senang dan lalu mengangguk menerimanya atau???
Gee perlahan berdiri. Tepat dibelakang Aria. Tangannya sudah terangkat ingin menyentuh pundaknya, tapi berhenti dan malah mengambang diudara . tiba-tiba saja tubuh Aria bergetar kuat . dan terdengarlah suara cekikikan.
“ huahahaha....apa Gee? Lu suka sama gue? Lu pasti becanda , kan? ,” ujarnya sambil tertawa. Tawanya geli sekali. Wajah Gee langsung memerah, semerah kepiting rebus.” Ngaco! Hahaha belajar dari mana sih lu ngebanyol kaya gini ,”
Dan, saat itu juga Gee sadar kalau Aria telah menolaknya. Menolak dengan cara yang amat menyakitkan. Yaitu dengan tertawa menghina, menganggap itu lucu dan akhirnya meninggalkan Gee sendirian di taman.  Tanpa mengatakan apa-apa lagi-Aria cuma cekikikan, sambil pergi dengan teman-temannya . Setidaknya kata ‘maaf’ membuat Gee lebih baik dan merasa di hargai. Tapi, cewe tengik itu malah mengabaikannya begitu saja.
Hancur....hancur sekali hatinya. Sakit....sakit sampai keulu hati. Rasanya hidup sudah tidak ada gunanya lagi. Gee pun terhuyung lemas menuju kelasnya kembali.

“ kenapa lu? ,” tegur seseorang. Gee menoleh pelan tak bersemangat kearah suara itu, lalu mendapati  Raphael yang bersimbah keringat sudah ada disampingnya.
“ oh—elu! Ga apa-apa ,” kata Gee parau. Raphael mengernyit tidak percaya, sementara dia melihat wajah Gee begitu amat kusut dan mengenaskan. Seperti sudah tidak ada nyawanya lagi . Raphael memungut bola basket didekat kaki Gee, lalu berpaling kearahnya. “ tapi muka lu kacau banget ,”
“ yeah muka gue emang begini ,” tutur Gee singkat dan tak perduli.
“ kalau gitu kita main basket aja Yuk! Biar muka lu ga kusut lagi! ,” seru Raphael semangat seraya mendorong Gee dengan bola basketnya.
“ ahh engga ah. Lagi ga ada tenaga ,” kata Gee,berlaganya so lemas. Mirip tengkorak jalan.
“ udah ayo, kita lagi kurang pemain nih! ,” desaknya tak sabar sambil menyeret tangan Gee menuju lapangan .
Dilapangan ternyata sedang banyak cewek-cewek lagi pada nonton anak basket main. Dan anehnya, ketika Raphael dan Gee masuk kelapangan, semua anak-anak cewek itu langsung bersorak heboh kegirangan, bak fans fanatik korea. Gee mngernyit heran, dan menarik tangannya dari cengkraman Raphael.
“ apa-apaan nih? Kok rame banget ,” tanyanya.
“ biasalah, kalau anak basket lagi main, anak ceweknya pada heboh gitu. Apa lagi ada gue ,” jelas Raphael bangga. Gee langsung mencibir  di belakang Raphael lalu akhrinya ikutan bermain. Dia pun sejenak melupakan  kesedihanya  tadi dan terhenyak dalam permainan basket yang begitu menyenangkan.
Selesai bermain, Gee dan Raphael duduk-duduk di tengah lapangan sambil beristirahat. Lalu Raphael mulai membuka percakapan. Basi-basi ngomongin bola, lalu akhirnya nyambung-nyambung ke topik permasalah Gee yang baru saja di tolak. Gee menceritakan semuanya, tentang bagaimana cara Aria menolaknya dengin begitu keji.
“ heh, dia begitu lagi ,” komentar Raphael . “itu sih lebih sadis dari pada langsung nolak. Dia benar-benar gadis yang kejam ,” tambahnya.
Gee langsung mengangguk setuju.
  makanya, gue ga suka cewe--,”
“ hah? Ga suka cewe? ,” potong Gee kaget. “ ehh , enak aja. Belum juga kelar gue ngomong! Maksudnya, gua ga suka cewek yang prefectionis kaya gituu...,” lanjutnya menjelaskan. Gee hanya manggut-manggut tanpa komentar. Sesaat dia sedikit senang karena ada juga cowok yang tidak menyukai Aria. Raphael benar-benar cowok yang beda.
“ udahlah ga usah dipikirin. Masih banyak cewek yang lebih baik dari dia ,” ujar Raphael sambil menepuk pundak Gee. Gee menoleh kearah Raphael, bermaksud menepis tangannya dari pundak ,tapi, disaat bersamaan Raphael yang sedang memandangnya juga sambil tersenyum memberi semangat, malah membuat Gee berhenti bergerak. Dan mematung seketika.
Pandangan mereka pun beradu. Raphael yang kebingungan melihat tatapan Gee yang begitu dalam dan terbengong-bengong, akhrinya menegurnya . “ oi—oi Gee,lu kenapa? ,”
Gee masih saja mandangin Raphael. Lama banget. “ woi! Gee muka lu merah, tuh. Lu sakit? ,” tegurnya lagi. Gee terkesiap dan tersadar. Alangkah memalukannya dia dihadapan Raphael. Cowok cool  dan ganteng itu. dan...eh? kenapa dia jadi berpikir begitu? Astaga. Buru-buru Gee menggelengkan kepalanya, dan menepis jauh-jauh perasaan anehnya itu. Tiba-tiba saja dia merasa kalau poninya tersibak.
“ jidat lu panas Gee. Kayaknya lu sakit beneran ,” kata Raphael ,sembari menempelkan telapak tangannya di dahi Gee. Lagi-lagi pandangan mereka bertemu , dan kali ini wajah Raphael begitu dekat dengannya. “ waah muka lu tambah merah ,”
“ GYAAAAA ,” teriak Gee kaget sembari mundur menjauhi Raphael. Raphael melongo heran. “ lho kenapa? ,”
“ eehh---lu ngapain? ,” tanya Gee panik. “ ga ngapa-ngapain kok. Meriksa lu doang! ,” jawab Raphael  masih bingung. Gee sadar kalau sikapnya mulai aneh, dan kalau pun dia berlama-lama disini malah akan menarik perhatian teman-teman Raphael yang lain. Lalu Gee langsung bangkit , dan berlari dari lapangan yang sudah sepi. “ kenapa dia?? ,” pikir Raphael.
Saat Gee sampai dirumah, setelah pulang sekolah, dia langsung ambruk ditempat tidurnya. Wajahnya masih merah sampai sekarang, dan itu bukan karena kesal habis ditolak, tapi gara-gara bertatapan sama cowok ganteng. Gee langsung berjengit geli, membayangkan bahwa dia tadi berpikir kalau Raphael benar-benar ganteng dan keren meskipun sedang berkeringat, dan itu membuatnya....terpesona.  “ Wakkk! Apa aku sudah gila?? ,” teriak Gee dalam hati sambil  mengejang-ngejang diatas tempat tidur menahan rasa malunya. “ kenapa reaksi gue malah begitu? Gue kan cowok? Ngapain juga deg degan ,”
 Gee mulai resah, dan serba salah. Mau tidur ga bisa, bangun pun cuma bengong, dan kalau udah bengong, yang dipikirkannya hanya wajah Raphael , Raphael dan Raphael. Tak henti-hentinya dia memikirkan cowok itu, membayangkan mata kecoklatannya yang begitu indah.  Jantungnya pun masih deg-degan, dan mendadak seperti oranag linglung. Gejala ini pernah ia rasakan sebelumnya,sama seperti saat pertama kali melihat Aria, tapi kali ini rasanya lebih dahsyat. Mungkinkah ...
“ ga mungkin ,” desis Gee meyakinkan dirinya sendiri kalau pikirannya itu salah. Bisa jadi ini cuma gejala sakit biasa. Pikirnya . tapi...” matanya indah juga. Hupp,” buru-buru dia menekap mulutnya. “ biacara apa aku ini??? apa barusan aku memikirkannya lagi? Ya ampun, aku benar-benar sudah gila. Yeah aku gila....ga mungkin ini perasaan suka. ,” tapi mau dia menyangkalnya sekuat apa-pun, tetap saja bayangan Raphael yang begitu ramah padanya terus terbayang-bayang, seolah seperti menerornya. Sampai beberapa kali Gee tersentak dari tidurnya dengan wajah penuh keringat. Seperti habis mimpi buruk ,dikejar-kejar hantu yang berwujud cowok ganteng, dan anehnya didalam mimpinya itu Gee malah dengan senang hati di tangkap dan dipeluk oleh hantu itu. benar-benar mengerikan.
“ ini ga bisa dibiarkan...ga..enggak. ini ga bener, Raphael itu cowok dan gue itu cowok. Gua ga mungkin suka sama dia. Gua bukan gay, gua bukan penyuka sesama, ya , mungkin gua Cuma depresi gara-gara ditolak Aria dan gue mulai gila ,” kata Gee ketakutan sendiri. Dia pun bangkit dari tempat tidur menuju kamar lalu berendam didalam air dingin.
Gee datang kesekolah dengan tampang yang lebih kusut dari biasanya , ditambah rambutnya yang acak-acakan itu, semakin membuat Gee terlihat menyedihkan. Febri yang sudah di bangkunya, terlihat begitu simpatik dan penasaran dengan apa yang sudah terjadi. Sampai Gee duduk , dia baru bertanya.
“ yo , ada apa? ,” Gee tidak menjawab dan malah menelungkup dimeja. Suara nafasnya terdengar berat sekali. “ jadi...ditolak ya? ,” terka Febri.
“ lebih parah ,” sahut Gee pelan. “ lalu? ,”
Gee menegakkan tubuhnya susah payah-menatap Febri dengan tatapan memohon. “ sepertinya kemarin sangat seru. Andai aja gua ada disitu ,” kata Febri sambil ketawa.
“ jangan ketawa ,” sunggut Gee muram. “ gue begini bukan gara-gara Aria ,”
“ terus? ,”
Gee diam saja, sambil membayangkan beragam reaksi Febri jika tahu kalau dia suka sama Raphael.  “ ga. Ga apa-apa. ,”
“ kok gitu? ,” tanya Febri kecewa. “ terus gara-gara apa lu jadi murung kaya gini? .”
“ gara-gara nyokap gue ga ngasih duit jajan sama gue ,” kata Gee asal. Febri langsung mencibir, dia tahu kalau Gee lagi bohong. Tapi,  Febri ga langsung menggubrisnya karena melihat Gee yang begitu sangat tidak mood hari ini. jadi, dia memutuskan untuk tidak menyinggung-nyinggung tentang masalahnya lagi sampai Gee sendiri yang cerita.
Sampai beberapa hari, Gee belum juga menceritakan apapun sama Febri, dan sikapnya juga jadi berubah. Gee sekarang  menjadi penyendiri dan terlihat murung, dia juga jadi nyuekin Aria, meski Aria sendiri yang menyapanya. Mungkin sudah sakit hati. Tapi, keanehan lain mulai terlihat pada Gee , saat dia bertemu Raphael diberbagai kesempatan.
Gee jadi sering panik sendiri kalau berpapasan sama Raphael, salting dan suka salah ngomong. Ditambah sikap Raphael yang suka perhatian , baik dan ramah sama Gee, membuat Gee makin ga sanggup buat menyangkal tentang perasaannya itu. Sebenarnya dia menikmati momennya saat bersama Raphael, tapi dalam hati dia terus berteriak, kalau semua itu salah! Dia ga boleh suka sama Raphael. Dia normal. Tapi itu hanya bersuar didalam hati, sisanya dia senang bisa dekat-dekat dengan Raphael , apa lagi saat dia bisa bergabung dalam club basket.
“ oke gue akui, gua suka sama cowok itu ,” kata Gee didepan cermin. Dia memandang bayangannya  sendiri, dan mengoreksi setiap sudut wajahnya. Ga jelek-jelek amat. Ganteng malah. Gee terkekeh sendiri sambil menyisir rambutnya, tapi disisir sesering apapun rambutnya akan tetap berantakan.  Dia memandang cermin sekali lagi, memastikan kalau penampilannya sudah oke. Lalu pergi keluar.
Hari ini Raphael dan yang lain mengajak Gee nobar disebuah kafe untuk menyaksikan pertandingan La liga. Kesempatan ini tak mungkin Gee lewatkan. Dengan senang hati dia menerima tawarannya itu, apa lagi Raphael sendiri yang mengajaknya. Gee girang sekali, bahkan dia sampai melompat-lompat dikamar. Penampilan Gee sangat macho saat itu, mungkin kalau dari sudut pandang cewek, Gee bisa dibilang cowok kece dan keren, tapi itu sudah tidak penting lagi. Dia sudah tidak tertarik. Yang sekarang membuatnya tertarik adalah...” Raphael! ”. Gee memanggil cowok itu, dan yang dipanggilnya langsung menoleh sambil melambai diantara kerumunan orang dikafe.
Disana Raphael dan teman-temannya sudah menunggu. Mereka sudah ada disana 20 menit yang lalu untuk membooking tempat. Raphael dengan coolnya memakai jumper coklat dam celana jeans yang sobek dibagian lutut, kepalanya memakai kupluk warna hitam. Cuma Raphael yang Gee perhatikan, sampai mereka masuk kedalam kafe. Beberapa menit kemudian pertandingan mulai, dan dalam beberapa detik saja, semua pengunjung hanyut dalam ketegangan pertandingan yang sedari tadi imbang 0-0. Mereka bersorak, berderu, dan sesekali kecewa ketika masing-masing pemain jagoan mereka nyaris mencetak gol. Gee yang saat itu matanya terpaku pada layar besar, hanya bisa memukul-mukul kesal kemeja, sementara jagoannya terus diserang. Dan saat jagoan Raphael menggiring bola, meliuk-liuk melewati beberapa pemain lawan, lalu tanpa tunggu lagi, melesat kedaerah kotak penalti, pemain nomor 7 itu pun mencetak gol hebat kegawang lawan, diikuti sorakan heboh penonton yang melepas luapan emosi kebahagian mereka saat tim jagoan mereka menang, Raphael yang kegirangan tanpa sadar memeluk Gee yang sedang kecewa. Dengan wajah terkejut Gee cuma diam membatu membiarkan Raphael memeluknya erat dalam euforia yang menggebu-gebu, tapi tak lama Raphael melepas pelukannya itu dan ganti memeluk temannya yang lain sambil berjingkrak senang.
Gee masih terpaku, matanya bergerak cepat kesegala arah, dan dia merasa kalau jantungnya berdegub kencang menyakitkan. Mulutnya kering kerontangan, matanya tak berkedip, dan nafasnya tertahan beberapa saat. Dia seperti sedang kerasukan , Cuma diam termangu diantara orang-orang yang ramai bergembira.  Lalu tanpa sadar Gee berkata: “ Raphael, gua suka sama lo ,” dan begitu pertandingan berlanjut, semua penonton kembali tenang dalam ketegangan.
“ ahhh kasian deh lu kalah. Inget ya taruhannya, yang kalah harus nelaktir makan yang menang ,” tutur Raphael sambil nyengir sama Gee dan temannya yang mendukung Barcelona.
Hati Gee mencelos, sekaligus lega. Barusan dia baru saja menyatakan perasaannya pada Raphael. dan untung saja dia tidak dengar. Huuuuhf....Gee membuang nafasnya berat. kali ini selamat, ga kebayang tadi kalau dia nekat nyatain perasaannya ke Raphael. mungkin dia bakal langsung bunuh diri.
“ eh, tadi kayanya lu bilang sesuatu. Apaan? ,” tanya Raphael tiba-tiba. Gee menoleh cepat, dan langsung melongo kaya orang bego. “ ahh---.”
“ GOOOOL! ,” teriak salah satu penonton, diikuti yang laiinya. Semua melonjak dari kursi penonton termasuk Raphael saat  Real Madrid mencetak gol lagi berkat sontekan cantik Cristiano Ronaldo. Dan lagi-lagi Gee terselamatkan oleh gol itu. Biar deh, kalah-kalah sekalian dari pada Raphael curiga.
Sampai pertandingan selesai , Gee diam membisu. Sementara Raphael lupa sama pertanyaannya tadi dan malah sibuk berdiskusi ngomongin bola sama teman-temannya.
Gee manatap langit malam yang gelap tanpa bintang. Awan-awan hitam memenuhi langit yang seharusnya cerah dimalam minggu. Sama seperti hati Gee yang kelabu. Yang sedang sendu karena keserbasalahannya yang menyelimutinya. Antara logika dan perasaan. Rasional dan irasional. Ga tau lagi apa...pokoknya malam itu Gee lagi galau total. Mereka berlima berjalan menuju parkiran, karena tadi nebeng sama Rico, Gee jadi nungguin dia dulu menelpon. Sementara ketiga temannya yang lain sudah duduk siap-siap dimotor. “ sory Gee, cewek gue minta jemput. Lu bareng yang lain deh ,” katanya membuat Gee kecewa. “ ah serius lo...bareng siapa?  Ga ada yang searah sama gue ,” cetus Gee . Rico Cuma angkat bahu sambil sekali lagi minta maaf. Lalu dengan berat hati Rico pergi duluan, dengan jok kosong dibelakangnya yang diganti sama satu helm.
“ udah , bareng gua aja.,” ajak Raphael sambil menyodorkan satu helm cadangannya. Gee terkesima, namun langsung buru-buru berpaling sambil menyambar helm itu tanpa memandang Raphael-duduk dibelakang dan pakai helm full face. Raphael menyalakan mesin motornya, lalu mereka pun meluncur dari parkiran ke rumah Gee. Disepanjang perjalanan mereka saling diam. Gee diam karena grogi dan menyembunyikan wajahnya dari balik helm, sementara Raphael diam karena perutnya yang tiba-tiba mules. Mungkin salah makan tadi. Yaah pokoknya kesalah pahaman ini membuat keduanya makin akrab untuk beberapa minggu. Sampai salah satunya membuat bencana besar. Dan membuat hubungan mereka sebagai teman merenggang.

Dua minggu kemudian. Setelah UN, mereka mengadakan acara pentas seni di sekolah untuk merayakannya. Dan Gee menyibukkan dirinya sendirr dengan menjadi panitia acara. Tapi sesibuk apapun, dia tetap masih dibayangi oleh perasaan menakutkannya, yaitu jatuh cinta sama Raphael. hal mengerikan itu masih terpeta dibenaknya sampai sekarang, dan masih membebani pikiran dan perasaannya. Sampai, ketika menjelang acara pentas seni dimulai.
Di kelas...
“ apa lagi sekarang? Otak lu udah rusak ya! ,” cecar Febri waktu Gee keceplosan mengatakan mau mengungkapkan perasaannya itu pada Raphael—Febri langsung berjengit ngeri. “ mungkin gue emang gila. Tapi gua ga kuat lagi , Feb ,” balas Gee putus asa. “ Gua harus ngomingin ini biar hati gua tenang. ,” tambahnya.
“ tapi--,”
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki memasuki kelas. Febri dan Gee langsung menoleh cepat kearah pintu yang terbuka dengan tatapan ngeri. Dan muncullah...
“ hemm...gua kaget waktu denger itu, tapi akhirnya gua ngerti perasaan lu, Gee ,” kata Aria tiba-tiba, membuat Gee mau pun Febri terpekik kaget. “ Aria??? ,”
“ tenang. Gua ga akan bilang-bilang kok. Rahasia lu aman sama gue ,” katanya santai. “ well, tapi...dalam masalah ini, gue rasa lu emang harus ngungkapinnya langsung, dari pada terus dipendam-pendam. Yang ada malah nyiksa diri lu sendiri. Ya, kan? Dan gue yakin kalau Raphael denger ini, meski dia kaget setengah mati, dia pasti bakal ngerti. ,” ujar Aria yakin. “ katakan saja, dan lu nggak akan menyesel di kemudian hari. Resiko sebesar apa-pun, lu harus terima, ini demi kebaikan lu sendiri ,” mendengar itu, Gee sedikit mempertimbangkannya. Ucapan Aria memang benar, selama ini Gee selalu menyembunyikan terus, dan menanggung semua siksaan yang tak berkesudahan itu. Mungkin ini waktu yang sangat tepat. “ lagian sebentar lagi kita lulus, dan kalau lu malu setelah mengungkapinya, lu bisa langsung menghilang aja , kan? ,” tambah Aria, seolah membaca pikirannya.
“ Enggak! Enggak bisa, Gee ga boleh ngelakuin itu! ,” sergah Febri tak setuju. “ lu ga malu apa? ,” semburnya cemas pada Gee. Gee tertunduk , dan saat itu juga emosinya meluap.
“ dimana dia? ,” tanyanya tiba-tiba. Febri mendelik curiga. “ mau ngapain lu? ,”
“ dimana dia sekarang?! ,” tanya Gee lagi pada Aria, seakan mengabaikan Febri. “ dia di ruang Radio ,” jawab Aria . “ dia sendirian kok disana. Lagi ngecek komputer ,”
Dan tanpa menunggu reaksi Febri yang ingin mencegahnya pergi, Gee langsung bergegas keluar kelas menuju ruang radio. Disana, dia langsung menemui Raphael yang tengah sibuk mengutak-atik komputer.
Raphael menyadari kadatangannya, dan langsung menoleh sebentar sambil menyunggingkan senyuman. “ oi—Gee. Ada apa? ,” sapa Raphael ramah. Gee terdiam sesaat didepan pintu, lalu segera mengingat maksud kedatangannya kemari. “ gua mau ngomong, Hel. ,” bisik Gee buru-buru.
“ ngomong aja ,” sahut Raphael santai , matanya masih terpaku pada layar komputer.
“ ini penting ,” Gee menambahkan. Mendengar kata ‘penting’, akhirnya Raphael berpaling dari komputer lalu berbalik menatap Gee yang sedang tertunduk dihadapannya. “ iyaa—apa? ,”
“ gue...sebelumnya gua minta maaf. Dan tolong jangan dipotong dulu sebelum gue selesai bicara ,” Gee memberi tahunya. Raphael nampak bingung namun tetap mengangguk setuju. “ oke ,”
Gee menghela nafas panjang, yang terasa menyesakkan didadanya. Lalu menguatkan dirinya sendiri dengan mengangguk mantap, dan mulai bicara....
Dia mengakui perasaanya pada Raphael. Semuanya. Dari awal, sampai akhir. Tak ada yang terlewat sedikit pun. Raphael pun mendengarkannya tanpa mencela, meskipun ekspresinya sudah sangat abstrak dan tidak bisa dijelaskan lagi dengan kata-kata. Mungkin seperti ekspresi jijik dan mau muntah, yah—seperti itulah barangkali.
Raphael keliatan syock dan ngeri, mirip reaksi Febri waktu pertama kali mendengarnya, tapi, sebagai seorang cowok populer, dia pun tak langsung menghujat Gee karena sudah mengatakan hal yang begitu mengejutkan. Dia, dengan bijak, menjelaskan semua kesalah pahamannya itu pada Gee, dan menganggapnya sebagai pengakuan kasih sayang seorang sahabat kepada sahabatnya.  Gee pun mengerti dan sadar kalau tidak mungkin mereka bersama-sebagai pasangan homo-seperti yang ia bayangkan, tapi dengan begitu Gee sudah merasa lebih baik , dan bebannya pun terangkat sepenuhnya. Dan mereka pun tetap berteman.
Kembali ke kelas...
Febri terkejut mendengar suara speaker berbunyi dikelas yang berasal dari radio. Begitu juga dengan semua murid yang sedang berada dikelas, kantin, maupun lapangan sekolah.
“ Ah—kena deh ,” seru Aria senang. Febri langsung berpaling ke Aria, dan mendapati cewek itu sedang tertawa licik. “ benar-benar seru! Ga sabar pengen ngeliat ekspresi anak-anak yang tahu kalau Gee itu Homo!!! ,”
“ ARIA???? LU SENGAJA? ,” sentak Febri marah. “ KELEWATAN LO!!! ,” Tanpa dosa, Aria malah tertawa-tawa senang sambil kabur dari kelas. Dan ketika Febri hendak mengejarnya, ternyata seluruh siswa sudah ramai berbondong-bondong keluar kelas memenuhi balkon. Dari lantai satu, dua , tiga, mereka semua terlihat terkejut dengan yang mereka dengar dari radio, dan tidak sedikit yang tertawa dan mencemoohnya. “ hah? Gee kok suka sama Raphael? hahah ga sangka dia Homo!! ,” kata salah satu dari anak-anak yang berkerumun kepada temannya, mereka berdua langsung cekikikan. “ ngapain dia ngumumin di radio? Ga tau malu ,” timpal Glend , tertawa ngakak. “ Gee? Siapa sih dia? Kok bangga banget kalau dia Homo? ,” dan masih banyak lagi komentar anak-anak tentanng peristiwa itu. Mereka pun tak segan-segan mendatangi ruang radio dan menghujat langsung Gee dengan berbagai ledekan yang pedas dan olok-olok berlebihan yang membuat Gee nyaris ingin bunuh diri saat itu juga--dengan kagetnya melihat anak-anak berkerumun memenuhi area lorong sekolah.
“ sial!!! Ini. cewek brengsek itu.... ,” rutuk Febri murka. Tak terima temannya dipermalukan. Tapi, apa yang bisa ia perbuat lagi? Toh semuanya sudah terjadi, dan wajah Gee takkan bisa di selamatkan dari rasa malu yang teramat sangat. 
Mulai detik itu, Gee sudah di cap sebagai homo oleh semua teman-temannya, terkecuali Febri. Tak ada julukan lain yang lebih menyakitkan dari pada julukan itu. Bahkan nama Gee bukan lagi Ge Dee, tapi Gee G, yang disingkat : Gee-Gay atau Gee-Homo. Benar-benar kejam.
Gee tak pernah terlihat lagi semenjak kejadian itu. Dia juga tidak hadir di acara perpisahan dan penerimaan ijazah. Dia menghilang entah kemana, tanpa kabar. Anak-anak yang masih mengejek Gee bilang kalau Gee mati bunuh diri gara-gara ga kuat nanggung malu.
Raphael yang juga menghilang beberapa hari, muncul kembali disaat acara perpisahan. Dia sudah pulih dari syock nya yang juga dianggap homo, tapi ga separah seperti yang dialami Gee, karena pada saat itu Gee lah yang mengakui perasaanya duluan, dan orang-orang juga dengar kalau Raphael mencoba menjelaskan keadaan yang sebenarnya. Raphael dan Febri yang khawatir akan keselamatan Gee, mencari-cari kabar tentangnya. Tapi sampai detik ini mereka tidak tahu Gee pergi kemana. Temannya itu pergi tanpa pamit.

Gee yang sekarang, tersentak dari lamunannya yang mengerikan itu, menggeleng-geleng beberapa kali untuk menjernihkan pikirannya kembali. Kemudian, matanya mengerjap-ngerjap, sambil mengamati kesekelilinya kamarnya . Lalu Gee bangun dari duduknya, lantas segera menyelesaikan membersihkan kamarnya, kemudian tertegun kembali di sisi jendela. Dia melamun lagi.
Dulu dia cowok normal. Sampai sekarang pun, dia yakin kalau dia normal , tapi kenapa ya dia sempat suka sama Raphael? padahal, kalau dia emang penyuka sesama jenis, seharusnya dia sudah suka sama Raphael sejak dulu! Tapi Gee tak berusaha menyangkalnya lagi, sampai detik ini perasaannya masih sama. Tak berubah. Yang berbeda hanyalah, sekarang Gee berusaha menyembuhkan hatinya dengan kehadiran seorang wanita. Dia adalah Dhea.
Gadis yang ia temuinya di kampus. Dhea sudah sudah tahu seluk-beluk dan masa lalu Gee, termasuk masa lalunya yang memalukan itu. Tapi, Dhea tak keberatan. Dia bisa menerima Gee apa adanya, dan menganggap itu semua sebagai masa lalu.
Dia dan Dhea sudah berpacaran selama setahun. Semakin lama Gee semakin menyayangi gadis itu. bukan hanya cantik, tapi dia juga sangat pengertian dan baik. Terlebih lagi, dia tidak pernah menyinggung-nyinggung masa lalu Gee atau membicarakan hal yang membuatnya tidak nyaman. Semuanya berjalan lancar, sampai, pada suatu hari , dia dipertemukan lagi dengan cinta pertamanya.
Dia  bertemu Raphael lagi saat sedang kencan dengan Dhea di sebuah restoran. Saat itu juga, Gee melihat Raphael sedang bersama seorang wanita. Siapakah dia?
Gee ingin langsung pergi dari restauran itu dan mencari tempat lain. Tapi urung ketika Raphael dengan lantang memanggilnya.
“ Gee!!!! ,”
Gee Cuma bisa terperangah dengan wajah tegang tersembunyi dibalik daftar menu. Dhea hanya kebingungan melihat tingkahnya. Detik berikutnya suara langkah Raphael terdengar mendekat kearah meja mereka, diikuti suara sepatu hak tinggi seorang wanita.
Lalu apakah yang akan Gee lakukan?

Kamis, 07 Agustus 2014

Black side of Special Orphans


Chapter 1. “ Bane pindah, dan membawa bencana “

BUAAKKK

Satu pukulan lagi, dirasa sudah cukup baginya untuk menjatuhkan anak ini. Kalau pun di pukul lagi,  toh dia akan mati, percuma kan. Bosnya bilang untuk membuatnya sekarat saja, seperti yang di lakukan anak itu pada Bos mereka yang sekarang tengah terbaring di rumah sakit. Cowok itu menghela nafas panjang, tampak kecewa, sementara kedua anak buahnya yang bertugas memegangi anak itu saling bertukar pandangan.
“ ahhh, membosankan---apa benar ini anak yang sudah membuat Ash sekarat, dan nyaris mati? ,” ucapnya santai. Kedua kacungnya tertawa menanggapi. “ lihat betapa lemahnya kau ini ,”
Anak malang itu masih sadar, dia mendongak menatap wajah si cowok itu dengan tatapan tajam, meski sudah babak belur dan lemah, tapi wajahnya masih mencerminkan sikap tenang penuh percaya diri, bahkan sekarang dia tersenyum menantang kepada lawannya itu.
“ kenapa kau senyum-senyum begitu? Kau pikir ini lucu? ,” gumamnya sinis . Dia pun langsung mendorong anak itu dengan kakinya sampai tersungkur kebelakang, anehnya anak itu malah tertawa senang.
“ BERHENTII TERTAWA, MEMANGNYA LUCU APA, HAH!!? KAU MENANTANGKU YA???,” teriaknya marah. “ KU HAJAR KAU, BOCAH TENGIKK ,” cowok itu pun melancarkan tendangannya kearah perut , namun sesuatu yang aneh mulai terjadi pada anak itu. tiba-tiba saja bagian perut anak itu meremang menjadi bayangan,  tendanagan si cowok itu pun dapat menembusnya, alih-alih menendang perut, kakinya malah menghantam tembok dengan keras.
“ ARRRGGH.... sakiiit ,” ringis si cowok sambil memegangi punggung kakinya. Kedua anak buahnya terkejut dan langsung menghambur ke bos mereka. “ bos Taka!!! ,”
“ apa yang terjadi? Seharusnya tendangannya kena dia kan! ,” tanya salah satu anak buah itu. yang satunya angkat bahu, tidak tahu. Taka masih meringis kesakitan sementara, gantian, anak buahnya yang menghadapi si anak tadi. Sekarang tangannya bebas, itu artinya dia bisa melawan. Keanehan tadi masih membuat Taka dan anak-buahnya menjadi sedikit waspada terhadap anak itu. mereka bahkan menjaga jarak dengannya.
“ apa yang kau lakukan, sial! Kau bisa sihir ya? Jelas-jelas tadi kami melihat perutmu menjadi bayangan dan berhasil mengelak dari serangan Bos! ,” kata si kacung gendut.
“ aneh kan! Pasti kalian tidak pernah melihat yang seperti ! ,” katanya mantap.
“ brengsek kau Bane, habisi dia!!! ,” perintah Taka. Kedua kacungnya langsung memberikan serang secara bersamaan, tapi anehnya semua pukulan mereka menembus tubuh Bane. Seperti sedang meninju udara, serangan mereka jadi sia-sia dan Bane dengan santainya menerima itu semua tanpa melawan.
Dia sekarang seperti hologram yang hidup. Sia-sia saja kedua anak buahnya itu menyerang Bane secara membabi buta.  “ bodoh kalian! Cepat habisi dia! ,” raung Taka kesal. Dia pun dengan susah payang bangkit dan ikut menyerbu Bane, tapi disaat bersamaan Bane mengeluarkan satu kekuatan anehnya lagi.

booom ,”

Duaaarrrr....

Entah apa yang terjadi, tapi pastinya mereka bertiga bukan di lempari bom sampai terpental jauh diudara dan jatuh menghantam tanah seperti itu, melainkan ada sebuah ledakan dahsyat yang menyerang mereka. tidak ada api dan tidak juga ada yang terbakar, yang ada hanya barang-barang hancur, tembok roboh dan asap-asap debu yang mengepul-ngepul. Sangat kacau, seperti sedang perang saja!
Taka dan kedua kacungnya tengah terkapar tidak berdaya ditanah dengan tubuh penuh luka-luka, dan kepala berdarah, diantara reruntuhan itu. taka yang terlihat masih sadar berusaha menggerakan jemarinya yang lemah. Rupanya ia ingin menggapai ponselnya untuk meminta bantuan, tapi handphonenya keburu rusak oleh sebuah sepatu yang menginjaknya.
“ beruntung masih ponselmu yang retak, kita lihat bagaimana dengan kepalamu hah! ,” ucap Bane tajam.

“ AAAAAAAAARRRGGGGHHH....,” hanya terdengar teriakan kesakitan Taka yang menggema di udara itu, sisanya....hanya mereka yang tahu.

Sosok tubuh lemah penuh luka , dengan jalan terseok-seok , baju yang sobek dan kaki yang melangkah gontai, muncul dari balik puing-puing bangunan yang setengah runtuh dilatarbelakangi asap debu putih diudara. Kemunculannya itu terkesan mengenaskan, namun dibalik itu , dia masih menyimpan sepuntung rokok yang menyala di bibirnya-seolah tidak terjadi apapun yang mengerikan—padahal baru saja dia habis dipukuli sampai babak belur.
" huaah harus beli seragam lagi deh. Sial ," gumanya jengkel sambil memperhatiakn kondisi seragamnya yang sangat kacau. " tapi sepertinya aku tidak akan pakai seragam ini lagi ,"
Disisi jalan, disebuah semak-semak , terlihat dedaunannya bergerak-gerak. Sekilas seperti tertiup angin, namun kalau diperhatikan lebih seksama lagi, jelaslah itu gerakan yang disengaja. Sepertinya ada sesuatu disana. Semak-semak itu tak henti-hentinya berguncang sampai membuat Bane menoleh penasaran kearahnya.
"....." semak-semaknya langsung berhenti bergetar ketika Bane memicingkan mata ke semak itu.
" anehhh, ku pikir tadi bergerak ," gumamnya heran. " aku jadi penasaran ," Bane bermaksud melihat ke balik semak-semak itu, namun dering ponsel disakunya membuatnya berhenti.
Terdengar suara helaan nafas panjang. Untungnya Bane tidak sadar , dia sedang sibuk menulis sms.
" untung saja--- sial. Pergilah dari sini ," desis si mata-mata , dia meremas daun didekatnya gemas.
Tak lama Bane pergi dari sana, tanpa mengetahui keberadaan seseorang di balik semak-semak itu.
" nyaris saja ketahuan. Kalau tidak bisa mampus aku ditangannya ," pikirnya seraya berlari dari tempat persembunyiannya menuju gudang. " aku harus melihat keadaan bos Taka dan melaporkan semua ini pada Zack. "
"Ini tidak bisa dibiarkan "

Beberapa jam kemudian.
Markas rahasia Geng Ash

Selagi Ash tidak ada, jabatan bos kini dipegang oleh orang yang bernama Zack. Dia merupakan anak buah Ash yang paling di percaya dan sangat dekat dengannya. Cowok dingin dan berwajah ambisius serta terkenal sangat kejam itu , dengan senang hati mengganti posisi Ash . dengan angkuhnya kini dia tengah duduk di kursi besar bersama seorang gadis yang merupakan pacara Ash. Seharusnya dia hanya mendampingi Ash, tapi demi menjaga kestabilitas organisasi gadis itu tetap ingin disana , siapapun bosnya.

" mana Taka, seharusnya dia sudah ada disini dengan anak itu kan? ," tanya Zack gusar. Dia sudah menunggu selama 1 jam, sesuai yang dijanjikan Taka kepadanya, tapi sampai sekarang anak buahnya itu belum juga datang.
" segitu sulitnya kah menanggkap bocah ingusan seperti itu? ," tambahnya.
" sabar Zack...mungkin mereka terjebak macet, " kata Gisele.
" macet apanya? Meraka di tengah kampung, bukan perkotaan! Tidak ada alasan yang tidak masuk akal begitu ," cecar Zack . " oouh maaf Gisele , aku tak bermaksud---,"
" lupakan ," potong Gisele jengkel.
" sebenarnya aku ragu kalau Ash dikalahkan oleh anak seperti itu. Apa lagi Ash itu kuat, bagaimana bisa? ," tanya Gisele pada dirinya sendiri,.
" bisa jadi dia di keroyok ," Zack berpendapat.
" tidak mungkin, Ash sendiri yang bilang kalau anak itu yang melakukannya ,"
" okelah kalau dia yang melakukannya, tapi dengan cara apa? Memangnya kau tidak tanya? ,"
" aku? Saat aku menemukan Ash terkapar si gang kecil, dia hanya bilang 'dia' saja sambil memegang jam tangan milik si anak itu, sisanya...dia langsung pingsan ," jelas Gisele seraya mengingat kejadian tempo hari lalu.
Zack mengernyit, memandang Gisele penuh tanya. " anak itu tidak ada disana? ,"
Gisele mengangguk pelan. " nampaknya Ash lah yang memulai duluan ,"
" Ash tidak pernah bersikap ceroboh, apa lagi membiarkan dirinya dikalahkam begitu saja. Bayangkan anak geng motor yang begitu banyaknya bisa dikalahkan hanya seorang diri, masa....dengan anak SMA saja kalah ,” sumbar Zack tak percaya sekaligus kecewa.
“ sepertinya anak itu sedikit spesial. Yang aku lihat saat Ash terluka, hampir sekujur tubuhnya penuh luka-luka, bajunya sobek dan dia sedikit berasap—seperti habis kena ledakan ,” Gisele berpendapat. “ tapi...tidak ada luka bakar sedikit pun atau barang-barang yang hangus terbakar,” tambahnya.
Zack tampak berpikir, dia mengepal-ngepalkan tangannya seolah gemas, ingin sekali secepatnya menghabisi anak itu dengan tangannya.
“ usahakan agar dia tetap hidup di depanku nanti ,” kecam Zack marah.

Tiba-tiba seseorang datang menyeruak masuk kedalam, Zack dan Gisele terperangah saat dia muncul.
“ Huan?? ,”seru mereka berbarengan.
Orang yang bernama Huan itu tengah terengah-engah saat muncul di pintu,lidahnya terjulur kelelahan sementara lututnya gemetaran. “ b  bbosss,” katanya. Huan terhuyung menuju Zack, dengan  langkah terseret dia berusaha untuk berdiri di hadapan bosnya. Satu tangannya berhasil bertumpu dimeja, dan dengan susah payah akhirnya dia bisa mengatur nafasnya kembali.
“ ada apa Huan? Mana yang lain? ,” tanya Gisele
Huan masih ngos-ngosan, namun tetap ingin menjawab. “ ga gawat...bos, Gisele. Bos Taka dan yang lain...hah haah...,”
“ bicara yang jelas Huan!!! ,” sentak Zack tak sabar.
“ Taka dan yang lain mati , Bosss! Mereka dikalahkan anak SMA ituu ,” teriak Huan tak tahan.
“ APAA??? , Huan jangan bercanda!! ,”
“ se serius Boss! Mereka—mayat mereka masih di gudang itu...aku tidak tahu harus berbuat apa! Kalau lapor polisi, itu akan membongkar keberadaan kita juga...makanya aku kesini ,” jelas Huan ketakutan.
“ kau—lalu apa yang kau lakukan Hah? Membiarkan dia kabur? ,” teriak Zack.
“ aku...aku terlalu takut bos...dia ...dia menakutkan! Dia meledakan Bos Taka , Juqulen dan Codet...,” rengek Huan berusaha menahan gemetar di tubuhnya.
ahh, seperti yang dialami Ash ...,” batin Gisele.
“ BODOHH!!! TOLOL BANGET ! NANGKEP TIKUS SAJA TIDAK BISA!!! Katakan...siapa nama anak itu, diamana dia tinggal dan tempat dia sekolah! ,” pinta Zack.
“ saya tidak tahu , Bos...tapi kalau tempatnya sekolah, itu ada di kota.  ,”

Saat pembicaraan itu berlangsung terdengar suara ketukan di pintu luar. Zack memberi isyarat pada Huan untuk melihat siapa yang datang. Huan segera menuju pintu dan membukanya.
Hening.
Tidak ada seorang pun disana.
“ ga ada siapa-siapa? ,” gumamnya heran. Huan hendak menutup pintu kembali, namun urung, ketika ia melihat sehelai kertas menempel dipintu. “ apa ini? ,” di tariknya kertas itu. Huan langsung terkesiap dan langsung bergegas untuk menunjukan kertas itu pada Zack.


Zack sangat terkejut dengan apa yang ditunjukan oleh Huan. Secarik kertas itu sudah cukup membuatnya marah dan kesal.
“ boleh kulihat? ,” pinta Giselle yang sangat penasaran dengan isi surat itu. Zack mengiyakan tanpa berkata-kata. Gisele mengernyit dan langsung mengembalikan surat itu.
“ ini pernyataan perang. Sepertinya anak itu juga punya komplotan ,” komen Giselle.
“ aku tidak tahu maksudnya apa? Tapi beraninya dia menantang kita, dia menyuruh kita untuk mencarinya ,” ujar Zack.
“ di dia mungkin sudah kabur sekarang Bos, dan dia bermaksud memanggil teman-temannya , “ pikir Huan. “ mungkin dia mau melawan kita ,”
“ ini bukan mungkin lagi Huan!! Ini sudah pasti! Mereka menantang kita!! ,” teriak Zack. Huan langsung menciut ketakutan.
“ lalu? ,” tanya Gisele.
“ kita akan terima tantangannya, biarpun dia kabur dan punya banyak komplotan, Geng kita tidak akan kalah begitu saja. ,” kata Zack mantap. “ hubungi semua anak buah , komplotan dan Geng sekutu. Kita akan gempur mereka    ,”
“ Si siiaap Bos! ,” seru Huan semangat, sepertinya dia lupa ketakutannya tadi.
“ apa perlu kita ajak Senpai Hoki? ,” tanya Gisele.
“ untuk apa? Dia sudah tua ,”
“ tapi kan dia master karate, dan dia juga kakak kelasmu dulu. kudengar anak didiknya sangat jago-jago dalam pertarungan jalanan. Bagaimana? ,” sarannya.
“ hemmm, boleh juga...kalau perlu ajak Sabam Eka dan Suvika,”
“ eh? Sauvika?bukannya dia...,”
“ dia punya teman yang ahli main katana, lumayan kan buat nambah-nambah pasukan? ,” ujar Zack senang.
“ tapi dia perempuan ,”
“ yeah, kalau begitu kau apa? Kau juga perempuan,”
Giesele hanya diam .Zack punya jalan pikiran yang menarik rupanya.

Kediaman Senpai Hoki.

“ Bos Zack memintamu untuk ikut konvoinya besok ,” ujar Huan sambil tertunduk menghadap seorang pria bertubuh besar yang tengah duduk bersila di sebuah dojo. Pria itu berwajah garang dan galak meskipun sedang tersenyum. Tubuhnya penuh dengan tato naga dan ikan koi.
“ Zack? Anak itu...mau apa dia memintaku untuk ikut dengannya. Memangnya kemana Ash ,” tanya Senpai Hoki.
“ eng..anu, Bos Ash sedang sakit, dia sedang dirawat ,”
“ sakit? Sakit apa? ,” tanyanya lagi.
“ itu dia. Ada anak SMA yang sepertinya jago berkelahi Senpai, dia menghabisi Bos kami. Makanya Bos Zack minta bantuanmu ,”
Senpai Hoki malah tertawa, tawanya nyaring sekali.” Hahahah. Apa? Seorang bocah? Astaga seburuk apa Ash saat ini sampai bisa dikalahkan begitu? Memalukan ,”
Huan diam saja, tidak berani menjawab.
“ berapa anak? Huh? ,”
“...hanya seorang Senpai. Tapi sepertinya anak itu tahu kalau sedang kami incar, dia memanggil teman-temannya untuk menghadapi kami ,” terang Huan.
“ huh. Seorang pengecut yang berani ,” komentar Senpai Hoki , Huan mengernyit heran. Kata-kata Senpai Hoki membingungkan baginya. Huan kembali diam.
“ baiklah , sampaikan pada Zack. Aku ikut ,”
“ ah, terima kasih Senpai ,”
" tapi, aku ikut tidak cuma-cuma lho ," ujar Senpai Hoki
" eh? Maksud senpai? ," Huan bingung.
Senpai Hoki mendesah , sambil berdecak sebal. " kau tahu? Semua tenaga yang keluar  ada bayarannya. Paham? ,"
" ....uang...maksudnya? ,” tebak Huan.
" yakk. Itu maksudku ," seru Senpai Hoki akhirnya. “ katakan pada Zack untuk menyiapkan upah. Oke ,” tambahnya. Huan mengangguk, kemudian segera meminta dirinya untuk pamit meninggalkan dojo.


Sebuah Gang di pinggir kota.

Gisele yang bertugas menemui Sauvika.
Gadis itu tengah menyusuri jalan setapak menuju sebuah gudang yang berada di sudut kota. Sebuah gudang bekas penyimpanan kain-kain dan benang. dan sekarang berubah menjadi markasnya Sauvika. Gisele hanya tahu bahwa sauvika dulu bagian dari anggotanya dan mengeluarkan diri karena lebih suka bebas, Sauvika si ahli pedang kini mempunyai banyak anak buah, dengar-dengar komplotannya adalah pembunuh bayaran.
Walaupun seorang wanita, Sauvika memiliki daya petarung yang tinggi, tak heran bahwa dirinya dijuluki wanita si satu. Bukan karena dia nomer satu, tapi...
“ hanya punya satu tangan? ,” pikir Gisele setelah bertemu langsung dengan gadis yang bernama Sauvika itu. Sauvika hanya tersenyum tipis ketika dia tidak bisa menyambut tangan Gisele untuk berjabat tangan. Ia ganti dengan menunduk hormat. “ maaf, aku hanya punya tangan kiri ,” katanya sambil tersenyum. Tangan kirinya memegang sebuah pedang yang bernoda darah, sementara bungkusnya tersemat dibelakang punggung. Dia sangat manis meskipun banyak kekurangan pada fisiknya. Ia berpenampilan biasa, rambutnya diikat tinggi-tinggi , dan sebelah dahinya terdapat goresan bekas luka memanjang. Mungkin akibat tersayat pedangnya. Gisele memaksa tersenyum, meski di sekelilingnya anak buah Sauvika mengamatinya tajam, membuat dirinya tidak nyaman.
“ well , duduklah ,” kata Sauvika mempersilahkan Gisele duduk diatas peti-peti kayu bekas barang-barang. Sambil dia menyelesaikan pembersihan noda diujung pedangnya. Tampaknya sedang terjadi pembantaian. Dilihat dari lantai terdapat banyak darah yang berceceran dan suara orang meringis di balik gundukan kain-kain bekas.gisele bertanya-tanya dalam hati apa yang sedang terjadi, sementara dia terlalu takut untuk menanyakan langsung pada Sauvika. Sauvika menyadari gelagat Gisele yang tampak penasaran.
“ maaf, keadaannya lagi kacau. Kami sedang memberi pelajaran pada seseorang yang tidak tahu terimakasih ,” jelas Sauvika pada Gisele yang sedaritadi mengamati bercak darah dilantai dan berusaha mengintip dibalik gundukan. Gisele hanya termangu, penjelasan Sauvika tidak sepenuhnya menjawab keingintahuannya.
“ ada apa memang? ,” tanyanya hati-hati.
“ mau tahu? ,” tantang Sauvika tajam.
“ Ah tidak usah Vika. Maksud kedatanganku kesini bukan untuk itu, melainkan--,” belum sempat Gisele mengutarakan maksudnya, tiba-tiba saja terdengar suara gesekan lantai. Dari balik gundukan itu terlihat seseorang tengah berusaha menyeret tubuhnya untuk bergerak. Dia hanya menggunakan satu tangannya untuk menopang tubuhnya yang kini tidak mempunyai kaki lagi, sementara satu tangannya terikat dibelakang punggung. Gisele nyaris berteriak, namun tertahan karena ketakutan. Dia masih tidak percaya dengan apa yang ada didepannya itu. sosok tubuh berdarah deangan kedua kaki yang terpotong hingga lutut. Bergerak perlahan bagaikan zombie yang mengerikan. Sekarang dia mendongak. Memperlihatkan wajahnya yang lebam penuh luka sayat. Bibirnya terbuka , seolah menyuarakan sesuatu. “ arrrgggghh...tolooooong ,” erangnya kesakitan.  Gisele mudur menjauhinya sambil menutup mulutnya dengan kedua tangan. Sementara Sauvika dan anak buahnya hanya memandangi orang itu dengan tatapan rendah. Bagaikan sampah.
“ aa apa itu? ,” tanya gisele gemetaran. “ ada apa dengannya? Kenapa dia—kedua kakinya buntung. Astaga panggil ambulan!! ,” teriaknya panik.
“ apa yang kau lakukan ? kenapa kau teriak-teriak begitu? ,” tanya Sauvika bingung. Gisele terpaku memandang Sauvika yang begitu dingin dan kejamnya sementara dia telah menyiksa orang sedemikian rupa. Gisele ingin membantu orang itu, tapi terlalu ngeri dan jijik untuk menyentuhnya.
“ hei nona, santailah. Biarkan orang itu mati ,” sambar salah satu anak buah Sauvika.
“ apa? ,”.
“ ayolah, kenapa kau peduli? Bukankah bosmu lebih kejam? ,” sindir Sauvika.
“ aa aku....tapi, aku-tidak-pernah melihat orang disiksa-langsung ,” jawab Gisele terbata-bata. Matanya masih terpaku pada sosok lemah pria malang itu.
“ kalau gitu kau tak pantas masuk didunia ini nona. Bahkan kau masih punya perasaan saat melihat seseorang terluka ,” tukasnya dingin. Gisele hanya termangu, tanpa terasa air matanya jatuh dipipi. Gisele sangat ketakutan, sampai-sampai tubuhnya bergetar dan matanya memandang tanpa kedip.
“ setidaknya jangan perlihatkan orang ini padaku ,” isak Gisele.
 Sauvika tersenyum masam seraya bersiap-siap memegang pedangnya. “ dia sendiri yang datang padamu? ,” sambarnya. Sauvika melangkah kedepan mendekati pria itu dengan sebuah pedang di tangannya. Pedang itu terhunus diatas kepala pria itu. Gisele terkesiap, dia maju beberapa langkah.
“ hei, hentikan Vika. Iiitu urusanmu kan, lakukan nanti sehabis aku pulang. Tolong jangan apa-apakan dia didepanku ,” pinta Gisele sembari tangannya terkepal saking takut. “ tooolooong ,” si pria masih sempat bersuara, namun sama sekali tidak berguna untuk menyelamatkan nyawanya.
“ setidaknya dia tidak lagi menunjukan wajahnya yang menyebalkan itu ,” Sauvika mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, memenggal kepala Pria itu dengan sangat cepat, kepalanya masih utuh beberapa saat , sampai Sauvika memasukan kembali pedangnya kesarung.
Jrassssh ...
Terdengar suara benda terjatuh.
Pluk.
Sebuah benda bulat tergeletak dilantai, berdarah, dan matanya melotot menghadap Gisele.
“ AAAAAAAAAAAAARRRRGHH ,” Gisele berteriak keras sekali, berjalan mundur sambil terhuyung kebelakang tak terkendali ,dengan sigap anak buah gisel yang bernama Tod langsung menangkap tubuhnya .
Gisele pun pingsan.

Saat tersadar, matanya masih agak buram, namun ingatannya masih jelas. Dia masih ingat bagaimana Sauvika memotong kepala seorang pria dengan sebuah pedang. dia, secara langsung menyaksikan kekejaman salah satu mantan anggota gengnya. Dia masih sangat syock, bahkan untuk berkata-kata saja susah.
Anak buah Sauvika mengelilinginya dengan tatapan bingung, dan simpati, namun tidak berkomentar apa-apa, kecuali Sauvika sendiri. Dia berjongkok disebelah Gisele sambil memegangi segelas air  putih.
“ sudah baikan? Kau tak apa-apa kan? ,” tanyanya lembut sembari memberinya segelas air putih. Gisele menerimanya ragu, tidak langsung meminumnya. “ aku baik-baik saja ,” jawab Gisele bohong. Padahal dia masih gemetar dan ketakutan. Takut sama Sauvika.
“...yakin? mau ku antar pulang?,” tawar Sauvika dengan nada ramah . seolah seperti dirinya dan Gisele sahabat karib.
“ tidak usah. Sungguh. Aku kesini hanya ingin menyampaikan pesan...,” ucap Gisele parau.
“ pesan? Dari siapa? ,”
Gisele meneguk airnya perlahan, meresapi air yang segar melewati kerongkongannya yang kering kerontangan. Kemudian ia melirik tempat orang tadi di siksa. Sudah tidak ada bekasnya, hanya ada bercak noda merah yang sudah kering dan bau amis tertinggal.
“ kau kemanakan dia? ... orang tadi ,” tanya Gisele , matanya masih terpaku disana.
Sauvika ikut menoleh kearah Gisele memandang. “ ooh itu. sudah dibereskan sama anak buahku. Mayatnya mungkin sudah ada dipembuangan akhir ,” sahutnya santai. “ oh iya tadi kau bilang mau menyampaikan pesan. Pesan dari siapa? ,”
“ itu...dari Ash. Sekarang dia sedang sekarat ,”
“ sekarat??? ,” Sauvika tampak terkejut. “ kenapa? ,”
“ ceritanya panjang. Intinya kami ingin balas dendam sama orang yang telah membuat Ash begitu. Kami sedang mengumpulkan bantuan , dan berkerja sama dengan sekutu gengster disini ,” jelasnya.
“ waah, kenapa aku baru tahu. Memang siapa yang sudah bikin Ash sekarat Hah? , dan kenapa tidak kalian hadapi sendiri? Biasanya kalian paling agresif dalam hal ini ,” tukas Sauvika kecewa. Gisele hanya tertunduk. Yang ia bakal jelaskan amatlah memalukan. Apa lagi dihadapan mantan anggotanya.
“ hemmps...begini Vika. Orang yang sudah membuat kami kelabakan menghadapinya hanyalah seorang anak SMA. Dia...entah kenapa , bisa mengalahkan Ash. Membunuh Taka, dan dua anak buah kami....kau tahu , aku merasa tindakan ini terlalu berlebihan, sampai harus meminta bantuanmu dan yang lain untuk melawannya, tapi...dia sepertinya bukan anak sembarangan. Dia bukan anak ingusan yang gampang di bully. Tapi, setelah melihat kejadian yang menimpa orang-orangku, aku yakin satu anggota geng kami tak akan mampu mengatasinya , apa lagi sekarang dia sedang memanggil bantuan. Andai saja kau bisa lihat keadaan Ash sekarang, mungkin kau akan mengerti ,” Gisele nampak sangat putus asa. Mungkin masih sedih dengan apa yang menimpa pacarnya sekarang. Sauvika memandanginya penuh simpati sambil menyentuh pundak Gisele untuk memberi semangat.
“ tenang Gisele. Aku akan membantu kalian. Akan ku balaskan dendam Ash untuknya. Aku tidak peduli seberapa hebat anak itu atau seberapa banyak, toh dia juga manusia kan? Lihat, anak buahku juga banyak  ,” katanya sambil tersenyum. Gisele hanya bisa membalas tersenyum tipis. Perlahan rasa takutnya pada Sauvika hilang dan berganti menjadi perasaan nyaman.
“ terima kasih ,”.

Tok.tok.
Suara ketukan pintu itu membuyarkan lamunan seorang pemuda yang tengah termangu di tepi balkon disebuah flat. Ia menatap pintu rumahnya.
Laki-laki tanpa kaus, berjelana jeans pendek selutut dan bertubuh atletis menyebrangi ruang rumahnya yang pengap dan sumpek menuju pintu depan . Dia membiarkan penampilannya begitu saja , tanpa berpakaian terlebih dahulu.
Ceklek..
Pintu terbuka setengah. Kepalanya muncul di ambang pintu.
“ siapa? ,” tanyanya.
Ternyata seorang cowok.
Dia berdiri sambil membelakangi pintu, dengan sebuah ransel besar dipunggungnya. Rambutnya cepak berukir-ukir. Dan dia mengenakan celana SMA yang sudah lusuh.
“ siapa ya? , “ ulangnya lagi. Cowok itu menoleh padanya, seraya memaparkan senyum yang lebar.
“ tidak ingat dengan adikmu sendiri? ,” sindirnya. Si pemuda mengernyit heran. Dia masih tidak mengenali siapa orang itu.
“ ini aku ,” katanya sambil menunjuk hidungnya dengan telunjuk. “ Rumah panti Harapan, ingat? ,”
Pemuda itu hanya bengong, sambil menelak-nelak siapa dia. “ ayolah aku capek berdiri disini, izinkan aku masuk saja, okey ,” serunya tak sabar.
“ tu—tunggu dulu ,” sergah si pemuda. “ katakan saja siapa namamu, agar aku ingat ,”
“ baiklah...aku Bane, Bane adikmu yang dulu,. Kak Julius ,” tukas Bane tegas. Dan, barulah orang yang bernama Julius itu ingat. Yeah dia ingat begitu dengar nama itu. nama seorang anak yang dulu sering bersamanya ketika masih kecil.
“ B...Bane? Bane? ,” Ulang Julius terkejut. “ astaga, benarkah ini kau? Ya ampun, kau berbeda sekali, bahkan aku sampai tak mengenalimu ,”
“ tentu saja kau tidak mengenaliku. Kitakan sudah tidak bertemu sejak 10 tahun yang lalu ,” ujar Bane.
Julius terperangah melihat perubahan yang begitu drastis pada Bane. Dia mengenalnya dulu ketika masih kecil, saat itu Bane adalah anak yang pemurung, kurus, kecil dan kurang gizi. Kini dia tumbuh menjadi menjadi anak yang besar , tinggi, meskipun sisi dekilnya masih terlihat jelas dipenampilannya. Wajah Bane tidak terlihat tirus seperti dulu, dan sekararang tingginya menyamai Julius.
“ sekarang, boleh aku masuk? ,” tanya Bane , tanpa tunggu jawaban Julius dia langsung menyeruak masuk.
“ huh, kau masih saja tidak sopan ,” gumam Julius tersenyum.

Bane langsung terhenyak duduk disofa panjang yang sudah usanng. Tanyannya terbuka lebar dan kakinya bersandar diatas meja pendek, lalu menghela nafas panjang untuk mengeluarkan beban penatnya setelah beberapa jam menghabiskan waktu berpetualang mencari rumah Julius . Julius masuk kemudian, sambil mengambil beberapa minuman dari kulkas.
“ dari mana kau tahu aku disini? ,” tanyanya. “ sudah lama sekali, kan ,”
Bane menengadah sambil berpikir, lantas mengambil sekaleng minuman dari tangan Julius. “ aku melihatmu waktu sedang ada turnamen basket antar sekolah. Waktu itu sekolahku dan sekolahmu sedang bertanding. Kau muncul disalah satu penonton. ,”
“ benarkah? Trus bagaimana kau tahu kalau itu aku? Wajah kita kan ga sama lagi seperti dulu? ,”
“ yah itu benar. Tapi alismu yang runcing itu tidak pernah berubah. Dari situ aku mengenalimu ,” ucap Bane, Julius tersenyum sambil duduk disebelahnya. Untuk beberapa saat, mereka berbincang-bincang. Mengenang kembali masa-masa kecil mereka dulu di panti asuhan. Masa dimana dia dan Julius selalu bersama, dalam suka maupun duka. Sampai disaat mereka beusia 10 tahun, Julius , memutuskan untuk pergi dari rumah panti.

Pada saat itu, Bane hampir lupa dengan niatnya datang kesini. Dia begitu hanyut dalam nostalgia ini, meskipun dia begitu ingin melupakannya dan mengubur kenangan itu bersama dengan orang yang ada disebelahnya.
Bane tersenyum samar ketika Julius bercerita tentang  masa lalu mereka. kelihatannya Julius sangat senang sekali bertemu lagi dengan Bane, meskipun begitu, Bane dengan niatnya sekarang merasa sangat tidak enak melihat Julius. Sebenarnya dia ingin sekali membatalkan misinya itu, tapi...
Aku butuh kekuatannya. Aku tidak boleh lengah. Batin Bane dalam hati

“ kau baik-baik saja, Bane? ,” tegur Julius , sadar kalau Bane tidak mendengarkannya.
“ ah, aku baik-baik saja. ,” jawab Bane.
“ emm. Aku masih tidak percaya kita akan bertemu lagi. Bagaimana keadaan panti setelah aku pergi? ,”
“ mana ku tau? Aku juga pergi setelah kau pergi. ,” ujar Bane sambil angkat bahu.
“ benarkah? Jadi kau juga pergi, pergi kemana kau? ,”
“ entahlah, menggelandang di kota dan kerja jadi tukang semir sepatu , dan akhrinya terdampar di kota ini. ,” sahutnya datar. “ aku juga sekolah ,” tambah Bane sambil menunjukan celana SMAnya.
“ siapa yang menyekolahkanmu? ,”
“ bosku yang merawatku, memberikan tempat tinggal dan membiarkanku membantu bengkelnya. ,”
“ terus kenapa kau malah kesini? Bosmu pasti mencarimu ,”
“ tidak. Dia sudah tidak membutuhkanku lagi. Lagi pula ga enak juga terus-terusan merepotkannya. Aku sudah terlalu banyak menyusahkan bosku itu. ,”
“ bosmu orang yang baik. Beruntung kau bertemu dengannya ,” komen Julius.
“ yah, gitu deh....,”
“ kalau kau kesini, apa kau berhenti sekolah? Apa kau akan pindah juga? ,” tanyanya lagi.
“ yeah, aku berhenti untuk kesekian kalinya. Aku selalu dapat masalah dimanapun aku sekolah. Rasanya sekolah hanya menambah bebanku saja ,”
“ jangan berkata begitu, pendidikan juga berguna tahu ,” Julius menasihati.
“ ahh, kau saja. Aku tidak peduli tentang itu. bagiku sekolah hanya formalitas saja ,” ujar Bane tidak peduli . “ ya ya ya....kau selalu cuek, dasar, mau jadi apa kau kelak kalau seperti ini? ,” singgung Julius menoyol kepala adiknya, Bane langsung mengelak , tak suka kepalanya di pukul begitu.
Mereka berdua saling diam, setelah candaan itu. Julius diam karena dia masih merasa senang dengan kedatangan Bane, sedangkan Bane sedang sibuk memikirkan hal yang sepertinya ingin sekali dia katakan pada Julius, namun terlalu sulit untuk mengucapkannya.
“ ada yang ingin kau bicarakan? ,” tanya Julius. Bane menoleh ke Julius lesu. Tatapannya kosong .
“ tidak. Tidak ada. Aku mau istirahat, dimana kamarmu , Kak? ,” tanya Bane langsung bangkit dari duduknya , mencari-cari kamar Julius.
“ disana, di sudut ruangan ,” Julius menujukan sebuah pintu diujung lorong. Lorongnya sedikit agak gelap. Bane melihat ke arah yang di tunjuk Julius, lalu berjalan kesana.

Bane mengamati ruangan ini dengan penuh minat. Dari dulu dia suka bagaimana Julius memperlakukan kamarnya. Kamar Julius selalu misterius. Kamarnya agak gelap, dan beraroma harum seperti rempah-remah. Dia memicingkan mata kesegala sudut ruangan, memastikan kamar ini aman. Bane meletakan ranselnya diatas meja didekat sebuah jendela yang terbuka. Angin sore masuk kedalam sangat sejuk. Dia menikmatinya sebentar, lalu menegakan wajahnya lurus kedepan. Dia menyusupkan tangannya ke saku jeans, mengambil sebuah ponsel. Mengetik sms dengan cepat, lalu mengirimkannya pada seseorang. Wajahnya terlihat tegang, sambil matanya bergerak cepat. Dia menyandarkan tubuhnya kemeja sambil menatap layar ponselnya.
“ aku harus melakukan ini, apa pun resikonya ,” desis Bane pada dirinya sendiri. Dia memandangi pantulan wajahnya dari layar ponsel, melihat bagaimana ekspresinya sekarang. Gemetaran, merasa bersalah,takut, benci, namun yakin bahwa ini lah yang ingin dilakukannya sejak dulu. yaitu...

***
Zack terpaku melihat pesan singkat yang diterimanya melalui sms. Dia nyaris saja meremukan handphonenya karena terlalu bersemangat . Gisele dan Huan bingung saling pandang , lantas mereka menghampirinya.
“ ada apa? Kau terlihat senang sekali? ,” tanya Gisele.
“ lihat ini ,” seru Zack menyodorkan hendphonenya ke Gisele. “ anak buahku berhasil menemukan dimana sikeparat itu berada ,”
Gisele membaca pesan itu : Bos, aku menemukannya, dia ada di sebuah flat di pinggir kota seberang, dia tinggal bersama seorang laki-laki. Tampaknya dia komplotannya
Gisele mengernyit, lalu bertukar pandang dengan Huan , kemudian Zack.
“ benarkah kabar ini? Ini dari anak buahmu? Kok tidak ada namanya? ,” tanya Gisele.
“ memang kau menyuruh siapa Bos untuk mencari anak itu? ,” tanya Huan.
Zack tersenyum licik, sambil membalas pesan tanpa nama itu. “ sudah pasti ini Fadli, aku yang menyuruhnya kemarin ,” jawabnya. “ dan lihat hasil kerjanya, bereskan ,” sindir Zack. Huan langsung cemberut.
“ ini bagus, kita sudah tau dimana anak itu berada, jadi kita tinggal menyergapnya saja—terserah mau ditempat atau kita seret kemarkas ,” kata Zack mantap. Gisele tampak curiga, dia merasa ada yang tidak beres dengan pesan itu.
“ Zack, aku mau jengguk Ash besok. Kau mau ikut? ,” ajak Gisele.
“ hemm? Baiklah, ayo kita jenguk dia, sekalian aku ingin meberinyanya kabar gembira. Aku harap dia cepat sembuh setelah melihat kepala anak itu dihadapannya ,” gurau Zack tertawa, tapi Gisele malah menyiptkan matanya tajam. Zack langsung berhenti tertawa, dan langsung minta maaf.
“ hentikanlah..,” desis Gisele marah.