BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS »

Kamis, 07 Agustus 2014

Black side of Special Orphans


Chapter 1. “ Bane pindah, dan membawa bencana “

BUAAKKK

Satu pukulan lagi, dirasa sudah cukup baginya untuk menjatuhkan anak ini. Kalau pun di pukul lagi,  toh dia akan mati, percuma kan. Bosnya bilang untuk membuatnya sekarat saja, seperti yang di lakukan anak itu pada Bos mereka yang sekarang tengah terbaring di rumah sakit. Cowok itu menghela nafas panjang, tampak kecewa, sementara kedua anak buahnya yang bertugas memegangi anak itu saling bertukar pandangan.
“ ahhh, membosankan---apa benar ini anak yang sudah membuat Ash sekarat, dan nyaris mati? ,” ucapnya santai. Kedua kacungnya tertawa menanggapi. “ lihat betapa lemahnya kau ini ,”
Anak malang itu masih sadar, dia mendongak menatap wajah si cowok itu dengan tatapan tajam, meski sudah babak belur dan lemah, tapi wajahnya masih mencerminkan sikap tenang penuh percaya diri, bahkan sekarang dia tersenyum menantang kepada lawannya itu.
“ kenapa kau senyum-senyum begitu? Kau pikir ini lucu? ,” gumamnya sinis . Dia pun langsung mendorong anak itu dengan kakinya sampai tersungkur kebelakang, anehnya anak itu malah tertawa senang.
“ BERHENTII TERTAWA, MEMANGNYA LUCU APA, HAH!!? KAU MENANTANGKU YA???,” teriaknya marah. “ KU HAJAR KAU, BOCAH TENGIKK ,” cowok itu pun melancarkan tendangannya kearah perut , namun sesuatu yang aneh mulai terjadi pada anak itu. tiba-tiba saja bagian perut anak itu meremang menjadi bayangan,  tendanagan si cowok itu pun dapat menembusnya, alih-alih menendang perut, kakinya malah menghantam tembok dengan keras.
“ ARRRGGH.... sakiiit ,” ringis si cowok sambil memegangi punggung kakinya. Kedua anak buahnya terkejut dan langsung menghambur ke bos mereka. “ bos Taka!!! ,”
“ apa yang terjadi? Seharusnya tendangannya kena dia kan! ,” tanya salah satu anak buah itu. yang satunya angkat bahu, tidak tahu. Taka masih meringis kesakitan sementara, gantian, anak buahnya yang menghadapi si anak tadi. Sekarang tangannya bebas, itu artinya dia bisa melawan. Keanehan tadi masih membuat Taka dan anak-buahnya menjadi sedikit waspada terhadap anak itu. mereka bahkan menjaga jarak dengannya.
“ apa yang kau lakukan, sial! Kau bisa sihir ya? Jelas-jelas tadi kami melihat perutmu menjadi bayangan dan berhasil mengelak dari serangan Bos! ,” kata si kacung gendut.
“ aneh kan! Pasti kalian tidak pernah melihat yang seperti ! ,” katanya mantap.
“ brengsek kau Bane, habisi dia!!! ,” perintah Taka. Kedua kacungnya langsung memberikan serang secara bersamaan, tapi anehnya semua pukulan mereka menembus tubuh Bane. Seperti sedang meninju udara, serangan mereka jadi sia-sia dan Bane dengan santainya menerima itu semua tanpa melawan.
Dia sekarang seperti hologram yang hidup. Sia-sia saja kedua anak buahnya itu menyerang Bane secara membabi buta.  “ bodoh kalian! Cepat habisi dia! ,” raung Taka kesal. Dia pun dengan susah payang bangkit dan ikut menyerbu Bane, tapi disaat bersamaan Bane mengeluarkan satu kekuatan anehnya lagi.

booom ,”

Duaaarrrr....

Entah apa yang terjadi, tapi pastinya mereka bertiga bukan di lempari bom sampai terpental jauh diudara dan jatuh menghantam tanah seperti itu, melainkan ada sebuah ledakan dahsyat yang menyerang mereka. tidak ada api dan tidak juga ada yang terbakar, yang ada hanya barang-barang hancur, tembok roboh dan asap-asap debu yang mengepul-ngepul. Sangat kacau, seperti sedang perang saja!
Taka dan kedua kacungnya tengah terkapar tidak berdaya ditanah dengan tubuh penuh luka-luka, dan kepala berdarah, diantara reruntuhan itu. taka yang terlihat masih sadar berusaha menggerakan jemarinya yang lemah. Rupanya ia ingin menggapai ponselnya untuk meminta bantuan, tapi handphonenya keburu rusak oleh sebuah sepatu yang menginjaknya.
“ beruntung masih ponselmu yang retak, kita lihat bagaimana dengan kepalamu hah! ,” ucap Bane tajam.

“ AAAAAAAAARRRGGGGHHH....,” hanya terdengar teriakan kesakitan Taka yang menggema di udara itu, sisanya....hanya mereka yang tahu.

Sosok tubuh lemah penuh luka , dengan jalan terseok-seok , baju yang sobek dan kaki yang melangkah gontai, muncul dari balik puing-puing bangunan yang setengah runtuh dilatarbelakangi asap debu putih diudara. Kemunculannya itu terkesan mengenaskan, namun dibalik itu , dia masih menyimpan sepuntung rokok yang menyala di bibirnya-seolah tidak terjadi apapun yang mengerikan—padahal baru saja dia habis dipukuli sampai babak belur.
" huaah harus beli seragam lagi deh. Sial ," gumanya jengkel sambil memperhatiakn kondisi seragamnya yang sangat kacau. " tapi sepertinya aku tidak akan pakai seragam ini lagi ,"
Disisi jalan, disebuah semak-semak , terlihat dedaunannya bergerak-gerak. Sekilas seperti tertiup angin, namun kalau diperhatikan lebih seksama lagi, jelaslah itu gerakan yang disengaja. Sepertinya ada sesuatu disana. Semak-semak itu tak henti-hentinya berguncang sampai membuat Bane menoleh penasaran kearahnya.
"....." semak-semaknya langsung berhenti bergetar ketika Bane memicingkan mata ke semak itu.
" anehhh, ku pikir tadi bergerak ," gumamnya heran. " aku jadi penasaran ," Bane bermaksud melihat ke balik semak-semak itu, namun dering ponsel disakunya membuatnya berhenti.
Terdengar suara helaan nafas panjang. Untungnya Bane tidak sadar , dia sedang sibuk menulis sms.
" untung saja--- sial. Pergilah dari sini ," desis si mata-mata , dia meremas daun didekatnya gemas.
Tak lama Bane pergi dari sana, tanpa mengetahui keberadaan seseorang di balik semak-semak itu.
" nyaris saja ketahuan. Kalau tidak bisa mampus aku ditangannya ," pikirnya seraya berlari dari tempat persembunyiannya menuju gudang. " aku harus melihat keadaan bos Taka dan melaporkan semua ini pada Zack. "
"Ini tidak bisa dibiarkan "

Beberapa jam kemudian.
Markas rahasia Geng Ash

Selagi Ash tidak ada, jabatan bos kini dipegang oleh orang yang bernama Zack. Dia merupakan anak buah Ash yang paling di percaya dan sangat dekat dengannya. Cowok dingin dan berwajah ambisius serta terkenal sangat kejam itu , dengan senang hati mengganti posisi Ash . dengan angkuhnya kini dia tengah duduk di kursi besar bersama seorang gadis yang merupakan pacara Ash. Seharusnya dia hanya mendampingi Ash, tapi demi menjaga kestabilitas organisasi gadis itu tetap ingin disana , siapapun bosnya.

" mana Taka, seharusnya dia sudah ada disini dengan anak itu kan? ," tanya Zack gusar. Dia sudah menunggu selama 1 jam, sesuai yang dijanjikan Taka kepadanya, tapi sampai sekarang anak buahnya itu belum juga datang.
" segitu sulitnya kah menanggkap bocah ingusan seperti itu? ," tambahnya.
" sabar Zack...mungkin mereka terjebak macet, " kata Gisele.
" macet apanya? Meraka di tengah kampung, bukan perkotaan! Tidak ada alasan yang tidak masuk akal begitu ," cecar Zack . " oouh maaf Gisele , aku tak bermaksud---,"
" lupakan ," potong Gisele jengkel.
" sebenarnya aku ragu kalau Ash dikalahkan oleh anak seperti itu. Apa lagi Ash itu kuat, bagaimana bisa? ," tanya Gisele pada dirinya sendiri,.
" bisa jadi dia di keroyok ," Zack berpendapat.
" tidak mungkin, Ash sendiri yang bilang kalau anak itu yang melakukannya ,"
" okelah kalau dia yang melakukannya, tapi dengan cara apa? Memangnya kau tidak tanya? ,"
" aku? Saat aku menemukan Ash terkapar si gang kecil, dia hanya bilang 'dia' saja sambil memegang jam tangan milik si anak itu, sisanya...dia langsung pingsan ," jelas Gisele seraya mengingat kejadian tempo hari lalu.
Zack mengernyit, memandang Gisele penuh tanya. " anak itu tidak ada disana? ,"
Gisele mengangguk pelan. " nampaknya Ash lah yang memulai duluan ,"
" Ash tidak pernah bersikap ceroboh, apa lagi membiarkan dirinya dikalahkam begitu saja. Bayangkan anak geng motor yang begitu banyaknya bisa dikalahkan hanya seorang diri, masa....dengan anak SMA saja kalah ,” sumbar Zack tak percaya sekaligus kecewa.
“ sepertinya anak itu sedikit spesial. Yang aku lihat saat Ash terluka, hampir sekujur tubuhnya penuh luka-luka, bajunya sobek dan dia sedikit berasap—seperti habis kena ledakan ,” Gisele berpendapat. “ tapi...tidak ada luka bakar sedikit pun atau barang-barang yang hangus terbakar,” tambahnya.
Zack tampak berpikir, dia mengepal-ngepalkan tangannya seolah gemas, ingin sekali secepatnya menghabisi anak itu dengan tangannya.
“ usahakan agar dia tetap hidup di depanku nanti ,” kecam Zack marah.

Tiba-tiba seseorang datang menyeruak masuk kedalam, Zack dan Gisele terperangah saat dia muncul.
“ Huan?? ,”seru mereka berbarengan.
Orang yang bernama Huan itu tengah terengah-engah saat muncul di pintu,lidahnya terjulur kelelahan sementara lututnya gemetaran. “ b  bbosss,” katanya. Huan terhuyung menuju Zack, dengan  langkah terseret dia berusaha untuk berdiri di hadapan bosnya. Satu tangannya berhasil bertumpu dimeja, dan dengan susah payah akhirnya dia bisa mengatur nafasnya kembali.
“ ada apa Huan? Mana yang lain? ,” tanya Gisele
Huan masih ngos-ngosan, namun tetap ingin menjawab. “ ga gawat...bos, Gisele. Bos Taka dan yang lain...hah haah...,”
“ bicara yang jelas Huan!!! ,” sentak Zack tak sabar.
“ Taka dan yang lain mati , Bosss! Mereka dikalahkan anak SMA ituu ,” teriak Huan tak tahan.
“ APAA??? , Huan jangan bercanda!! ,”
“ se serius Boss! Mereka—mayat mereka masih di gudang itu...aku tidak tahu harus berbuat apa! Kalau lapor polisi, itu akan membongkar keberadaan kita juga...makanya aku kesini ,” jelas Huan ketakutan.
“ kau—lalu apa yang kau lakukan Hah? Membiarkan dia kabur? ,” teriak Zack.
“ aku...aku terlalu takut bos...dia ...dia menakutkan! Dia meledakan Bos Taka , Juqulen dan Codet...,” rengek Huan berusaha menahan gemetar di tubuhnya.
ahh, seperti yang dialami Ash ...,” batin Gisele.
“ BODOHH!!! TOLOL BANGET ! NANGKEP TIKUS SAJA TIDAK BISA!!! Katakan...siapa nama anak itu, diamana dia tinggal dan tempat dia sekolah! ,” pinta Zack.
“ saya tidak tahu , Bos...tapi kalau tempatnya sekolah, itu ada di kota.  ,”

Saat pembicaraan itu berlangsung terdengar suara ketukan di pintu luar. Zack memberi isyarat pada Huan untuk melihat siapa yang datang. Huan segera menuju pintu dan membukanya.
Hening.
Tidak ada seorang pun disana.
“ ga ada siapa-siapa? ,” gumamnya heran. Huan hendak menutup pintu kembali, namun urung, ketika ia melihat sehelai kertas menempel dipintu. “ apa ini? ,” di tariknya kertas itu. Huan langsung terkesiap dan langsung bergegas untuk menunjukan kertas itu pada Zack.


Zack sangat terkejut dengan apa yang ditunjukan oleh Huan. Secarik kertas itu sudah cukup membuatnya marah dan kesal.
“ boleh kulihat? ,” pinta Giselle yang sangat penasaran dengan isi surat itu. Zack mengiyakan tanpa berkata-kata. Gisele mengernyit dan langsung mengembalikan surat itu.
“ ini pernyataan perang. Sepertinya anak itu juga punya komplotan ,” komen Giselle.
“ aku tidak tahu maksudnya apa? Tapi beraninya dia menantang kita, dia menyuruh kita untuk mencarinya ,” ujar Zack.
“ di dia mungkin sudah kabur sekarang Bos, dan dia bermaksud memanggil teman-temannya , “ pikir Huan. “ mungkin dia mau melawan kita ,”
“ ini bukan mungkin lagi Huan!! Ini sudah pasti! Mereka menantang kita!! ,” teriak Zack. Huan langsung menciut ketakutan.
“ lalu? ,” tanya Gisele.
“ kita akan terima tantangannya, biarpun dia kabur dan punya banyak komplotan, Geng kita tidak akan kalah begitu saja. ,” kata Zack mantap. “ hubungi semua anak buah , komplotan dan Geng sekutu. Kita akan gempur mereka    ,”
“ Si siiaap Bos! ,” seru Huan semangat, sepertinya dia lupa ketakutannya tadi.
“ apa perlu kita ajak Senpai Hoki? ,” tanya Gisele.
“ untuk apa? Dia sudah tua ,”
“ tapi kan dia master karate, dan dia juga kakak kelasmu dulu. kudengar anak didiknya sangat jago-jago dalam pertarungan jalanan. Bagaimana? ,” sarannya.
“ hemmm, boleh juga...kalau perlu ajak Sabam Eka dan Suvika,”
“ eh? Sauvika?bukannya dia...,”
“ dia punya teman yang ahli main katana, lumayan kan buat nambah-nambah pasukan? ,” ujar Zack senang.
“ tapi dia perempuan ,”
“ yeah, kalau begitu kau apa? Kau juga perempuan,”
Giesele hanya diam .Zack punya jalan pikiran yang menarik rupanya.

Kediaman Senpai Hoki.

“ Bos Zack memintamu untuk ikut konvoinya besok ,” ujar Huan sambil tertunduk menghadap seorang pria bertubuh besar yang tengah duduk bersila di sebuah dojo. Pria itu berwajah garang dan galak meskipun sedang tersenyum. Tubuhnya penuh dengan tato naga dan ikan koi.
“ Zack? Anak itu...mau apa dia memintaku untuk ikut dengannya. Memangnya kemana Ash ,” tanya Senpai Hoki.
“ eng..anu, Bos Ash sedang sakit, dia sedang dirawat ,”
“ sakit? Sakit apa? ,” tanyanya lagi.
“ itu dia. Ada anak SMA yang sepertinya jago berkelahi Senpai, dia menghabisi Bos kami. Makanya Bos Zack minta bantuanmu ,”
Senpai Hoki malah tertawa, tawanya nyaring sekali.” Hahahah. Apa? Seorang bocah? Astaga seburuk apa Ash saat ini sampai bisa dikalahkan begitu? Memalukan ,”
Huan diam saja, tidak berani menjawab.
“ berapa anak? Huh? ,”
“...hanya seorang Senpai. Tapi sepertinya anak itu tahu kalau sedang kami incar, dia memanggil teman-temannya untuk menghadapi kami ,” terang Huan.
“ huh. Seorang pengecut yang berani ,” komentar Senpai Hoki , Huan mengernyit heran. Kata-kata Senpai Hoki membingungkan baginya. Huan kembali diam.
“ baiklah , sampaikan pada Zack. Aku ikut ,”
“ ah, terima kasih Senpai ,”
" tapi, aku ikut tidak cuma-cuma lho ," ujar Senpai Hoki
" eh? Maksud senpai? ," Huan bingung.
Senpai Hoki mendesah , sambil berdecak sebal. " kau tahu? Semua tenaga yang keluar  ada bayarannya. Paham? ,"
" ....uang...maksudnya? ,” tebak Huan.
" yakk. Itu maksudku ," seru Senpai Hoki akhirnya. “ katakan pada Zack untuk menyiapkan upah. Oke ,” tambahnya. Huan mengangguk, kemudian segera meminta dirinya untuk pamit meninggalkan dojo.


Sebuah Gang di pinggir kota.

Gisele yang bertugas menemui Sauvika.
Gadis itu tengah menyusuri jalan setapak menuju sebuah gudang yang berada di sudut kota. Sebuah gudang bekas penyimpanan kain-kain dan benang. dan sekarang berubah menjadi markasnya Sauvika. Gisele hanya tahu bahwa sauvika dulu bagian dari anggotanya dan mengeluarkan diri karena lebih suka bebas, Sauvika si ahli pedang kini mempunyai banyak anak buah, dengar-dengar komplotannya adalah pembunuh bayaran.
Walaupun seorang wanita, Sauvika memiliki daya petarung yang tinggi, tak heran bahwa dirinya dijuluki wanita si satu. Bukan karena dia nomer satu, tapi...
“ hanya punya satu tangan? ,” pikir Gisele setelah bertemu langsung dengan gadis yang bernama Sauvika itu. Sauvika hanya tersenyum tipis ketika dia tidak bisa menyambut tangan Gisele untuk berjabat tangan. Ia ganti dengan menunduk hormat. “ maaf, aku hanya punya tangan kiri ,” katanya sambil tersenyum. Tangan kirinya memegang sebuah pedang yang bernoda darah, sementara bungkusnya tersemat dibelakang punggung. Dia sangat manis meskipun banyak kekurangan pada fisiknya. Ia berpenampilan biasa, rambutnya diikat tinggi-tinggi , dan sebelah dahinya terdapat goresan bekas luka memanjang. Mungkin akibat tersayat pedangnya. Gisele memaksa tersenyum, meski di sekelilingnya anak buah Sauvika mengamatinya tajam, membuat dirinya tidak nyaman.
“ well , duduklah ,” kata Sauvika mempersilahkan Gisele duduk diatas peti-peti kayu bekas barang-barang. Sambil dia menyelesaikan pembersihan noda diujung pedangnya. Tampaknya sedang terjadi pembantaian. Dilihat dari lantai terdapat banyak darah yang berceceran dan suara orang meringis di balik gundukan kain-kain bekas.gisele bertanya-tanya dalam hati apa yang sedang terjadi, sementara dia terlalu takut untuk menanyakan langsung pada Sauvika. Sauvika menyadari gelagat Gisele yang tampak penasaran.
“ maaf, keadaannya lagi kacau. Kami sedang memberi pelajaran pada seseorang yang tidak tahu terimakasih ,” jelas Sauvika pada Gisele yang sedaritadi mengamati bercak darah dilantai dan berusaha mengintip dibalik gundukan. Gisele hanya termangu, penjelasan Sauvika tidak sepenuhnya menjawab keingintahuannya.
“ ada apa memang? ,” tanyanya hati-hati.
“ mau tahu? ,” tantang Sauvika tajam.
“ Ah tidak usah Vika. Maksud kedatanganku kesini bukan untuk itu, melainkan--,” belum sempat Gisele mengutarakan maksudnya, tiba-tiba saja terdengar suara gesekan lantai. Dari balik gundukan itu terlihat seseorang tengah berusaha menyeret tubuhnya untuk bergerak. Dia hanya menggunakan satu tangannya untuk menopang tubuhnya yang kini tidak mempunyai kaki lagi, sementara satu tangannya terikat dibelakang punggung. Gisele nyaris berteriak, namun tertahan karena ketakutan. Dia masih tidak percaya dengan apa yang ada didepannya itu. sosok tubuh berdarah deangan kedua kaki yang terpotong hingga lutut. Bergerak perlahan bagaikan zombie yang mengerikan. Sekarang dia mendongak. Memperlihatkan wajahnya yang lebam penuh luka sayat. Bibirnya terbuka , seolah menyuarakan sesuatu. “ arrrgggghh...tolooooong ,” erangnya kesakitan.  Gisele mudur menjauhinya sambil menutup mulutnya dengan kedua tangan. Sementara Sauvika dan anak buahnya hanya memandangi orang itu dengan tatapan rendah. Bagaikan sampah.
“ aa apa itu? ,” tanya gisele gemetaran. “ ada apa dengannya? Kenapa dia—kedua kakinya buntung. Astaga panggil ambulan!! ,” teriaknya panik.
“ apa yang kau lakukan ? kenapa kau teriak-teriak begitu? ,” tanya Sauvika bingung. Gisele terpaku memandang Sauvika yang begitu dingin dan kejamnya sementara dia telah menyiksa orang sedemikian rupa. Gisele ingin membantu orang itu, tapi terlalu ngeri dan jijik untuk menyentuhnya.
“ hei nona, santailah. Biarkan orang itu mati ,” sambar salah satu anak buah Sauvika.
“ apa? ,”.
“ ayolah, kenapa kau peduli? Bukankah bosmu lebih kejam? ,” sindir Sauvika.
“ aa aku....tapi, aku-tidak-pernah melihat orang disiksa-langsung ,” jawab Gisele terbata-bata. Matanya masih terpaku pada sosok lemah pria malang itu.
“ kalau gitu kau tak pantas masuk didunia ini nona. Bahkan kau masih punya perasaan saat melihat seseorang terluka ,” tukasnya dingin. Gisele hanya termangu, tanpa terasa air matanya jatuh dipipi. Gisele sangat ketakutan, sampai-sampai tubuhnya bergetar dan matanya memandang tanpa kedip.
“ setidaknya jangan perlihatkan orang ini padaku ,” isak Gisele.
 Sauvika tersenyum masam seraya bersiap-siap memegang pedangnya. “ dia sendiri yang datang padamu? ,” sambarnya. Sauvika melangkah kedepan mendekati pria itu dengan sebuah pedang di tangannya. Pedang itu terhunus diatas kepala pria itu. Gisele terkesiap, dia maju beberapa langkah.
“ hei, hentikan Vika. Iiitu urusanmu kan, lakukan nanti sehabis aku pulang. Tolong jangan apa-apakan dia didepanku ,” pinta Gisele sembari tangannya terkepal saking takut. “ tooolooong ,” si pria masih sempat bersuara, namun sama sekali tidak berguna untuk menyelamatkan nyawanya.
“ setidaknya dia tidak lagi menunjukan wajahnya yang menyebalkan itu ,” Sauvika mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, memenggal kepala Pria itu dengan sangat cepat, kepalanya masih utuh beberapa saat , sampai Sauvika memasukan kembali pedangnya kesarung.
Jrassssh ...
Terdengar suara benda terjatuh.
Pluk.
Sebuah benda bulat tergeletak dilantai, berdarah, dan matanya melotot menghadap Gisele.
“ AAAAAAAAAAAAARRRRGHH ,” Gisele berteriak keras sekali, berjalan mundur sambil terhuyung kebelakang tak terkendali ,dengan sigap anak buah gisel yang bernama Tod langsung menangkap tubuhnya .
Gisele pun pingsan.

Saat tersadar, matanya masih agak buram, namun ingatannya masih jelas. Dia masih ingat bagaimana Sauvika memotong kepala seorang pria dengan sebuah pedang. dia, secara langsung menyaksikan kekejaman salah satu mantan anggota gengnya. Dia masih sangat syock, bahkan untuk berkata-kata saja susah.
Anak buah Sauvika mengelilinginya dengan tatapan bingung, dan simpati, namun tidak berkomentar apa-apa, kecuali Sauvika sendiri. Dia berjongkok disebelah Gisele sambil memegangi segelas air  putih.
“ sudah baikan? Kau tak apa-apa kan? ,” tanyanya lembut sembari memberinya segelas air putih. Gisele menerimanya ragu, tidak langsung meminumnya. “ aku baik-baik saja ,” jawab Gisele bohong. Padahal dia masih gemetar dan ketakutan. Takut sama Sauvika.
“...yakin? mau ku antar pulang?,” tawar Sauvika dengan nada ramah . seolah seperti dirinya dan Gisele sahabat karib.
“ tidak usah. Sungguh. Aku kesini hanya ingin menyampaikan pesan...,” ucap Gisele parau.
“ pesan? Dari siapa? ,”
Gisele meneguk airnya perlahan, meresapi air yang segar melewati kerongkongannya yang kering kerontangan. Kemudian ia melirik tempat orang tadi di siksa. Sudah tidak ada bekasnya, hanya ada bercak noda merah yang sudah kering dan bau amis tertinggal.
“ kau kemanakan dia? ... orang tadi ,” tanya Gisele , matanya masih terpaku disana.
Sauvika ikut menoleh kearah Gisele memandang. “ ooh itu. sudah dibereskan sama anak buahku. Mayatnya mungkin sudah ada dipembuangan akhir ,” sahutnya santai. “ oh iya tadi kau bilang mau menyampaikan pesan. Pesan dari siapa? ,”
“ itu...dari Ash. Sekarang dia sedang sekarat ,”
“ sekarat??? ,” Sauvika tampak terkejut. “ kenapa? ,”
“ ceritanya panjang. Intinya kami ingin balas dendam sama orang yang telah membuat Ash begitu. Kami sedang mengumpulkan bantuan , dan berkerja sama dengan sekutu gengster disini ,” jelasnya.
“ waah, kenapa aku baru tahu. Memang siapa yang sudah bikin Ash sekarat Hah? , dan kenapa tidak kalian hadapi sendiri? Biasanya kalian paling agresif dalam hal ini ,” tukas Sauvika kecewa. Gisele hanya tertunduk. Yang ia bakal jelaskan amatlah memalukan. Apa lagi dihadapan mantan anggotanya.
“ hemmps...begini Vika. Orang yang sudah membuat kami kelabakan menghadapinya hanyalah seorang anak SMA. Dia...entah kenapa , bisa mengalahkan Ash. Membunuh Taka, dan dua anak buah kami....kau tahu , aku merasa tindakan ini terlalu berlebihan, sampai harus meminta bantuanmu dan yang lain untuk melawannya, tapi...dia sepertinya bukan anak sembarangan. Dia bukan anak ingusan yang gampang di bully. Tapi, setelah melihat kejadian yang menimpa orang-orangku, aku yakin satu anggota geng kami tak akan mampu mengatasinya , apa lagi sekarang dia sedang memanggil bantuan. Andai saja kau bisa lihat keadaan Ash sekarang, mungkin kau akan mengerti ,” Gisele nampak sangat putus asa. Mungkin masih sedih dengan apa yang menimpa pacarnya sekarang. Sauvika memandanginya penuh simpati sambil menyentuh pundak Gisele untuk memberi semangat.
“ tenang Gisele. Aku akan membantu kalian. Akan ku balaskan dendam Ash untuknya. Aku tidak peduli seberapa hebat anak itu atau seberapa banyak, toh dia juga manusia kan? Lihat, anak buahku juga banyak  ,” katanya sambil tersenyum. Gisele hanya bisa membalas tersenyum tipis. Perlahan rasa takutnya pada Sauvika hilang dan berganti menjadi perasaan nyaman.
“ terima kasih ,”.

Tok.tok.
Suara ketukan pintu itu membuyarkan lamunan seorang pemuda yang tengah termangu di tepi balkon disebuah flat. Ia menatap pintu rumahnya.
Laki-laki tanpa kaus, berjelana jeans pendek selutut dan bertubuh atletis menyebrangi ruang rumahnya yang pengap dan sumpek menuju pintu depan . Dia membiarkan penampilannya begitu saja , tanpa berpakaian terlebih dahulu.
Ceklek..
Pintu terbuka setengah. Kepalanya muncul di ambang pintu.
“ siapa? ,” tanyanya.
Ternyata seorang cowok.
Dia berdiri sambil membelakangi pintu, dengan sebuah ransel besar dipunggungnya. Rambutnya cepak berukir-ukir. Dan dia mengenakan celana SMA yang sudah lusuh.
“ siapa ya? , “ ulangnya lagi. Cowok itu menoleh padanya, seraya memaparkan senyum yang lebar.
“ tidak ingat dengan adikmu sendiri? ,” sindirnya. Si pemuda mengernyit heran. Dia masih tidak mengenali siapa orang itu.
“ ini aku ,” katanya sambil menunjuk hidungnya dengan telunjuk. “ Rumah panti Harapan, ingat? ,”
Pemuda itu hanya bengong, sambil menelak-nelak siapa dia. “ ayolah aku capek berdiri disini, izinkan aku masuk saja, okey ,” serunya tak sabar.
“ tu—tunggu dulu ,” sergah si pemuda. “ katakan saja siapa namamu, agar aku ingat ,”
“ baiklah...aku Bane, Bane adikmu yang dulu,. Kak Julius ,” tukas Bane tegas. Dan, barulah orang yang bernama Julius itu ingat. Yeah dia ingat begitu dengar nama itu. nama seorang anak yang dulu sering bersamanya ketika masih kecil.
“ B...Bane? Bane? ,” Ulang Julius terkejut. “ astaga, benarkah ini kau? Ya ampun, kau berbeda sekali, bahkan aku sampai tak mengenalimu ,”
“ tentu saja kau tidak mengenaliku. Kitakan sudah tidak bertemu sejak 10 tahun yang lalu ,” ujar Bane.
Julius terperangah melihat perubahan yang begitu drastis pada Bane. Dia mengenalnya dulu ketika masih kecil, saat itu Bane adalah anak yang pemurung, kurus, kecil dan kurang gizi. Kini dia tumbuh menjadi menjadi anak yang besar , tinggi, meskipun sisi dekilnya masih terlihat jelas dipenampilannya. Wajah Bane tidak terlihat tirus seperti dulu, dan sekararang tingginya menyamai Julius.
“ sekarang, boleh aku masuk? ,” tanya Bane , tanpa tunggu jawaban Julius dia langsung menyeruak masuk.
“ huh, kau masih saja tidak sopan ,” gumam Julius tersenyum.

Bane langsung terhenyak duduk disofa panjang yang sudah usanng. Tanyannya terbuka lebar dan kakinya bersandar diatas meja pendek, lalu menghela nafas panjang untuk mengeluarkan beban penatnya setelah beberapa jam menghabiskan waktu berpetualang mencari rumah Julius . Julius masuk kemudian, sambil mengambil beberapa minuman dari kulkas.
“ dari mana kau tahu aku disini? ,” tanyanya. “ sudah lama sekali, kan ,”
Bane menengadah sambil berpikir, lantas mengambil sekaleng minuman dari tangan Julius. “ aku melihatmu waktu sedang ada turnamen basket antar sekolah. Waktu itu sekolahku dan sekolahmu sedang bertanding. Kau muncul disalah satu penonton. ,”
“ benarkah? Trus bagaimana kau tahu kalau itu aku? Wajah kita kan ga sama lagi seperti dulu? ,”
“ yah itu benar. Tapi alismu yang runcing itu tidak pernah berubah. Dari situ aku mengenalimu ,” ucap Bane, Julius tersenyum sambil duduk disebelahnya. Untuk beberapa saat, mereka berbincang-bincang. Mengenang kembali masa-masa kecil mereka dulu di panti asuhan. Masa dimana dia dan Julius selalu bersama, dalam suka maupun duka. Sampai disaat mereka beusia 10 tahun, Julius , memutuskan untuk pergi dari rumah panti.

Pada saat itu, Bane hampir lupa dengan niatnya datang kesini. Dia begitu hanyut dalam nostalgia ini, meskipun dia begitu ingin melupakannya dan mengubur kenangan itu bersama dengan orang yang ada disebelahnya.
Bane tersenyum samar ketika Julius bercerita tentang  masa lalu mereka. kelihatannya Julius sangat senang sekali bertemu lagi dengan Bane, meskipun begitu, Bane dengan niatnya sekarang merasa sangat tidak enak melihat Julius. Sebenarnya dia ingin sekali membatalkan misinya itu, tapi...
Aku butuh kekuatannya. Aku tidak boleh lengah. Batin Bane dalam hati

“ kau baik-baik saja, Bane? ,” tegur Julius , sadar kalau Bane tidak mendengarkannya.
“ ah, aku baik-baik saja. ,” jawab Bane.
“ emm. Aku masih tidak percaya kita akan bertemu lagi. Bagaimana keadaan panti setelah aku pergi? ,”
“ mana ku tau? Aku juga pergi setelah kau pergi. ,” ujar Bane sambil angkat bahu.
“ benarkah? Jadi kau juga pergi, pergi kemana kau? ,”
“ entahlah, menggelandang di kota dan kerja jadi tukang semir sepatu , dan akhrinya terdampar di kota ini. ,” sahutnya datar. “ aku juga sekolah ,” tambah Bane sambil menunjukan celana SMAnya.
“ siapa yang menyekolahkanmu? ,”
“ bosku yang merawatku, memberikan tempat tinggal dan membiarkanku membantu bengkelnya. ,”
“ terus kenapa kau malah kesini? Bosmu pasti mencarimu ,”
“ tidak. Dia sudah tidak membutuhkanku lagi. Lagi pula ga enak juga terus-terusan merepotkannya. Aku sudah terlalu banyak menyusahkan bosku itu. ,”
“ bosmu orang yang baik. Beruntung kau bertemu dengannya ,” komen Julius.
“ yah, gitu deh....,”
“ kalau kau kesini, apa kau berhenti sekolah? Apa kau akan pindah juga? ,” tanyanya lagi.
“ yeah, aku berhenti untuk kesekian kalinya. Aku selalu dapat masalah dimanapun aku sekolah. Rasanya sekolah hanya menambah bebanku saja ,”
“ jangan berkata begitu, pendidikan juga berguna tahu ,” Julius menasihati.
“ ahh, kau saja. Aku tidak peduli tentang itu. bagiku sekolah hanya formalitas saja ,” ujar Bane tidak peduli . “ ya ya ya....kau selalu cuek, dasar, mau jadi apa kau kelak kalau seperti ini? ,” singgung Julius menoyol kepala adiknya, Bane langsung mengelak , tak suka kepalanya di pukul begitu.
Mereka berdua saling diam, setelah candaan itu. Julius diam karena dia masih merasa senang dengan kedatangan Bane, sedangkan Bane sedang sibuk memikirkan hal yang sepertinya ingin sekali dia katakan pada Julius, namun terlalu sulit untuk mengucapkannya.
“ ada yang ingin kau bicarakan? ,” tanya Julius. Bane menoleh ke Julius lesu. Tatapannya kosong .
“ tidak. Tidak ada. Aku mau istirahat, dimana kamarmu , Kak? ,” tanya Bane langsung bangkit dari duduknya , mencari-cari kamar Julius.
“ disana, di sudut ruangan ,” Julius menujukan sebuah pintu diujung lorong. Lorongnya sedikit agak gelap. Bane melihat ke arah yang di tunjuk Julius, lalu berjalan kesana.

Bane mengamati ruangan ini dengan penuh minat. Dari dulu dia suka bagaimana Julius memperlakukan kamarnya. Kamar Julius selalu misterius. Kamarnya agak gelap, dan beraroma harum seperti rempah-remah. Dia memicingkan mata kesegala sudut ruangan, memastikan kamar ini aman. Bane meletakan ranselnya diatas meja didekat sebuah jendela yang terbuka. Angin sore masuk kedalam sangat sejuk. Dia menikmatinya sebentar, lalu menegakan wajahnya lurus kedepan. Dia menyusupkan tangannya ke saku jeans, mengambil sebuah ponsel. Mengetik sms dengan cepat, lalu mengirimkannya pada seseorang. Wajahnya terlihat tegang, sambil matanya bergerak cepat. Dia menyandarkan tubuhnya kemeja sambil menatap layar ponselnya.
“ aku harus melakukan ini, apa pun resikonya ,” desis Bane pada dirinya sendiri. Dia memandangi pantulan wajahnya dari layar ponsel, melihat bagaimana ekspresinya sekarang. Gemetaran, merasa bersalah,takut, benci, namun yakin bahwa ini lah yang ingin dilakukannya sejak dulu. yaitu...

***
Zack terpaku melihat pesan singkat yang diterimanya melalui sms. Dia nyaris saja meremukan handphonenya karena terlalu bersemangat . Gisele dan Huan bingung saling pandang , lantas mereka menghampirinya.
“ ada apa? Kau terlihat senang sekali? ,” tanya Gisele.
“ lihat ini ,” seru Zack menyodorkan hendphonenya ke Gisele. “ anak buahku berhasil menemukan dimana sikeparat itu berada ,”
Gisele membaca pesan itu : Bos, aku menemukannya, dia ada di sebuah flat di pinggir kota seberang, dia tinggal bersama seorang laki-laki. Tampaknya dia komplotannya
Gisele mengernyit, lalu bertukar pandang dengan Huan , kemudian Zack.
“ benarkah kabar ini? Ini dari anak buahmu? Kok tidak ada namanya? ,” tanya Gisele.
“ memang kau menyuruh siapa Bos untuk mencari anak itu? ,” tanya Huan.
Zack tersenyum licik, sambil membalas pesan tanpa nama itu. “ sudah pasti ini Fadli, aku yang menyuruhnya kemarin ,” jawabnya. “ dan lihat hasil kerjanya, bereskan ,” sindir Zack. Huan langsung cemberut.
“ ini bagus, kita sudah tau dimana anak itu berada, jadi kita tinggal menyergapnya saja—terserah mau ditempat atau kita seret kemarkas ,” kata Zack mantap. Gisele tampak curiga, dia merasa ada yang tidak beres dengan pesan itu.
“ Zack, aku mau jengguk Ash besok. Kau mau ikut? ,” ajak Gisele.
“ hemm? Baiklah, ayo kita jenguk dia, sekalian aku ingin meberinyanya kabar gembira. Aku harap dia cepat sembuh setelah melihat kepala anak itu dihadapannya ,” gurau Zack tertawa, tapi Gisele malah menyiptkan matanya tajam. Zack langsung berhenti tertawa, dan langsung minta maaf.
“ hentikanlah..,” desis Gisele marah.
 



0 komentar: