Chapter 1. “ Bane pindah, dan membawa bencana “
BUAAKKK
Satu pukulan lagi, dirasa sudah cukup baginya untuk menjatuhkan anak ini.
Kalau pun di pukul lagi, toh dia akan mati,
percuma kan. Bosnya bilang untuk membuatnya sekarat saja, seperti yang di lakukan
anak itu pada Bos mereka yang sekarang tengah terbaring di rumah sakit. Cowok
itu menghela nafas panjang, tampak kecewa, sementara kedua anak buahnya yang
bertugas memegangi anak itu saling bertukar pandangan.
“ ahhh, membosankan---apa benar ini anak yang sudah membuat Ash sekarat,
dan nyaris mati? ,” ucapnya santai. Kedua kacungnya tertawa menanggapi. “ lihat
betapa lemahnya kau ini ,”
Anak malang itu masih sadar, dia mendongak menatap wajah si cowok itu
dengan tatapan tajam, meski sudah babak belur dan lemah, tapi wajahnya masih
mencerminkan sikap tenang penuh percaya diri, bahkan sekarang dia tersenyum
menantang kepada lawannya itu.
“ kenapa kau senyum-senyum begitu? Kau pikir ini lucu? ,” gumamnya sinis .
Dia pun langsung mendorong anak itu dengan kakinya sampai tersungkur
kebelakang, anehnya anak itu malah tertawa senang.
“ BERHENTII TERTAWA, MEMANGNYA LUCU APA, HAH!!? KAU MENANTANGKU YA???,”
teriaknya marah. “ KU HAJAR KAU, BOCAH TENGIKK ,” cowok itu pun melancarkan
tendangannya kearah perut , namun sesuatu yang aneh mulai terjadi pada anak
itu. tiba-tiba saja bagian perut anak itu meremang menjadi bayangan, tendanagan si cowok itu pun dapat
menembusnya, alih-alih menendang perut, kakinya malah menghantam tembok dengan
keras.
“ ARRRGGH.... sakiiit ,” ringis si cowok sambil memegangi punggung kakinya.
Kedua anak buahnya terkejut dan langsung menghambur ke bos mereka. “ bos
Taka!!! ,”
“ apa yang terjadi? Seharusnya tendangannya kena dia kan! ,” tanya salah
satu anak buah itu. yang satunya angkat bahu, tidak tahu. Taka masih meringis
kesakitan sementara, gantian, anak buahnya yang menghadapi si anak tadi.
Sekarang tangannya bebas, itu artinya dia bisa melawan. Keanehan tadi masih
membuat Taka dan anak-buahnya menjadi sedikit waspada terhadap anak itu. mereka
bahkan menjaga jarak dengannya.
“ apa yang kau lakukan, sial! Kau bisa sihir ya? Jelas-jelas tadi kami
melihat perutmu menjadi bayangan dan berhasil mengelak dari serangan Bos! ,”
kata si kacung gendut.
“ aneh kan! Pasti kalian tidak pernah melihat yang seperti ! ,” katanya
mantap.
“ brengsek kau Bane, habisi dia!!! ,” perintah Taka. Kedua kacungnya
langsung memberikan serang secara bersamaan, tapi anehnya semua pukulan mereka
menembus tubuh Bane. Seperti sedang meninju udara, serangan mereka jadi sia-sia
dan Bane dengan santainya menerima itu semua tanpa melawan.
Dia sekarang seperti hologram yang hidup. Sia-sia saja kedua anak buahnya
itu menyerang Bane secara membabi buta. “ bodoh kalian! Cepat habisi dia! ,” raung
Taka kesal. Dia pun dengan susah payang bangkit dan ikut menyerbu Bane, tapi
disaat bersamaan Bane mengeluarkan satu kekuatan anehnya lagi.
“ booom ,”
Duaaarrrr....
Entah apa yang terjadi, tapi pastinya mereka bertiga bukan di lempari bom
sampai terpental jauh diudara dan jatuh menghantam tanah seperti itu, melainkan
ada sebuah ledakan dahsyat yang menyerang mereka. tidak ada api dan tidak juga
ada yang terbakar, yang ada hanya barang-barang hancur, tembok roboh dan
asap-asap debu yang mengepul-ngepul. Sangat kacau, seperti sedang perang saja!
Taka dan kedua kacungnya tengah terkapar tidak berdaya ditanah dengan tubuh
penuh luka-luka, dan kepala berdarah, diantara reruntuhan itu. taka yang
terlihat masih sadar berusaha menggerakan jemarinya yang lemah. Rupanya ia
ingin menggapai ponselnya untuk meminta bantuan, tapi handphonenya keburu rusak
oleh sebuah sepatu yang menginjaknya.
“ beruntung masih ponselmu yang retak, kita lihat bagaimana dengan kepalamu
hah! ,” ucap Bane tajam.
“ AAAAAAAAARRRGGGGHHH....,” hanya terdengar teriakan kesakitan Taka yang
menggema di udara itu, sisanya....hanya mereka yang tahu.
Sosok tubuh lemah penuh luka , dengan jalan terseok-seok , baju yang sobek
dan kaki yang melangkah gontai, muncul dari balik puing-puing bangunan yang
setengah runtuh dilatarbelakangi asap debu putih diudara. Kemunculannya itu
terkesan mengenaskan, namun dibalik itu , dia masih menyimpan sepuntung rokok
yang menyala di bibirnya-seolah tidak terjadi apapun yang mengerikan—padahal
baru saja dia habis dipukuli sampai babak belur.
" huaah harus beli seragam lagi deh. Sial ," gumanya jengkel
sambil memperhatiakn kondisi seragamnya yang sangat kacau. " tapi
sepertinya aku tidak akan pakai seragam ini lagi ,"
Disisi jalan, disebuah semak-semak , terlihat dedaunannya bergerak-gerak.
Sekilas seperti tertiup angin, namun kalau diperhatikan lebih seksama lagi,
jelaslah itu gerakan yang disengaja. Sepertinya ada sesuatu disana. Semak-semak
itu tak henti-hentinya berguncang sampai membuat Bane menoleh penasaran
kearahnya.
"....." semak-semaknya langsung berhenti bergetar ketika Bane
memicingkan mata ke semak itu.
" anehhh, ku pikir tadi bergerak ," gumamnya heran. " aku
jadi penasaran ," Bane bermaksud melihat ke balik semak-semak itu, namun
dering ponsel disakunya membuatnya berhenti.
Terdengar suara helaan nafas panjang. Untungnya Bane tidak sadar , dia
sedang sibuk menulis sms.
" untung saja--- sial. Pergilah dari sini ," desis si mata-mata ,
dia meremas daun didekatnya gemas.
Tak lama Bane pergi dari sana, tanpa mengetahui keberadaan seseorang di
balik semak-semak itu.
" nyaris saja ketahuan. Kalau tidak bisa mampus aku ditangannya
," pikirnya seraya berlari dari tempat persembunyiannya menuju gudang.
" aku harus melihat keadaan bos Taka dan melaporkan semua ini pada Zack.
"
"Ini tidak bisa dibiarkan "
Beberapa jam kemudian.
Markas rahasia Geng Ash
Selagi Ash tidak ada, jabatan bos kini dipegang oleh orang yang bernama
Zack. Dia merupakan anak buah Ash yang paling di percaya dan sangat dekat
dengannya. Cowok dingin dan berwajah ambisius serta terkenal sangat kejam itu ,
dengan senang hati mengganti posisi Ash . dengan angkuhnya kini dia tengah
duduk di kursi besar bersama seorang gadis yang merupakan pacara Ash.
Seharusnya dia hanya mendampingi Ash, tapi demi menjaga kestabilitas organisasi
gadis itu tetap ingin disana , siapapun bosnya.
" mana Taka, seharusnya dia sudah ada disini dengan anak itu kan?
," tanya Zack gusar. Dia sudah menunggu selama 1 jam, sesuai yang
dijanjikan Taka kepadanya, tapi sampai sekarang anak buahnya itu belum juga
datang.
" segitu sulitnya kah menanggkap bocah ingusan seperti itu? ,"
tambahnya.
" sabar Zack...mungkin mereka terjebak macet, " kata Gisele.
" macet apanya? Meraka di tengah kampung, bukan perkotaan! Tidak ada
alasan yang tidak masuk akal begitu ," cecar Zack . " oouh maaf
Gisele , aku tak bermaksud---,"
" lupakan ," potong Gisele jengkel.
" sebenarnya aku ragu kalau Ash dikalahkan oleh anak seperti itu. Apa
lagi Ash itu kuat, bagaimana bisa? ," tanya Gisele pada dirinya sendiri,.
" bisa jadi dia di keroyok ," Zack berpendapat.
" tidak mungkin, Ash sendiri yang bilang kalau anak itu yang
melakukannya ,"
" okelah kalau dia yang melakukannya, tapi dengan cara apa? Memangnya
kau tidak tanya? ,"
" aku? Saat aku menemukan Ash terkapar si gang kecil, dia hanya bilang
'dia' saja sambil memegang jam tangan milik si anak itu, sisanya...dia langsung
pingsan ," jelas Gisele seraya mengingat kejadian tempo hari lalu.
Zack mengernyit, memandang Gisele penuh tanya. " anak itu tidak ada
disana? ,"
Gisele mengangguk pelan. " nampaknya Ash lah yang memulai duluan
,"
" Ash tidak pernah bersikap ceroboh, apa lagi membiarkan dirinya
dikalahkam begitu saja. Bayangkan anak geng motor yang begitu banyaknya bisa
dikalahkan hanya seorang diri, masa....dengan anak SMA saja kalah ,” sumbar
Zack tak percaya sekaligus kecewa.
“ sepertinya anak itu sedikit spesial. Yang aku lihat saat Ash terluka,
hampir sekujur tubuhnya penuh luka-luka, bajunya sobek dan dia sedikit
berasap—seperti habis kena ledakan ,” Gisele berpendapat. “ tapi...tidak ada
luka bakar sedikit pun atau barang-barang yang hangus terbakar,” tambahnya.
Zack tampak berpikir, dia mengepal-ngepalkan tangannya seolah gemas, ingin
sekali secepatnya menghabisi anak itu dengan tangannya.
“ usahakan agar dia tetap hidup di depanku nanti ,” kecam Zack marah.
Tiba-tiba seseorang datang menyeruak masuk kedalam, Zack dan Gisele
terperangah saat dia muncul.
“ Huan?? ,”seru mereka berbarengan.
Orang yang bernama Huan itu tengah terengah-engah saat muncul di
pintu,lidahnya terjulur kelelahan sementara lututnya gemetaran. “ b bbosss,” katanya. Huan terhuyung menuju Zack,
dengan langkah terseret dia berusaha
untuk berdiri di hadapan bosnya. Satu tangannya berhasil bertumpu dimeja, dan
dengan susah payah akhirnya dia bisa mengatur nafasnya kembali.
“ ada apa Huan? Mana yang lain? ,” tanya Gisele
Huan masih ngos-ngosan, namun tetap ingin menjawab. “ ga gawat...bos,
Gisele. Bos Taka dan yang lain...hah haah...,”
“ bicara yang jelas Huan!!! ,” sentak Zack tak sabar.
“ Taka dan yang lain mati , Bosss! Mereka dikalahkan anak SMA ituu ,”
teriak Huan tak tahan.
“ APAA??? , Huan jangan bercanda!! ,”
“ se serius Boss! Mereka—mayat mereka masih di gudang itu...aku tidak tahu
harus berbuat apa! Kalau lapor polisi, itu akan membongkar keberadaan kita
juga...makanya aku kesini ,” jelas Huan ketakutan.
“ kau—lalu apa yang kau lakukan Hah? Membiarkan dia kabur? ,” teriak Zack.
“ aku...aku terlalu takut bos...dia ...dia menakutkan! Dia meledakan Bos
Taka , Juqulen dan Codet...,” rengek Huan berusaha menahan gemetar di tubuhnya.
“ ahh, seperti yang dialami Ash ...,”
batin Gisele.
“ BODOHH!!! TOLOL BANGET ! NANGKEP TIKUS SAJA TIDAK BISA!!! Katakan...siapa
nama anak itu, diamana dia tinggal dan tempat dia sekolah! ,” pinta Zack.
“ saya tidak tahu , Bos...tapi kalau tempatnya sekolah, itu ada di
kota. ,”
Saat pembicaraan itu berlangsung terdengar suara ketukan di pintu luar.
Zack memberi isyarat pada Huan untuk melihat siapa yang datang. Huan segera
menuju pintu dan membukanya.
Hening.
Tidak ada seorang pun disana.
“ ga ada siapa-siapa? ,” gumamnya heran. Huan hendak menutup pintu kembali,
namun urung, ketika ia melihat sehelai kertas menempel dipintu. “ apa ini? ,”
di tariknya kertas itu. Huan langsung terkesiap dan langsung bergegas untuk
menunjukan kertas itu pada Zack.
Zack sangat terkejut dengan apa yang ditunjukan oleh Huan. Secarik kertas
itu sudah cukup membuatnya marah dan kesal.
“ boleh kulihat? ,” pinta Giselle yang sangat penasaran dengan isi surat
itu. Zack mengiyakan tanpa berkata-kata. Gisele mengernyit dan langsung
mengembalikan surat itu.
“ ini pernyataan perang. Sepertinya anak itu juga punya komplotan ,” komen
Giselle.
“ aku tidak tahu maksudnya apa? Tapi beraninya dia menantang kita, dia
menyuruh kita untuk mencarinya ,” ujar Zack.
“ di dia mungkin sudah kabur sekarang Bos, dan dia bermaksud memanggil
teman-temannya , “ pikir Huan. “ mungkin dia mau melawan kita ,”
“ ini bukan mungkin lagi Huan!! Ini sudah pasti! Mereka menantang kita!! ,”
teriak Zack. Huan langsung menciut ketakutan.
“ lalu? ,” tanya Gisele.
“ kita akan terima tantangannya, biarpun dia kabur dan punya banyak
komplotan, Geng kita tidak akan kalah begitu saja. ,” kata Zack mantap. “
hubungi semua anak buah , komplotan dan Geng sekutu. Kita akan gempur mereka ,”
“ Si siiaap Bos! ,” seru Huan semangat, sepertinya dia lupa ketakutannya
tadi.
“ apa perlu kita ajak Senpai Hoki? ,” tanya Gisele.
“ untuk apa? Dia sudah tua ,”
“ tapi kan dia master karate, dan dia juga kakak kelasmu dulu. kudengar
anak didiknya sangat jago-jago dalam pertarungan jalanan. Bagaimana? ,”
sarannya.
“ hemmm, boleh juga...kalau perlu ajak Sabam Eka dan Suvika,”
“ eh? Sauvika?bukannya dia...,”
“ dia punya teman yang ahli main katana, lumayan kan buat nambah-nambah
pasukan? ,” ujar Zack senang.
“ tapi dia perempuan ,”
“ yeah, kalau begitu kau apa? Kau juga perempuan,”
Giesele hanya diam .Zack punya jalan pikiran yang menarik rupanya.
Kediaman Senpai Hoki.
“ Bos Zack memintamu untuk ikut konvoinya besok ,” ujar Huan sambil
tertunduk menghadap seorang pria bertubuh besar yang tengah duduk bersila di
sebuah dojo. Pria itu berwajah garang dan galak meskipun sedang tersenyum.
Tubuhnya penuh dengan tato naga dan ikan koi.
“ Zack? Anak itu...mau apa dia memintaku untuk ikut dengannya. Memangnya
kemana Ash ,” tanya Senpai Hoki.
“ eng..anu, Bos Ash sedang sakit, dia sedang dirawat ,”
“ sakit? Sakit apa? ,” tanyanya lagi.
“ itu dia. Ada anak SMA yang sepertinya jago berkelahi Senpai, dia
menghabisi Bos kami. Makanya Bos Zack minta bantuanmu ,”
Senpai Hoki malah tertawa, tawanya nyaring sekali.” Hahahah. Apa? Seorang
bocah? Astaga seburuk apa Ash saat ini sampai bisa dikalahkan begitu? Memalukan
,”
Huan diam saja, tidak berani menjawab.
“ berapa anak? Huh? ,”
“...hanya seorang Senpai. Tapi sepertinya anak itu tahu kalau sedang kami
incar, dia memanggil teman-temannya untuk menghadapi kami ,” terang Huan.
“ huh. Seorang pengecut yang berani ,” komentar Senpai Hoki , Huan
mengernyit heran. Kata-kata Senpai Hoki membingungkan baginya. Huan kembali
diam.
“ baiklah , sampaikan pada Zack. Aku ikut ,”
“ ah, terima kasih Senpai ,”
" tapi, aku ikut tidak cuma-cuma lho ," ujar Senpai Hoki
" eh? Maksud senpai? ," Huan bingung.
Senpai Hoki mendesah , sambil berdecak sebal. " kau tahu? Semua tenaga
yang keluar ada bayarannya. Paham?
,"
" ....uang...maksudnya? ,” tebak Huan.
" yakk. Itu maksudku ," seru Senpai Hoki akhirnya. “ katakan pada
Zack untuk menyiapkan upah. Oke ,” tambahnya. Huan mengangguk, kemudian segera
meminta dirinya untuk pamit meninggalkan dojo.
Sebuah Gang di pinggir kota.
Gisele yang bertugas menemui Sauvika.
Gadis itu tengah menyusuri jalan setapak menuju sebuah gudang yang berada
di sudut kota. Sebuah gudang bekas penyimpanan kain-kain dan benang. dan
sekarang berubah menjadi markasnya Sauvika. Gisele hanya tahu bahwa sauvika
dulu bagian dari anggotanya dan mengeluarkan diri karena lebih suka bebas,
Sauvika si ahli pedang kini mempunyai banyak anak buah, dengar-dengar
komplotannya adalah pembunuh bayaran.
Walaupun seorang wanita, Sauvika memiliki daya petarung yang tinggi, tak
heran bahwa dirinya dijuluki wanita si satu. Bukan karena dia nomer satu,
tapi...
“ hanya punya satu tangan? ,” pikir Gisele setelah bertemu langsung dengan
gadis yang bernama Sauvika itu. Sauvika hanya tersenyum tipis ketika dia tidak
bisa menyambut tangan Gisele untuk berjabat tangan. Ia ganti dengan menunduk
hormat. “ maaf, aku hanya punya tangan kiri ,” katanya sambil tersenyum. Tangan
kirinya memegang sebuah pedang yang bernoda darah, sementara bungkusnya
tersemat dibelakang punggung. Dia sangat manis meskipun banyak kekurangan pada
fisiknya. Ia berpenampilan biasa, rambutnya diikat tinggi-tinggi , dan sebelah
dahinya terdapat goresan bekas luka memanjang. Mungkin akibat tersayat
pedangnya. Gisele memaksa tersenyum, meski di sekelilingnya anak buah Sauvika
mengamatinya tajam, membuat dirinya tidak nyaman.
“ well , duduklah ,” kata Sauvika mempersilahkan Gisele duduk diatas
peti-peti kayu bekas barang-barang. Sambil dia menyelesaikan pembersihan noda
diujung pedangnya. Tampaknya sedang terjadi pembantaian. Dilihat dari lantai
terdapat banyak darah yang berceceran dan suara orang meringis di balik
gundukan kain-kain bekas.gisele bertanya-tanya dalam hati apa yang sedang
terjadi, sementara dia terlalu takut untuk menanyakan langsung pada Sauvika.
Sauvika menyadari gelagat Gisele yang tampak penasaran.
“ maaf, keadaannya lagi kacau. Kami sedang memberi pelajaran pada seseorang
yang tidak tahu terimakasih ,” jelas Sauvika pada Gisele yang sedaritadi
mengamati bercak darah dilantai dan berusaha mengintip dibalik gundukan. Gisele
hanya termangu, penjelasan Sauvika tidak sepenuhnya menjawab keingintahuannya.
“ ada apa memang? ,” tanyanya hati-hati.
“ mau tahu? ,” tantang Sauvika tajam.
“ Ah tidak usah Vika. Maksud kedatanganku kesini bukan untuk itu,
melainkan--,” belum sempat Gisele mengutarakan maksudnya, tiba-tiba saja
terdengar suara gesekan lantai. Dari balik gundukan itu terlihat seseorang
tengah berusaha menyeret tubuhnya untuk bergerak. Dia hanya menggunakan satu
tangannya untuk menopang tubuhnya yang kini tidak mempunyai kaki lagi,
sementara satu tangannya terikat dibelakang punggung. Gisele nyaris berteriak,
namun tertahan karena ketakutan. Dia masih tidak percaya dengan apa yang ada
didepannya itu. sosok tubuh berdarah deangan kedua kaki yang terpotong hingga
lutut. Bergerak perlahan bagaikan zombie yang mengerikan. Sekarang dia
mendongak. Memperlihatkan wajahnya yang lebam penuh luka sayat. Bibirnya
terbuka , seolah menyuarakan sesuatu. “ arrrgggghh...tolooooong
,” erangnya kesakitan. Gisele mudur
menjauhinya sambil menutup mulutnya dengan kedua tangan. Sementara Sauvika dan
anak buahnya hanya memandangi orang itu dengan tatapan rendah. Bagaikan sampah.
“ aa apa itu? ,” tanya gisele gemetaran. “ ada apa dengannya? Kenapa
dia—kedua kakinya buntung. Astaga panggil ambulan!! ,” teriaknya panik.
“ apa yang kau lakukan ? kenapa kau teriak-teriak begitu? ,” tanya Sauvika
bingung. Gisele terpaku memandang Sauvika yang begitu dingin dan kejamnya
sementara dia telah menyiksa orang sedemikian rupa. Gisele ingin membantu orang
itu, tapi terlalu ngeri dan jijik untuk menyentuhnya.
“ hei nona, santailah. Biarkan orang itu mati ,” sambar salah satu anak
buah Sauvika.
“ apa? ,”.
“ ayolah, kenapa kau peduli? Bukankah bosmu lebih kejam? ,” sindir Sauvika.
“ aa aku....tapi, aku-tidak-pernah melihat orang disiksa-langsung ,” jawab
Gisele terbata-bata. Matanya masih terpaku pada sosok lemah pria malang itu.
“ kalau gitu kau tak pantas masuk didunia ini nona. Bahkan kau masih punya
perasaan saat melihat seseorang terluka ,” tukasnya dingin. Gisele hanya
termangu, tanpa terasa air matanya jatuh dipipi. Gisele sangat ketakutan,
sampai-sampai tubuhnya bergetar dan matanya memandang tanpa kedip.
“ setidaknya jangan perlihatkan orang ini padaku ,” isak Gisele.
Sauvika tersenyum masam seraya
bersiap-siap memegang pedangnya. “ dia sendiri yang datang padamu? ,”
sambarnya. Sauvika melangkah kedepan mendekati pria itu dengan sebuah pedang di
tangannya. Pedang itu terhunus diatas kepala pria itu. Gisele terkesiap, dia
maju beberapa langkah.
“ hei, hentikan Vika. Iiitu urusanmu kan, lakukan nanti sehabis aku pulang.
Tolong jangan apa-apakan dia didepanku ,” pinta Gisele sembari tangannya
terkepal saking takut. “ tooolooong ,”
si pria masih sempat bersuara, namun sama sekali tidak berguna untuk
menyelamatkan nyawanya.
“ setidaknya dia tidak lagi menunjukan wajahnya yang menyebalkan itu ,”
Sauvika mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, memenggal kepala Pria itu dengan
sangat cepat, kepalanya masih utuh beberapa saat , sampai Sauvika memasukan
kembali pedangnya kesarung.
Jrassssh ...
Terdengar suara benda terjatuh.
Pluk.
Sebuah benda bulat tergeletak dilantai, berdarah, dan matanya melotot
menghadap Gisele.
“ AAAAAAAAAAAAARRRRGHH ,” Gisele berteriak keras sekali, berjalan mundur
sambil terhuyung kebelakang tak terkendali ,dengan sigap anak buah gisel yang
bernama Tod langsung menangkap tubuhnya .
Gisele pun pingsan.
Saat tersadar, matanya masih agak buram, namun ingatannya masih jelas. Dia
masih ingat bagaimana Sauvika memotong kepala seorang pria dengan sebuah
pedang. dia, secara langsung menyaksikan kekejaman salah satu mantan anggota
gengnya. Dia masih sangat syock, bahkan untuk berkata-kata saja susah.
Anak buah Sauvika mengelilinginya dengan tatapan bingung, dan simpati,
namun tidak berkomentar apa-apa, kecuali Sauvika sendiri. Dia berjongkok
disebelah Gisele sambil memegangi segelas air
putih.
“ sudah baikan? Kau tak apa-apa kan? ,” tanyanya lembut sembari memberinya
segelas air putih. Gisele menerimanya ragu, tidak langsung meminumnya. “ aku
baik-baik saja ,” jawab Gisele bohong. Padahal dia masih gemetar dan ketakutan.
Takut sama Sauvika.
“...yakin? mau ku antar pulang?,” tawar Sauvika dengan nada ramah . seolah
seperti dirinya dan Gisele sahabat karib.
“ tidak usah. Sungguh. Aku kesini hanya ingin menyampaikan pesan...,” ucap
Gisele parau.
“ pesan? Dari siapa? ,”
Gisele meneguk airnya perlahan, meresapi air yang segar melewati
kerongkongannya yang kering kerontangan. Kemudian ia melirik tempat orang tadi
di siksa. Sudah tidak ada bekasnya, hanya ada bercak noda merah yang sudah
kering dan bau amis tertinggal.
“ kau kemanakan dia? ... orang tadi ,” tanya Gisele , matanya masih terpaku
disana.
Sauvika ikut menoleh kearah Gisele memandang. “ ooh itu. sudah dibereskan
sama anak buahku. Mayatnya mungkin sudah ada dipembuangan akhir ,” sahutnya
santai. “ oh iya tadi kau bilang mau menyampaikan pesan. Pesan dari siapa? ,”
“ itu...dari Ash. Sekarang dia sedang sekarat ,”
“ sekarat??? ,” Sauvika tampak terkejut. “ kenapa? ,”
“ ceritanya panjang. Intinya kami ingin balas dendam sama orang yang telah
membuat Ash begitu. Kami sedang mengumpulkan bantuan , dan berkerja sama dengan
sekutu gengster disini ,” jelasnya.
“ waah, kenapa aku baru tahu. Memang siapa yang sudah bikin Ash sekarat
Hah? , dan kenapa tidak kalian hadapi sendiri? Biasanya kalian paling agresif
dalam hal ini ,” tukas Sauvika kecewa. Gisele hanya tertunduk. Yang ia bakal
jelaskan amatlah memalukan. Apa lagi dihadapan mantan anggotanya.
“ hemmps...begini Vika. Orang yang sudah membuat kami kelabakan
menghadapinya hanyalah seorang anak SMA. Dia...entah kenapa , bisa mengalahkan
Ash. Membunuh Taka, dan dua anak buah kami....kau tahu , aku merasa tindakan
ini terlalu berlebihan, sampai harus meminta bantuanmu dan yang lain untuk
melawannya, tapi...dia sepertinya bukan anak sembarangan. Dia bukan anak
ingusan yang gampang di bully. Tapi, setelah melihat kejadian yang menimpa
orang-orangku, aku yakin satu anggota geng kami tak akan mampu mengatasinya ,
apa lagi sekarang dia sedang memanggil bantuan. Andai saja kau bisa lihat
keadaan Ash sekarang, mungkin kau akan mengerti ,” Gisele nampak sangat putus
asa. Mungkin masih sedih dengan apa yang menimpa pacarnya sekarang. Sauvika
memandanginya penuh simpati sambil menyentuh pundak Gisele untuk memberi
semangat.
“ tenang Gisele. Aku akan membantu kalian. Akan ku balaskan dendam Ash
untuknya. Aku tidak peduli seberapa hebat anak itu atau seberapa banyak, toh
dia juga manusia kan? Lihat, anak buahku juga banyak ,” katanya sambil tersenyum. Gisele hanya
bisa membalas tersenyum tipis. Perlahan rasa takutnya pada Sauvika hilang dan
berganti menjadi perasaan nyaman.
“ terima kasih ,”.
Tok.tok.
Suara ketukan pintu itu membuyarkan lamunan seorang pemuda yang tengah
termangu di tepi balkon disebuah flat. Ia menatap pintu rumahnya.
Laki-laki tanpa kaus, berjelana jeans pendek selutut dan bertubuh atletis
menyebrangi ruang rumahnya yang pengap dan sumpek menuju pintu depan . Dia
membiarkan penampilannya begitu saja , tanpa berpakaian terlebih dahulu.
Ceklek..
Pintu terbuka setengah. Kepalanya muncul di ambang pintu.
“ siapa? ,” tanyanya.
Ternyata seorang cowok.
Dia berdiri sambil membelakangi pintu, dengan sebuah ransel besar
dipunggungnya. Rambutnya cepak berukir-ukir. Dan dia mengenakan celana SMA yang
sudah lusuh.
“ siapa ya? , “ ulangnya lagi. Cowok itu menoleh padanya, seraya memaparkan
senyum yang lebar.
“ tidak ingat dengan adikmu sendiri? ,” sindirnya. Si pemuda mengernyit
heran. Dia masih tidak mengenali siapa orang itu.
“ ini aku ,” katanya sambil menunjuk hidungnya dengan telunjuk. “ Rumah
panti Harapan, ingat? ,”
Pemuda itu hanya bengong, sambil menelak-nelak siapa dia. “ ayolah aku
capek berdiri disini, izinkan aku masuk saja, okey ,” serunya tak sabar.
“ tu—tunggu dulu ,” sergah si pemuda. “ katakan saja siapa namamu, agar aku
ingat ,”
“ baiklah...aku Bane, Bane adikmu yang dulu,. Kak Julius ,” tukas Bane
tegas. Dan, barulah orang yang bernama Julius itu ingat. Yeah dia ingat begitu
dengar nama itu. nama seorang anak yang dulu sering bersamanya ketika masih
kecil.
“ B...Bane? Bane? ,” Ulang Julius terkejut. “ astaga, benarkah ini kau? Ya
ampun, kau berbeda sekali, bahkan aku sampai tak mengenalimu ,”
“ tentu saja kau tidak mengenaliku. Kitakan sudah tidak bertemu sejak 10 tahun
yang lalu ,” ujar Bane.
Julius terperangah melihat perubahan yang begitu drastis pada Bane. Dia
mengenalnya dulu ketika masih kecil, saat itu Bane adalah anak yang pemurung,
kurus, kecil dan kurang gizi. Kini dia tumbuh menjadi menjadi anak yang besar ,
tinggi, meskipun sisi dekilnya masih terlihat jelas dipenampilannya. Wajah Bane
tidak terlihat tirus seperti dulu, dan sekararang tingginya menyamai Julius.
“ sekarang, boleh aku masuk? ,” tanya Bane , tanpa tunggu jawaban Julius
dia langsung menyeruak masuk.
“ huh, kau masih saja tidak sopan ,” gumam Julius tersenyum.
Bane langsung terhenyak duduk disofa panjang yang sudah usanng. Tanyannya
terbuka lebar dan kakinya bersandar diatas meja pendek, lalu menghela nafas
panjang untuk mengeluarkan beban penatnya setelah beberapa jam menghabiskan
waktu berpetualang mencari rumah Julius . Julius masuk kemudian, sambil
mengambil beberapa minuman dari kulkas.
“ dari mana kau tahu aku disini? ,” tanyanya. “ sudah lama sekali, kan ,”
Bane menengadah sambil berpikir, lantas mengambil sekaleng minuman dari
tangan Julius. “ aku melihatmu waktu sedang ada turnamen basket antar sekolah.
Waktu itu sekolahku dan sekolahmu sedang bertanding. Kau muncul disalah satu
penonton. ,”
“ benarkah? Trus bagaimana kau tahu kalau itu aku? Wajah kita kan ga sama
lagi seperti dulu? ,”
“ yah itu benar. Tapi alismu yang runcing itu tidak pernah berubah. Dari
situ aku mengenalimu ,” ucap Bane, Julius tersenyum sambil duduk disebelahnya.
Untuk beberapa saat, mereka berbincang-bincang. Mengenang kembali masa-masa
kecil mereka dulu di panti asuhan. Masa dimana dia dan Julius selalu bersama,
dalam suka maupun duka. Sampai disaat mereka beusia 10 tahun, Julius ,
memutuskan untuk pergi dari rumah panti.
Pada saat itu, Bane hampir lupa dengan niatnya datang kesini. Dia begitu
hanyut dalam nostalgia ini, meskipun dia begitu ingin melupakannya dan mengubur
kenangan itu bersama dengan orang yang ada disebelahnya.
Bane tersenyum samar ketika Julius bercerita tentang masa lalu mereka. kelihatannya Julius sangat
senang sekali bertemu lagi dengan Bane, meskipun begitu, Bane dengan niatnya
sekarang merasa sangat tidak enak melihat Julius. Sebenarnya dia ingin sekali
membatalkan misinya itu, tapi...
Aku butuh kekuatannya.
Aku tidak boleh lengah. Batin Bane dalam hati
“ kau baik-baik saja, Bane? ,” tegur Julius , sadar kalau Bane tidak mendengarkannya.
“ ah, aku baik-baik saja. ,” jawab Bane.
“ emm. Aku masih tidak percaya kita akan bertemu lagi. Bagaimana keadaan
panti setelah aku pergi? ,”
“ mana ku tau? Aku juga pergi setelah kau pergi. ,” ujar Bane sambil angkat
bahu.
“ benarkah? Jadi kau juga pergi, pergi kemana kau? ,”
“ entahlah, menggelandang di kota dan kerja jadi tukang semir sepatu , dan
akhrinya terdampar di kota ini. ,” sahutnya datar. “ aku juga sekolah ,” tambah
Bane sambil menunjukan celana SMAnya.
“ siapa yang menyekolahkanmu? ,”
“ bosku yang merawatku, memberikan tempat tinggal dan membiarkanku membantu
bengkelnya. ,”
“ terus kenapa kau malah kesini? Bosmu pasti mencarimu ,”
“ tidak. Dia sudah tidak membutuhkanku lagi. Lagi pula ga enak juga
terus-terusan merepotkannya. Aku sudah terlalu banyak menyusahkan bosku itu. ,”
“ bosmu orang yang baik. Beruntung kau bertemu dengannya ,” komen Julius.
“ yah, gitu deh....,”
“ kalau kau kesini, apa kau berhenti sekolah? Apa kau akan pindah juga? ,”
tanyanya lagi.
“ yeah, aku berhenti untuk kesekian kalinya. Aku selalu dapat masalah
dimanapun aku sekolah. Rasanya sekolah hanya menambah bebanku saja ,”
“ jangan berkata begitu, pendidikan juga berguna tahu ,” Julius menasihati.
“ ahh, kau saja. Aku tidak peduli tentang itu. bagiku sekolah hanya
formalitas saja ,” ujar Bane tidak peduli . “ ya ya ya....kau selalu cuek,
dasar, mau jadi apa kau kelak kalau seperti ini? ,” singgung Julius menoyol
kepala adiknya, Bane langsung mengelak , tak suka kepalanya di pukul begitu.
Mereka berdua saling diam, setelah candaan itu. Julius diam karena dia
masih merasa senang dengan kedatangan Bane, sedangkan Bane sedang sibuk
memikirkan hal yang sepertinya ingin sekali dia katakan pada Julius, namun
terlalu sulit untuk mengucapkannya.
“ ada yang ingin kau bicarakan? ,” tanya Julius. Bane menoleh ke Julius
lesu. Tatapannya kosong .
“ tidak. Tidak ada. Aku mau istirahat, dimana kamarmu , Kak? ,” tanya Bane
langsung bangkit dari duduknya , mencari-cari kamar Julius.
“ disana, di sudut ruangan ,” Julius menujukan sebuah pintu diujung lorong.
Lorongnya sedikit agak gelap. Bane melihat ke arah yang di tunjuk Julius, lalu
berjalan kesana.
Bane mengamati ruangan ini dengan penuh minat. Dari dulu dia suka bagaimana
Julius memperlakukan kamarnya. Kamar Julius selalu misterius. Kamarnya agak
gelap, dan beraroma harum seperti rempah-remah. Dia memicingkan mata kesegala
sudut ruangan, memastikan kamar ini aman. Bane meletakan ranselnya diatas meja
didekat sebuah jendela yang terbuka. Angin sore masuk kedalam sangat sejuk. Dia
menikmatinya sebentar, lalu menegakan wajahnya lurus kedepan. Dia menyusupkan
tangannya ke saku jeans, mengambil sebuah ponsel. Mengetik sms dengan cepat,
lalu mengirimkannya pada seseorang. Wajahnya terlihat tegang, sambil matanya
bergerak cepat. Dia menyandarkan tubuhnya kemeja sambil menatap layar
ponselnya.
“ aku harus melakukan ini, apa pun resikonya ,” desis Bane pada dirinya
sendiri. Dia memandangi pantulan wajahnya dari layar ponsel, melihat bagaimana
ekspresinya sekarang. Gemetaran, merasa bersalah,takut, benci, namun yakin
bahwa ini lah yang ingin dilakukannya sejak dulu. yaitu...
***
Zack terpaku melihat pesan singkat yang diterimanya melalui sms. Dia nyaris
saja meremukan handphonenya karena terlalu bersemangat . Gisele dan Huan
bingung saling pandang , lantas mereka menghampirinya.
“ ada apa? Kau terlihat senang sekali? ,” tanya Gisele.
“ lihat ini ,” seru Zack menyodorkan hendphonenya
ke Gisele. “ anak buahku berhasil menemukan dimana sikeparat itu berada ,”
Gisele membaca pesan itu : Bos, aku menemukannya, dia ada di sebuah flat di pinggir kota seberang,
dia tinggal bersama seorang laki-laki. Tampaknya dia komplotannya
Gisele mengernyit, lalu bertukar pandang dengan
Huan , kemudian Zack.
“ benarkah kabar ini? Ini dari anak buahmu? Kok tidak
ada namanya? ,” tanya Gisele.
“ memang kau menyuruh siapa Bos untuk mencari anak
itu? ,” tanya Huan.
Zack tersenyum licik, sambil membalas pesan tanpa
nama itu. “ sudah pasti ini Fadli, aku yang menyuruhnya kemarin ,” jawabnya. “
dan lihat hasil kerjanya, bereskan ,” sindir Zack. Huan langsung cemberut.
“ ini bagus, kita sudah tau dimana anak itu
berada, jadi kita tinggal menyergapnya saja—terserah mau ditempat atau kita
seret kemarkas ,” kata Zack mantap. Gisele tampak curiga, dia merasa ada yang
tidak beres dengan pesan itu.
“ Zack, aku mau jengguk Ash besok. Kau mau ikut? ,”
ajak Gisele.
“ hemm? Baiklah, ayo kita jenguk dia, sekalian aku
ingin meberinyanya kabar gembira. Aku harap dia cepat sembuh setelah melihat
kepala anak itu dihadapannya ,” gurau Zack tertawa, tapi Gisele malah
menyiptkan matanya tajam. Zack langsung berhenti tertawa, dan langsung minta
maaf.
“ hentikanlah..,” desis Gisele marah.
0 komentar:
Posting Komentar